Nara, When Dusk Darker Than The Dark

Nara, When Dusk Darker Than The Dark
Second Day of Festival


__ADS_3

"Ayo irou," ajak Nata.


Nata dan Raka beranjak pergi berjalan menuju taman selatan kota Vietersburg. Kepulan asap beraroma khas ikan sudah mengepul di langit - langit. Bersama mereka para tetangga mulai memenuhi jalanan menuju taman kota, menghadiri acara puncak kedua dari festival jingga.


"Kita duduk disini saja," kata Raka menghampiri sebuah pot besar berisi pohon menyerupai beringin dengan buah ungu kecil mirip anggur. Mereka telah sampai di tengah taman kota di depan museum Jeo an Paradise.


"Lihat ereu, mereka sudah mulai memasak," tunjuk Raka ke arah kerangka besi hitam setinggi satu meter berbentuk piramida terpancung menyangga kotak seluas lapangan tenis. Satu kotak pemanggang khusus ini sudah diisi adonan kue poga berbentuk setengah bola. Untuk memasak kue diatas pemanggang raksasa itu digunakan perapian berupa tanah cekung yang telah digali, diisi oleh kayu yang dibakar sehingga api yang berasal dari kayu bakar itu tidak akan menyebar ke segala arah akibat menggelinding.


"Aromanya mulai tercium harum," hidung Nata mengendus mencium aroma kue yang berasal dari panggangan.


"Iya," sementara Raka melihat para koki - koki dari café dan restoran sepanjang penjuru Vietersburg dengan kantung mata yang sudah mengantung menghitam.


Dua jam sudah sejak masakan pertama dimulai, 23000 kue telah matang kemudian dibungkus dengan daun dari pohon kurya dan diletakkan di atas papan dari kayu yang sangat besar di tengah – tengah taman yang biasa digunakan sebagai panggung hiburan. Taman ini memiliki dua bagian secara garis besar, bagian pertama sebuah lahan dengan bata jingga, kemudian bagian kedua menghampar rerumputan dengan beberapa tumbuhan ramah berwarna biru, hijau dan ungu sampai ke arah tebing yang menjulang tinggi. Barisan warga duduk dengan teratur berkumpul di taman dengan tanah yang dilapisi dari bata – bata jingga. Para penduduk ada yang duduk di bahu jalan, di kursi taman, di tepian pot besar yang berisi pohon, maupun duduk di rerumputan yang dibatasi bahu jalan. Mereka semua memenuhi taman ini.


Setelah penduduk memenuhi area taman, acara dimulai. Seorang pria berambut putih setengah lingkaran yang mengenakan kemeja dan celana panjang serba kuning berdiri dari kursi yang dikelilingi meja kayu cokelat yang ditutupi oleh sebuah payung besar di atas atap museum.


"Horreu," sambutnya.


*horreu : selamat datang.


"Penduduk kota Vietersburg di acara festival yuare an vieter hari kedua." 


Tepuk tangan bergemuruh meramaikan taman selatan Vietersburg.


"Sejarah memang sudah berlalu tapi tidak untuk dilupakan, sejarah adalah pengalaman untuk terus membangun berkembang ke arah yang lebih baik. Saya Evilla Madrou akan memandu jalannya acara ini. Acara akan dimulai dengan pembukaan pidato oleh anherany Vietersburg," tunjuk Madrou ke arah Gubernur berkumis runcing mengenakan kemeja serba hitam dengan kaca bulat pembesar di sebelah mata kanannya. Gubernur itu berdiri meyakinkan keberadaanya kepada penduduk.


"Selanjutnya acara puncak yaitu pembagian kue poga. Tahun ini vunie an visser na koch Vietersburg mendapatkan 102 ton ikan yang langsung diolah oleh kochiels. Mereka bekerja keras tanpa istirahat untuk menyediakan kue poga."


*vunie an visser na koch : serikat nelayan dan koki, kochiel  : para koki.


"Selain itu,  terima kasih kepada vunie an svhemie yang telah membuatkan pemanggang. Acara ini terselenggara berkat dukungan semua orang penduduk kota Vietersburg."


"Sekian dari saya. Dipersilahkan, anherany Vietersburg Alex Fikredburg menyampaikan pidatonya." Gubernur mulai berdiri untuk bersiap menyampaikan pidato.


"Raka," teriakan suara dari Silvie yang khas memanggil, mata sipit itu terpejam. Ia mendekat ke arah Nata dan Raka.


"Kemari duduk," kata Raka menarik tangan Silvie. "Anherany akan berpidato."


