Nara, When Dusk Darker Than The Dark

Nara, When Dusk Darker Than The Dark
It's Festival


__ADS_3

"Yurae an Vieter akan dimulai saat senja berganti gelap," kata Raka ke Nata tanpa basa - basi. Padahal Nata baru saja menghampiri.


*yurae an vieter : festival jingga


Festival jingga dilakukan di pusat area dermaga di kota Vietersburg. Sejak senja tidak akan ada lampu perumahan yang akan menyala terang maupun redup, semua dibiarkan mati. Hanya barisan lampu jalan menerangi kota menyebabkan garis jalan menyala akibat pantulan cahaya. Garis - garis ini akan menuju ke satu tujuan seperti muara dari banyak aliran sungai, ke sebuah kolam dengan pancuran air dan ornament bunga tulip berwarna jingga yang terletak di tengah area perdagangan dermaga. Garis - garis yang terhubung dan menyatu ini bermakna mereka para pendatang datang dari arah dermaga yang kemudian menyebar menuju ke seisi kota.


Festival ini diadakan setahun sekali saat musim hujan datang, dan bertepatan dengan saat yang mereka namakan Thenea Ovuram an Ghivia (Silence Wave Season), yaitu bertepatan dengan bulan mati di saat ombak ganas samudera Ireka menjadi jinak. Keadaan ini hanya berlangsung selama dua sampai tiga hari sejak malam ini.


Bulan mati merupakan titik hitam saat bulan sama sekali tidak terlihat, ini hanya terjadi selama satu dari tiga belas bulan selama setahun. Tanda bulan mati ditandai dengan tidak tampaknya bulan di kala senja dan diawali oleh kemunculan ikan tongkol berwarna jingga yang malam nanti akan memenuhi lautan teluk kota Vietersburg.


Dari arah gedung pusat parliament, konvoi dimulai. Anherany atau gubernur Vietersburg memimpin arak - arakan diikuti oleh beberapa penduduk dan prajurit Trivellios. Mereka seperti sedang mengantar sekaligus menjaga Gubernur dari kemungkinan ancaman.  Ibarat ular yang sedang meliuk - liuk melalui jalanan setapak kota Vietersburg, bagian kepala ular diisi sembilan orang yang berbaris membentuk persegi sempurna dengan Gubernur dilanjutkan berjajar para wakil dari penduduk, dua puluh empat orang yang berasal dari berbagai sudut kota merupakan orang - orang yang dituakan di kota ini ataupun wakil dari serikat.


Para Trivellios yang mengikuti Gubernur memangku senapan di lengan dan mengarahkan ujung senapan itu ke langit. Dari delapan orang itu ada yang berambut hitam panjang dan berhidung mancung, berambut biru pendek dengan kacamata hitam, berambut cokelat keriting bergelombang dengan kumis tipis, ada yang tidak memiliki rambut, ada yang memiliki rambut berbentuk kotak di dagunya, pria kulit putih tanpa rambut wajah dengan rambut pendek hitam, serta dua pria berkulit cokelat yang satu berjenggot keriting berambut cokelat dan yang satunya memiliki rambut pirang bergelombang. Kesemuanya berjalan beriringan teratur menuju ke dermaga.


Para prajurit Trivellios yang lain, yang tidak menjadi bagian barisan arak - arakan menyebar di penjuru kota dengan seragam khas mereka biru tua, mereka semua bersembunyi dari balik cahaya lampu yang bersinar. Menjaga keamanan festival agar berjalan lancar tanpa gangguan.


Barisan para penduduk terdiri dari beberapa warna kulit, ada yang putih kemerahan, kuning, cokelat, hingga hitam. Tidak ketinggalan kulit putih pucat khas penduduk kerajaan Burganvia. Diantara mereka juga ada yang terlihat memiliki kulit yang sama dengan warna cahaya lampu.


