
Bismillahirahmanirahim
-
-
-
💜
Dasar tuan pengganggu!
●_●
"Siapa namanya?" tanya sang penghulu kepada Naufal.
Yang namanya peraturan tetaplah peraturan dan wajib di kerjakan, seperti sekarang, Naura dan Naufal harus di nikahkan karena masalah salah faham itu.
"Siapa namanya? " tanya penghulu itu kembali.
"Saya tidak tahu, saya baru saja bertemu dengannya," ucap Naufal. Dia pasti sangat kesal sekarang.
"Nauranisyah." Tanpa aba-aba, Nuara langsung menjawab pertanyaan sang penghulu itu, dia mau agar masalah ini segera selesai, dan dia bisa pulang cepat untuk kembali terlelap.
"Nama ayahmu? "
"Kenapa ayah? Apa ayah saya harus ke sini? " tanya Naura dengan nada kesal, dia sangat membenci ayahnya bahkan dia bermimpi saat menikah nanti, ayahnya tidak dilibatkan dalam acaranya itu.
"Sebutkan saja nama ayahmu!" tegas penghulu itu.
Naura mendesah pasrah. "Albin Husyain. Kapan acaranya selesai? Saya ngantuk," ucap Naura jujur.
Bapak penghulu itu mengangguk. Acaranya pun di mulai. Naura sesekali menguap karena tidak bisa menahan kantuknya lagi, di tambah sekarang masih pukul tiga pagi....
"Saya terima nikahnya Nauranisyah bin Albin Husyain dengan mas kawin dan surat ar-rahman karena Allah. " Naufal melafalkan ikrar suci tersebut dengan satu tarikan nafas.
Naura terdiam di tempat mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi. Dirinya masih antara sadar dan tidak. Tangannya tidak tinggal diam , mengaruk kepalanya yang terasa gatal karena pertama kalinya memakai jilbab.
Mata Naura terus saja ingin tertutup tapi selalu saja tidak jadi saat Naura melihat di depan matanya seseorang sedang berdoa, dia kini mengikuti orang di sekelilingnya. Dan akhirnya Naufal kini harus mencium puncak kepala Naura.
Tidak lama itu, kantuk Naura benar-benar tidak bisa ditahan dia mulai terlelap, padahal acara akadnya baru saja selesai.
"Ada apa ini? " tanya warga saat melihat Naura yang sudah terlelap. "Dia pingsang, Ustaz Naufal bawa istri ustaz ke rumah ustadz sekarang, " sambungannya.
Terlihat ustaz Naufal berusaha menggendong tubuh Naura menuju rumahnya dan diikuti beberapa warga.
Saat sampai di rumahnya, Naufal membaringkan tubuh Naura ke sofa. Kemudian beralih menatap warga yang ikut tadi.
"Ustaz kami minta maaf tentang kejadian tadi, " ucap seseorang warga. "Kami tidak bisa membiarkan masalah ini, karena ini bukan perkara yang biasa, kami juga sebagai warga tidak mau kalau kampung kami ternodai hanya karena masalah ini. Kami tidak tahu apa Ustaz melakukan zina atau tidak tapi bukti telah membawanya ke situ, " jelasnya kembali.
Naufal tersenyum kecut. "Tidak perlu membahasnya kembali, semuanya sudah terjadi. Saya juga sudah terikat dengan dia, dan dia sekarang sudah menjadi istri saya. Doakan saja semuanya berjalan lancar, " ucap Naufal pasrah.
●_●
"Ahhhhhhhh!! " teriakku histeris. Aku melihat sekeliling, rasanya tadi ada yang membasahi wajahku. Tiba-tiba terdegar suara seseorang berdeham, dan ternyata pelakunya ada di depanku, pria yang menikah denganku. "Kenapa lihat gue seperti itu? Pakai acara siram-siram air lagi, bisa kan kalau ngebanguni orang itu pakai cara halus, ini malah pakai cara kasar, " kesalku.
"Dari tadi saya membangunkan kamu dengan cara halus, kamu saja yang tidak sadar, " kata pria itu lembut. "Ayo salat."
Tunggu! Apa aku tidak salah dengar? Dia membangunkan aku hanya salat? Kurang ajar. “Hey! Lo ngebanguni gue hanya untuk salat? Lo gak tahu gue tadi mimpi apa? Andai lo tahu mungkin lo gak tega untuk ngebanguni gue! “ teriakku kesal.
“Andai kamu tahu siksa orang yang tidak salat, mungkin kamu akan berdiri dan segera salat.” Jawaban yang sungguh tak kuduga. Dasar tuan pengganggu!
“Apa urusannya dengan hidupku? Neraka juga masih jauh, usiaku juga masih mudah," ucapku membela diri.
