Nara, When Dusk Darker Than The Dark

Nara, When Dusk Darker Than The Dark
Inside: City of Orange II


__ADS_3

~lluvuku an vietersburg~


Kebebasan saat masih menjadi anak - anak adalah sesuatu yang tidak bisa diulangi lagi, ketika beban masih belum nampak, saat yang tepat untuk menggantungkan mimpi - mimpi semu. Poros yang akan mengubah kemampuan dalam menjalani hidup kelak saat dewasa.


Beranjak mendekat ke karakter utama dari kisah ini, Raka Akitarka. Ia sedang berjalan berdua dengan seorang gadis setahun lebih tua darinya Silvie Ranslet. Poni panjang yang terikat ke atas menjulang seperti rumpun menampilkan dahi yang lebar, mulus diselimuti kulit putih menjadi ciri khas Silvie. Tujuan perjalanan kaki mereka kali ini adalah sebuah perpustakaan yang terletak dua ratus meter dari sekolah mereka, ke arah utara melewati gedung besar pemerintahan, berbatasan langsung dengan sungai yang melintasi kota.


"Menurutmu, apakah batu jingga yang dijelaskan ibu Amelia itu benar yang menyusun bangunan di Vietersburg ?" tanya Silvie membahas pelajaran pagi ini.


Saat ini mereka sedang berjalan di depan gedung pemerintahan. Trivellios terlihat  memenuhi halaman gedung paling tinggi di kota bergaya kastil dengan tetap mempertahankan batu jingga sebagai bahan utama pembangunan. Di bagian puncak terdapat sebuah jam besar dengan angka romawi sebagai angka penunjuk jam. Sebuah balkon mengitari sekitar bagian jam besar tersebut. Membuat siapapun pemimpin yang memerintah akan dimanjakan pemandangan yang dapat melihat jelas bagian kota Vietersburg secara utuh.


"Tidak, bebatuan yang dijelaskan itu justru lebih mirip bebatuan yang menyusun gedung pemerintahan," jelas Raka.


"Karena gedung pemerintahan menyala dalam gelap ?" sahut Silvie.


"Yap," Raka menoleh, jari telunjuk dari tangan kirinya berayun. "Lihat sudah sampai."


Raka menunjuk ke arah bangunan satu lantai dengan pintu single dengan sebuah kaca besar untuk mengintip bagian dalam perpustakaan tersaji sebelum memasuki perpustakaan. Di bawah kaca itu terdapat tulisan berwarna putih miring lluuvuku an Vietersburg dengan sebuah slogan 'tempat ini menyediakan sejarah bukan membuat sejarah'. Berbagai selebaran tertempel di bagian kaca dinding sepanjang kiri pintu masuk. Berisi tentang berita dari berbagai penjuru kerajaan, pengumuman pemerintah hingga info buku baru.


Di dalam bangunan yang menjadi perpustakaan satu - satunya di Vietersburg ini memiliki ruangan utama selebar setengah lapangan sepak bola. Di sebelah kiri setelah pintu masuk ada meja resepsi yang terhubung ke sebuah ruangan administrasi yang terisolasi oleh kaca bening. Di dalam sana ada seorang pria tua berambut putih duduk di kursi dengan beberapa meja penuh dengan tumpukan buku sedang menulis. Dia menulis di depan kaca cembung dengan lebar diagonal 15 inchi, ujung kiri dan kanan kaca disangga oleh kayu. Kaca itu merupakan perantara untuk melihat lebih jelas apa yang akan ia tulis.


"Raka. Seperti biasa setiap siang selalu ke sini, silahkan tanda tangan," sapa pria berambut hitam tipis dengan nada bicara pelan menampakkan umurnya yang tidak muda.