Satu persatu kotak jingga yang semula diletakkan di depan masing - masing rumah penduduk dibawa oleh pemilik rumah berjalan mengikuti arak - arakan menuju dermaga untuk kemudian dihanyutkan di teluk melalui bahu dermaga. Seusai para penduduk dengan jumlah yang melimpah ruah itu selesai meletakkan lampu, mereka yang memiliki perahu atau sampan pergi ke tengah laut. Cahaya terang dari lampu - lampu yang dihanyutkan menerangi perahu - perahu yang sedang bersiap untuk memanen ikan oga.


Lampu - lampu kotak ini sebagai tanda atas berkah yang diberikan dan sebagai tanda bahwa sebagian besar penduduk Vietersburg berasal dari lautan lepas yang luas. Kotak lampu - lampu itu terbuat dari kulit pohon yang bisa dimakan, rasanya seperti kulit kentang dan menjadi umpan favorit yang memikat fauna lautan. Kotak - kotak berisikan lampu yang hanyut tiba - tiba diserbu oleh ratusan ikan yang dengan antusias menggerogoti kotak lampu, menjatuhkan lampu berbentuk kristal yang tetap bersinar terang untuk menerangi permukaan air laut hingga beberapa jam kedepan.


Perayaan festival malam ini mencapai puncak saat ikan - ikan oga berhamburan melompat ke atas permukaan laut karena terusik oleh cahaya. Ini merupakan malam berkah dimana mereka dapat membawa pulang beberapa ton ikan sekaligus. Para penduduk yang berada di perahu itu dengan semangat melempar jaring - jaring mereka ke arah ikan - ikan yang bergerombol terkecuali serikat nelayan terkenal BLACK MARLIN yang tidak memakai jaring, melainkan alat - alat unik seperti : tombak yang terikat dengan tali, pisau, tongkat besi bahkan sampai pedang untuk menguliti ikan. Pimpinan mereka, pria berkepala plontos yang diikat tali cokelat hanya menggunakan palu memukul ikan yang melompat - lompat di sekitar perahu samapi ikan - ikan terlempar tak berdaya ke geladak perahu.


Penghujung festival malam ini ditutup dengan disulutnya kembang api yang dipasang di bambu - bambu yang ditancapkan di pot - pot di area dermaga.


Raka dan Silvie menonton perayaan malam ini sejak awal waktu senja tiba. Di sisi ujung atas kota, di lereng puncak Aranie, di sebuah tanah penuh rumput pendek di selatan kediaman Sau Gie.


"Terbang dan menyebar di udara," kata Silvie riang melihat kembang api bertebaran di langit atas dermaga.


"Bagaimana, lebih indah bukan ?" Raka menimpali menyindir Silvie sembari melayangkan senyuman merekah di bibir tipisnya.  Dari posisi mereka di lereng yang sejajar dengan posisi kembang api saat mulai merekah,  membuat kembang api nampak lebih dekat.


Bukan hanya mereka berdua, tetapi juga adik laki - laki Raka. Nata juga ikut memperhatikan kelangsungan festival jingga. Hanya saja meskipun posisi mereka sama, berada pada tempat yang sama, berada pada sudut pandang yang sama. Tetapi, apa yang dirasakan oleh Nata sungguh berbeda dari apa yang bisa dirasakan oleh Raka dan Silvie. Nata yang berada di sebelah mereka hanya bisa menengadahkan kepala ke atas mendengar dentuman kembang api tanpa tau apa yang ia dengar itu adalah sebuah cahaya berkilau yang berpencar indah penuh warna  seperti daun - daun pohon yang melengkung kemudian jatuh menjadi abu. Ia tidak tau betapa berwarnanya langit saat ini.


Raka menoleh ke Nata, ia baru menyadari satu hal melihat Nata hanya menengadah ke langit tanpa ekspresi,


Apakah Nata bisa melihat itu atau tidak ?


