
Tak jauh dari sana Nathan sudah menunggu kepulangan Naya dan melihat Rio yang menciumnya.
" Tak kan ku biarkan kau menyentuhnya lagi. Wanita yang sudah menjadi milikku tak akan ku lepaskan begitu saja. Tak kan ku biarkan dia jatuh cinta biarpun pada sahabatku sendiri." Batin Rio.
Disisi lain, Tita juga melihat kejadian itu lewat jendela kamarnya.
" Dasar laki-laki brensek. Lihat saja, tak akan ku biarkan Naya tertipu olehmu. Aku akan menjauhkannya darimu. Aku tak rela dia menjadi korbanmu sepertiku waktu itu" Ucap Tita dari balik jendela.
Setelah kepergian Rio, Nathan langsung mendekati ke arah Naya dan menahan tangannya yang akan memasuki gerbang kos.
“ Apa kau menyukai Rio?” tanya Nathan.
“ Nathan kau mengejutkanku, sejak kapan kau disini” teriak Naya dan menoleh kesana kemari mencari mobil Nathan tapi tak menemukannya.
“ Sejak kau berciuman dengannya” balas Nathan.
" Itu tidak seperti yang kau lihat, aku hanya.." jawab Naya merasa panik Nathan salah paham padanya.
“ Apa kau tidak berniat bertanggung jawab terhadapku?” tanya Rio memotong pembicaraan Naya.
“ Apa? Kau yang melakukannya padaku bukan aku” jawab Naya sedikit kesal dan malu.
“ Kau yang terus menggodaku dan melepas semua pakaianku” ucap Nathan membuat wajah Naya sangat memerah.
“ Nathan!” teriak Naya.
" Aku harap kau tak melupakannya" balas Nathan dengan senyuman liciknya.
Nathan mengeluarkan telefonnya dan memanggil seseorang dan tak lama kemudian mobilnya datang.
“ Ikut aku!” ucap Nathan menarik Naya masuk ke dalam mobilnya.
“ Mau kau bawa ke mana aku?" Tanya Naya saat mobil itu sudah mulai berjalan.
“ Emmm kau mau ku ajak ke mana maunya?” tanya Nathan balik.
“ Pulang” jawab Naya.
“ Baiklah, pak dengarkan yang dia katakan barusan. Pulang sekarang juga” ucap Nathan pada sopirnya.
__ADS_1
“ Pulang ke mana ini?” tanya Naya bingung karna jalan ke kosnya bukan yang ia lewati sekarang.
“ Rumahku” jawab Nathan.
“ Apa? Maksudku tadi itu pulang ke kos ku bukan ke rumahmu. Pak pulangkan aku ke kosku yang tadi” pinta Naya pada sopir Nathan.
“ Maaf nyonya, aku harus menuruti tuanku” jawab pak sopir membuat Nathan tersenyum puas.
“ Sialan apa kau menculikku?” tanya Naya.
“ Anggap saja seperti itu”
Di rumah Nathan, Naya kembali disambut hangat oleh pelayan yang ada disana.
“ Nyonya, mau makan apa? Biar saya bawakan untuk anda.” tanya salah satu pelayan.
“ Aku tidak mau makan bi, aku tidak lapar”
“ Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu nyonya” jawab pelayan itu dan pergi meninggalkan Naya dan Nathan yang masih duduk sambil menonton televisi di lantai bawah.
Naya mengikuti pelayan itu ke dapur. Disana ia mengambil minum sendiri dan bertanya pada pelayan itu, yang sedang membersihkan dapur kembali.
“ Tuan Nathan tinggal sendiri disini, tapi sesekali neneknya di Amerika datang untuk menjenguknya. Orang tuanya sudah meninggal sudah lama sebelum saya bekerja disini nyonya"
“ Apa Nathan sering membawa seorang gadis kemari? Maksudku selain aku”
“ Selama saya kerja disini baru nyonya yang pernah tuan Nathan bawa ke rumah. Dan setauku pacar tuan Nathan selama ini cuma nyonya”
“ Saya bukan pacarnya bi, memangnya bibi bekerja disini sudah berapa tahun?”
“ 7 tahun nyonya” jawab bibi. Bibi melihat keberadaan Nathan di belakang Naya dan langsung pergi meninggal mereka.
