
Bismillahirahmanirahim
💜
Tuan pengganggu cemburu ya?
●_●
Sore harinya tuan pengganggu itu membawaku ke mal terdekat, katanya untuk membeli busana muslim. Kali ini aku ingin bertanya pada diriku sendiri, apa kamu betah berpakaian seperti itu? Kemarin saja akad nikah aku harus mengaruk kepala terus.
Ada satu yang aku tahu dari tuan pengganggu itu, dia sangat seadanya, berbicara seadanya saja, melirik seadanya. Aku heran waktu masih di kandungan, ibunya ngidam apa? Coba bayangkan tadi saja dia diam terus saat makan padahal aku tanpa henti mengoceh. Ah, tidak masalah, bagiku itu tantangan buat Naura buat menaklukkan sifat dingin dari Mr. Pengganggu itu.
Walau begitu, ada juga yang istimewa dari tuan pengganggu itu, suaranya sangat merdu, andai bisa aku mendaftarkan dirinya ke ajang suara yang ada di Indonesia, apalagi saat mengaji, sumpah sangat indah. Dan juga wajah tampan, apalagi saat tersenyum, meleleh hayati.
“Bagaimana kalau ini? “tawarnya kambali. Dari tadi dia memperlihatkan deretan pakaian busana muslim yang menurutku tidak masuk akal, kenapa? Semuanya sampai bawa mata kaki dan terlihat agak kebesaran, apa dia tidak bisa melihat bentuk tubuhku? Seharusnya itu pas.
Aku menggeleng. “Kepanjangan.”
Dia kembali berjalan dua langkah. “Bagaimana kalau ini? Ini tidak terlalu kepanjangan untuk kamu, dan sudah termasuk syariah islam, baguskan? “ Aku menggeleng sebagai jawaban tidak suka. “Kamu maunya pakaian seperti apa? Kita hampir menghampiri semua tempat belanja busana muslim dan kamu tidak menemukan pakaian yang kamu suka? “
Aku terpukau mendengarnya bicara. Apa sedang mimpi? Kemudian menyentuh keningnya yang terasa hangat. “Tuan pengganggu sakit? Barusan lebih banyak bicara daripada aku. Atau karena tadi makan makanan buatanku jadi tuan pengganggu banyak bicara? Hebat, seorang wanita seperti Naura dapat membuat tuan pengganggu berbicara banyak. “
Dia memutar bola matanya kesal. “Naura saya serius. Kalau kamu tidak memilih salah satu baju di tempat ini, saya janji tidak akan pernah berbicara lagi denganmu,” ancamnya.
Tidak akan berbicara denganku? Tidak, usahaku gagal namanya kalau seperti itu untuk meluluhkan si tuan pengganggu itu! “Oke demi kenyamanan tuan pengganggu, Naura si wanita baik hati dan tidak sombong akan memilih salah satu diantara banyaknya baju di sini. “
“Bukan satu tapi sepuluh,” ucapnya. Mungkin karena capek berdiri dia kemudian duduk di kursi yang sudah tersedia di sana. Aku hendak untuk ikut duduk tapi dia menghentikan gerakanku. “Sepuluh baju dalam waktu sepuluh menit. “
Aku membulatkan mata, apa? Sepuluh menit untuk sepuluh baju? Berarti satu baju harus dapat dalam waktu satu menit. “Tidak! Kenapa terlalu singkat! “
“Sepuluh baju dalam lima menit.” Ya Tuhan aku hampir saja tersenyum menanti jawaban penambahan waktu dan ternyata dia mala mengurangi waktunya. “Waktumu di mulai sekarang. “ Dia memakai ponselku dalam sehari full.
Aku menghentakkan kakiku malas, kemudian melangkah mengambil baju yang ada di depanku tanpa mempedulikan apakah baju itu cantik untukku atau tidak, dan akhirnya selesai aku bahkan cuma menghabiskan waktu semenit lebih beberapa detik untuk mendapatkan sebanyak sepuluh baju. “Sudah! “ ucapku malas.
“Suka bajunya? “ Sangat, sangat tidak suka tuan pengganggu! Ingin rasanya bilang seperti itu tapi tiba-tiba mulutku kaku untuk berbicara seperti itu.
“Hem. “
“Mau boneka beruang? “
“Apa? Boneka beruang? Serius? Tuan pengganggu mau beli untuk aku? Wah romantis sekali, aku mau, “ jawabku antusias. Sejak kapan dia mengetahui kalau aku menyukai boneka itu? Terlihat kalau dia tidak melepaskan pandangannya dari ponselku. “Tuan pengganggu ayo! Beli boneka beruang tuan pengganggu! Tuan pengganggu! “
Dia bangkit dari duduknya. Dan melakukan hal romantis dalam sejarah pernikahan kita, dia menyentuh tangaku secara tiba-tiba. “Kita bayar pakaian itu dulu terus beli boneka beruang, “ ucapnya lembut, dari awal dia memang selalu berbicara lembut.
