
( symbol, leader, loyality, and pride )
"Simbol dari kepimimpinan sebuah kota, dituntut untuk loyal dan berharga diri tinggi," kata pria yang mukanya tertutup di balik bayangan hitam rak buku setinggi dua meter yang menutup tinggi sang pria itu sendiri.
"Memikulnya adalah beban, bergerak sedikitpun adalah contoh, dan segala tindakanmu adalah keputusan mutlak," Alex menimpali, ia berbalik dari memandangi kaca. Bukan kaca yang ia pandangi tapi kota yang ia pimpin, dimana ia menjadi simbol di dalamnya telah hancur di dalam jingganya senja.
"Lantas kenapa kau memilihnya ?"
"Karena satu dari sekian orang harus menanggungnya," jawab si gubernur berkumis runcing hitam, alisnya tebal hitam dengan rambut klimis yang hitam juga.
"Nyawamu akan kuambil sebagai bentuk hancurnya kotamu ini," ancam sang pria, ia keluar dari balik bayangan. Jas hitam dan kemeja putih terlihat jelas, tanpa dasi dengan kaus tangan putih seperti pantomim, tentu saja topi tinggi bulat khas pesulap menjadi peneman hiasan cantik pakaian pria itu.
"Coba saja," jawab lantang Alex, ia maju ke depan meja kerjanya segaris dengan lawan angkuh yang berdiri tegak 90 derajat itu. "Jangan kira aku akan takut dan melarikan diri."
Pria misterius maju beberapa langkah mendekati Alex, "Mereka mengutusku karena tau kamu bukanlah pemimpin lemah."
Ia melangkah mendekat, tersisa dua langkah panjang untuk sampai di depan muka Alex. Ia meregangkan tangan kanan ke belakang kemudian mengayun tangan tadi ke depan melemparkan pisau belati yang langsung mengarah ke mata Alex. Pergerakannya cepat, dalam satu kedipan satu buah hujaman pisau sudah mendekat ke arah Alex.
Tang.. pisau belati itu tertahan oleh bilah sabre Alex yang mengayun ke sisi kiri. Belati sebesar pisau dapur itu terlempar menjauh meninggalkan kekosongan di tangan sang pria misterius. Sabre Alex mengayun cepat dari sisi kiri ke tengah, mengarahkan ujung bilah lurus ke arah dada pria misterius
Tap.. suara sepatu pria misterius menghentak mengawali gerakan menghindarnya. Ia mengelak dari lunge Alex ke arah kanan.
Tap.. ia menghentakkan kaki lagi seraya mencondongkan tubuh ke belakang, mendorong tubuh langsing sang pria menjauh dari area serangan Alex.
Mata sabre Alex masih mencari sasarannya, menyisir lembut memburu pergerakan pria misterius ke sisi kanan, maju mengejar ketika pria misterius mencondongkan tubuh ke belakang ataupun saat pria misterius melompat mengambil jarak untuk bisa melayangkan sebuah tusukan manis di jantung sang pria misterius.
Pria misterius tertegun, gerakan kaki dan tubuhnya masih sempat dalam menghindari sembilan lunge berturut - turut dari Alex. Lantas tangan kiri pria misterius mengayun pelan mengarah ke saku celana di sisi kiri pinggang, seperti pertunjukan sulap dari tangan itu keluar dua pisau belati lagi, satu terletak di antara jari telunjuk dan tengah, satu lagi terletak di antara jari tengah dan jari manis. Belati yang berada di antara jari tengah dan telunjuk ia lempar ke udara berputar tepat di depan wajah mulus sang pria misterius. Sementara satu belati lagi ia lempar ke arah kaca jendela di sisi kiri, memecahkan kaca itu seketika. Satu belati yang ia lempar di depan wajah kemudian ia tangkap dengan tangan kanan. Belati itu dipegang seperti yang hendak menikam, mengarahkan bilah belati ke sisi luar bilah sabre Alex yang masih meluncur deras seperti ular mengejar mangsa, memukul bilah sabre Alex. Dengan cara itu lunge Alex berhenti. Kemudian ia memalingkan tubuh, mengambil hentakan kaki melangkah panjang merentangkan kakinya yang lentur. Ia berlari ke arah kaca yang telah ia pecahkan. Sembari berlari ia melemparkan belati ke arah mata Alex yang sontak dihalau dengan mudah.