Apakah Nata yang bisa merasakan semut yang berada di balik dinding sekalipun itu dapat memaknai keindahan kembang api malam ini ?


Selama ini Nata tidak pernah mau untuk diajak keluar untuk ikut melihat festival jingga sehingga Raka tidak pernah tau apakah Nata bisa merasakan dengan jelas pencaran kembang api itu. Genggaman tangan Silvie ke dirinya ia lepas. Ia menepuk pelan ke pundak Nata. "ereu, Apakah kamu bisa merasakan kembang api itu ?" tanya Raka ke Nata pelan, sangat pelan, suara Raka kali ini sangat halus.


*ereu : adik


*irou : kakak


"Jadi itu suara kembang api irou, tidak berbahaya kan ?" Nata bertanya berbalik, ia tidak menoleh ke Raka. Ia tetap mengarahkan muka dengan hidung kecil landai itu ke langit malam yang masih dihujani kembang api.


Raka melepas tangan kirinya dari pundak Nata, mulutnya menutup erat, matanya ia pejamkan beberapa kali. Tapi air mata itu tetap jatuh. "Maafkan aku," Raka menunduk.

__ADS_1


"Jangan menangis. Hanya karena aku tidak bisa merasakan kembang api itu, bukan berarti aku buta Irou,"


"Aku masih bisa mendengarnya," Nata masih menengedahkan kepala ke langit, seperti mencoba fokus merasakan dentuman kembang api. Tapi apa daya ia hanya bisa mendengar suara yang dengan mudahnya memacu jantung Nata karena tidak bisa merasakan bentuk sesungguhnya keindahan yang dikagumi Silvie dan kakaknya. Dentuman - dentuman ledakan yang memiliki irama yang sama dengan detak jantung Nata, seolah - olah mengagetkan oleh setiap dentuman yang terjadi. Nata sudah ingin berlari menghindar, tetapi semua itu ia tahan. Ia memberanikan diri untuk tetap menghadap ke arah dentuman untuk tetap menghargai kakaknya.


"Merasakan, dan melihat itu sesuatu yang berbeda erei,"


"Tapi, aku tidak buta." Nata mengulangi kata - katanya.


"Ya aku tau," Raka mencoba meredam air matanya, tapi ia tidak tau apa yang bisa ia lakukan ke adiknya Nata kali ini.


"Aku tidak buta."


"Ya aku tau. Aku tau erei bisa melihat melebihi kami," kata Raka mengatupkan mulut. Sementara Silvie hanya bisa menunduk malu merasakan dalamnya perbincangan kedua kakak beradik itu.


"Aku tidak buta."


Perlahan kata yang ia ucapkan mulai hilang suaranya. Nata seperti bersedih, tapi tidak nampak satu air mata pun jatuh dari mata hitam pekat itu.


"Pulanglah," kata Raka menyuruh Silvie untuk pulang lebih dahulu.


"Maaf," kata Silvie yang kemudian berjalan menunduk menjauhi Nata dan Raka, menuruni lereng itu dan menghilang dalam gelap di bawah terangnya langit karena efek dari kembang api.


Nata masih tetap menengadah menatap langit. "aku tidak buta, aku tidak peduli dengan kembang api itu. Selama aku bisa merasakan sekitarku lebih dari orang yang bisa melihat. Itu sudah cukup membuktikan kalau aku tidak buta," gumam Nata sendirian. Kedua tangannya mengepal kuat - kuat.


Raka merangkul Nata dengan tangan kirinya, merangkul pundak yang gemetar itu. Air mata Raka tetap tak tertahan mengalir pelan. Mereka menatap langit, yang satu dengan mata berkaca, yang satu dengan mata gelap. Seperti sebuah cermin kecil walaupun berbeda warna mata. Dari kedua kelopak mata mereka terlihat cahaya terang berkilau kembang api.


"Di mataku tetap terlihat kembang api yang indah itu bukan ?" tanya Nata lagi.


