Naura dan Naufal

Naura dan Naufal
Suapan Romantis


__ADS_3

Bismillahirahmanirahim


-


-


-


-


-


đź’ś


Kisah romantis itu bukan Romeo dan Juliet, tapi kisah cinta Rasulullah dan Siti Khadijah, di mana dia dicintai sepanjang hidupnya. Kisah cinta paling menarik itu bukan cerita dongeng Cinderella tetapi kisah cinta Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib di mana mereka diam-diam meminta pada Sang Maha Cinta untuk dipersatukan.


â—Ź_â—Ź


    


     “Tuan pengganggu aku lapar! Belajarnya nanti dilanjutkan, “ rengekku sambil memeluk boneka beruang yang ada di depanku. “Dari tadi belajar terus, kau tidak bosan mengajari aku? “


     “Naura, kita baru belajar sekitar lima belas menit yang lalu, ayo lanjutkan! Setelah salat isya kita baru makan.”


     Dengan spontan aku berteriak. “Setelah salat isya? Tidak kelamaan? Ya Tuha-“


     “Tuhan di ganti menjadi Allah.”


      Aku mendengus. “Iya! Ya Allah. Tuan pengganggu aku benar-benar lapar sekarang, aku tidak pernah makan seharian, “ dalihku.


     “Terus kenapa ada piring yang belum di cuci? Aku juga memasak tadi pagi dan sekarang sudah habis makanannya, kenapa bisa habis kalau kamu tidak makan? “


    Aku tersentak mendengarnya. Kali ini aku harus cari cara untuk bisa mengalahkan dia! “Enggak mungkin, aku gak makan. Aku juga tidak pernah melihat makanan di dalam, atau ada kucing yang memakannya? Coba bayangkan deh tuan pengganggu. “ Percayalah, percayalah, percayalah!


     “Hem. Bisa jadi, atau salah satu boneka beruang kamu pelakunya. “ Alhamdulillah dia percaya.


     “Ya sudah. Kita makan ya, “ ucapku sambil mengerlingkan mata.


    “Sepuluh menit lagi.”


    “Yeahhh. Janji? “ Tuan pengganggu mengangguk setuju. “Asyik bisa makan juga. “

__ADS_1


â—Ź_â—Ź


     “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Kita makan? “ Tidak ada respons, tuan pengganggu itu masih duduk sambil melipat mukena yang kupakai tadi, aku tidak tahu soalnya, dia juga sudah setuju untuk melipat pakaianku setiap hari asal aku belajar. “Tuan pengganggu! “


    “Apa Naura? “


     “Aku mau makan, mau minum, mau istirahat, mau dipeluk, mau semuanya tuan pengganggu. Tadi bilang lima menit lagi."


     "Sepuluh menit Naura. "


     "Sama aja. Sama-sama ada menitnya! "


     “Hem. “ Ya Allah berbicara dengan dia sama saja berbicara dengan patung, ya walaupun aku dapat respons dari dia tapi sedikit


    “Ayolah, aku sudah lapar tuan pengganggu! Eh aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan tuan pengganggu deh, tapi sayang lagi bagaimana?”


     “Terserah. “


    “Ah enggak terlalu lebay, atau tuan pengancam bagaimana? Aku tidak mau jawaban terserah, hem, bagus atau jawaban singkat lainnya. Aku mau jawaban yang panjang, semisal iya itu nama yang bagus Naura aku suka, “ ucapku, sambil menirukan suara tuan pengganggu.


     “Iya. “


     “Iya? Iya apanya? Ih, tuan pengganggu bicara panjang lebar kek! “ Mungkin ini alasannya mengapa wanita banyak tua, karena banyak marah, tapi aku tidak marah hanya saja kesal. “Tuan pengganggu. “


    Aku mengikuti tuan pengganggu dengan mulut yang terus mengoceh hingga aku duduk di kursi makan tapi dia tetap berjalan seakan-akan tidak ada yang mengajaknya berbicara, mungkin ini yang di namakan kesabaran yang extra.


     “Aku yang masak hari ini ya,” ucapnya. Aku harus diam, aku mau memperlihatkan bagaimana kalau orang bicara tapi tidak ada balasan.


    Hingga beberapa menit kami duduk tapi tidak ada yang membuka suara. Ahh aku tidak suka dengan keadaan canggung seperti ini! Mulutku seakan-akan ingin mengeluarkan kemarahannya. “Tuan pengganggu! “


     “Hem. “


     “Kenapa tetap diam? Seharusnya kalau aku diam itu tuan pengganggu merasa bersalah lalu berusaha membujuk aku untuk berbicara lagi tapi tuan pengganggu malah ikut diam. Aku tidak suka! “ Aku mulai terisak berbicara. Ini sebenarnya hanya akting saja.


     “Kamu kenapa? “ tanya tuan pengganggu itu. Semoga berhasil.


     “Aku bahagia, rasanya ingin ketawa-ketawa berlari-lari! Tuan pengganggu apa tidak lihat, huh? Aku 'tu sedih karena tuan pengganggu selalu irit bicara!” isakku.


     “Maafkan aku. Ayo makan. “


     “Tidak mau! “

__ADS_1


     “Aku suapin ya? “ Aku tetap diam sampai sebuah sendok menyentuh bibirku. “Buka mulut kamu Naura. “ Aku mengikuti sesuai perkataanya.