“Tuan pengganggu. “
“Hem. “
“Ada denganmu? “
“Saya kenapa? “ Dia balik bertanya.
“Kenapa bersikap manis seperti ini? Atau karena tuan pengganggu sudah jatuh cinta dengaku? Ah romantis sekaliiiiiiiiiiii,” ucapku sambil mengerlipkan mata. Jawaban yang kutunggu, malah diam yang kudapat, tuan pengganggu itu diam menatap fokus kedepan, tangan kananku yang di genggamnya. “Tuan pengganggu, apa kau sakit? “
Dia menggeleng. “Kenapa kalau saya memegang tanganmu? "
“Aku yang harus tanya seperti itu, kenapa kau memegang tanganku? Atau kamu sudah suka ya sama aku? “ diakhir perkataanku, aku tertawa penuh kemenangan.
“Berdoa saja, “ ucapnya kemudian melepaskan pegangannya. Bukan tanpa sebab dia melepaskannya, tapi ingin membayar pakaian yang aku beli. “Berapa? “
“Totalnya lima juta, tuan,” ucap lelaki yang berbibir tebal dengan listip berwarna hitam, dia tidak takut apa kalau pembeli tiba-tiba tidak jadi beli hanya karena dia? Dasar.
“Eh, kenapa lima juta? Aku cuma ambil pakaian seperti ini tapi harganya lima juta? Ada-ada saja mbak bibir tebal in-“ perkataanku belum selesai, tuan pengganggu itu sudah menutup mulutku.
“Maafkan dia mbak. Tadi lima juta ya? Ini.” Setelah menyerahkan uang berwarna merah itu tuan pengganggu akhirnya menarikku pergi meninggalkan tempat yang menurutku tidak baik itu. “Lain kali jangan bicara seperti itu. Lidamu adalah harimaumu. “
Aku tertawa mendengar perkataannya. “Ada-ada saja orang sini, mana ada lidah seperti harimau.” Aku kembali tertawa. “Yang ada hanya lidahmu seperti lidah buaya. “ Apa dia juga memiliki selera humor? Kurasa iya.
__ADS_1
“Kita bisa saja mengomentari penampilan seseorang, hanya saja kita juga harus mengenal tempat untuk mengomentari. Alangkah baiknya kalau langsung memberitahukan Kepadanya secara dua mata, bukan seperti tadi.” Wah, jadi karena ini dia berkata seperti tadi!
“Tapi aku bicara kenyataan tuan pengganggu! “
“Apa bedanya? “
Aku diam. Catat, sejarah hidupku aku kalah berdebat! Dasar tuan pengganggu dengan wanita berbibir jelek itu! “Kalau begitu menikah saja dengan dia tuan pengganggu! Bukannya membela istri mala membela orang lain! “
“Saya tidak berpihak kesiapa pun, hanya saja kali ini saya membela yang benar. “
“Dan kau bilang kalau aku salah? Ah aku mau pulang! “ kesalku kemudian berjalan mendahului tuan pengganggu.
Mungkin dia mengejarku karena saat aku mendahuluinya, dia langsung ada di dekatku. “Kamu kenapa? “
“Aku marah! Jangan bicara denganku! “
"Bagaimana boneka beruangnya? " Apa dia berusaha merayuku agar tidak pulang? Tidak akan mampan.
Sesaat kemudian seseorang memegang tanganku. Dia pasti tuan pengganggu. Aku berbalik untuk memberinya palajaran, maksudnya, aku mau bilang kalau aku sedang marah sekarang. "Tua pengganggu, jan-" dan ternyata dia bukan tuan pengganggu, tapi. "Yusuf lo kesini? " tanyaku memastikan.
Aku memeluk Yusuf. Ini kebiasaanku saat bertemu dengan teman di suatu tempat. Bagiku ini hal yang biasa.
Dia tersenyum, giginya yang indah itu kini terlihat jelas. "Lo ke mana saja? Gue cari gak ada, tanya ke Nanda lo ke mana tapi dia juga gak tahu, ke klub tanya Alvin dan Johan jawabannya tetap sama. Nginep di mana semalam? " Aku hendak menujuk tuan pengganggu itu tapi dia sudah tidak ada. "tunjuk apa si? " tanya Yusuf sambil ikut mengarahkan pandangannya ke arah telunjukku.
"Ke mana tuan pengganggu?"
"Tuan pengganggu? Siapa dia? "
"Dia itu suami gue. Kemarin kita menikah. Lo tau dia itu pria tampan dengan suara merdu, sumpah suara lo kalah sama dia, percaya deh." Mendengar perkataanku, Yusuf tertawa terpingkal-pingkal. "Lo kenapa? Ketawa kayak gitu kayak orang gila tahu gak! " kesalku.
"Lo kebelet nikah ya Jelek? Astagfirullah perutku sakit. Siapa pria yang mau sama wanita jelek seperti kamu Nau? "
"Saya," ucap seseorang tiba-tiba.