"Iya. Terlihat jelas, erei. Tidak ada mata yang sejernih mata milikmu itu," kata Raka menimpali, ia kembali melihat langit. Air matanya ia tangkupkan ke mulut. Merasakan betapa asinnya air matanya sendiri.


Asin air mata seperti kehidupan yang dijalani, penuh akan garam cobaan yang terus menerus merubah rasa manisnya hidup.


Mulut Nata mulai mengeluarkan senyumannya,"Hehe," tawa Nata. 


"Kejar Silvie irou. Jangan sampai kamu kehilangan salah satu wanita manis dari daftarmu. Aku akan menyusul pulang sebentar lagi setelah dentuman kembang api ini habis." pinta Nata ke kakaknya berusaha untuk menghilangkan beban hati kakaknya.


"Hehe, Kau ini, memang bisa saja. Kalau itu maumu, aku duluan. Seperti katamu, aku mengejarnya hanya karena tidak mau kehilangan dia dari daftar itu ya," Raka mengiyakan, ia berlari kencang menuruni jalanan setapak, berlari searah dengan jalan Silvie tadi.


Di sebuah pohon di depan toko penjahit di tengah kota, tepat di jalanan utama tidak jauh dari jembatan penghubung, di belakang gedung pertokoan dermaga, anak laki - laki berambut merah dengan dua taring ketika menyeringai juga ikut memperhatikan kembang api. Tapi, pandangannya terhalang oleh daun besar pohon yang ia naiki.


"Dunia ini memang membosankan, bahkan melihat saja dibatasi," kata anak laki - laki yang mengenakan baju kemeja dan celana serba hitam. Ia terlihat sangat enggan menyentuh daun besar itu supaya tidak menghalangi pandangannya. Anak laki - laki angkuh itu menguap, ia lantas turun dari pohon dan beranjak masuk ke toko dengan plang nama chemy an tuila  atau toko baju Porsceco.


Kembang api terakhir telah berhenti mengudara, ditandai dengan bambu - bambu yang sudah habis terbakar menyisakan satu ruas kecil berukuran satu jengkal. Para penduduk yang sudah banyak mendapat banyak ikan kembali ke darat menepikan perahu mereka dan pulang dengan wajah gembira.


"Lihatlah tangkapan kami orareu," teriak meriah para nelayan dengan rambut wajah yang teramat lebat dan tak terawat ke seorang pemuda dengan rambut hitam ikal yang mengenakan pakaian perayaan festival serba jingga. Pria muda itu mewakili BLACK MARLIN mengawal gubernur dari kantor ke dermaga. Nurkham adalah wakil ketua serikat BLACK MARLIN. Maka dari itu ia disebut bos kecil. Pemimpin mereka sesungguhnya yang kekar plontos merangkulnya, "Terima kasih telah menjadi wakil kami di festival Nurkham, kau harus lebih banyak memiliki teman supaya bisa menikah," suaranya meledak - ledak.


*orareu : bos kecil.


"Dasar, kau saja masih belum menikah," ejek Nurkham dengan muka sedikit sebal.

__ADS_1


"Perempuan bukan cuma gadis itu saja Nurkham," kata si pemimpin suaranya meledak lagi. Para nelayan itu kemudian beranjak berjalan ke markas mereka di pojok utara gedung pertokoan. Mereka kali ini tidak langsung menyandarkan perahu di sisi toko melainkan di bahu dermaga di seberang tanah lapang tepat di depan toko mereka. 


Pemimpin BLACK MARLIN itu kemudian melempar pandangan ke arah seorang lelaki tua berambut putih mengenakan pakaian serba merah marun yang terlihat kebesaran. Lelaki tua itu membawa ikan sebesar lengan di dalam kantong anyaman yang ia panggul di punggung.


"Roha, ikan apa itu. Kecilnya, " Si pemimpin botak itu tidak berhenti meledak - ledakan suaranya mengejek Roha.


