Nara, When Dusk Darker Than The Dark

Nara, When Dusk Darker Than The Dark
Sau Gie's Concept of Martial Art


__ADS_3

"Fianita, Kamu sudah tertinggal jauh dari yang lainnya sehingga kamu harus belajar dengan teman - temanmu untuk mengejar ketinggalan itu," bicara Sau Gie yang selalu pelan, tegas, berwibawa. Tetapi, jika soal tertawa, maka suara Sau Gie adalah yang paling keras. Ia menoleh Fianita yang duduk tepat di sisi kirinya.


"Iya sensei" jawab Fianita, gadis berkulit kuning langsat bermata elips tipis bergaris hitam.


Hari ini gadis berambut hitam itu mengenakan baju terusan berlengan pendek hitam bergaris merah. Celana pendek hitam ketat terlihat di sela – sela baju terusan sebatas paha itu. Rambutnya nampak pendek karena disanggul berbentuk seperti bakpau yang menempel di sisi kanan dan kiri kepalanya, berada tepat di atas telinga mungil gadis dengan satu gigi yang terbelah berbentuk segitiga pada barisan gigi depannya.


Fianita tidak dapat hadir terus menerus sesuai jadwal latihan dikarenakan ayahnya yang selalu berpindah dari Vietersburg ke kota – kota sekitar untuk mengantarkan barang pesanan, itu pun tidak sebatas kota sekitar terkadang hingga ibukota Burganvia. Seperti saat ini, ia sedang istirahat dari perjalanan jauh menemani ayahnya mengantar barang dari Recthaburg.


"Leikurt, Immarko coba kalian berdua tunjukkan pada Sensei apa yang telah kau pelajari ?" perintah Sau Gie. "Sekalian supaya FIanita bisa belajar dari kalian berdua."


Mereka, Leikurt dan Immarko langsung berdiri memberi salam kemudian melangkah maju ke tengah lingkaran. Mereka berdua akan melakukan latih tanding di sore ini. Leikurt Levarmsburg berambut pirang pendek. Leikurt tinggi, berkulit putih dengan mata cekung besar berparas tampan.


Di sudut lain, Immarko berambut ikal panjang terjuntai hingga bahu seperti sebuah akar serabut. Karena hal itu Immarko dijuluki kepala akar. Untuk postur memang lebih tinggi Leikurt namun Immarko bertubuh kekar, lengannya besar dan kulitnya cokelat sawo matang.


Lele dan Marko saling memberi hormat. Setelah hormat mereka memasang kuda – kuda hendak menyerang, kaki kanan berada di belakang sementar kaki kiri berada di depan.


Untuk posisi kuda – kuda tangan dan kaki Lele lebih kokoh di kaki dan akan menyerang dengan kaki kanan karena posisi kaki kirinya sebagai tumpuan saat ini. Sedangkan Marko akan fokus menyerang dengan tangan, jarak posisi antar kakinya pendek, tangannya mengepal kuat siap untuk meluncur lurus meninju Lele – Nata mencoba menganalisa gerakan yang akan mereka lakukan dari posisi kuda – kuda. Posisi yang menentukan awal dari serangan. Leikurt lebih pandai dalam melakukan tendangan langsung dengan memanfaatkan postur tubuhnya yang tinggi.


Benar saja tak lama berselang setelah di mulai, Lele langsung menendang Marko dengan kaki kanan tepat ke pelipis kiri Marko. Marko hanya menepis dengan lengan kirinya. Marko kemudian merunduk, ia dengan kuat memukul paha kaki kiri Lele langsung menggunakan kepalan tangan kanannya. Lele tersungkur mundur merasakan sakit di tulang pahanya.


Tidak mudah memang mengalahkan seorang bertubuh kekar seperti Marko. Namun jika soal kecepatan, Lele bisa lebih dipercaya daripada Marko. Tidak lama Lele menaikkan tempo serangan, ia melangkah maju sebanyak dua langkah, melompat, menendang keras Marko dengan telapak kaki kanan. Marko menahan dengan silangan kedua tangan tanpa bergeser mundur sedikitpun. Lele mengambil kesempatan bertumpu pada tangan Marko, ia memanfaatkan lonjakan dari kaki kiri layaknya pegas melontarkan tubuhnya ke atas. Marko tetap tidak bergeser walaupun sudah dijadikan tumpuan Lele. Posisi lele saat ini lebih tinggi di atas Marko, ia berlanjut menarik kaki kanan dari silangan tangan Marko, berputar 360 derajat tidak searah dengan jarum jam di udara, dan mengarahkan tumit kaki kiri ke dahi Marko


Marko yang selalu awas dapat dengan mudah menangkap kaki kiri Lele dengan tangan kirinya. Sementara Marko berusaha memukul paha kiri Lele lagi. Lele menendang tangan kiri Marko dengan kaki kanan dan masih sanggup berbalik berputar lagi searah dengan jarum jam, menjatuhkan diri ke tanah. Tapi sebelum itu dengan tumpuan kedua tangan di tanah, ia mengarahkan tendangan telapak kaki kirinya ke arah perut Marko.