“ Apa kau sudah puas?” Ucap Nathan tiba-tiba muncul di belakang Naya. Membuat gelas yang Naya pegang terjatuh ke lantai dan pecah.
" Kenapa kau selalu mengejutkanku sihh" teriak Naya kesal.
Naya berniat untuk membersihkan pecahan gelas itu tapi di cegah oleh Nathan yang membawanya pergi dari sana.
" Bi tolong bersihkan pecahan gelas itu" suruh Nathan pada pelayannya.
__ADS_1
Naya keluar dari rumah Nathan yang sangat luas, ia ingin pulang ke kosnya. Tapi ia bingung harus naik apa. Jika mau memesan taksi ia harus berjalan keluar dari area rumah Nathan terlebih dulu dan itu sangat jauh. Ia melihat kesana kemari memikirkan cara tapi tidak tau lagi dan akhirnya masuk kedalam menemui Nathan yang masih menonton televisi.
“ Nathan aku ingin pulang. Apa kau bisa mengantarku?” ucap Naya dengan senyum manisnya.
“ Sopirku sudah istirahat. Aku ngantuk, aku mau tidur” jawab Nathan sambil mematikan televisi dan berlalu meninggalkan Naya.
“ Nathan!!” panggil Naya dengan nada kesal karna Nathan malah pergi meninggalkannya.
Naya duduk di sofa dengan sangat kesal dan berbaring di sofa itu. Tiba-tiba telefonnya berdering. Telefon dari neneknya.
“ Hallo nini (panggilan untuk nenek)”
“ Naya, kapan kau pulang. Apa kau sudah melupakan ninimu ini? Kau tidak pernah pulang semester ini. Apa kau tidak mau melihat nini lagi hehhh?” teriak nenek dari seberang telefone.
“ Nini,, jangan marah-marah terus. Ntar nini cepat tua hahaa. Naya akan segera pulang kalau liburan semester tiba. Nini tunggu saja, Naya pasti pulang” jawab Devina.
“ Dasar cucu nakal. Kau mendoakan ninimu ini cepat tua hehh,,” teriak nenek.
" Ihh kan nini emang sudah tua. Tapi nini masih cantik kok"
Nathan memperhatikan Naya tak jauh dari sana dan ketawa mendengan obrolan Naya dengan neneknya.
“ Nini nini dengarkan aku. Naya akan pulang liburan semester ini, tunggu Naya satu bulan lagi. Naya kangen nini, nini jangan marah-marah lagi ya” ucap Naya dan sebenarnya ia sedang menangis karna merindukan neneknya tapi ia tak ingin neneknya tau kalau ia bersedih karna hal itu.
Setelah telefon nenek sudah berakhir. Naya merasa lapar sehingga ia pergi ke dapur dan mencari makanan disana. Hal itu tak luput dari pandangan Nathan yang selalu mengamatinya dari tadi. Nathan mengikuti Naya dan melihatnya sedang makan di dapur.
“ Apa kau sungguh merasa lapar?” tanya Nathan tiba-tiba mengejutkan Naya yang langsung di lempari snack yang sedang Naya makan.
“ Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba seperti itu sihh, jantungku mau copot” teriak Naya.
“ Ini kan rumahku, aku berhak muncul dimana pun aku mau” jawab Nathan merebut makanan yang dipegang Naya dan memakannya.
" Ini juga makananku" ucap Nathan tersenyum puas setelah merebut makanan dari mulut Naya.
Wajah Naya sudah mulai kesal dan berlalu pergi tapi Nathan lagi-lagi mencegahnya. Nathan meraih kepala Naya dan mencium bibirnya. Naya yang terkejut langsung mencoba melepaskan diri tapi Nathan malah mengangkat tubuhnya sampai duduk di atas meja dan terus menciumnya. Naya yang awalnya menolak semakin lama semakin menikmati ciuman itu. Menyadari tindakannya tidak menerima penolakan lagi, kini Nathan semakin memperbanyak aksinya. Ia mulai meremas dada Naya yang langsung di tahan oleh cengkraman tangan Naya.
“ Apa kau sudah gila mau melakukannya lagi denganku?” ucap Naya melepaskan ciuman Nathan karna nafasnya sudah hampir habis.
Nathan yang sudah tidak bisa menahan nafsunya lagi kini mulai menciumi leher Naya dengan sangat rakus dan membuat tanda kepemilikannya disana.
__ADS_1