
Hari ini, Juliet alias Juleha sangat senang. Penyebabnya tak lain tak bukan karena paket berupa Dress Cinderella warna biru+free sepatu kayu akan sampai. Sungguh, ia sudah tidak sabar untuk mencobanya lalu memakainya di acara prom night.
Sekitar pukul delapan pagi, ada nomor merah yang meneleponnya. Juleha ketakutan setengah mati karena kabarnya, yang mengangkat telepon dari nomor misterius itu akan mati. Ia memilih me-reject teleponnya lalu memblokir nomor merah tersebut. Selanjutnya, ponselnya mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
[ Selamat Pagi, Mbak Juleha... Kenapa teleponnya tidak diangkat, ya? Ini Saya sedang menuju rumah Mbak. ( From: 666 ) ]
“TIDAAKKK! AKU MASIH INGIN HIDUP! PAKETKU BELUM SAMPAI!”
Juleha teriak histeris. Ia ingat betul adegan itu. Adegan film seorang stalker yang membunuh korban yang diuntitnya dengan keji. Ia panik, segera mengepak pakaiannya ke dalam tas besar. Ia memutuskan ingin pindah kos-kosan. Belum ada setengah jam, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini, pesan masuk dari WA seseorang yang berfoto profilkan Kakashi.
* + 6260 000 666
* Sya sudah di gang kos-kosan Mbak Juleha 😏*
“IBUUU! BAPAKK! LEHA BELUM KAWIN! BELUM MAU MATI!”
__ADS_1
Juleha kembali menjerit ketakutan. Ia panik sendiri. Ingin menelepon polisi, tapi tidak hafal nomornya. Ingin minta tolong tetangga kos-kosan, tapi dia sedang pulang kampung. Penghuni kos-kosan cuma Juleha seorang. Juleha terus berpikir dan berpikir. Saat hendak keluar kos-kosan, ia mendengar suara ketukan pintu.
Ketukan demi ketukan semakin jelas dan keras memasuki pendengarannya. Juleha mulai takut, beringsut di pojok ranjang. Sangat jelas, ia dengar seseorang dibalik pintu itu terus memanggilnya.
“Permisi, Ninja Ekspress!”
‘Ninja! Tidak! Bahkan stalker yang akan membunuhku adalah Ninja bayaran! Tuhan... Selamatkan Hamba!’ batin Juleha berdoa.
“Permisi, Ninja Ekspress!”
Sekarang, mental Juleha sudah strong. Ia maju perlahan sembari menggotong seember air bekas cuci pakaian. Detak jantungnya makin kencang, tangannya meraih handle pintu pelan-pelan penuh kehati-hatian. Dalam hitungan ketiga, ia membuka pintu sambil mengguyur pria di depan pintu kos-kosannya.
“Hahaha! Rasakan, Stalker Ninja! Kau tak kan mampu membunuhku!” tawa Juleha puas.
__ADS_1
Pria yang memakai kemeja merah dengan tulisan NINJA EKSPRESS dibagian dada kanannya memincing tajam. Sebuah kotak kardus coklat di tangannya jadi basah kuyup bersama pakaiannya juga. Dengan senyuman dipaksakan, ia berucap,
“Saya dari Ninja Ekspress ingin mengantarkan paket atas nama Mbak Juleha. Apa benar ini rumahnya?”
Juleha mengedip. Sejurus kemudian, ia menjawab heboh. “Ohh! Akhirnya, paket saya dateng juga! Tapi ..., kok basah sih, paketnya?”
“Jadi, ini benar dengan Mbak Juleha. Oke, silakan ambil paketnya. Terima kasih atas sambutannya! Saya sangat ingin berhenti jadi kurir.”
“Ah, jangan gitu, dong, Bang Ninja Hatori! Anda kan Ninja yang tetap tersenyum apa pun kondisinya. Nih, sudah saya terima kok paketnya. Terima kasih.”
Juleha mengambil paket basahnya sambil tersenyum innocent. Baru mau menutup pintu, ia kembali melongok ke hadapan abang kurir yang terdiam. Tangan kanan Juleha terulur ke arahnya. Dari telapak tangannya, memunculkan satu sachet sirup cair dengan bungkusan warna kuning.
“Ini ada bonus dari saya, Bang. Minum ya, biar gak masuk angin! Breet!” Pintu kos-kosan pun ditutup Juleha keras.
Abang Kurir menangis haru memandangi sirup masuk angin yang naik daun dengan jargonnya. Ia pun bergumam sedih.
__ADS_1
“Apakah saya masih bodoh hingga menerima Tolak Angin Sachet?”