Marko kembali bisa menepis tendangan Lele dengan tangan kanan, tapi bukan itu yang Lele incar. Bertumpu pada kedua tangan di tanah, Lele menarik kaki kirinya, melepaskan kaki kirinya yang tertangkap dengan menguatkan tendangan telapak kaki kanannya pada tangan kanan Marko. Seperti sedang melakukan atraksi berdiri di atas kedua tangan, Lele melontarkan dirinya ke udara. Posisi kedua tangan Lele sejajar dengan perut Marko, ia menarik kaki ke belakang seperti akan melakukan kayang. Lele hendak menghindar dengan salto kebelakang menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan, tapi bayangan hitam Marko yang menghalangi sinar matahari itu bergerak menutup matahari dari pandangan Lele. Marko mengarahkan pukulan telak ke perut Lele yang sedang kayang di udara hendak berdiri. Lele terjatuh kalah, menggeram kesakitan.


Marko memenangkan latih tanding kali ini, ia menggapai kedua lengan Lele. Dengan bantuan genggaman Marko, Lele mengangkat kakinya melakukan kayang dan berdiri sempurna. Mereka berdua kemudian menyudahi latih tanding dengan saling memberi hormat dan kembali duduk  ke posisi semula.


"Kecepatan dan fokus ya ?" kata Sau Gie. Melihat latih tanding yang dimenangkan oleh Marko


"Kalo kecepatan, Lele sangat lincah sensei. Dua kali dia dapat berputar di udara," Marko membalas sambil menggaruk rambut akar serabutnya.


"Tumpuan yang sangat enak untuk berputar," Lele juga tertawa, tangan kirinya memegangi perut. Ia berusaha menahan sakit pukulan Marko yang luar biasa keras untuk ukurannya.


"Lele, apakah masih sakit ?" tanya Marko terlihat lugu sembari tertawa kecil.


"Masih tentu saja. Pukulanmu memang sangat kuat seperti biasa. Tapi tidak apa – apa," Lele mencoba menahan kesakitan tapi ringisan dari mukanya memang memperlihatkan betapa keras pukulan itu.

__ADS_1


"Karena itu sensei akan mencoba memberi pelajaran dari pertarungan Lele dan Marko." Setiap kali seusai latih tanding, Sau Gie akan memberi masukan supaya murid – murid yang lain dapat lebih mengerti setelah melihat contoh langsung dari mereka yang melakukan latih tanding.


"Dalam menerima serangan, kita bisa memfokuskan tenaga pada titik yang akan diserang. Misal seperti saat Lele menendang tangan Marko, jika saja energi kita terpusat pada kaki kanan saja maka bukan tidak mungkin Marko yang berbadan kekar bisa merasa kesakitan. Begitu juga saat Lele dipukul Marko. Otot perut kita bisa mengencang dan menahan pukulan seperti tadi.  Sehingga dapat mengurangi rasa sakit dari terpukul ataupun sampai dapat menahan pukulan itu sendiri tanpa merasakan efek sakit," jelas Sau Gie.


"Tapi sensei, berapa tingkat fokus yang dibutuhkan untuk menjatuhkan tubuh besar Marko ?" tawa Lele, yang kemudian disusul oleh tawa murid lainnya secara bersamaan.


"Marko tidak bisa diserang langsung, dia seperti lobster. Hanya bagian tertentu saja yang bisa menyakitinya," kata Birgian sembari tertawa – tawa kecil, lelaki bertubuh kecil berambut hitam tipis hampir plontos sehingga memperlihatkan bentuk kepalanya yang bulat kecil.


"Karena itu orang dengan dasar kecepatan akan cenderung menghindari serangan, sementara itu orang dengan dasar berkekuatan cenderung akan menerima serangan sesuai kemampuan. Apabila tidak mampu maka ia akan menghindar. Dan bagaimana jika sanggup memiliki keduanya, kecepatan dan kekuatan ?" kata Sau Gie yang kemudian berdiri, mengambil jarak dari lingkaran muridnya hendak memberi contoh. Ia menarik kuat nafas, dan ia hembuskan lagi dilanjutkan dengan cepat tangan kiri miliknya mengepal melakukan gerakan tangkisan dalam ke luar. Di situ otot – otot Sau Gie berkumpul di lengan kiri. Dilihat dari gerakan, dapat dirasakan bahwa tangkisan luar itu bisa sebanding, sama kuat seperti pukulan.


