
Bismillahirahmanirahim
-
-
-
-
-
💜
Kalau calon mertua berarti kamu belum menikah dengan saya, tapi kalau mertua saja berarti kamu sudah menikah dengan saya
●_●
"Kamu tu kerja apa si? Setiap hari keluar rumah, dan aku sendiri ditambah tidak diizinkan untuk keluar rumah, mana hati nurani kamu tuan pengganggu? Aku juga mau keluar rumah, terus menikmati pemandangan yang ada di sini bersama masyarakat sekita. Aku butuh hiburan juga! " kesalku. Bahkan hari minggu pun dia tidak libur seperti sekarang, seharusnya dia kalau hari minggu bersenang-senang bersama istrinya, tapi tidak, jawaban tak terduga aku dapatkan di sini, dia bilang 'Saya bukan agama kristen untuk libur di hari ahad Naura. ' Lah setidaknya liburkan? Dasar betul-betul tuan pengganggu otak jaman dulu!
Tuan pengganggu sibuk melipat mukena yang kupakai tadi, jadi mungkin itu alasannya tetap diam. Mungkin kalau melihat dia seperti itu terus—melipat pakaian terus, aku bisa pintar juga, seperti Ibu kos semata wayang bandel itu, aku selalu melihatnya memasak jadi aku bisa pintar memasak karena dia, ya katakan kalau aku berterima kasih sekarang.
Pernikahan kita sudah lama, tapi aku belum pernah melihat mertuaku juga. "Tuan pengganggu! "
"Hem. "
"Kapan aku bisa melihat camer tuan pengganggu? "
"Apa itu? "
"Calon mertua.
__ADS_1
"Mertua!" tegasnya.
"Ih! Sama saja! Sama-sama ada mertuanya!" terdengar kalau tuan penganggu hanya mendengus saja sebagai jawaban. Entah bagaimana jengkelnya kalau malaikat Mungkar dan Nakir saat bertanya ke tuan penganggu terus jawabannya cuma 'hem' saja, semoga saja tidak terjadi apa-apa. "Kan kita sudah menikah lama, kenapa aku belum bertemu dia? Seharusnya itu aku sudah silaturrahmi dengan dia, jabat tangan, cipika cipiki atau ritual ibu-ibu kalau ketemu gitu, kapan tuan pengganggu? "
"Kapan-kapan. " Mendengar jawaban dia, aku langsung mengusap dada sambil Ber-istigfar. Salah hamba apa ya Allah? Kenapa begini sekali?
"Iya, kapannya itu kapan? Jangan bilang terserah! Aku mau jawaban PANJANG! Dasar! "
"Panjang. " Dear pembaca, apa aku bisa pingsan sebentar? Atau ada yang ingin menggantikan posisiku sekarang? Kesel aku ini, kesel! Dapat suami tampan tapi sayangnya seperti ini, jarang bicara! Katanya seperti ini, 'Jangan berbicara terus sehingga kamu di suruh diam, tapi diamlah sehingga kamu di suruh berbicara. ' Bedanya apa coba? Hufh, ya Allah, ya Tuhan kami, bagaimana bisa Engkau menciptakan pria seperti ini? Untunglah Naura si cantik dan penyabar ini tidak pintar marah, kalau sampai pemarah entah bagaimana nasib suamiku ini. Terima kasih ya Allah telah menciptakan wanita se-sabar aku.
"Ya maksudnya bukan seperti itu! Tuan pengganggu bodoh atau pura-pura bodoh si? Pertanyaan seperti ini saja harus salah! " kesalku. "Aku itu mau ketemu cam-"
"Mertua! timpalnya.
"Sama saja! Sama-sama ada mertuanya! "
"Beda Naura. Kalau calon mertua berarti kamu belum menikah dengan saya, tapi kalau mertua saja berarti kamu sudah menikah dengan saya. "
"Naura, kok masih berantakan seperti ini? Kan kemarin semua pakaian kamu sudah aku rapikan kenapa berantakan seperti ini lagi? " omelnya. Dia sudah kayak Yusuf tahu gak, dia juga sering melipat pakaianku. "Lain kali kalau ambil pakaian dengan cara halus bukan seperti ini ya? " katanya tapi tak pernah menatapku. Mata dan tangannya terfokus dengan pakaianku.