"hora vebr. Sekali lagi selamat merayakan yurae an vieter. Semalam penangkapan ikan oga berjalan sukses, 85% populasi ikan oga terpantau tertangkap sehingga kita akan aman dari ancaman banjir ikan oga sampai Thenea Ovuram an Ghivia berikutnya. 


Ini penting, dikarenakan masih dalam keadaan Thenea Ovuram an Ghivia agar jajaran keamanan Trivell Aquiros tetap waspada. Kami menjanjikan akan menyelesaikan pembangunan lima tower di sekitar dermaga yang mundur dari jadwal seharusnya bisa selesai dalam tiga hari kedepan. Pelaku korupsi pembangunan tower sudah ditangkap dan akan bertanggung jawab sepenuhnya.


Untuk misi keamanan tahun ini diketuai oleh vith Jurgen Helmburg dibawah pengawasan saya. Sekali lagi selamat menikmati kue poga, selamat berlibur untuk penduduk saya tercinta. Festival ini akan ditutup saat tengah hari untuk mengistirahatkan raga. Untuk melanjutkan keseharian seperti semula besok. Herrena Vebr."


Setelah gubernur selesai berpidato, kue - kue itu pun dibagi oleh para prajurit Trivellios yang tetap mengenakan seragam khas mereka. 


Ditengah pembagian kue, ditengah keramaian di tengah taman.


"Raka, antar aku ke Virata Velite nanti ya." kata Silvie mengajak Raka mumpung ada waktu senggang sore ini.


"Bersama Nata kan Vie ?" tanya Raka.

__ADS_1


Nata memalingkan muka ke Raka dan mendekatkan bibirnya ke telinga Raka, "Aku harus bertemu Fianita sore ini kak," bisik Nata.


"Baiklah," Raka spontan menyanggupi. memang, selalu saja memberi kesempatan – pikir Raka.


Hari ini tempat bersekolah Raka diliburkan, begitu juga dengan Dojo Sau Gie yang libur untuk merayakan festival jingga. Semua toko – toko dari ujung depan dermaga hingga belakang kota semua meliburkan diri. Hal ini memang kebijakan dari Gubernur kota Vietersburg 14 tahun lalu untuk membuat hari ini sebagai hari libur, ia menciptakan festival ini supaya rakyat kota Vietersburg bisa berkumpul bersama merayakan hari dimulainya bulan Thenea Ovuram an Ghivia. Pada hari ini juga 17 tahun lalu pendatang mulai bermunculan di kota Vietersburg.


Raka dan Silvie beranjak pergi.


"Sampai nanti Nata, hehe," senyum Silvie, kepalanya menunduk diikuti lirikan miring.


"Oke," gumam Nata sendiri, ia berjalan ke arah barat kemudian berbelok sedikit menjorok ke arah barat laut memasuki jalan kecil yang diapit dua dinding belakang rumah setinggi dua meter. Suasana siang benderang tapi berbeda dengan cahaya jalan kecil yang dilalui Nata, gelap terhalang oleh dinding.


Nata berhenti melangkah, di hadapannya gadis berambut cokelat dengan sanggul bakpau menunggu sedang bersandar di dinding yang lembab.


"Kita berpisah di sini Nata. Aku akan merindukanmu," kata Fianita.


"Kamu akan langsung pergi ?"


"Iya, Vie harus mengirimkan barang ke Ibukota yang harus sampai dalam lima hari," saut Fianita meringis tertawa kecil. Ia melepas sandarannya, melangkah maju ke Nata selangkah.


Nata sigap menghindar, mundur ke belakang. "Apa yang ingin kamu lakukan Fia ?" tanya Nata, awas.


"Haha, memang selalu waspada ya. Aku hanya ingin memberi kecupan. Aku tidak tau kapan kita akan bertemu lagi," tawa Fianita menutup mulutnya.


"Tidak apa, aku sudah senang kamu mau berpamitan padaku Fia."


"Hei siapa yang ingin kamu senang. Aku ingin berpisah," Fianita cemberut.


"Ah baiklah," Fianita menyerah.


"Fia," sebuah panggilan dari ayah Fianita dari arah depan gang memecah perbincangan mereka.


"Kemari Nata ada yang ingin kuberikan," Fianita menarik tangan Nata ke arah ayah Fianita memanggil. Ia meraih sebuah bungkusan kain panjang berwarna biru.


"Ini kuberikan padamu," kata Fianita. menyerahkan bungkusan berisi sesuatu  seperti tongkat panjang.


Ayah Fianita ikut tersenyum,"ambillah Nata. Fianita bertanya padaku untuk mendapatkan bilah pedang untukmu."


