Naura dan Naufal

Naura dan Naufal
Berubah


__ADS_3

Bismillahirahmanirahim


-


-


-


-


-


💜


Sesuatu yang pergi terlihat indah dan sempurna daripada yang ada tapi tidak teranggap


●_●


     Apa si tanggapan kalian saat dia yang dulunya cerewet sekali, bahkan berbicara pun tanpa jeda membuat kalian tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan? Bahkan hal yang tidak penting sering kali dia bahas membuat kalian merasa bosan bersama dengannya? Itu yang saya rasakan sekarang, bertemu dengan seorang wanita yang cerewet, berbicara tanpa jeda, dan topik pembicaraan yang sering kali di bahas adalah topik yang tidak begitu penting, bahkan kadang dia mengulangi perkatanyaan, terlalu monoton. Saya pribadi sangat tidak menyukai hal seperti itu.


      Tapi, setelah semuanya berubah, maksudnya dia yang dulunya bersikap seperti itu menjadi irit berbicara, ya Naura, gadis yang telah resmi menjadi istri saya, yang sering berbicara walau tidak penting. Entah kenapa saya terasa merasa kehilangan dengan itu, kehilangan dengan suasana yang menarik itu, walau sebenarnya terkadang saya juga merasa jengkel dengan dia, saat berbicara hal yang tidak begitu penting.


    Naura sedang duduk di loteng sambil menatap senja bersama saya. Setelah mengajar saya langsung ke rumah, biasanya singgah dulu ke rumah umi tapi setelah saya sadar tidak lagi sendiri, jadi saya terus ke rumah.


     Tentang pernikahan ini, umi sudah mengetahuinya, bahkan selalu ingin bertemu dengan Naura, hanya saja saya belum siap mempertemukan Naura dengan umi tahulah bagaimana mulut seorang Naura.


     Dari tadi suana begitu canggung, saya tidak juga bisa untuk memulai topik pembicaraan, saya tidak bisa seperti Naura yang mungkin sangat memiliki banyak persediaan. Andai saat ini di kelas, mungkin saya memiliki banyak topik pembicaraan, hanya saja berkaitan dengan pelajaran bahasa. Tidak nyambung juga kalau saya memulai untuk berbicara dengan dia seperti saat berbicara dengan murit si!


    "Aku suka senja." Akhirnya Naura berhasil mengeluarkan kata selama hampir setengah jam duduk.


    "Saya tidak suka," kata saya dengan jujur.


     "Kenapa? "


     "Saya hanya suka dengan siapa saya menatapnya. "

__ADS_1


     Naura tersenyum. Kedua lesung pipitnya terlihat begitu jelas. "Romantis sekali." Dan setelah itu, dia kembali diam, menatap senja lekat dan senyuman di wajahnya tidak pernah hilang. "Kenapa senja lebih indah dari fajar? "


     Saya menatap Naura yang masih setia menatap senja. "Warnanya yang indah? "


     Naura menggeleng, berarti jawaban saya salah. "Tidak, tapi setiap perpisahan lebih mudah di kenang daripada pertemuan. Sesuatu yang pergi terlihat indah dan sempurna daripada yang ada tapi tidak teranggap. " Jelasnya. Saya tidak merespon perkataannya. Mungkin saat ini saya juga mulai menyukai senja karenanya. "Kamu tahu. " Saya kembali menatap wajah Naura.


     "Dulunya aku tidak terlalu menyukai ibuku, dia terlalu memetingkan Nira, adikku daripada aku. Dan kau tahu, setelah kecelakaan waktu itu, ibu meninggal aku baru sadar ternyata aku telah menyianyiakan manusia sempurna di hidupku, itu kurasakan setelah dia pergi, dunia begitu kejam. Aku baru sadar ternyata aku membutuhkan seorang ibu di hidupku, saat seorang bajingan seperti ayahku membuangku, dan adikku entah ke mana, aku benar-benar hancur waktu itu. " Mungkin tidak sanggup lagi untuk menceritakan masa lalunya, dia diam.


     "Kemari, " panggil saya. Naura terlihat kebingungan dengan perkataan saya, jelas saja jarak kami sangat dekat dan dia pasti tidak tahu kalau saya ingin memeluknya karena saya diam saja tidak memberi kode fisik kalau saya ingin memeluknya. Dan cara terbaik mungkin, saya yang akan memulai untuk memeluknya. "Saya diam bukan berarti saya tidak mengerti dengan dukamu. Saya tahu itu, bahkan saya mengerti kalau sekarang kamu membutuhkan seseorang untuk menghiburmu, tapi saya tidak tahu caranya membuat lelucon agar kamu tertawa, kau pasti tahu saya pria seperti apa. Pria datar, tanpa bisa bersikap romantis di depan pasangannya."


