Naura dan Naufal

Naura dan Naufal
Malapetaka


__ADS_3

Bismillahirahmanirahim


-


-


-


💜


"Seharusnya lo harus hati-hati berteman dengan perempuan, bukan menjauhi yang namanya perempuan"


●_●


Senja kini kembali memperlihatkan dirinya bersama dengan cahaya yang begitu indah membuat Naura terdiam di loteng kos-kosan tempatnya tinggal.


Gadis itu tidak pernah absen menatap senja, bahkan saat sedang hujan pun Naura tetap pergi ke loteng, walau terkadang senja tidak terlihat jelas lagi karena awan yang cukup mendung, tetapi gadis itu tetap tinggal diam sambil memandang dan menikmati hujan beserta senja, dan lagi, gadis itu juga menyukai hujan. Baginya, setelah warna ungu, warna dari senjalah yang cantik, bahkan membuat gadis seperti Naura begitu terkagum-kagum menatap senja itu.


Dan Naura juga sangat membantah perkataan seseorang yang kalau hujan membawa sakit, walaupun dirinya sering sakit setelah hujan, katanya itu hanyalah efek dari klub malam yang sering dia kunjungi.


Naura sangat mengerutuki dirinya yang tak pandai menggambar, andai saja pintar, mungkin sudah beribu-ribu gambar senja yang dia buat.


"Hey jelek! " panggil seorang pria bergigsul kepada Naura.


Dia Yusuf, anak pemilik kos-kosan yang Naura tempati. Naura tipikal orang yang cepat akrab, mulutnya yang jarang sekali berhenti untuk mengoceh membuatnya dikenal banyak orang, tapi itu tidak berlaku saat dirinya sedang mengantuk.


"Kenapa bodoh?" balas Naura yang masih fokus menatap senja. Sesekali gadis itu tersenyum.


"Nanti malam jadi tidak? " tanya Yusuf saat dia sudah duduk di samping Naura. "Masih indahan gua daripada senja itu." Yusuf terlalu memuji dirinya sendiri.


"Sekali lo bilang lo lebih indah dari senja gua gak akan pernah ke klub lagi bareng lo! " kesal Naura. Dia terlalu berlebihan mengagumi senja.


"Yaelah, si jelek ngambek, tadi gua becanda jelek. Entar kalau lo marah 'kan bisa tambah jelek, jangan marahlah jelek, " bujuk yusuf.


"Iya bodoh! Bisa tidak kalau bicara dengan gue, kata jeleknya di kurangi. Gue gak pernah bilang bodoh berapa kali, dan kali ini gue mau bilang." Naura menatap awan yang mulai gelap, tidak ada lagi senja. "Bodoh, bodoh, bodoh. Yusuf bodoh! " Naura lari turun meninggal Yusuf yang masih tersenyum menatapnya.


Gadis berlesung pipit itu tampak mengemaskan menggenakan piama yang agak kebesaran, itu yang di pikirkan Yusuf. Yusuff sudah sejak lama menyukai Naura, bahkan saat pertama kali Naura menginjakkan kaki ke kos-kosan ibunya, di tambah dengan sifat Naura yang cerewet minta ampun.


Harapannya bisa mencintai Naura walaupun Naura tidak mencintai dirinya. Itulah risiko teramat mencintai.


●_●


Naura menaburi make-up ke wajahnya. Untuk kesekian kalinya Naura akan keluar bersama Yusuf ke klub lagi. Yusuf sebenarnya anak baik-baik, hanya saja setelah bertemu dengan Naura, sifat Yusuf semakin terbuka bahkan dia menjadi lebih sering keluar malam daripada diam menyendiri sambil bermain game.


"Bagaimana? " tanya Naura ke Yusuf tentang wajahnya.


Yusuf memasang wajah tidak suka. "Tetap jelek, " komentar Yusuf yang masih menatap penampilan Naura. Padahal sebenarnya Naura terlihat sangat cantik dengan dres berwarna merah selututnya.


Naura mendengus. "Bodoh! Gue yang nikmat lo yang komentar. Ngomong-ngomong, gigi kurang sempurna, lo masih perjaka gak si? Gua penasaran soalnya, kan, waktu di kampung gue, rata-rata teman itu gak perjaka lagi, kan, lo tau kalau gue gak berteman sama cewek."


"Pertanyaan lo aneh banget, tapi kenapa lo gak berteman sama cewek? " tanya Yusuf.


"Gue gak mau berteman dengan orang munafik. Rata-rata cewek itu mau memperbanyak teman tapi dengan cara salah, maksudnya terkadang dia mencerita aib kita karena agar di sukai orang lain. Dan gue juga ngaku kalau gue cewek, hanya saja gue gak semunafik yang lainnya," jelas Naura seakan pernah mengalami hal seperti itu, ralat dirinya memang pernah dihianati oleh sahabatnya sendiri.