Senyum nata seketika merekah, "Terima kasih orou. Fianita." Nata membuka kain pembungkus dan mendapati sebuah pedang dengan ukiran tulisan yang tidak dikenali Nata sepanjang 1,2 meter melengkung mirip katana.


"Selamat tinggal Nata," kata Fianita, ia menaiki kereta barang ayahnya.


"Selamat jalan, Terima.kasih."


Mereka pun berpisah. Sembari merangkul bungkusan berisi pedang Nata melanjutkan berjalan melintasi belakang rumah – rumah pengrajin logam. Banyak besi – besi hitam dan perunggu berserakan di bahu gang. Salah satu dari penghuni rumah itu sibuk sedang mencuci besi yang berasap setelah di pahat. Mereka mencucinya di samping rumah di dekat sumur yang kesemuanya tersusun dari bata jingga.


Nata masih lurus mengarah ke barat bertemu dengan dua jalan yang melintang dari utara ke selatan yang berasal dari jalanan utama. Jalan pertama sejajar dengan tanah yang dipijak Nata, satu lagi di atas berbeda tiga meter dari jalan pertama. Untuk naik ke jalanan yang berada di atas harus melalui tangga tegak lurus, sehingga tidak semua orang bisa melaluinya. Mereka yang tidak bisa melaluinya harus memutar melalui jalan utama.


Dua jalan berbeda tinggi sudah dilalui, sekarang ia disambut oleh rumah – rumah yang lebih padat dengan gang yang hanya semeter lebarnya. Di area ini berbagai pekerjaan dilakukan, ada yang menjahit seperti keluarga Agran, mengembang biakan bunga seperti halnya keluarga Silvie, menjadi ahli pangkas rambut seperti keluarga Makhside, menjual buah – buahan dari daerah hutan di tebing selatan kota Vietersburg dan sebagainya. Mereka semua serba memiliki kesibukan masing – masing dan beberapa diantara berpenghasilan tinggi karena keramaian pengunjung. Ketika ekonomi sudah stabil dan tidak terjadi kesenjangan antara penduduk,


kriminalitas juga berkurang. Itulah yang terjadi di Vietersburg.

__ADS_1


Nata sudah sampai di tujuan, di depannya Chayra si gadis berambut putih sedang digandeng oleh ayah dan ibunya. "Sensei," panggil Nata.


"Hei. Bukankah ini hari libur Nata, ?" kata Sau Gie menoleh ke arah Nata, dalam pikiran Sau Gie sepertinya ia sudah memberikan kabar hari ini libur.


"Aku ingin berlatih menggunakan pedang hari ini, biarkan saja aku sendiri. Tidak apa – apa," jawab Nata, menjelaskan alasan hari ini ia ke kediaman Sau Gie.


"Ah baiklah. Mari naik ke atas," Sau Gie meng'iya'kan. Ia melihat Nata yang sedang membawa bungkusan dari kain berwarna biru. Sepertinya itu pedang -batin Sau Gie.


Nata memandang ke kiri merasakan pepohonan berdaun menjari yang sudah berguguran satu demi satu. Daun yang mulai layu di tanah berterbangan diterpa angin. Waktu berlalu, nata duduk beristirahat di teras kemudian berdiri membuka kain penutup pedang. Ia hendak berlatih mengayunkan pedang. Tiba tiba, pintu bangunan utama terbuka. Sau Gie keluar dari pintu itu membawa sebuah pedang yang masih tersarung indah. Panjang pedang seluruhnya sekitar 1,3 meter. Gagang pedang itu tidak terdapat cincin pembatas dengan bilahnya.


Sau Gie menarik gagang pedang yang tentu saja mengakibatkan bilah pedang itu tertarik dari sarungnya, memperlihatkan bilah katana yang tajam. Kejernihan dan kilauan pedang dapat terlihat dari bayangan yang terpantul jelas di pedang itu. Seraya mengangkat pedang Sau Gie berbicara, "Kamu bisa merasakannya Nata, pedang ini memiliki dua bilah, satu tajam dan satu lagi tumpul."


Sau Gie mengayunkan pedang itu dari atas dengan cepat mengarahkan bilah yang tajam ke lantai dan berhenti beberapa inchi sebelum mengenai lantai, "Ada lima unsur yang dapat merubah sifat manusia secara drastis yaitu : wanita, harta, tahta, kata, dan senjata. Kelima hal itu memiliki sisi tajam dan tumpul. Orang yang paling bijak pun dapat dengan mudah berubah dari sisi yang tumpul menjadi tajam hanya karena lima unsur ini. Seperti memegang pedang ini, jika kita mengenai lawan dengan sisi yang tajam, sisi yang tumpul tidak akan membahayakan kita. Tapi sebaliknya, jika kita mengenai lawan dengan sisi yang tumpul maka sisi yang tajam akan menghadap ke arah kita."