"Ini pun sudah cukup buat kami, Jaka," kata Roha membalas sembari melirik ke atas, ke pemimpin nelayan dengan tinggi 199 cm itu.


"Dasar, pria tua berhati rendah."


"Siapa yang lebih tua ?" Roha membalas, ia berjalan menjauh.


"hei, tapi setidaknya, rambutku tidak putih." teriak si botak.


"Memang kenapa jika rambut putih," teriak Frans yang sedang memakan sate ikan oga. Ia membawa sebuah lukisan di tangan. Dari balik lukisan itu menetes cairan merah, cairan merah yang berasal dari cat untuk melukis. Sepertinya lukisan itu baru saja selesai.


"Putih, bukan abu - abu," bantah Jaka.


"Oh Frans, kali ini kau melukis apa ?" tanya Roha.


Frans membalik lukisannya, sebuah lukisan yang berisikan gedung pertokoan yang membara dipenuhi api besar.


"Gedung pertokoan ini tidak akan terbakar Frans,"


"Ini cuma iseng Roha, tidak lebih. Aku hanya ingin melukis Vietersburg yang membara. Dan karena aku dari tadi pagi hanya berdiam diri di sini, jadi kulukis saja gedung ini terbakar," bantah Frans.


Roha memalingkan muka, menjauh berjalan menuju istrinya yang sudah menunggu di tepian kolam dermaga di depan jalan utama antara bank dan toko roti Fleigale. Nishi, Istri roha saat ini berambut hitam panjang. Jepit putih menjepit poni miliknya supaya poni yang panjang itu tidak sampai jatuh menutupi mata. Kulitnya putih kekuningan dibalut dress putih pendek sebatas lutut. Meskipun sudah sebelas tahun sejak ia melahirkan Raka, tapi wajah mudanya tidak termakan waktu. Masih seperti seorang gadis belia.


Roha dan istrinya berjalan pulang menyusuri jalanan utama melintasi jembatan melengkung meninggalkan Frans.


"Dan aku tidak dihiraukan. Dasar Roha," gumam Frans.


Lampu - lampu rumah sudah mulai hidup kembali seperti semula. Tepat tengah malam, Roha dan Nishi sampai di rumah dan Nata baru saja hendak masuk membuka pintu. Roha dan Nishi menghampiri Nata yang sudah sadar akan kehadiran mereka.


"Festival pun meriah bukan ?" tanya Roha ke Nata. Maksud Roha meriah adalah meriah dari segi suara. Tapi ia tidak mungkin mengatakan itu secara langsung.


"Iya," jawab Nata pelan. Ia berbalik, hidungnya mencium aroma ikan yang amis.


"Di mana Irou ?" Roha jongkok dan meletakkan ikan itu di teras kecil di depan rumah.


"Di kamar," jawab Nata pasti.


"Tidurlah, besok kita makan ikan oga," Nishi yang juga berada di depan pintu mengelus pelan kepala Nata.


"Iya," Nata beranjak masuk dan berlari menaiki tangga kayu menuju kamarnya di atas.


"Tidurlah Nishi, biar aku pun yang mengurus ikan ini dan merebusnya, esok kau masakan kedua anak kita makanan yang enak," Roha membuka laci kayu di sela - sela tumpukan kursi kerajinannya. Ia meraih pisau hendak menguliti ikan. Di hari festival ini, para suami biasa menguliti ikan oga hasil tangkapan supaya tidak busuk esok hari. Hal itu dilakukan karena ikan oga sangat cepat basi jika tidak cepat direbus.


Esok hari di part selanjutnya masih bagian dari hari festival jingga. Masyarakat pada umumnya berkumpul di taman bagian selatan kota Vietersburg saat pagi hari untuk memasak ikan oga menjadi sebuah olahan khas dan membagikanya secara gratis.

__ADS_1


__ADS_2