Pria misterius sampai di ujung bibir jendela, ia merentangkan tangan ke atas meraih ujung atas jendela melakukan teknik pull up. Tangan sang pria misterius lentur seperti pegas, dengan teknik merentangkan tangan dan sebuah tarikan ia sudah bisa melemparkan tubuhnya vertikal ke atas menghilang dari pandangan Alex.
"Tadi congkak dengan berbicara seolah - olah benar, sekarang berlari seolah - olah kucing yang kepergok mencuri tulang," gerutu Alex.
Sang pria misterius berada di balkon tepat di bawah jam besar dengan angka romawi putih dan warna dasar hitam. Sementara bagian jam itu bersinar berwarna kuning.
Alex berlari mengejar, melompat keluar dari jendela dan menancapkan ujung sabre itu di dinding luar gedung. Seperti galah, ia tarik sabre itu hingga melengkung ke bawah untuk dijadikan tumpuan melompat ke arah balkon. Sebelum terlontar ia menarik kembali sabre-nya dengan tangan kiri.
__ADS_1
Tap..Alex kembali berada di hadapan sang pria misterius.
"Menarik," kata sang pria misterius, dua buah belati ia lempar, satu ke arah kepala Alex, satu lagi ke jantung Alex.
Alex memutar sabre dari tangan kiri, gagang sabre menghalau belati yang mengarah ke dada, sementara bilah tajam sabre menghalau belati satunya. Gerakan sirkus itu ditutup dengan dipegangnya sabre oleh tangan kanan Alex. Alex mencodongkan tubuh melompat maju menggunakan forward step selangkah kemudian berhenti untuk melancarkan sebuah lunge dadakan ke arah mata pria misterius.
Sang pria misterius kembali mencondongkan tubuh ke belakang seperti ingin menghindar... memberi kejutan. Ia tidak menghindar melainkan berputar searah jarum jam maju ke arah Alex menghadiahkan sebuah tendangan ke arah sabre Alex. Sebuah kail menganga di ujung sepatu pria misterius menahan gerak bilah sabre Alex.
"Trik demi trik kamu perlihatkan," kesal Alex, mereka berdua saling mengunci. Alex tidak bisa menarik bilah sabre-nya dan pria misterius masih mengangkangkan kaki kanan yang bertumpu pada kaki kiri.
Langit penuh bintang tanpa bulan sedang menerangi malam, memperlihatkan perkelahian antara dua pria berjas di atas balkon gedung.
Tiba tiba balkon menjadi gelap. Bukan karena awan yang menutupi langit berbintang tapi sebuah bola hitam besar menutupi cahaya ke arah mereka. Bola hitam besar itu mengarah ke bagian tengah gedung, menghantam ruangan Alex dan mematahkan gedung itu menjadi dua. Sisi yang sedang dipijak dua orang ini terjatuh ke sisi timur.
Berada dalam keadaan tersudut, dalam balkon yang sudah miring, mereka berdua yang masih saling mengunci sadar posisi mereka terancam jatuh bersama sisi gedung yang patah. Pria misterius mengambil inisiasi, ia menarik kaki kanan mencoba menarik sabre Alex. Alex menahan sabre itu supaya tidak tertarik. Pria misterius mengambil kesempatan itu untuk melompat menarik tumpuan kaki kiri, mengarahkan tendangan menyabit ke arah tangan Alex. Di telapak sepatu kaki kiri pria misterius terselip belati yang siap memotong tangan Alex.
Alex menarik lengan, membiarkan sabre miliknya direbut oleh pria misterius. Mereka sudah terbebas, pria misterius melompat ke atas puncak menara sembari membawa sabre Alex di tangan kirinya ke sudut menara yang berada di atas. Dengan tumpuan patung singa yang ia pijak, pria misterius melompat menjatuhkan diri.
Blarrr... efek suara yang terdengar memenjarakan telinga dari suara lain dalam sekejap, debu menghempas ke segala arah dari bekas jatuhnya reruntuhan gedung itu.
Pria misterius mendekat ke enam orang Trivellios termasuk Seeran dan Alot, ia melangkah pelan, tidak terburu - buru. Tangan kirinya masih memegang sabre Alex.
"Sabre Alex ?" kata Seeran yang mengenal sabre Alex dengan simbol khusus singa di ujung gagangnya.