“Setiap yang bernyawa akan mati, yang usia mudah juga," ucapnya kemudian berlalu meninggalkan aku, tanpa mendengar ucapanku kembali, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kurang ajar benar.
Aku melemparkan bantal ke arah kamar mandi, dasar manusia tidak berperikemanusiaan! Apa dia tidak pernah mudah? Mungkin tuhan menciptakan dia langsung tua, pemikiran dia juga tentang kematian mungkin sebentar lagi dia akan mati, ah tunggu kalau dia mati aku janda dong? Ah gaklah kan pernikahan tadi itu hanya paksaan jadi tidak sungguh.
Baru saja aku akan terlelap tapi seseorang kambali membangunkan aku, menyentuh pundakku.
__ADS_1
Aku menatapnya, dasar pengganggu! “Kenapa lagi? Salat lagi? “ tebakku. “Kalau mau salat, salat saja. Gue sudah salat tadi, tinggal lo yang belum,” dalihku.
Entah bagaimana mimik wajahnya, aku tidak tahu karena aku kembali menutupi wajahku dengan selimut. “Bangun Naura, “ ucapnya lembut. “Kamu salat apa tadi? Sekarang masih azan subuh.”
“Lah terus apa yang salah? Penggangu? “ tanyaku dengan mata yang masih tertutup.
“Kalau kamu tidak bangun, ponselmu tidak akan kembali, “ ancamnya.
Aku segera mencari keberadaan ponselku dan benar dia mengambil ponselku. Dengan segera aku bangkit dari tidurku. Terlihat jelas kalau dia sedang memegang ponselku, dan sialnya aku tidak pernah memberi kunci ke ponsel itu. Selain pengganggu dia juga ternyata pengancam! Tuhan kenapa engkau mempertemukan aku dengan manusia kurang ajar seperti dia?
“Oke! Gue bangun, balikin ponsel itu, “ ucapku menyerah. Dan lihat si pengganggu itu berjalan menjauh dariku, apa pengganggu itu sudah gila? “Kenapa lagi? “ Benar-benar aneh.
“Kamu mau salat di situ dan tidak wudu? Kalau mau ponselmu wudu dulu. "
Aku tersenyum bersalah. “Gue gak tahu wudu, “ ucapku sambil mengaruk kepalaku yang terasa gatal.
"Berdirilah, nanti saya ajari caranya berwudu, " ucapnya dengan datar. Kapan aku bisa melihat dia tersenyum.
Aku tersenyum jahil. "Tarik, " ucapku. Tidak masalah menyusahkan si pengganggu itu.
Dan dengan baiknya dia menuruti permintaanku. "Buruan kamu masuk," pintahnya.
"Lo tidak masuk? "
Dia menggeleng. "Saya ngasih arahan dari luar."
"Kenapa? Lo malu ya sama gue?. " Aku terkekeh melihat tingkahnya, sebenarnya dia tidak melakukan sesuatu, hanya saja aku ingin tertawa sekarang. "Yaelah yang hamil itu gue bukan lo, seharusnya gue yang takut kalau lo masuk, " lanjutku dengan suara yang masih tertawa.
"Ponselmu saya sita seminggu, " ucapnya datar. WTF, aku salah apa coba? "Cepat berwudu kalau tidak ponselmu akan saya sita sebulan."
Aku menghentakkan kakiku kesal. Dasar pengganggu yang kurang ajar! Aku bersumpah, andai saja kalau aku memegang ponsel itu akan aku sembunyikan jauh-jauh, sekali lagi dasar pengganggu.
●_●
"Ponselku, " rengekku ke si pengganggu itu. Aku tidak tahu namanya. " Aku mau pulang." Sumpah demi apa aku bicara semanis ini dengan dia? Ini semua agar dia memberikan ponsel itu untukku.
Aku mendekati si pengganggu itu. Dia sedang duduk sambil mengutak atik ponselku, ya Tuhan jangan sampai dia melihat vidioku sewaktu melakukan tantangan konyol itu. Waktu itu aku di suruh memanjat pohon dengan pakaian mak lampir dan tentunya sangat tidak baik kalau dia melihatnya. "Gue mau ke kosan gue! " kesalku.
"Sekarang itu kamu adalah istri saya dan saya adalah suamimu, " jelasnya.
"Ya Tuhan, si pengganggu ini kenapa? Dengar ya tuan pengganggu, sebenarnya waktu itu cuma bohongan, itu nikah bohongan, mana ada nikah pakai ngomong seperti itu, 'saya terimah nikahnya bla bla bla binti bla bla bla' langsung terikat di pernikahan? Kan, harus ada resepsinya tuan pengganggu. "
"Dengar." Tua pengganggu itu mendekatiku. "Yang semalam itu bukan bohongan, sekarang kamu benar-benar terikat dengan saya, Naura. "
Aku mendengus. "Tapi kata Alvi kalau orang yang sudah menikah pasti melakukan hubungan suami istri, " jelasku. Alvin saja yang belum menikah sudah melakukan hubungan itu, lah, aku?