"Seharusnya lo harus hati-hati berteman dengan perempuan, bukan menjauhi yang namanya perempuan," usul Yusuf.


"Gak! Ibu gue juga seperti itu! Dia jahat, dia pergi saat usia gue masih sepuluh tahun. Dia mengalami kecelakaan dan ibu meninggal, " katanya sambil menunduk. Naura memang selalu terlihat ceria, tapi siapa sangka gadis seperti dia ternyata memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan. "Dan ayah, gue gak tahu ke mana si sialan itu! "


"Naura, gue ikut berduka cita. Tapi lo punya adik gak? "


Naura mengangguk, diam beberapa saat sampai akhirnya memutuskan untuk kembali berbicara. "Adik gue gak tahu ke mana, gue bertahun-tahun mencari keberadaan dia hingga gue berumur delapan belas tahun tapi tetap saja tidak ketemu. Gue gak tahu apa dia masih hidup atau tidak."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, pamali! "tegas Yusuf.


"Nira menderita penyakit kanker otak, " ucap Naura sambil tertawa, tentunya tertawa agar air matanya tidak terjatuh. "Dia juga perempuan dan dia juga pergi."


Naura memeluk tubuh Yusuf. "Bagaimana kalau kita salat dulu? " tawar Yusuf. "Biar lo bisa lebih tenang," tambahnya.


Naura menggeleng. "Gue bilang, gue bukan-orang munafik, bodoh. Gue akan salat kalau gue benar-benar tobat. Gue tahu orang tua lo datang dan lo akan bersikap seakan-akan lo anak yang alim, lo harusnya mengambil keputusan sekali Yusuf." Naura bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan Yusuf.


Yusuf tidak bisa berbuat apa-apa ke Naura saat orang tuanya datang, seperti yang Naura katakan. Yusuf merasa dirinya sangat munafik, menyembunyikan sifatnya ini ke orang tua.


Saat meninggalkan Yusuf, Naura tentunya langsung menuju klub yang sering dia kunjungi bersama Yusuf. Bagi Naura, klub adalah surganya saat dia memiliki masalah, dia bisa saja langsung melupakan masalahnya hanya dengan beberapa tegukan alkohol saja.


Saat mengunjungi klub kali ini, Naura hanya berpakaian biasa, maksudnya tidak terlalu seksi, hanya memakai dres selutut yang dia miliki satu-satunya, selebihnya piyama dan pakaian yang lebih seksi lagi.


Beberapa langkah masuk menginjakkan kaki ke dalam klub Naura sudah mendapatkan segombolan suara memanggil namanya, tentunya mereka teman-teman Naura.


"Ke mana Yusuf? " Tanya Alvin kemudian meneguk alkohol yang ada di tangan kanannya. "Orang tuanya datang lagi? " tebaknya.


"Dia cemeng banget, ck, bisa-bisanya takut ke orang tua, " timpal Johan.


Mereka bertiga duduk di sofa yang terbilang mewah untuk remaja di usianya. Jelas, Alvin adalah pemilik club ini, dari hasil keringatnya sendiri. Jelaslah dia mengambil tempat nyaman untuk dirinya dan teman-temannya.


"Lo ada masalah ya Nau? " tanya Johan saat melihat Naura sendari tadi diam.


"Jangan bilang karena Yusuf gak ikut, " tebak Alvin.


"Iya juga ya, kalau Yusuf gak ikut bagaimana gue balik ke kos? Kan, kunci pagar ada di Yusuf, " ucap Naura mengeruti kebodohannya. "Gue lupa minta kunci pagar ke Yusuf taik, bodoh! " kesalnya sambil ikut meneguk alkohol.


Alvin dan Johan tertawa mendengar ucapan Naura. "Bisa gue tebak? Saat lo balik lo akan manjat pagar."


"Enggak bisa, pagar nyonya terhormat semata wayang itu ada kacanya bisa-bisa robek punya gue. " Naura memang selalu memanggil ibu Yusuf dengan sebutan nyonya terhormat semata wayang, entah, mungkin karena sifatnya yang pemarah.


"Mampus lo. Atau lo mau nginep di sini? Tidur bareng gue? Tapi gue gak yakin pakaian lo akan utuh saat bagun nanti, " Ucap Alvin sambil tertawa. Pria tampan ini memang selalu berbicara seperti itu, maksudnya hampir setiap perkataannya pasti berakhiran dengan hal yang mesum.


