
Setelah itu, barulah Jason tertidur pulas di samping tubuh Nayla.
**
Nayla terbangun setelah mengalami malam horor yang tidak pernah dia sangka-sangka akan terjadi dalam hidupnya.
Awalnya Nayla pikir, apa yang terjadi itu hanyalah sebuah mimpi buruk belaka. Tapi saat dia terbangun, dia segera menangis keras karena dia terbangun dalam keadaan telanjang di samping seorang pria yang tidak dia kenal.
Belakangan, Nayla sadar kalau pria ini adalah pria yang semalam menyerangnya.
Keadaan Nayla yang sedang telanjang bersama pria yang di sampingnya yang sedang tertidur lelap ini, membuat dia tahu kalau apa yang dia pikir cuma mimpi buruk itu, ternyata adalah kenyataan.
Nayla duduk dan memegangi selangkangannya yang terasa sakit. Ada darah yang terlihat di sana, juga ada darah yang terlihat di sprei tempat tidur ini.
Nayla langsung duduk dan mencari bajunya. Dia terus menangis meratapi nasibnya. Tubuhnya gemetar karena kesedihan yang teramat sangat yang menderanya pada saat ini.
Pria itu masih tertidur dengan terlentang sehingga wajahnya bisa terlihat dengan jelas oleh Nayla.
Apalagi lampu di kamar hotel ini masih menyala sehingga wajah pria itu terlihat dengan jelas.
Nayla sempat mencari barang-barang yang bisa dia gunakan untuk membalas dendam. Dia sempat nencari pisau di dalam kamar hotel ini tapi tentu saja dia tidak bisa menemukan pisau di kamar hotel ini.
Akhirnya Nayla mengangkat sebuah bangku kecil dan siap untuk dia hantamkan ke wajah pria yang telah memperkosanya ini.
Tapi Nayla tidak sanggup melakukannya. Dia bukan pembunuh. Dia bahkan tidak sanggup untuk membunuh semut, apalagi membunuh manusia, sekalipun dia sangat menbenci manusia yang telah memperkosanya itu.
Karena itu, Nayla kembali meletakkan kursi yang tadi dia pegang. Dia tidak sanggup membunuh pria yang sedang tidur itu walaupun pria itu baru saja memperkosanya.
Akhirnya yang dilakukan Nayla hanyalah mencari identitas pria itu. Kemudian dia melihat celana panjang pria itu yang berada di lantai.
Nayla segera mengeluarkan dompet dari celana panjang itu dan melihat KTP pria itu. Ternyata pria itu bernama Jason Sutanto dan berumur 23 tahun. Dua tahun di atasnya.
Nama Jason Sutanto ini, langsung dihafal Nayla di dalam benaknya. Dihapalnya sebagai orang yang dia benci dan yang harus dia hindari seumur hidupnya.
Kemudian karena bajunya yang semalam sudah robek, Nayla segera mencari baju lain di koper dan memakai bajunya.
__ADS_1
Dia memilih untuk keluar dari kamar hotel ini, kamar hotel yang telah menjadi saksi suatu peristiwa yang menghancurkan hidupnya, menghancurkan masa depannya dan merampas kesuciannya.
Sambil terus menangis, Nayla membawa barang-barangnya untuk keluar dari kamar ini.
Walaupun ada dua masalah yang sedang mendera dirinya yaitu masalah perselingkuhan yang dilakukan oleh Beni, pacarnya, dan juga masalah kesuciannya yang direbut oleh seorang asing bernama Jason Sutanto, namun Nayla putuskan untuk pulang karena dia tidak ingin terlalu lama di luar dan kembali mengalami nasib buruk seperti yang dialaminya semalam.
Sesampainya Nayla di rumahnya yang berada di kawasan Bumi Serpong Damai, dia sudah melihat mobil milik Beni yang terparkir di depan rumahnya.
Nayla menggeram marah. Dia tidak ingin bertemu dengan bangsat tukang selingkuh yang bernama Benny itu. Nayla memang sengaja menonaktifkan handphonenya sejak kemarin karena tidak ingin ditelpon Benny, tapi Benny malah mencarinya di rumahnya ini.
Karena Nayla sudah terlanjur pulang ke rumah ini, karena itu, dia putuskan untuk keluar dari mobil dan meminta sopir taksi online untuk mengeluarkan barang-barangnya.
Bayu Pranata dan Livia Yolanda, orang tuanya Nayla sudah langsung keluar rumah dan langsung bergegas menuju ke arah Nayla.
"Beni sudah berada di sini sejak kemarin. Dia menunggumu di sini tapi kamu tidak pulang dan kamu juga tidak bisa dihubungi. Apa yang terjadi denganmu?" tanya Bayu kepada Nayla.
"Dan kenapa kamu gak memberitahu mama dan papa kalau kamu pulang ke Jakarta, Nayla?" timpal Livia.