     Dia berhasil membuatku tersenyum. “Andai saja boleh, aku mau begini setiap hari, biar tuan pengganggu romantis terus sama aku, “ ucapku.


     “Makanlah jangan banyak bicara dulu. “


     “Kamu romantis sekali ya. Nama kamu siapa si? Aku tidak mau memanggilmu tuan pengganggu lagi tapi tuan romantis,” ucapku dengan suara melengking.


     “Suamimu. “


     “SubhanAllah. Dia romantis sekali ya Allah. “


     "Terima Kasih," ucapnya, lalu tersenyum. Bisa melele aku kalau seperti ini.


     "Terus, aku istrimu. Kita akan menjadi keluarga seperti cinderella atau Romeo dan Juliet romantis sangat. Tuan pengganggu suka dengan kisah itu? " tanyaku, dan langsung mendapatkan gelengan. "Kenapa? Kan kisah mereka itu romantis. "


     "Kisah romantis itu bukan Romeo dan Juliet, tapi kisah cinta Rasulullah dan siti Khadijah, di mana dia dicintai sepanjang hidupnya. Kisah cinta paling menarik itu bukan cerita dongeng Cinderella tetapi kisah cinta Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib di mana mereka diam-diam meminta pada Sang Maha Cinta untuk dipersatukan. "


     "Lebih romantis bagaimana? " tanyaku. Memang dari kecil aku tidak pernah tahu sejarah islam, sejarah agama saja tidak tahu apalagi Indonesia.


    


     "Saat setahun setelah Khadijah wafat, ada seorang sahabiah datang menemui Rasulullah. Wanita itu kemudian bertanya, 'Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.' sambil menangis Rasulullah menjawab, 'Masih adakah orang lain setelah Khadijah? ' Jika bukan karena Allah, mungkin Rasulullah tidak akan pernah menikah lagi untuk selama-lamanya karena ketulusannya mencintai Khadijah Radhiallahu Anha," Cerita Tuan pengganggu itu panjang lebar.


     Aku kembali tersenyum, "Berarti kalau aku mati nanti tuan pengganggu akan sesedih itu dan tidak akan pernah mau meninggalkan aku. Ya Allah, jangan pernah buat suamiku ini menikah lagi, soalnya gak tahu yang mati duluan siapa aku atau dia Ya Allah." Dan setelah ucapanku, tuan pengganggu itu menarik pipiku. "Kenapa? "


     "Kenapa bicara seperti itu? Berdoalah agar kita di persatukan selamanya, di dunia maupun di akhirat. "


     "Aamiin. Ya Allah kabulkan doa suamiku ini, dia sudah sangat sayang kepadaku soalnya, kan kasihan kalau dia sudah sayang terus Engkau mencabut nyawaku terlebih dahul-" Tuan pengganggu memotong pembicaraanku.


     "Makanlah, kalau kamu masih bicara aku tidak akan menyuapimu lagi, " ancamnya. Benar-benar tuan pengganggu ini, kalau tidak menganggu ya mengancam, dasar!


     "Iya! " ketusku. "Mau minum," pintahku dan tuan pengganggu itu langsung memberiku air minum, kali ini aku tidak meminumnya dengan bantuan dia tapi dengan mandiri, maksudnya tanpa membantuku untuk meminum.


   Entah, aku masih bingung bagaimana cara romantis tuan pengganggu ini, oke katakan kalau ini termasuk hal yang romantis tapi wajahnya masih membuatku terkadang jengkel dan sifat pengancamnya itu, ya Allah apa rahangnya rusak? Senyum sangat jarang, terus suka mengancam. Kemana dia saat Engkau membagi hati ke manusia?


    Tapi biarlah tidak apa-apa asal setiap hari dia menyuapiku makanan seperti ini, kan terlihat romantis juga, tapi di mata orang lain, tak apalah. Aku tetap bakalan suka tuan pengganggu ini, entah apa dia juga suka aku atau tidak apalagi proses pernikahan ini karena kesalahpahaman jadi sangat sulit untuk dia memiliki perasaan terhadapku.


     Tunggu, atau tuan pengganggu itu tidak suka cewek cerewet? Atau aku harus kalem? Maksudnya dewasa sedikit, mungkin aku harus mencari di google untuk bisa dewasa di depan tuan pengganggu yang sangat polos itu, dasar pria kurang waras.


     Seharusnya itu sekarang aku sudah mempunyai tanda-tanda kehamilan karena sudah menikah beberapa minggu dengannya, tapi ku rasa tidak, tidur saja hanya sekadar hanya tidur tidak lebih, huft! Atau aku kurang seksi? Ah tidak, pria itu tidak normal dia melarangku untuk berpelampilan seksi, Johan dan Alvin saja malah terus memujiku kalau aku berpakaian seksi, karena dia pria normal tidak seperti Tuan pengganggu dan Yusuff, entah orang tua mereka ngidam apa saat hendak melahirkan mereka, mungkin cuka apel, siapa yang tahu?

__ADS_1


â—Ź_â—Ź


Jangan lupa vote, komentar, dan Follow đź’•


__ADS_2