"Tapi Nau, lo pulang jam berapa malam ini? kasihan Yusuf kalau lo harus pulang larut malam, kan Yusuf itu berbeda dari kita berdua. " Sambil menunjuk Alvin dan dirinya. "Dia anaknya soleh kalau kita? Walau orang tua bilang salat-salat tapi tetap saja tidak, kita belum bisa hijrah," ucap Johan seakan-akan dirinya sudah pasrah akan takdirnya.


"Gue pulang cepat hari ini, palingan jam satu malam sudah balik, " ucap Naura sambil menyandarkan tubuhnya. "Gue mau lupakan masa lalu gue, Vin, Jo. Gue gak mau ingat masa lalu gue yang kelam itu! "


"Minum ini, gue yakin lo akan melupakan masalah lo." Alvin kembali menawarkan minuman beralkohol ke Naura.


Seperti sebelumnya, tanpa disuruh pun Naura akan tetap meminum minuman itu.


Sebenarnya Avin dan Johan adalah teman lama Naura hanya saja dulunya mereka sempat terpisahkan tapi kembali di pertemukan di kota ini.


●_●


Astagfirullah, kenapa harus mogok di tempat sepi seperti ini, apalagi sekarang sudah pukul 2 : 12 dan bisa di katakan mustahil orang akan lewat di tempat ini.


Saya keluar dari mobil untuk mengecek apa yang rusak dari mobil ini. Tidak butuh lama saya akhirnya bisa mengetahui apa yang rusak dari mobil saya, ini tidak begitu sulit apalagi saya sudah pernah belajar cara memperbaiki mobil yang mogok, tentunya di ajar oleh bapak Samsul, tukang pangkir di dekat rumah.


Dua puluh menit bergulat dengan kabel-kabel mobil, tidak beda jauh mudahnya mengajar anak-anak di pesantren, ya, saya seorang guru di pesantren. Syukurlah setelah lulus S-1 saya akhirnya di tawar untuk mengajar di tempat yang menurut saya muliah itu, mengajar di sana tidak beda jauh kalau kita sendiri yang belajar. Pekerjaan saya akhirnya selesai, saya hampir saja masuk ke dalam mobil saya.


Tapi tunggu, seseorang terlihat sedang berjalan dengan langkah tidak teratur. Kalau dia orang jahat, itu tidak begitu sulit untuk melawannya apalagi dia cuma sendiri. Tapi semakin dia berjalan mendekat, detak jantung saya malah semakin berdetak tidak karuan. Astagfirullah kenapa saya mendadak takut seperti ini? Allahuakbar.


Jarang kami berkisar tiga meter, saya bisa melihat dengan jelas kalau dia seorang wanita, saya bisa tahu dengan bantuan cahaya mobil saya. Wanita dengan pakaian yang tidak seronok berjalan samakin dekat, dres selutut membuat saya ngeri menatapnya. Apa dia tidak kedinginan?


Saat dia sudah hampir mendekati saya, saya lihat langkahnya semakin melambat kemudian dia singgah tepat di depan saya, tersenyum menatap saya. Subhanallah, dia sangat manis.  Astagfirullah! kenapa saya seperti ini! Saya kembali ingin melangkah meninggalkan dia, tapi sayang tangan wanita itu menghentikan langkah saya.


Tiba-tiba dia memuntahi baju kemeja putih yang saya pakai, bauh muntahnya sangat menyengat, apa gadis ini habis meminum alkohol? Saya ingin mendorong wanita itu, tapi tubuhnya terlebih dahulu ambruk kemudian memeluk saya dan dengan terpaksa saya harus menggendong tubuhnya.


Ya Allah, ada apa dengan hari ini? Tidak mungkin juga saya meninggalkan wanita itu sendiri di tempat gelap dan sepi seperti ini, bagaimana kalau seseorang ingin mencelakai dia? Nauzubillah, saya tidak mau menyesali perbuatan ini kalau itu terjadi.

__ADS_1


Saya berusaha menggendong wanita yang menggunakan dres berwarna merah, mata saya harus ternodai hanya karena ini! Ya Allah maafkan saya, insyaaAllah, saat sampai nanti saya akan salat taubat. Maafkan saya ya Allah, wanita ini juga manusia yang harus saya tolong.


Saat saya rasa tubuh wanita itu sudah masuk ke dalam mobil, saya kembali ke depan untuk menjalankan mobil saya. Untuk saat ini dia harus tinggal sementara di rumah saya, ralat, tapi untuk malam ini saja.


Di perjalanan saya terus mengerutuki diri, andai saja mobil ini tidak mogok mungkin saya tidak akan bertemu dengan wanita ini, tapi kalau tidak bertemu dengan saya bisa-bisa dia dalam bahaya. Ya Allah. saya menarik perkataan saya barusan ya Allah.