Saat ini Nayla sudah melihat Beni yang nampak baru saja berjalan keluar dari rumahnya Nayla.
"Kata Beni sempat ada salah paham antara kamu dengan dia. Mungkin karena itu kamu tidak langsung pulang ke rumah. Iya kan?" tanya Livia.
"Bukan salah paham, mah, tapi aku melihat sendiri dengan mata kepala sendiri kalau dia tidur dengan Dewi di rumahnya saat aku datang untuk memberi kejutan baginya."
Bayu dan Livia nampak sangat kaget. Mata mereka melotot dan kini mereka memalingkan wajahnya ke arah belakang menatap Beni serta menyalahkan Beni.
"Dewi? Dewi temanmu itu yang kamu maksud?" tanya Livia.
Bella mengangguk. "Iya, Mah. Dan aku dengar dari pembicaraan mereka kalau mereka sudah lama menjalin hubungan di belakangku."
"Aku bisa jelaskan Om, Tante. Sebenarnya, saat itu aku digoda terus oleh Dewi. Aku tidak pernah mencintai Dewi. Aku hanya mencintai Nayla," kata Beni berusaha membela diri.
"Semuanya sudah jelas, Beni. Jadi, untuk apalagi kamu ke sini? Pokoknya mulai sekarang ini, aku tidak mau lagi melihat kamu berada di rumahku!" Nayla melotot ke arah Beni dan langsung meninggalkan Beni.
"Please, Nayla. Aku bisa jelaskan. Aku bisa jelaskan." Beni berusaha mengejar Nayla. Dia bahkan memegang lengan Nayla.
__ADS_1
"MAU JELASKAN APA LAGI? Sudah jelas aku melihatmu tidur dengan Dewi!"
Mendengar itu, Bayu tidak tahan lagi. Dia langsung menarik tangan Beni dan menampar Beni serta berteriak, "pergi kamu dari sini kamu tidak layak untuk anakku sampai kapanpun tidak layak untuk anakku!"
"Om, aku bisa jelaskan, Om. Aku bisa jelaskan," kata Beni sambil memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Bayu.
"Aku yakin kalau anakku sudah melihat yang sebenarnya. Aku bisa melihat wajah sedih anakku. Jadi, kamu pergilah dari tempat ini!" tegas Bayu.
Sementara itu Livia langsung mendekati Nayla dan Nayla langsung memeluk ibunya serta menangis sejadi-jadinya.
Sebenarnya tangisan Nayla ini bukan hanya mengenai pengkhianatan Beni kepadanya tapi tangisannya ini lebih karena kesedihannya setelah dia diperkosa oleh laki-laki yang bernama Jason Sutanto itu.
Tapi karena Bayu dan Livia baru saja mengetahui tentang perselingkuhan yang dilakukan Beni, maka mereka berdua pikir kalau tangisan Nayla pada saat ini, semata-mata karena perbuatan Beni kepada Nayla.
Karena itu, Bayu menjadi naik pitam. Dia bahkan sudah mengepalkan tangannya siap untuk memukul Benny. Tidak puas dengan itu, Bayu berkata, "tunggu di sini! Aku ambil pisau di dalam."
Mendengar itu, Benny langsung cepat-cepat keluar dari rumah ini, naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya Nayla ini.
**
Di tempat lain, Jason baru saja terbangun dari tidurnya. Dia memegang kepalanya yang terasa sakit. Semalam dia memang banyak minum minuman keras.
Tapi Jason masih teringat akan perbuatan dia semalam di kamar ini karena itu dia segera bangun dan menoleh ke arah samping.
"Ke mana perempuan sundal itu? Huh, dia sudah menghancurkan rumah tangga adikku jadi hukumanku kepadanya semalam masih belum setimpal dengan perbuatannya kepada adikku."
Jason mengerutkan keningnya saat dia melihat dompetnya sudah keluar dari celananya dan KTP-nya bahkan sudah keluar dari dompet. "Kenapa dia memeriksa dompetku? Apakah selain suka mengganggu rumah tangga orang, dia juga seorang maling? Hmm, nampaknya selera adik iparku itu betul-betul keterlaluan jebloknya."
Sejenak Jason termangu sambil menatap ke arah ranjang. "Hah? Apa itu darah?" Dia berusaha mendekati ranjang.
Tapi kemudian Jason menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Aku pasti masih mabuk. Menurut adikku, pelakor itu sudah sering tidur dengan adik iparku. Jadi, pastilah dia bukan perawan. Hhhh. Aku pasti masih mabuk."
Jason segera mandi dan kembali memakai pakaiannya. Setelah itu, dia keluar dan langsung keluar dari kamar hotel ini.
Saat Jason sedang menunggu di depan pintu lift, pintu lift terbuka. Di dalamnya, ada wanita yang menukar nomor kamarnya dengan Nayla. Wanita itu sangat kaget saat dia melihat Jason di depannya ini.
__ADS_1