Nara, When Dusk Darker Than The Dark

Nara, When Dusk Darker Than The Dark
the dusk was orange or red lex ?


__ADS_3

Sau Gie berlari kencang ke jalanan utama sembari menggerutu, "Jika ini ulah orang dari pelopor perang senja yang masih bebas, harusnya penyerangan di lakukan saat fajar. Apa yang mereka inginkan ke Burganvia. Di Burganvia hanya berisi orang – orang Erthesia, kalau pun ras lain harusnya tidak banyak." Ia melihat kota sudah porak poranda tapi penyerangan belum sampai ke lereng.


"Seeran," gumam Sau Gie. Ia terhenti ketika melihat seorang pria bertopi Trivellios berambut hitam keriting pendek dengan tai lalat di pipi sebelah kiri. Seeran dan anggotanya sedang beradu pedang dengan penyerang.


"Hup," Sau Gie menarik bilah pedang dari sarungnya, dengan cepat ia melepaskan lima tebasan ke musuh yang sedang menahan anggota Seeran. Gerakan Sau Gie dimulai dengan menunduk rendah, ketika ia sudah menarik pedang sebuah tebasan bulan sabit ke atas mengarah ke leher akan ia lepaskan. Luka goresan memang tidak dalam tapi cukup untuk memutuskan urat nadi di leher dan membuat lawan lumpuh. Untuk langkah dalam posisi tebasan, Sau Gie menggunakan hentakan kaki seperti forward step dalam anggar, hanya saja teknik Sau Gie kali ini dimulai dengan menunduk sehingga hentakan kakinya akan membuat tubuhnya meluncur membentuk sudut 45 derajat. Dalam sekejap 16 orang yang menghalangi kelompok Seeran terjatuh tidak sadarkan diri dengan leher tergores.


"Kemana senapan kalian ?" tanya Sau Gie ke para prajurit sambil menyarungkan pedang


"Senapan kami rusak, pelatuknya tersangkut dan beberapa ada yang meledak ketika ditembakkan," jawab Seeran sembari terengah.


"Semuanya ?"


"Sepertinya begitu," Seeran mencoba mendekati para penyerang yang tergeletak. Ia mendapati salah satu dari mereka ada yang memiliki tanduk. "Mereka sangat cepat, dan sepertinya sudah menyebar ke seluruh penjuru kota."


"Di kota ini banyak orang kuat, jika mereka hanya setara orang – orang ini harusnya tidak terjadi tragedi separah ini," Sau Gie menunduk. Kemudian seekor burung vilgist menghampiri Sau Gie memberikan sebuah kertas. Burung itu berwarna cokelat tua dengan ekor berwarna putih, paruhnya melengkung besar seperti rangkong berwarna merah dilengkapi bulu panjang seperti rambut yang diikat ponytail memanjang di punggung burung. Setelah memberikan kertas, vilgist itu kembali terbang mengudara ke arah barat.


"Begitu," gumam Sau Gie setelah membaca kertas pemberian burung vilgist. "Seeran, kembalilah berkelompok dengan para ketua regumu. Selamatkan penduduk yang kamu bisa."


"Sensei ke mana ?" tanya Seeran.


"Aku akan mencari dalang dari semua ini," jawab Sau Gie, ia berpaling memunggungi Seeran, memperlihatkan baju bermotif naga.


"Ijinkan kami ikut, kami akan membantu," Seeran memohon.


"Terserahmu saja," Sau Gie kemudian berlari maju ke arah pantai menyusuri jalanan utama, ia kemudian melompat ke atas atap rumah di sisi selatan jalanan utama berpindah menyebrang ke sisi utara dalam satu kali lompatan. Kali ini ia menyusuri jalan menuju gedung pemerintahan. Setelah itu, Sau Gie melompat lagi ke bangunan di sisi timur gedung pemerintahan lantas menghilang dari hadapan Seeran.


"Terlalu cepat sensei," kesal Sieran yang tidak bisa mengikuti gerakan Sau Gie. Ia melihat sekeliling, di lokasi sekitar gedung pemerintahan belum terjadi kerusuhan, ataupun bangunan hancur. "Sensei mengarahkanku ke daerah aman," rintih Seeran, ia menunduk lemas karena belum bisa seperti Sau Gie yang cukup kuat untuk memikul beban sendiri. "Cari penduduk di rumah - rumah. Yang selamat segera bawa ke lapangan iniyahanda an haluks dan lindungi."