Sesampainya di rumah, saya harus kembali menyentuh wanita itu, tentunya untuk menggendong tubuhnya dan membawa dia ke dalam rumah saya. Wanita ini berat tapi saya masih sanggup untuk menggendong dia, hingga akhirnya saya bisa membawanya masuk.


Astagfirullah! Saya sampai lupa untuk melapor ke satpam dulu atau ke RT karena mengajak wanita yang bukan mahram saya ke rumah. Saya segera membaringkan tubuhnya di kamar saya, sebenarnya masih ada kamar yang lain, tapi kamar itu belum layak di pakai karena terlalu banyak barang-barang yang tidak terpakai di sana, dan saya tidak mungkin membereskan kamar itu dengan cepat agar wanita ini bisa tidur di sana, tidak usah, dia bermalam cuma malam ini saja dan saya bisa tidur di sofa.


"Assalamualaikum! Naufal keluar kamu! " teriak seseorang dengan nada tinggi. Kalau di dengar dari suaranya ini bukan satu orang, tapi lebih mungkin sepuluh atau lebih. Ada apa malam-malam mereka ke sini.


Saya segera keluar untuk menghampiri mereka. "Ada apa bapak-bapak, ibu-ibu? " tanya saya menenangkan mereka.


"Tampan soleh tidak menjamin benar-benar soleh! Astagfirullah, ternyata Ustaz Naufal diam-diam membawa seorang wanita yang tidak sadarkan diri ke rumahnya," ucap salah satu bapak-bapak tadi.


"Maaf, bapak-bapak salah paham. Ini semua ada alasannya, perem-" sebelum ucapan saya selesai, salah satu di antara bapak-bapak itu manarik bahu saya dan terlihat beberapa ibu-ibu masuk begitu saja ke rumah saya.


"Ustaz Naufal harus ingat tentang hukum di sini, siapa pun yang kedapatan berzina harus di nikahkan, " teriaknya salah satu bapak-bapak itu.


Saya menggeleng tidak setujuh. "Astagfirullah, bapak. Saya tidak pernah melakukan hal itu, saya hanya menolong wanita itu, apa salah kalau saya menolong orang? " ucap saya membela diri.


"Mana ada maling ngaku Ustaz Naufal! "


"Masalahnya saya bukan maling, jadi saya mengaku."


"Ah tetap! Ayo ibu-ibu bapak-bapak kita bawa dia ke rumah pak RT untuk di nikahkan! Saya tidak mau tempat kita jadi ternodai, " ucap bapak-bapak itu kembali menarikku paksa.


"Demi Allah bapak-bapak, ibu-ibu saya tidak melakukan hubungan terlarang dengan wanita itu, saya hanya menolong dia, " ucap saya kembali membela diri sendiri.


"Ustaz Naufal, jangan pernah membawa nama Allah dalam kebohongan ustaz Naufal, jelas-jelas kita lihat perempuan itu langsung, dan perempuan itu juga kelihatannya bukan perempuan baik-baik. Kalau ustaz orang baik, pasti tidak akan membawa wanita itu ke sini, apalah wanita itu berpakaian seperti itu, MasyaaAllah." ucapnya. "Ayo bapak-bapak ibu-ibu bawa mereka ke rumah pak RT. "


Beberapa orang terdengar ikut menyetujui perkataan bapak-bapak itu, sambil menarik saya paksa.


Saya melihat ibu-ibu juga ikut menarik wanita itu. Dan anehnya wanita itu terlihat biasa-biasa saja saat di tarik dan di kerumuni banyak orang, berbeda dengan saya yang mulai tidak tenang. ralat, dari tadi saya tidak tenang.


Ya Allah, semoga fitnah ini segera berakhir, tidak mungkin saya harus di nikahkan dengan perempuan yang tidak kukenali.


●_●


قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ


"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (Qs. An-nur : 30)


وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا


"Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan." (Qs Al-isra' :32)


💜


Alhamdulillah akhirnya selesai juga satu chapter 😁😁. Sebenarnya ini imajinasi sudah lama tapi baru saja kepikiran untuk mewujudkan lewat tulisan biar yang lain bisa tahu imajinasi aku bagaimana 😅.


Siapa tahu ada yang ikut kebawa perasaan karena cerita ini, please thor jangan bikin malu! 😑


Tapi harapanku kalian bisa suka dengan ceritaku, Aamiin.


●_●


Salam hangat


RiskaAfriani 💜

__ADS_1


Parepare, 8 maret 2019


__ADS_2