Dia adalah Kerne Verburg, mantan penasihat Trivellios Vietersburg. Pekerjaan di hari tua yang ia lakukan sekarang adalah menjaga perpustakaan ini, menjadi pintu masuk dan keluar para pengunjung. Sebilah rapier masih menggantung setia di pinggangnya, meskipun pekerjaan menjaga perpustakaan yang duduk di balik meja resepsi selama beberapa jam dalam sehari tidak membutuhkan benda tajam itu lagi. Kedamaian Vietersburg memang menjadi kenikmatan sendiri bagi para pekerja di Vietersburg termasuk Kerne.


"Kali ini kau membawa gadis manis ya. Hihi," senyum kecil Kerne.


"Tidak. aku mengajaknya supaya dia bisa sedikit lebih pintar," jawab Raka.


"hei," lirik Silvie karena terusik akan ejekan Raka.


"kau seperti takjub Silvie," celoteh Raka melihat Silvie yang memutar kepala melihat sekeliling.


"Tentu saja. Sudah lama aku tidak ke sini, sekarang sudah tertata rapi dan lebih indah," kata Silvie. Sebuah pujian yang ia layangkan membuat Kerne tersenyum.


Memang beberapa bulan terakhir perpustakaan ini berbenah diri, mereka merapikan barisan buku - buku yang diselipkan di rak - rak sesuai dengan tema, menghiasi dinding perpustakaan dengan berbagai lukisan lokal yang tentunya banyak dari pelukis jalanan bebas macam tuan Frans. Untuk menjaga perpustakaan sekarang mereka diakomodasi oleh 8 orang petugas, dua sebagai wakil ketua dan ketua agensi, begitu mereka disebut.


Raka kemudian langsung melangkah masuk lebih dalam ke ruangan, meninggalkan Silvie yang kemudian memasang muka kesal lagi. Mereka berjalan menyusuri bagian depan rak. Silvie yang berada di belakang punggung Raka terheran dengan seorang pria jangkung berambut pirang keemasan panjang. Rambut bagian belakangnya diikat menyerupai ekor kuda. Rambut pria itu berkilau seperti emas disinari cahaya lampu dibungkus kemeja putih polos dan celana hitam kain serta sebuah topi hitam tinggi.


Silvie menoleh ke kanan mengikuti pergerakan pria sembari masih berjalan pelan mengikuti Raka, tanpa sadar ia terantuk dinding lebar punggung Raka yang tiba - tiba berhenti melihat Silvie yang sedang bengong memperhatikan pria berambut keemasan, dia ( sang pria ) sedang membaca buku berjudul Fikredburg, tulisan dari judul buku itu berwarna emas, ada lambang singa di bagian bawah judul buku itu, sementara sampul buku berwarna hitam legam. Karena merasa diperhatikan, pria berambut keemasan itu menoleh ke sisi kiri, "hm.. haaredestirn atau llofrichi ?"


"Eh ?" kaget Silvie ketika pria itu mendekat ke dirinya dalam waktu singkat seraya mengusap dahi akibat terantuk punggung Raka.


"Oh maaf," senyum pria itu, ia menjulurkan tangan. Raka dan Silvie menyambut jabatan tangan pria itu.


"Vokrya," katanya, mengenalkan diri.


"Raka," jawab Raka tanpa memandang wajah dari pria bernama Vokrya itu, ia malah tersenyum melihat Silvie yang sedang mengusap dahi akibat terbentur dirinya sembari berjabat tangan dengan pria itu.


"Silvie," Silvie juga menjabat tangan sang pria.


"Permisi," pria itu meletakan buku berjudul Fikredburg tadi kembali ke rak, ke sela - sela tumpukan buku yang kosong tepat di sisi kiri tempat ia berdiri saat ini dan beranjak pergi. Dengan cepat ia berjalan ke arah Kerne, menyapanya dan keluar dari lluuvuku an burganvia.


"Heh, dia langsung pergi," gumam Raka.


"Terburu - buru mungkin," kata Silvie dengan dugaan alasan yang klise.


"Mungkin dia takut dengan lebar dahimu Silvie," cetus Raka.