"Lapor gech Seeran. 21 orang dari vloegh kita telah tewas," kata anggota Seeran bermuka cekung yang sudah hilang semangatnya. Sheeran menjadi pimpinan vloegh 21 karena ditinggal oleh Tarius yang berlari maju lebih dahulu.


*vloegh : squad

__ADS_1


"Aku tau. Tetap berkumpul dan lindungi penduduk yang selamat," kata Seeran menepuk pundak anggotanya itu.


"Gech, para Trivellios di depan parliament semuanya tewas," seorang dari anggota Sheeran yang memeriksa halaman gedung parliament melapor. ia nampak tergesa - gesa.


"Terima kasih. Aku segera ke sana," sahut Sheeran, mukanya sudah pucat karena cemas akan keadaan istri dan anak yang ia tinggal di rumah. Meskipun rumah yang ia tinggali terletak di lereng, di pinggir hutan Frimbose. Petaka yang ia lalui hari ini membuat suasana hatinya semakin runyam. Belum lagi, kemampuan yang ia miliki masih jauh di bawah sosok kuat seperti Sau Gie, sehingga ia belum bisa menyelamatkan banyak seperti apa yang ia harapkan.


Trivellios vloegh 21 yang lain membawa penduduk yang ketakutan di sekitaran parliament ke halaman iniyahanda an haluks.


"Kamu harus tetap kuat gech. Kita bisa melalui ini," kata seorang anggota Sheeran yang memiliki badan kecil dengan gigi payung yang membuatnya selalu tersenyum.


"Iya. Terima kasih Alot," balas Sheeran.


Di sisi Sau Gie, ia saat ini mengarah ke utara dari gedung parliament ke arah aliran sungai di pinggir gedung lluvuku. Dari situ Sau Gie berbelok mengarah ke timur ke teluk menyusuri barisan rumah di bantaran sungai. Di hadapannya api sudah membumbung tinggi dari balik puing rumah. Radiasi panas api terasa menyengat kulit. Jalanan sudah dibanjiri air yang mengalir deras ke tempat yang lebih rendah. Sau Gie melompat lagi ke salah satu atap rumah yang berbatasan dengan sungai. Ia melemparkan pandangan ke bantaran sungai, ada sebuah bola hitam besar menutup sungai yang menyebabkan banjir.


"Sensei," sebuah teriakan terdengar dari arah seberang sungai di belakang rumah Nata, ia berdiri tepat di tepian sungai.


"Nata, Raka berada di mercusuar. Cepatlah ke sana, hindari pertempuran," teriak Sau Gie menunjuk ke arah ujung tebing di arah utara, ke sebuah mercusuar.


Nata beranjak pergi, ia merasakan keseriusan dari cara berdiri Sau Gie. Tangan Sau Gie juga memegang pedang dengan erat. Nata berlari ke arah utara menuju tangga ke atas tebing, menuju mercusuar. Ia melangkah dengan tetap merasakan sekitar jalur yang dilalui, Nata mencoba menghindari satu demi satu orang – orang yang ia anggap asing. Dalam pelarian itu ia merasakan seorang pria dengan mata yang berapi. Pria itu berdiri di atas atap rumah memandang ke arah gedung pusat pemerintahan.


Jantung orang itu di mata ?


Tidak, sekujur tubuh orang itu memiliki titik api, apakah jantungnya berada di seluruh tubuhnya ?


Siapa sebenarnya dia ? -pikir Nata.


Nata merasakan hal ganjil, dan sesaat kemudian pria itu mengarahkan pandangan ke Nata. Nata seketika kaget, ia tau posisiku sekarang ? – pikirnya.


Bagaimana bisa, - Nata lantas mempercepat larinya. Posisi Nata saat ini sudah mendekati tebing yang akan mengantarkan Nata menuju ke tempat Raka berada. Aku harus cepat mencapai tempat Irou, mereka bukan orang – orang biasa – Nata menaiki tangga dan meninggalkan rasa janggal hatinya.


~Di Depan Area Museum Jeo Paradize~

__ADS_1


Sedikit ke arah selatan, di tempat yang siang tadi berkumpul banyak orang bergembira merayakan festival.