"Birgian coba kau pukul tangan Sensei dengan tongkat di ujung itu," kata Sau Gie, ia menunjuk ke kayu bulat panjang yang teronggok di sudut lapangan.


Anak laki – laki yang imut itu mengambil kayu. Dan dengan kuat ia ayunkan kayu itu mengenai lengan Sau Gie yang tetap dalam posisi tangkisan luar. Alhasil kayu itu terbelah tepat pada titik yang mengenai lengan Sau Gie tanpa bekas lecet sedikit pun di lengan Sau Gie.


"Birgian kembali duduk," Sau Gie menggeser kayu dan memerintahkan Birgian untuk duduk.


"Ambil posisi bersila, kedua tangan di atas paha." Sau Gie kembali ke posisi menghadap ke murid – muridnya dengan tetap berdiri, kedua tangannya ia silangkan di belakang pinggul. "Coba kalian latih pernafasan," perintah Sau Gie. "Tarik nafas kuat – kuat tahan sampai kalian tidak bisa menahannya kemudian buang, lakukan berulang." Sau Gie mengarahkan murid – muridnya yang bersiap bersila melakukan latih nafas.


"Fokus pada nafas yang kalian alirkan, dan rasakan aliran udara yang mengalir melalui hidung, menarik paru – paru kalian sehingga dada menjadi tegap. Rasakan juga nafas yang kalian tahan itu membuat tubuh bergetar. Bergetar hebat tapi tetap tahan."


"Buang," perintah Sau Gie.


Serentak murid – murid melepas nafas "Fuahh," teriak mereka seperti baru saja menahan nafas dari dalam air. Seperti berenang di kedalaman dalam waktu yang cukup lama dan kembali ke permukaan dengan muka bahagia dan lega.


Para murid berulang melakukan latihan nafas, mereka terus berusaha menahan nafas lebih lama dari sebelumnya. Hal itu sudah dipupuk oleh Sau Gie yang selalu menjelaskan untuk melampaui batas dari fisik diri sendiri, dan jangan sekali – kali menyerah akan kelemahan yang ada.


"Terus kembangkan apa yang kalian bisa," Kata Sau Gie di sela – sela para murid berlatih nafas. Saat konsentrasi merupakan saat yang tepat untuk memberi semangat. Pikiran yang tenang mempermudah penyerapan nasihat baru, dan merangsang fisik untuk mengikuti mindset pengguna tubuh.


"Tubuh manusia bisa berkembang melampaui batas jika terus menerus dilatih sampai batas."


Sore sudah menuju ke penghujungnya untuk hari ini, senja hendak datang tidak lama lagi saat Sau Gie mulai beranjak pergi dari hadapan muridnya. "Apa kalian sudah lelah ?" tanya Sau Gie, ia bergerak menaiki tangga balai.


Sentak Nata menjawab,"Belum sensei."


"Itu kau Nata, jangan samakan kami denganmu. Seharusnya kamu membagi kami tips melatih fisik agar sama seperti dirimu," Riverd tertawa, anak lelaki berambut keriting kecokelatan itu tidak bermaksud mengejek Nata. Tapi jika dilihat dari daya tahan, Nata yang sudah berlatih dengan Sau Gie lebih kurang 3 tahun memiliki daya tahan tubuh yang lebih dari rekan – rekan lainnya.


"Itu mudah. Berlatih dan jangan mengeluh," Nata membuka mata hitam pekatnya.

__ADS_1


Di depannya Chlaire sudah meluruskan kaki, kelelahan. Ia ( laki – laki ) menggetar – getarkan kakinya, rambut hitam yang berdiri seperti ilalang pendek itu mulai turun layu karena keringat yang bercucuran ke pipinya.


"Sensei, kami istirahat dulu," teriak Marko ke Sau Gie yang sudah menghilang masuk ke bangunan utama. Si rambut keriting Marko yang dianggap terkuat pun sudah lelah. Ya jika dibanding dengan yang lain, Marko dan Lele yang telah melakukan latih tanding tentu terkena imbas paling banyak dari segi tenaga yang terbuang.


Sendu suara burung yang menyerupai bangau dengan paruh hitam terdengar menjelang senja, mereka berkumpul di tepian kolam, tapi kucing hitam Sau Gie tidak henti mengaburkan mereka. Mengusir burung – burung berparuh hitam yang hendak memakan ikan – ikan berwarna merah dengan bintik putih lebih seperti konsep polkadot itu. Burung – burung ini hanya bersuara di kala senja sehingga disebut burung kala senja atau burung Dusk yang juga memiliki arti sama yaitu diwaktu senja.