Silvie menoleh lantas melirik tajam ke arah Raka dengan raut muka yang tampak kesal.


"Hehe," Raka hanya membalas lirikan itu dengan tertawa kecil sembari menggaruk - garuk kepala mengisyaratkan dia sedang bercanda.

__ADS_1


Silvie kembali serius melihat rak yang dipenuhi buku hitam legam dengan judul samping berbagai nama berujung '-burg'. "Apakah ini semua marga '-burg' yang ada di kerajaan Burganvia ?" kata Silvie ketus karena agak kesal dengan ejekan Raka.


"Ayolah, aku bercanda," bujuk Raka.


Silvie tetap tidak menoleh dan bersikeras melihat satu - persatu judul buku dengan saksama.


Raka menyerah, "Kau benar. Dan nomer 1 di atas itu adalah marga yang hanya dimiliki oleh satu orang yaitu, vois Verseuthiburg." Terang Raka mengayunkan jari menunjuk ke buku di bagian paling atas rak, seperti menjadi seorang guide bagi Silvie.


"Ratu pertama Burganvia yang konon menjadi orang pertama yang tinggal di pulau ini," gumam Silvie.


"Yap, " jari telunjuk Raka kembali berayun kali ini menunjuk ke arah Silvie. "Kau tidak tau ada buku seperti ini di perpustakaan ini ?" tanya Raka.


"Hei," sahut Silvie ketika Raka kembali bercanda.


"Aku terakhir ke sini, empat tahun lalu dan masih sangat berantakan. Buku yang tersedia hanya sedikit, kusam, berdebu dan sangat berantakan. Bahkan suasananya seperti kuburan, terlalu sepi," jelas Silvie yang kemudian mengambil buku Verseuthiburg itu.


Lima belas orang berada di ruangan, delapan orang sebagai agensi dan tujuh lain sebagai pengunjung, jika dikurangi Raka dan Silvie maka tersisa lima pengunjung lain yang tidak mereka kenal. Itupun sudah dikurangi oleh pria berambut kuning keemasan yang telah pergi terlebih dahulu. Buku demi buku di tarik, seperti meraih sebuah kartu dari barisan tumpukan kartu, sedikit saja untuk melihat judul yang tertulis. Raka yang sudah membawa satu buku tidak sadar didekati oleh orang yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kau sangat rajin kemari. Oravirta," kata seorang kakek tua bungkuk, tiba - tiba muncul menghampiri Raka dan Silvie. "apa yang kalian cari. Sepertinya belum kalian temukan," kata kakek tua itu.


*oravirta : tuan muda


"Kami mencari sejarah tentang Vietersburg yang baru saja kami dapatkan tadi dari sekolah Orou. Karena penasaran aku ingin mencari tau lebih detil. hehe," Raka menjawab, ia tersenyum sesekali karena malu.


*orou : kakek


"Begitu. Jika kau mencari tau tentang kota ini, kau bisa membaca beberapa buku berjudul..." Kakek tua itu menoleh ke rak sembari melanjutkan pembicaraan. "Catatlah," perintahnya pada Raka, "Pertama, buku biografi marga burganvia yaitu, Peter Vietersburg tentang asal muasal nama dan terbentuknya kota ini, selanjutnya Solien Rvteinburg, Marunt Luranburg, Trioni Kindeburg, Mamiq Thurnburg meskipun hanya dua bulan tapi di saat dia menjadi anherany-lah Vietersburg berubah menjadi kota perdagangan Burganvia dan Alex Fikredburg, 30% isi buku Fikredburg adalah biografi dia. Kota ini dipimpin paling lama oleh Peter Vietersburg dan Alex Keril Fikredburg, di beberapa buku itu kau akan menemukan bagaimana mereka menjadi anherany an Vietersburg dan perubahan yang mereka berikan terhadap kota ini. Buku - buku itu dapat kau cari di rak ini. Untuk yang lain bisa kau cari di rak bagian enam pilar burganvia yaitu, Vieterburgs en Vajaniu Catriuka dan Rovini Villuni an Burganvia. Itu dulu," terang kakek tua itu.