"Mungkin, " jawabnya singkat.
"Kenapa kamu tidak melakukan itu ke aku? " Yaelah Naura sejak kapan kamu berbicara formal seperti ini?
Tuan pengganggu itu tersedak kopi yang dia minum tadi. "Jangan bicara konyol Naura," kesalnya sambil membersihkan bajunya yang terkena percika kopi. "Usiamu berapa? "
"Delapan belas. Kenapa? Mau ngasih aku hadiah? Manis sekali."
"Usiamu saja masih terlalu mudah tapi kamu sudah mengetahui hal intim seperti ini, " ucap tuan pengganggu sambil mengusap-usap dadanya.
"Aku sudah dewasa tuan pengganggu. " ucapku tidak mendapatkan respons, dasar manusia es. "Tuan pengganggu."
"Hem."
"Aku tu sebenarnya sudah tidak perawan, " kataku yang langsung mendapatkan tatapan aneh dari tuan pengganggu.
"Berapa kali kamu melakukan hubungan itu? " tanyanya. Wah hebat kalau bahas seperti ini, dia langsung cerewet.
"Berapa ya? Hem mungkin kisaran 40 kali, " ucapku sambil tertawa. Tidak lama itu, tuan pengganggu kembali menatapku. "Kalau tuan pengganggu tidak percaya, aku bisa buktikan, " sambungku.
"Kamu tahu dosa zina sangat sulit di ampuni? Kamu juga tahu zina apa yang telah kamu lakukan? Astagfirullah, " ucapnya sambil memijat pelipisnya.
"Apa ucapanku salah? "
__ADS_1
"Mungkin tidak, karena kamu sudah jujur ke saya. "
"Tapi tadi aku bohong, "
Dia diam tidak mempedulikan perkataanku barusan dan terus saja memainkan ponselku, padahal aku sangat bosan dengan ponsel itu.
"Kamu bisa masak? " tanya tuan pengganggu itu. Apa aku tidak salah dengar? Dia bertanya denganku.
"Jelaslah, pintar masak, kecuali masak ikan, takut sama ikan soalnya, kamu tahu bau busuknya ikan? Itulah sebabnya aku tidak mau menyentuhnya," jelasku.
"Ya sudah, kamu masak untuk kita makan nanti siang. "
"Gak! "
"Kenapa? "
"Orang kalau minta tolong itu harusnya manis, contohnya seperti ini, 'Ya sudah, kamu masak dulu sana untuk kita makan sayang', " ucapku sok manis.
Tidak lama setelahnya, tuan pengganggu itu langsung tersenyum dan berbicara seperti apa yang aku inginkan. "Kenapa belum pergi? " tanyanya saat aku masih diam tersenyum menatapnya. Boleh jujur dia satu-satunya manusia yang membuatku menyukainya. Ya sesingkat ini, saat dia berbicara manis tadi, sebuah hal buruk tentang dia langsung hilang seketika.
"Aku suka lihat kamu, " jujurku. Aku tidak suka harus terlalu banyak drama.
"Ada-ada saja kamu."
"Aku mau masak kalau kamu menciumku seperti waktu kemarin itu." Tuang pengganggu itu tiba-tiba menyengir mendengar perkataanku. "Ya sudah kalau tidak mau aku akan pulang."
"Satu syarat, " ucapnya.
"Apa pun itu."
"Setelah ini kita ke Mal untuk berbelanja pakaian muslimah. "
"Iya aku janji. Cepat cium aku." sepersekian detik kemudian sesuatu yang kenyal menyentuh pipi kananku.
"Sudah." Dia benar menciumku.
"Terima kasih, " ucapku kemudian berlalu meninggalkan dia yang kembali fokus menatap ponselku.
Aku tahu kebiasaan tuan pengganggu itu, berbicara singkat adalah kebiasaannya? Kebiasaan aneh yang pernah aku temui! Benar-benar pengganggu.
●_●
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ'''
'''Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [An-Nur/24:31]'
💜
“Ada dua macam penghuni Neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok pria yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh” (HR. Muslim).
💜
●_●
Alhamdulillah akhirnya selesai juga dalam sehari, walau cuma sedikit setidaknya aku bisa 😂. Targetnya ini, mau menyelesaikan tulisan ini dalam satu bulan, doakan berjalan lancar, Aamiin.
●_●
Syukron katsiraan💜
Jazzakumullah ya khair💜
Salam hangat
Riska Afriani 💜
Parepare, 8 maret 2019
Sumber qur'an itu aku copas dari whatsapp.
__ADS_1