Setengah jam berlalu Sau Gie akhirnya kembali muncul dari balai. Saat sudah menjelang akhir latihan seperti sekarang ini mereka menyebutnya sebagai waktu teh atau disebut dalam bahasa IL yaitu : Mirroch. Terlihat Sau Gie sudah membawa nampan besar berisi 12 gelas keramik berwarna hijau. Gelas – gelas itu disuguhkan ke murid – murid yang dari keterangan mereka sendiri, mereka kelelahan. Seperti dari namanya, gelas – gelas yang disuguhkan berisi air hijau dari seduhan daun teh yang tersebar di sisi kiri ujung halaman rumah Sau Gie -berbatasan dengan pagar.


Aroma teh mulai menyebar ke sekeliling dan ketika diminum, aliran teh yang segar mengalir menghangatkan tenggorokan serta tubuh, meredakan lelah dan perlahan menurunkan tempo jantung dan nafas yang terkesan lebih cepat setelah kelelahan. Tidak cukup waktu lama, teh yang sebelumnya menyentuh bibir – bibir gelas itu kini sudah hilang keberadaan airnya, hanya menyisakan sisa uap panas yang masih mengepul keluar dari gelas.


"Sudah cukup bukan untuk sore ini ? langit senja sudah datang sebaiknya kalian pulang. Bukankah akan ada festival malam ini ?" jelas Sau Gie.


"Um, sensei ada yang mau aku sampaikan," kata Fianita seraya berdiri memberi salam ke Sau Gie.


"Boleh saja," kata Sau Gie.


"Teman - teman. Maaf jika selama ini aku ada salah. Sore ini adalah hari terakhir aku ikut latihan bela diri. Keluargaku akan pindah ke ibukota karena pekerjaan ayah. Terima kasih sudah menerimaku disini," bicara FIanita pelan sembari menunduk menatap bata jingga yang menyusun lapangan. "Terima kasih sensei," salamnya ke Sau Gie.


"Terima kasih Fianita sudah belajar disini. Apa yang kamu terima di sini sebaiknya kamu pelajari lagi, kamu latih lagi sehingga berkembang. Oleh Karena itu, semuanya berdiri menghadap ke Fianita dan beri salam," kata Sau Gie.


Sepuluh murid yang lain memberi salam kepada Fianita, Sau Gie juga melakukannya.


"Semuanya, latihan kita sore ini sudah cukup. Kita rayakan fextival malam ini. Selamat jalan Fianita, sehat selalu."


"Baik Sensei," murid – murid menjawab serempak. Sementara, Birgian si pemilik hidung mancung nan kecil dengan sebuah tahi lalat hitam di sebelah kiri itu hanya mengangguk tanpa menjawab, ia kemudian mengambil gelas di sampingnya, melangkah mengembalikan gelas ke nampan yang diletakkan di sisi kanan Sau Gie yang sedang berdiri di tepian tangga menuju balai. Murid – murid yang lain juga mengikuti membariskan gelas – gelas secara telungkup di nampan hijau dari kayu itu. Mereka kemudian serentak berbaris dilanjutkan menghormat untuk mengakhiri latihan. Selepas hormat, para murid membubarkan diri, dan bergegas pergi. Beberapa yang lincah seperti lele, Birgian, Riverd dan Rivai berlari turun. Yang lain memilih untuk jalan perlahan menuruni tangga menuju gapura depan. Di gapura depan terlihat ada dua orang menunggu.


"Sensei, aku pulang," kata Nata dan Fianita berpamitan secara bersamaan. Mereka berdua menjadi murid yang tersisa di lapangan. Untuk Nata sudah menjadi kebiasaan untuk menjadi murid yang paling terakhir pulang, meskipun kali ini ia seperti terburu – buru.


"Ada yang sudah menantimu ya ?" bisik Sau Gie.


"Iya," jawab Nata semangat.


"Sampai jumpa sensei," Tidak mau kalah Fianita melambaikan tangan ke sensei-nya yang dibalas senyum simpul disertai sedikit bungkukan dari Sau Gie.


Nata dan Fianita berjalan bersama menuruni jalan setapak. "Nata, besok sore sebelum senja temui aku di depan gerbang sana ya," kata FIanita menunjuk ke arah torri merah. Disana ada dua orang anak yang sedang menunggu, gadis berambut quiff standar lengkap dengan ponytail bersama dengan anak laki – laki yang menggunakan topi, jas, celana, sepatu serba cokelat berdiri seperti menanti seseorang. Yang dinanti tidak lain anak laki – laki yang terakhir beranjak dari hadapan Sau Gie, anak laki – laki dengan mata hitam pekat yaitu Nata.


Lanjut ke Festival

__ADS_1


__ADS_2