*Vieterburgs en Vajaniu Catriuka : asal usul Vietersburg


*Rovini Villuni an Burganvia : tata wilayah kerajaan Burganvia


"Terima kasih, orou. Maaf lancang, saya Raka Akitarka," Raka menjulurkan tangan.


"Maaf, orou Gerit. Anda tau begitu banyak, bahkan sampai isinya. Apakah anda sudah membaca semua buku ini ?" tanya Raka.


"Pertanyaanmu seperti meragukan orang saja oravirta. Aku adalah orang yang menulis buku - buku yang berada di sini supaya nampak baru dan tidak kusam seperti yang dijelaskan gadis itu," kata Gerit tanpa basa - basi menoleh membelakangi.


"Eh? maaf," Silvie menunduk sembari tertawa kecil.


"Dan lagi, orou bolehkah saya tau siapa nama ketua agensi lluuvuku an burganvia saat ini ?" tanya Raka penasaran ke Gerit yang sudah berjalan agak jauh keluar dari barisan rak.


Gerit kembali menoleh, "Ketua agensi kami belum pernah berganti semenjak berdiri 20 tahun lalu, dia adalah Mamiq Thurnburg," jawab Gerit singkat. "Ketua pengganti adalah aku selama dia pergi hampir 15 tahun yang lalu, semenjak ia melepas jabatannya sebagai gubernur Vietersburg," tutup Gerit.


"15 tahun," Raka terheran.


"Masih ada lagi ?" tanya Gerit lagi.


"Tidak. Terima kasih penjelasannya orou," jawab Raka memalingkan pandangan ke bawah.


Pertama dia ingin membantu, tapi ketika aku bertanya soal lluuvuku malah ia kesal - pikir Raka. Raka membuang pikiran itu dan segera mengumpulkan buku - buku yang telah direkomendasi Gerit, tapi tidak semua karena akan terlalu banyak. Untuk di buku marga burg, ia memilih buku berjudul Vietersburg, Thurnburg, dan Fikredburg sementara yang lain adalah tata wilayah kerajaan burganvia.


Buku - buku marga di lluukuvu ditulis setiap ada peristiwa besar dari keturunan - keturunan marga itu. Setiap marga terkadang bisa memiliki tiga buku hingga lebih tergantung dari pamor marga tersebut di kerajaan Burganvia. Bagi anggota keluarga yang tidak memiliki pamor akan ditulis sebagai garis keturunan saja. Semua data buku marga 'burg' diambil dari perpustakaan pusat di ibukota Burganvia yang dihimpun dari data masing - masing kota lainnya sehingga di setiap kota akan memiliki buku marga dengan isi yang sama. Lluuvuku an Burganvia tutup saat senja tiba, begitu setiap harinya.


Raka dan Silvie duduk di bangku hitam di tengah antara ruangan anggota agensi dan rak -rak buku. Di tengah bangku ada sebuah guci berwarna kuning berisikan cairan berwarna kuning kental dengan sumbu yang muncul keluar yang merupakan alat penerangan di sini. Buku yang diambil oleh Silvie berjudul VERSEUTHI, buku itu bersampul biru tua dengan warna judul kuning keemasan. Judul terletak di bagian tengah sampul tanpa lambang atau motif lain sedikitpun. Silvie terlihat antusias dan serius membaca buku itu membuat Raka hanya tersenyum memperhatikan mata sipit Silvie yang terbuka agak lebar saat membaca serius.


Klak..suara pintu di sisi kiri depan Raka terbuka. Dua orang sedang membawa sebuah pigura besar yang kemudian dipaku di dinding tepat di ruang kosong di depan Raka, di belakang Silvie. Pigura itu memiliki garis pinggir berwarna cokelat terbuat dari kayu. Di tengah terdapat sebuah lukisan dari cat air berwarna dasar cokelat dan biru.