"Aku tidak begitu mengerti," tanya Nata terheran mendengar penjelasan Sau Gie.


"Jika kamu menghadapi bahaya terus menerus maka kamu akan selalu waspada, jika kamu sembunyikan sisi tajammu atau kemampuanmu dan hanya memperlihatkan sisi tumpulmu maka orang tidak akan tau kelemahanmu sesungguhnya. Tapi jika kamu selalu memperlihatkan sisi tajammu, hanya dalam waktu singkat mereka juga akan mengetahui kelemahanmu karena mereka selalu mencari celah dari ketajamanmu itu."


"Sensei, apa aku salah mempelajari pedang ?" kata Nata.


"Tidak," Sau Gie duduk tepat di depan Nata, "Gunakanlah bilah tajam pedangmu disaat kau sudah bisa mengendalikan ketajamanmu."


"Aku akan lebih bijak menggunakan kemampuanku sensei," Nata menunduk kali ini. Ia nampak bersemangat karena sudah mempunyai pedang sendiri, meskipun dari perkataan Sau Gie ia masih belum boleh sepenuhnya menggunakan pedang tajam miliknya.


"Bawalah pedang kayu ini, untuk berlatih setiap saat," Sau Gie memberikan pedang kayu ke Nata. "Sekarang hari libur, nikmatilah liburan ini."


"Iya sensei, terima kasih," tunduk Nata. Ia kemudian berdiri, "aku pamit dulu sensei."


"Iya, nikmatilah waktumu Nata. Tetap selalu jaga emosimu," gumam Sau Gie. Sau Gie tersenyum melihat murid yang bisa dianggap sebagai murid paling ia sayangi itu. Perkembangan yang cepat, fisik yang mumpuni, dan tenang dalam bertindak merupakan alasan dasar Sau Gie menerima Nata menjadi muridnya.


"Apa yang kamu ingin lakukan Nata dengan katana itu ? Kamu tidak boleh jatuh ke jalan yang salah Nata. Kamu harus menjadi orang bijak yang dapat melindungi kebenaran dunia ini."


Hal itu didengar oleh Chayra yang mengintip dari balik pintu. Di belakang gadis kecil dengan kaos putih polos besar hingga memperlihatkan bahunya itu seorang wanita yang tidak lain ibu Chayra dan istri Sau Gie membuka pintu rumah, menghampiri Sau Gie yang sedang duduk di bale menatap ke Nata yang masih terlihat cukup jelas meskipun sudah jauh berada di dekat gapura.


"Nata sudah memiliki pedang ?"


"Iya. Tapi sebelum menggunakannya ia harus mengerti cara menggunakan kekuatan yang ia miliki di jalur yang benar," jawab Sau Gie, ia meraih Chayra dan mengelus pelan kepala gadis itu. "Dia yang akan melindungimu Chayra."


-Jalanan utama kota –


Nata sedang dalam perjalanan pulang. Ia berbelok ke utara mengambil jalan setapak ramai untuk kemudian berbelok ke kanan menuruni tangga. Dari tangga itu ia cukup berbelok ke kiri untuk sampai ke rumah. Deretan kedua dari jalan setelah tangga itu merupakan rumahnya.


"Aku pulang" teriak Nata di depan pintu rumah. Tidak ada jawaban yang berarti dari dalam rumah. Nata langsung mencoba membuka pintu, rumah tidak terkunci rupanya. Keadaan rumah kosong, jendela – jendela tertutup rapat, bahkan tirai jendela juga tertutup.


"Viena, Vie, aku pulang," teriakan Nata lagi dan masih tidak ada yang menjawab. Seharusnya sesore ini tidak mungkin mereka keluar rumah. Karena kedua orang tua Raka dan Nata selalu memberi nasihat untuk tidak pergi saat matahari hendak terbenam.


"Mungkin mereka ada keperluan mendadak," kata Nata berbicara sendiri. Karena sudah lapar, Nata melangkah ke ruang makan mencari sesuatu di balik tudung makan di atas meja. Namun, yang ia dapat hanya secarik kertas. dalam benak Nata tentu saja kertas itu bertuliskan sesuatu, tapi apa daya Nata tidak bisa membaca tulisan itu.


DOOM.. suara dentuman yang menggetarkan tanah terdengar dan dirasakan oleh Nata. Ia dengan cepat mengambil secarik kertas tadi, melipatnya dan menaruh dalam saku. Keluar dari rumah dan bergegas ke arah suara dentuman tadi.


Konflik pertama muncul, apa yang terjadi sebenarnya ?

__ADS_1


__ADS_2