"Ih. Setidaknya kan tidak berserakan di lantai tuan pengganggu! "
"Iya tapi di dalam sudah kayak kapal pecah. "
"Lah. Bagaimana ceritanya ada kapal pecah di sana? Aku tidak suka main kapal-kapalan tuan pengganggu. "
"Saya kira. " Dan kembali seperti semula, si irit berbicara kembali irit. Benar-benar membosankan.
Rasanya aku rindu dengan klub milik Alvin. Kapan ya ke sana lagi? Bareng Yusuf? Dia pasti rindu juga dengan tempat itu, pasti nyonya semata wayang bandel itu tidak ada di kos. Ini saatnya aku kembali ke masa laluku, rindu deh.
"Ya sudah kalau tidak mau ajak aku ke rumah Mertua, aku akan ke klub bareng Yusuf dan teman-teman lainnya!" Dia pasti bilang, 'Pergilah Naura tapi jangan lama-lama ya pulangnya! ' dia lebih memilih kalau aku tidak bertemu mertua daripada ke rumahnya.
__ADS_1
"Tidak boleh keluar rumah! " Kegiatannya kali ini, melipat dan merapikan pakaianku. "Pulang kerja, kita ke rumah umi," lanjutnya.
Alhamdulillah terima kasih ya Allah. Aku melompat kegirangan karena pertama kali bertemu mertua maksudnya. "Terima Kasih banyak tuan pengganggu. " Pertama kalinya aku mencium pipinya. Aku melihat dia diam terpaku, aku tidak peduli! Aku sangat bahagia karena akan bertemu mertua. Ucapkan selamat kepadaku segera wahai readers. Aku mencintai kalian. "Berarti kita akan ke rumahnya mertua? Aku akan ceritakan kalau aku sangat bahagia bertemu dengan mereka. Aku akan ketemu dengan keluargaku berarti? " Setetes air mata keluar dari pelupuk mataku, tapi tuan pengganggu tidak melihatnya. Ibu, sekarang aku tidak sendiri, aku akan ketemu ibu yang akan sama seperti ibu kandungku.
"Tapi ada syaratnya." Tuan pengganggu itu membuka suara.
"Katakan. Atau tuan pengganggu menyuruhku untuk mengaji terus setiap malam? Atau membangunkan tuan pengganggu kalau subuh, seperti tadi misalnya, walau aku bangun cuma karena kebelet pipis saja." Tuan pengganggu menyengir mendengar perkataanku. "Katakan, apa syaratnya aku akan mau kok. "
"Jangan memanggil saya tuan pengganggu kalau di sana, ta-"
"Apa? Sayang? Suami? Ambo¹? Baby? Dear? Atau panggilan sayang lainnya? Katakan segera."
"Belajarlah untuk tidak memotong pembicaraan orang Naura. " Aku diam dengan senyuman yang tersembunyi, aku sangat bahagia. "Aku mau kamu memanggilku dengan sebutan, mas kalau bisa. "
Mas? Bagaimana bisa aku bicara seperti itu, aku sendiri keturunan Bugis, susah dan tentunya agak aneh juga kalau aku bilang mas, biasanya kalau bilang mas ke tukang bakso saja. Ah tidak masalah, setidaknya aku ke rumah mertua. Ibu mertua aku sebagai Naura menantu anda akan datang, I'm coming, yuhuyyy.
"Oke. Mas kan? " tanyaku dia langsung mengangguk. "Mas, mas, mas, mas, mas... mas, mas, mas, ma-"
"Kamu tidak capek berbicara terus Naura? Cobalah katakan hal lainnya kecuali mas-mas seperti tadi. Kamu berbicara seperti itu sudah seratusan kali lebih." Aku hanya terkekeh mendengarnya.
"Siap. Tuan pe- eh salah, mas maksudnya. Kok aku masih kadang salah si? Seharusnya benar karena tadi sudah balajar bicara pasih bilang mas. Kok malah kadang lupa sih? Mas? Mas? Mas! " Tuan pengganggu mendengus. "Kenapa mendengus? "
Dia menggeleng. "Belajarlah dari sekarang untuk memanggilku, mas. "
"Tapi bagaimana dengan mertua kalau melihatku nanti? " tanyaku.
Tuan pengganggu diam. Memikirkan perkataanku tadi. Jangan bilang kalau mertua galak? Atau pemarah kayak nyonya cerewet semata wayang itu!
●_●
Ambo ¹ : bapak
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komentar.