Aku menatap sang pemilik suara berat itu. "Nah ini nih yang gue bilang tadi Yusuf, dia itu udah menikah dengan gue tadi subuh." Yusuf tidak henti-hentinya menatap tuan pengganggu, mulai dari kaki sampai ujung kepala. Sedangkan yang di tatap malah memasang wajah biasa saja dengan boneka beruang di tangan kanannya. "Kamu beli ini buat aku tuan penganggu?" tanyaku memastikan.
Kami—aku dan tuan pengganggu, baru saja akan pergi tapi Yusuf memanggilku. "Kenapa? " tanyaku kenapa yusuf memanggilku.
"Lo beneran sudah nikah? "
"Ya Tuhan kenapa otak manusia satu ini? Iya gue udah nikah bodoh. Serasikan? "
"Lo gak bohong kan? "
"Enggaklah."
"Kapan kamu mengenalnya? "
Aku baru saja ingin menjawab pertanyaan Yusuf tapi si tuan pengganggu itu sudah menarikku. "Lain kali gue ceritakan, jelek! " teriakku ke Yusuf, dia masih menatapku. Tapi aku tidak bisa lagi untuk berhenti. "Tuan pengganggu, kenapa tarik-tarik? Tuan pengganggu cemburu? " tebakku. Lihat dia masih memegang tanganku.
Tidak ada jawaban.
"Diam berarti iya. Acieee, tuan pengganggu cemburu, padahal Yusuf itu cuma teman biasa yang aku temani ke klub selalu, " jelasku ke tuan pengganggu.
"Jangan berteman dengan dia lagi."
"Kenapa? "
"Saya tidak suka! " tegasnya.
"Tapi Yusuf teman baikku. "
"Kalau saya bilang, tidak suka ya tidak suka! " bentaknya.
Aku menghentikan langkahku. "Kamu marah sama aku? "
"Saya tidak marah. Saya cuma tidak mau kalau kamu dengan pria lain selain saya. "
__ADS_1
"Kamu cemburu? "
Tuan pengganggu diam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaanku. "Iya, saya cemburu! "
Aku tersenyum penuh kemenangan. "Cieeee, cemburu. "
Setelah itu, dia kembali menarik tanganku. Tidak merespons perkataanku lagi. Hingga kita akhirnya sampai di mobil dan meninggalkan pekarangan itu. "Tuan pengganggu." Sumpah aku tidak suka keheningan seperti ini!
"Hem. "
"Bibir tebal tadi yang di sana itu bukan perempuan asli." Serius dia bukan perempuan, aku selalu bertemu dengan dia saat di klub.
"Kenapa kau tahu? "
"Dia pernah telanjang waktu di klub. "
"Dan kamu lihat? "
"Andai saja mataku tidak terarah ke sana, mungkin aku tidak lihat, tapi mataku terarah ke sana jadi peluang besar lihat. Padahal sudah kayak perempuan beneran hanya saja bibirnya yang jelek."
Tuan pengganggu itu kembali diam. Ya tuhan! Dia kenapa? Apa takdir untuknya memang seperti ini? Maksudnya di takdirkan irit berbicara?
"Tuan pengganggu! "
"Hem. "
"Aku mau punya anak. " sepersekian detik kemudian, mobil yang kami kendarai tiba-tiba berhenti. Aku cuma berteriak histeris setelahnya.
"Ah Naura! Kau merusak konsentrasiku! " kesal tuan pengganggu itu.
Detik-detik kejadian kecelakaan mobil delapan tahun yang lalu kini kembali di pikiranku.
"Ibu saat sampai nanti, aku mau boneka yang besar, " pintahku ke ibu yang sedang duduk di depan dekat ayah.
Ayah tersenyum bersama ibu. "Iya ibu akan belikan banyak boneka beruang saya. "
"Nila uga mau bu." Nira juga ikut meminta ke ibu. Dia juga sama sepertiku menyukai hewan berwarna coklat itu.
"Ih Nira ikut-ikutan! Aku gak suka kalau boneka Naura sama Nira! "
"Adek dengan kakak itu harus selalu akur nak." Sepersekian detik dari ucapan ibu, tiba-tiba ayah menabrak sesuatu, membuatku terlembar dari dalam mobil tidak lama itu terlihat jelas juga kalau ayah dan Nira ikut terlempar.
Aku berteriak histeris dengan darah yang murai bercucuran di keningku. Ayah menghampiriku saat mobil yang kami kendarai tadi kini hancur berkeping-keping.
"Naura kamu kenapa? " terdengar samar pertanyaan tuan pengganggu itu. Pandanganku tiba-tiba buram. Entah karena kenapa aku tiba-tiba mulai tidak sadarkan diri.
●_●
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"
Barangsiapa yang banyak perkataannya, niscaya banyaklah salahnya. Barangsiapa yang banyak salahnya, niscaya banyaklah dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, niscaya neraka lebih utama baginya."
(HR. Abu Na'im)
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)
"Barangsiapa diam maka ia terlepas dari bahaya."_
(HR. At-Tirmidzi)
●_●
Salam hangat
__ADS_1
Riska Afriani 💜