"Tampaknya kau mengenal pedang ini ya ?," gumam pria misterius ke Seeran yang fokus melihat sabre yang dipegang pria misterius yang semakin dekat, hanya berjarak 20 meter. Pria misterius melompat tinggi ke atas, melempar sabre Alex ke arah prajurit Trivellios. Ketika kembali menjejak tanah pria misterius langsung menghentakan kaki mendorong tubuh untuk berlari maju ke arah Seeran dan rekan - rekannya.
Para Trivellios dengan mudah menghindari lemparan sabre pria misterius yang kemudian tertancap di tanah. Mereka merespon, menarik bilah pedangnya dan berlari maju menyambut pria misterius. Seeran menekuk siku tangan kanan, mengarahkan sebuah lunge ke arah dada kiri pria misterius.
[1] Pria misterius merendahkan bahu, menghalau tusukan Seeran dengan memukul pergelangan tangan kanan Sheeran, membuat tusukan itu melaju di luar bahu kiri pria misterius. Setelah menghalau, sebuah pisau sudah berada di balik sarung tangan putih pria misterius menghujam indah ke jantung Seeran. Tangan kiri pria misterius meraih rapier Seeran, merebutnya.
[2,3] Seeran terjatuh, lima lainnya mendekat. Pria misterius merendahkan tubuh kemudian berputar dari tubuh Seeran berlawanan arah jarum jam. Ia mengarahkan satu tusukan dari rapier di tangan kirinya ke jantung orang di sisi kiri pria misterius, dan menancapkan pisau ke jantung orang di sisi kanan sekaligus.
[4,5] Pria misterius tidak berhenti, ia mencabut kembali pisau dan rapier,
melompat, berputar di udara melewati dua serangan lunge dari dua orang yang tersisa. Sembari berputar, ketika posisi kepalanya berada di bawah dan kaki di atas, pria misterius menebas leher dua orang sekaligus dengan rapier dan pisau.
__ADS_1
"Uhuk, kau.." sebuah teriakan merintih tajam terdengar.
Seeran mencoba membangunkan tubuh, melihat sosok yang sedang merintih itu. "Tuan A.," Seeran membuka mulut mencoba berbicara dua kata yang tidak sanggup ia teruskan, tubuh Seeran terlebih dahulu terjatuh lemas -tewas. Alex sedang berjalan mendekat, tubuhnya sudah penuh darah, tangannya menggantung lemas, kumis dan alisnya habis terbakar, baju jas hitam yang semula rapi itu kini berantakan dan robek di sana sini.
"Mungkin kamu akan mempertanyakan bagaimana aku bisa selamat ?" kata pria misterius dari kejauhan. Sabre yang ia lempar tadi tertancap di tanah tepat di sebelah kakinya. Ia mengambil sabre itu dan melemparkannya ke arah Alex. "Tapi jawaban itu silahkan gali kembali saat sorielle stance."
JLEB..lemparan itu mengenai dada kiri Alex. Alex pun terjatuh tertusuk oleh sabre bermotif kerajaan Burganvia kebanggannya sendiri.
"Ku kembalikan pedangmu, dan kuajari bagaimana sesungguhnya mengincar jantung yang benar, tuan pemimpin," kata pria misterius. Ia meletakkan topi di dada membungkuk memberikan penghormatan.
Empat orang berpangkat renc, Dua orang berpangkat gech Seeran Gordougan dan Alot Guirnburg, satu orang lagi gubernur kota Vietersburg Alex Keril Agnist Fikredburg. Beberapa dari sekian banyak orang yang gugur malam ini.
~Biografi Alex Firkedburg~
Bernama Alex Fikredburg. Ayahnya, Keril Fikredburg merupakan seorang pensiunan Trivell Aquiros yang hanya mencapai pangkat sech, pangkat level 5. Ibu Alex hanya seorang petani yang tiap hari mengurusi sawah di salah satu pinggiran kota Recthaburg. Ayah Alex jarang pulang karena harus bertugas di ibukota Kerajaan Burganvia. Meskipun jarak kota dengan ibukota hanya dibatasi oleh dinding ibukota, namun untuk sampai ke ibukota butuh waktu setengah hari dengan berkuda.
