Negeri +62

Negeri +62
Bab 1: Dikasih Bos


__ADS_3

Sebut saja Yanto ( Nama Disamarkan ). Suatu hari, Yanto diajak rapat oleh atasannya di sebuah restoran cepat saji. Menjelang sore, rapat selesai dan keduanya bersiap untuk pulang. Setelah berpamitan pulang pada si Bos, Yanto dikasih bingkisan sama si Bos. Bentuknya kotak, agak tipis, dan bergambar menarik atensi perutnya. Singkat cerita, Yanto kini sampai di rumahnya.



“Ma, Papa pulang!” seru Yanto.



“Papa sudah pulang rupanya. Selamat datang!” sahut sang Istri.



Yanto langsung memberikan bingkisan dari Bos nya ini pada sang istri.


“Ini apa, Pa?” Sang istri penasaran pada bingkisan kotak yang bergambar menggiurkan ini. Seumur hidupnya, ia tak pernah melihatnya.



“Dikasih Bos, Ma. Papa juga gak tahu apa isinya. Tadi sih, si Bos bilang kalau itu enak banget rasanya,” jelasnya.



“Wuih! Bos Papa baik banget ya! Mama mau panggil anak-anak dulu ya! Kita makan sama-sama.” Sang istri yang begitu gembira pun memanggil kedua anaknya untuk makan bersama.



Yanto, Istri dan kedua anaknya telah duduk rapi di meja makan. Hitungan ketiga, keempatnya membuka kotak tipis berwarna coklat tersebut penuh rasa lapar. Lima detik kemudian, mereka mengernyit bingung.



“Ma, ini martabak bukan, ya?”



“Kayaknya bukan, Pa? Tapi kelihatannya mirip telor dadar ditaburin daging.”



“Ma, Pa, kok baunya asem-asem gini sih! Terus, saos nya kecut!” Anak Pertama ikut berkomentar menyela pembicaraan kedua orang tuanya. Ia juga sempat mencolek dan merasai saus warna merah yang ada di atas makanan yang mirip martabak tersebut.



“Kak! Lihat deh! Rotinya lengket begini. Rotinya udah basi nih! Huuekk!” Anak Kedua ikut menyahuti kakaknya. Ia menarik lepas potongan segitiga lancip makanan itu dari kotaknya. Sesuatu mirip lendir berwarna putih kekuningan, agak lengket, dan ditarik melar itu membuatnya berspekulasi demikian.



Yanto mengendusnya dan ikut menyicipi saos merah juga sesuatu mirip lendir tadi. Dia hampir mual karena rasanya yang sangat aneh dilidah.


__ADS_1


“Ugh! Gak enak nih! Asin banget yang kayak lendir itu! Kayaknya yang buat pingin kawin deh,” komentar Yanto.



“Udahlah, Pa! Dibuang aja ya daripada nanti kita sakit perut,” ucap sang Istri.



“Ma, kayaknya dagingnya enak rasanya?” Anak Kedua mencomot potongan daging sapi panggang yang ada diatas makanan tersebut kemudian melahapnya. Yanto, Istrinya, dan Anak Pertamanya ikut mencicipi.



“Iya. Ah, kalo gitu kita ambil dagingnya aja yuk!”



“Ashiaaapp!”



Akhirnya, mereka makan malam dengan nikmat. Makan nasi panas campur daging sapi panggang tadi. Sedang roti tipis mirip martabak yang katanya basi itu mereka buang.



*Keesokan harinya*



Kotak coklat agak tipis bertuliskan Pizza itu Yanto tolak. Si Bos pun merasa tersinggung.



“Kenapa kamu tolak, Yanto? Ini tuh rasanya enak banget, Lho! Mahal pula! Ini makanan ala Italia!”



“Gak ah, Bos! Saya kapok makannya. Wong makanan basi kok dibeli. Masih enakkan martabak bangka ala Indonesia!”



“Masa sih? Terus kemarin dibuang dong Pizza nya?”



“Iya lah! Untung aja daging sapi panggangnya masih bisa dimakan! Jadinya saya, istri, sama anak-anak makan dagingnya saja pake nasi putih.”



Bos Yanto pun menggigiti kardus Pizza nya sampai kenyang.

__ADS_1




















Salam kenal 😊


Ini cerita genre Komedi karyaku yang pertama. Tidak bermaksud menjelek-jelekkan seseorang. Jika ada yang merasa tersinggung, aku minta maaf yang sebesar-besarnya.


Semoga suka dan terhibur...




★Like dan komentarnya jangan lupa ya 😊★


__ADS_1



__ADS_2