"Peta ?" heran Raka.


"Sepertinya," sahut Silvie ikut menoleh. "Oro, ini peta apa ?" tanya Silvie ke orang yang sedang memaku salah satu dari tiga paku yang digunakan untuk menyangga pigura supaya tetap tergantung tegak.

__ADS_1


"Itu adalah peta dunia ini yang digambar oleh Mamiq sendiri," jawab Gerit yang ternyata berada di ujung meja tempat Raka dan Silvie duduk, tanpa disadari oleh Raka dan Silvie sekalipun.


"Melihat peta ini tidak akan dapat mengetahui informasi pasti jika tidak ada keterangan sedikitpun," bicara Raka.


"Peta ini masihlah buta, belum dapat memberikan informasi yang jelas seperti katamu. Tapi, kupikir akan ada yang bisa memperjelas peta ini jika kukeluarkan dari gudang Mamiq," kata Gerit menatap ke peta itu, fokus matanya jauh seperti merindukan sesuatu.


Peta itu berisi guratan cokelat yang terdiri dari dua pulau besar, satu pulau kecil diujung dan beberapa pulau kecil di sekeliling pulau besar itu. Di bagian pulau besar yang berbentuk seperti L terbalik terdapat sebuah tanda hitam tepat di bagian tengah. Hanya itu yang terdapat di lukisan dalam pigura cokelat, sebuah peta tanpa tulisan, peta buta.


"Hehe,"Raka tersenyum terkesima. Gerit yang melihat itu hanya melirik sebentar kemudian beranjak ke balik pintu tempat keluar dua orang yang membawa pigura tadi.


"Raka," panggil Silvie, memecah senyuman senang Raka.


"Ya ?"


"Di buku ini, VERSEUTHI dikatakan sebagai legenda, ia menjadi manusia pertama yang hidup di pulau Arvana dan memiliki 30 anak. Di sini tidak dijelaskan siapa suami dari vois an vii," Silvie menurunkan buku tebal itu, memperlihatkan muka terherannya ke Raka.


"kalau itu aku juga tidak tau Vie," tawa Raka.


Silvie kembali menutup wajahnya dengan buku, melanjutkan membaca buku tebal itu di sisa waktu mereka hingga senja nanti.


Selain Raka dan Silvie, di sudut lain Vietersburg seorang anak laki - laki juga ada yang sedang menghabiskan waktu sebelum sore seusai sekolah.


~museum~


Anak laki - laki dengan kemilau rambut merah tepat di depan pintu di bagian belakang bangunan yang terleteka di sudut taman kecil di ujung dari sebuah gang sempit. Gang sempit ini diapit oleh rumah - rumah minimalis nan padat para pengrajin besi. Sebuah bangunan tingkat dua yang terlihat unik dengan tonjolan kotak berbentuk kubus di empat sudut atas bangunan, atapnya pun kotak membentuk sebuah balkon.


Tangan berkulit putih yang ditutupi oleh kain dari kemeja hitam yang dikenakan oleh pemilik mata merah itu meraih gagang pintu dan membuka pintu berwarna cokelat tua tanpa ukiran, warna pintu dan bangunan terlihat menyatu tertimpa bayangan dari bangunan.


"Tidak terkunci ?" bisik pelan anak laki - laki jangkung bertubuh tegap berambut keriting.


"Diam," balas Agran.


Mereka memasuki bagian dalam museum disambut barisan lukisan dinding memutari ruangan. Mereka berada di tengah ruang berbentuk kotak yang cukup luas dengan tiang - tiang pilar hitam mengisi kekosongan bagian tengah. Di setiap tiang itu juga tergantung lukisan.