Menginjak umur 13 tahun Alex lulus sekolah tafakum an haluks, masih sangat muda dan menjadi murid paling cakap di sekolah itu. Alex terkenal rajin, dan selalu disiplin. Ia lebih banyak diam daripada berbicara. Setelah lulus dari tafakum, Alex melanjutkan pendidikan ke ibukota di nadalaulich an haluks. Di sekolah ini memiliki target untuk mencapai lulus dalam 5 tahun, tapi Alex menyelesaikan sekolah dengan sempurna hanya dalam 4 tahun.
Setelah lulus Alex bekerja di birokrasi kantor pusat Trivell Aquiros di area persegi Catallinburg, beberapa ratus meter dari istana Scrta tempat Raja dari Kerajaan Burganvia tinggal. Satu tahun ia mengabdi, tiba - tiba ia diajukan untuk mengikuti pelatihan bersama di tutiva an haluks. Setahun kemudian ia mengikuti latihan tanpa henti karena setiap bulan yang ia lalui ia selalu mendapat pujian atas prestasi baik di kala latihan menembak jitu, bela diri dasar, dan fencing. Hal itu membuatnya mengalahkan beberapa murid reguler.
Lulus dari pelatihan, Alex langsung dilantik menjadi asisten divhead Recthaburg, menjadi wakil perwira berpangkat vith pangkat Trivell Aquiros level 7. Keberuntungan dari akibat sifat Alex yang selalu all out membuahkan hasil, perwira yang ia wakili naik pangkat menjadi perwira utama istana, membuatnya harus menggantikan posisi itu untuk sementara.
Alex 23 tahun, ia sudah mendapatkan pangkat Vins dan berhak untuk menjadi perwira utama di istana ketika terjadi rapat penting. Dalam meraih pangkat yang lebih tinggi di jajaran perwira Trivell Aquiros dilalui dengan ajang duel yang dilakukan di lapangan tertutup di area bawah tanah di bawah gedung inti tutiva an haluks. Alex sebagai perwira berbakat selalu melalui tes ini dengan mudah.
346 L, hari itu Alex ditunjuk menjadi jenderal Trivell Aquiros. Umur Alex kala itu baru saja menginjak 26 tahun, dan baru setahun mengemban tugas pangkat vist. Pangkat itu diberikan oleh raja vois Freint Edei Rindeburg [memerintah Burganvia dari tahun 290 - 353 L], vois Freint juga memberikan gelar bangsawan tingkat 1 kepada Alex sehingga Alex bergelar agnist atau singa. Sepuluh tahun ia mengemban tugas itu sebelum digantikan oleh anak muda paling berbakat dalam sejarah Trivell Aquiros, Lana.
Setelah ia melepas pangkat besar Trivell Aquiros, Alex ditunjuk menjadi gubernur Vietersburg. Hal ini dikarenakan pencanangan Vietersburg menjadi kota perdagangan di masa yang akan datang. 2 tahun mengemban tugas menjadi gubernur, Raja Burganvia menetapkan Vietersburg menjadi kota penjara untuk para pendatang, itu dilakukan karena akses masuk Pulau Arvana yang semula berasal dari Leuraghiburg dipindah ke Vietersburg. 10 tahun berlalu Vietersburg sudah menjadi kota perdagangan yang berhasil. Dan di tahun ke-20 ini saat orang yang merubah, membesarkan kota meninggal, kota Vietersburg juga ikut runtuh dalam puing - puing bekas kejayaan, menyisakan kepedihan, meninggalkan kenangan.
~Di sudut barat daya kota Vietersburg~
Beralih ke masa sekarang ketika genosida terjadi di kota Vietersburg yang berkedok penyerbuan. Di sebuah gang kecil selebar dua meter, di sudut kecil perkampungan pengrajin vietersburg yang terletak di bawah jalan tinggi menuju tebing selatan kota. Di sana ada sebuah rumah kecil tanpa hiasan, polos, hanya tertutup bata jingga beserta atap cokelat yang masih baru di cat. Dari rumah ini suara tangisan bayi terdengar nyaring.
"Tenang ya nak," kata sang ibu dari bayi yang sedang memeluk erat bayi, meredakan tangisan bayi. Empat gigi dominan menghias bibir manis sang ibu. Rambut hitam panjang dibiarkan terurai tak berdaya.
Brak.. pintu depan cokelat terjatuh berserakan di depan mata perempuan itu. Dua orang berbaju serba hitam, membawa parang berteteskan darah masuk ke dalam rumah menambah kegelapan di kota Vieterburg malam ini.
__ADS_1
~