Klik.. sebuah pelatuk revolver ditarik dengan jempol oleh pemegang, seorang pria berambut hitam kumal dengan ciri khas kelopak mata berminyak. Sebuah kaos kemeja cokelat bermotif ombak berwarna putih berlengan pendek dipakai pria itu. "Di sini adalah uang kita," kata pria itu, cerutu hitam melekat di bibir yang sudah berwarna hitam kelam. Kaki tangan dengan rambut yang panjang terlihat jelas dikarenakan celana cokelat sebatas lutut yang ia kenakan.


Tap.. Dua langkah mengarahkannya ke depan pintu museum dengan papan bertuliskan :


alu


JEO


menggantung di pintu. Tangan sang pria berkelopak mata berminyak yang dibungkus oleh sarung tangan hitam dengan benang rajut keluar meliuk meraih gagang pintu, memutar gagang pintu yang berkilau karena terbuat dari aluminium berwarna hitam. Mata yang terperosok masuk di dalam tulang tengkorak itu melotot seketika, menerobos kantung mata yang tebal dan lembek. Api menyambar terlihat dari balik kaca, dalam sekejap mata pria itu disentakkan oleh terbakarnya museum. Sontak ia melompat mundur beberapa langkah dengan cepat, sepersekian detik ia sudah menjauh 10 meter dari pintu yang semula ia buka itu. "Pintar juga, dengan ini aku tidak bisa mencuri barang yang kau koleksi," gumam pria itu.


"Tuan tolong minggir, reruntuhan akan terjatuh," kata salah satu anggota pria itu, mereka mengenakan kaos cokelat polos dengan celana panjang hitam ketat. Salah satu yang memperingatkan si pria memiliki mata yang bulat dan wajah yang kotak kaku tertutup oleh lemak pipinya.


Blarr.. reruntuhan terjatuh. Sang pria sudah berada di bibir taman di depan museum, terduduk manis. "Amankan area ini, dan tunggu hingga api itu padam!" perintahnya.


"Mati atau hidup ?" tanya salah satu anggota sang pria, hidungnya besar, ia memakai kaos berlengan panjang yang menutupi seluruh lengan hingga tangan. Kakinya juga tidak terlihat, tertutup oleh celana yang amat panjang. Hanya suara kayu yang terdengar ketika mereka melangkah.


"Mati. Aku tidak merasakan ada nyawa orang di dalam sana," jawab si pria, asap mengepul dari cerutu yang baru saja ia hirup. Ia mengusap elopak mata berminyak nan tebal dengan jari. Matanya pun kembali menutup rapat, membuatnya nampak sipit. "Dasar Madrou. Instingmu belum tumpul rupanya," gumam sang pria.


~Gedung Parliament Vieterburg~


Ruangan kerja sang gubernur diputari oleh kaca untuk melihat keadaan kota tanpa perlu bergerak banyak. Dua baris rak buku di sisi utara, satu meja kerja di sisi selatan membelakangi matahari yang akan datang, dua sisi lagi diisi oleh beberapa sofa yang digunakan untuk tamu yang hendak berjumpa dengan bangsawan bergelar singa itu.


Ketika Sau Gie baru saja beranjak pergi dari depan area gedung. Sepasang mata sedang melihat gerak langkah pria berjuluk naga itu. "Kau bergerak juga agant," kata anherany an vietersburg Alex Fikredburg, dua mata dengan alis hitam tebal seperti dilukis itu melepas pandangannya ke arah teluk. Merah bara api menyebar di teras kota, asap hitam membumbung di kaki langit, dan puing – puing rapi berserakan menghiasi pandangan orang yang selalu menjadi perintis awal kedamaian di kota ini. Tangan pria ini mengelus pelan gagang rapier hitam bermotif lambang kerajaan Burganvia, seekor singa yang tertidur. "Singa yang sudah lama tertidur akan mengaum sekali lagi," katanya.


*agant : naga


Tap.. suara langkah menghampiri Alex.


"Jadi, apakah kau ingin mengubah warna jingga senja menjadi merah ?" tanya Alex ke arah orang yang bersembunyi di balik bayangan rak buku di sisi utara ruangannya.

__ADS_1


"Senja itu jingga kah ? merah kah ? kotamu sudah jingga, kalo kita beri merah maka-," balas pria itu, ia memakai topeng putih berpola garis membentuk ekspresi senyuman. "-akan lebih meriah bukan, lihatlah bahkan ada warna hitam mempercantik kotamu-." Ia melangkahkan kaki lagi. "-sekarang ini," lanjutnya.


__ADS_2