Berbagai lukisan mulai dari lukisan penduduk di jaman sebelum kota Vietersburg terkenal, lukisan wajah senyum orang - orang yang sedang menganyam jaring di pantai.


Satu persatu diperhatikan Agran, di ujung arah jam satu dari arah masuk mereka berdua ada lukisan besar, Agran langsung mendekati lukisan itu. Sebuah lukisan berukuran panjang dua meter dan tinggi satu meter berisi bangunan putih tinggi bertingkat berjajar di tepian pantai pasir putih yang dikelilingi pohon berakar gantung nyaris serupa dengan beringin. Bedanya akar berwarna cokelat yang menancap di tanah itu sebesar batang pohon itu sendiri. Dan batangnya pun dikeliling oleh akar hijau yang melilit memutar. Di balik bangunan bertingkat yang tersusun saling berhimpitan itu terdapat benteng besar berisi ladang luas. Lukisan kota ini berlatar tebing tinggi.


Lantai museum terbuat dari batu berwarna merah gelap dengan guratan berbentuk layaknya sulur membuat lantai tidak rata, berelief. Agran berbalik memutar tubuhnya melihat sekeliling. Ia menemukan sebuah celah berisikan lima belas anak tangga berwarna hitam di sisi kanannya saat ini. Ia melangkah mendekati celah itu sebelum mendapati lukisan pria berambut hitam berkumis runcing memakai baju putih panjang dengan ukiran naga terpajang di sebelah kiri celah sebelum menaiki tangga. Lukisan itu seperti foto yang hanya menyisakan ½ bagian atas tubuh. Posisi tangan pria dalam lukisan itu tersembunyi di belakang punggung.


"Rasa penasaranmu tinggi, mata merah !!" bisik pelan mengagetkan seorang kakek tua berambut putih setengah lingkaran mengenakan baju hitam legam berlengan panjang hingga menutupi seluruh tubuh hingga kaki.


Ia berdiri di bagian atas ujung anak tangga.


Agran mundur beberapa langkah, asap berwarna abu - abu pekat menyembur dari celah lantai mengisi ruangan itu dengan cepat hingga setinggi pinggang Agran. Sementara, Makhside sudah ketakutan bersembunyi di balik pilar tiga langkah di belakang Agran.


Kakek itu melangkah turun dari anak tangga ke lantai ruangan. Asap abu - abu semakin tinggi dan pekat menghalangi pandangan Agran.


Ruangan seketika gelap. Agran dan Makhside langsung tersadar telah berada di luar bangunan, terbaring di bawah sinar matahari yang menyilaukan.


Agran bangkit teruduk heran. Sementara Makhside berlari cepat, "aku pulang," katanya.


"dasar penakut," kata Agran menghela nafas. "dunia ini menarik, diluar dugaanku," katanya lagi bergumam sendiri seraya pergi dari bangunan itu.


Sore sudah mulai tampak, Raka dan Silvie keluar dari lluvuku an vietersburg.


"buku VERSEUTHI terlalu tebal, aku belum selesai membacanya tapi waktu sudah sore saja," Silvie cemberut mengomel sendiri.


"Baca saja setiap hari, nanti juga selesai," sahut Raka singkat.


Mereka kemudian pergi dari perpustakaan karena memang sudah waktunya perpustakaan untuk tutup, berpamitan dengan Kerne yang masih tetap duduk di tempat penyambutan, membuka pintu berdencing dengan tanda 'Tutup' sudah mengarah ke bagian depan, kemudian berjalan ke arah selatan menuju jalanan utama kota ketika segerombolan kereta kuda melewati mereka. Bagian depan kereta - kereta kuda itu terhias sebuah kain biru berlambangkan singa membawa senapan yang tidak lain merupakan lambang Trivellios. Pria - pria berwajah tegang menatap lurus di atas punggung kuda, mengawal kereta kuda dari berbagai sisi. Rombongan itu berlalu begitu saja mengarah ke gedung parlemen pusat Vietersburg.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2