     "Tuan pengganggu salah." Lihat, dia masih memanggil saya dengan sebutan itu. Saya ingin bilang, itu sebutan teraneh yang membuat saya menyukainya saat dia menyebutkan kembali. "Tuan pengganggu sering romantis walau terkadang setelah romantis tuan pengganggu kembali dingin, datar, kayak tembok, " ucapnya sambil tertawa.


     Wajah saya memanas. Untunglah saat ini saya memeluknya, jadi dia tidak bisa melihat wajah saya saat malu. "Dasar." Mungkin saya sudah kehabisan ide untuk berbicara lagi.


     "Tuan pengganggu, senja sebentar lagi akan hilang. Lepaskan pelukannya, aku tidak mau kehilangan detik untuk melihatnya pergi."


     "Kenapa? "


     "Aku tidak mau menyesal kembali."


     "Apa? "


     "Tidak. Senjanya terlihat sangat cantik." Benar, mungkin saya sudah menyukai senja.


     "Ada apa tuan pengganggu? Apa hari ini aku terlihat sangat cantik? " bukan hari ini, tapi setiap hari Naura. "Kurasa iya. Tuan pengganggu seperti anak kecil yang baru jatuh cinta. Bedanya tuan pengganggu tidak suka sama aku." Kamu salah, saya mungkin, sudah menyukaimu.


     "Berdoa saja," ucap saya. "Senjanya sudah hilang, mau masuk untuk salat magrib? " tawar saya. Tapi Naura masih bergeming di tempatnya.


     "Kakiku masih sakit tuan pengganggu karena kejadian itu. " Saat waktu Naura pingsan, kakinya memang terlihat memerah, mungkin karena dia berkulit putih. "Gendong, " ucapnya sambil merentangkan tangannya kepadaku.


      "Ya sudah."


      Saat mengedongnya. Demi Allah saya risih saat dia terus saja menatap wajah saya tanpa henti. Memang benar, saya seperti anak kecil yang baru mengenal cinta. Kalau betul saya mulai suka Naura, berarti dia telah berhasil mengubah hidup saya dengan singkat. Biasanya tidak ada wanita yang bisa bertahan lama dengan sikap saya dan dia? Kecuali, sulit saya jelaskan.


     "Tuan pengganggu," panggilnya sambil menenggelamkan wajahnya di dada saya. Ya Allah, kalau bisa saya ingin Engkau menghentikan waktu untuk sesaat, entah kenapa saya sangat menyukai suasana seperti ini.

__ADS_1


     "Hem. "


      "Bisa tidak kalau mau tidur cium aku? Kalau mau makan bicara dulu kan biar gak canggung. Kalau mau tidur di dekatku," ucapnya.


      Saya menatapnya yang masih fokus menenggelamkan wajahnya di dada saya. "Saya selalu tidur di dekatmu," ucap saya membela diri.


      "Tapi tidak memelukku, itu sama saja kalau kita tidak tidur dekat." Saya benar-benar kalah atau mengalah?


      "Iya insyaaAllah akan saya lakukan, tapi satu syarat, " ucapnya.


      "Apa? Masak? Aku sudah masak. " Saya menggeleng. "Cium tuan pengganggu? " Saya kembali menggeleng. "Trus? "


     "Setelah pulang mengajar besok. Kita belajar ngaji." Saya tahu Naura tidak pintar mengaji, saat salat saja dia tidak tahu--sewaktu rakaat terakhir dia berdiri kemudian melanjutkan tidurnya. "Dan esoknya kita belajar agama, bagaimana? "


     Naura diam, memikirkan perkataan saya tadi. "Mau tapi kalau setiap hari beliin boneka beruang ya, " ucapnya sambil mengerlipkan matanya. Saya menurunkan badan Naura dari gendongan saya .


     "InsyaaAllah, " Naura terlihat kebingungan mendengar perkataan saya. "Bila Allah menghendaki."


     "Ya Allah izinkanlah. " Demi Allah, Naura terlihat lucu dengan mimik wajah seperti itu. Dia memohon sambil memajukan kedua tangannya kedepan wajahnya, persis berdoa. "bonekaku sudah habis. Ah tidak tapi cuma satu aku mau kalau ada sesuatu di dekatku tidur."


      "Terus saya bagaimana? "


      "Kan, kamu di samping aku. Boneka di atas kita kan? Jadi tuan pengganggu akan beli boneka buat aku, " ucapnya kegirangan. Andai mungkin kakinya tidak sakit, bisa jadi dia sudah melompat kegirangan.


      "Iya. Ayo salat. "


●_●


Sungguh WANITA mampu menyembunyikan CINTA selama 40 tahun❤ Namun tak sanggup menyembunyikan CEMBURU meski sesaat


~Ali bin Abi Thalib


💜


Salam hangat

__ADS_1


Riskaysuff💜


__ADS_2