Negeri +62

Negeri +62
Bab 4: Baper


__ADS_3

Malam minggu adalah malam sakral untuknya. Tidak ada yang boleh mengganggunya jika malam itu tiba. Ipul bukan lagi bujang keren, modis, dan punya pacar secantik Milea. Tepat malam jumat kliwon kemarin, ia resmi diputusin sama pacarnya. Maka dari itu, ia sekarang memilih mendekam di kos-kosannya. Bersandar di tembok sudut kamarnya. Melamun sambil menghitung detik jam dinding yang tertawa.



Lantai mulai mendingin pertanda sudah pukul tujuh malam. Semua tetangga kos-kosannya terdengar bersiul lalu pergi melancong dengan motor Scoopy nya. Ipul menunduk dalam isak tangis kebaperan.



“Enak sekali mereka yang punya pacar. Malam mingguan bisa pacaran ... hiks hiks... Ella! Babang Ipul kangen kamuu... Kangen makan siomay di pinggir rel kereta pas malem minggu!”



Tangisan Ipul terdengar mengiris kalbu, mencubit hati, dan merontokkan jiwa. Mirip tangisan Kuntilanak Gagal Move On. Menghitung tetesan air keran yang bocor, Ipul sangat berharap agar malam ini segera berakhir. Namun, Ipul sepertinya sangat disayang Tuhan. Di depan pintu kos-kosannya ada seseorang yang melantunkan melodi sendu dalam petikan gitar alias Pengamen.



~KATAKANLAH SEKARANG BAHWA KAU TAK BAHAGIA~


AKU PUNYA RAGAMU, TAPI TIDAK HATIMU~


KAU TAK PERLU BERBOHONG KAU MASIH MENGINGINKANNYA~


KURELA KAU DENGANNYA ASAL KAN KAU BAHAGIAAAA~



Ipul langsung menjeblakkan pintu kos-kosannya. Muka memble, air mata jatuh bak pipis kuda, ia meneriaki pasangan Pengamen muda itu.



“Pergi, lu pada! Hiks hiks... Gue tahu, Ella emang lebih milih Bambang daripada gue! Puas loh! Puas sudah menghina gue!” pekik Ipul sedih.



“Eleh, Mas. Kita-kita kan cuma mau ngamen, minta duit receh. Napa lu yang marah-marah, sih! Harusnya kita-kita yang marah! Gak dapet duit malah dapet teriakan Jones!” sahut Pengamen Cowok berambut Mohawk ijo lumut.



“Ayo, Bebs! Kita cari rumah lain yang gak pelit dan gak baper kayak mas ini! Gak heran jadi Jones. Wong mukae sebelas duabelas sama Tukul,” ajak sang kekasih, Pengamen Cewek berlipstik hitam rocker pakai kalung jangkar 100 karat.

__ADS_1



Sepasang kekasih Pengamen pun pergi, bergandengan tangan sambil bernyanyi Sepanjang Jalan Kenangan. Ipul sesak, sakit, dan merana. Kenapa ia harus bertemu dengan mereka?. Pintu kembali ditutup. Layaknya adegan Sinetron Bucin, ia berlari menuju kasur busa bermotif Hello Kitty. Ia menangis guling-guling menggumamkan nama sang mantan. Sekitar pukul tujuh seperempat, suara kecrekan hadir ditemani suara bass mendayu-dayu di depan pintu kosannya.



~AKU BELUM MANDI...


TAK TUNTUANG... TAK TUNTUANG...


TAPI MASIH CANTIK JUGA...


TAK TUNTUANG... TAK TUNTUANG...


APALAGI KALAU SUDAH MANDI...


PASTI CANTIK SYEKALIII~



“Berisik, Lu! Tahu gak! Gue lagi patah hati! Gue emang belom mandi! Terus lu mau--”




“GAK SUDI! GUE UDAH TOBAT! GUE UDAH LURUS LAGI!— Brett!”



Pintu ditutup secepat dan serapat mungkin. Ipul sungguh tidak mau berurusan lagi dengan mantannya, Ucup alias Siska. Teriakan dan ketukan makin tambah keras didengarnya. Siska, Banci Kaleng yang biasa ngamen di Taman Lawang tidak kunjung pergi dari rumahnya.



“Bang Ipul~ Buka dong pintunya. Siska pengen malem minggu di kosan ye aja. Yuk, mari kita *piiiiiiippppp*” Siska merayunya.



“Anjirrr! Eh, banci! Pergi gak lu sebelum gue panggil kantip kemari!" usir Ipul.

__ADS_1



“Eike gak takut, tuh! Kan sekarang Kantipnya lagi holiday bareng Lucinta Luna. Eike end the geng bebas beroperasi malem ini. Bang Ipul~ Buka~” pekik Siska kekeh.



Ipul yang di dalam kosan tak hentinya membaca ayat kursi. Entah kenapa setelah satu jam, Siska tak berteriak lagi. Ipul bersorak dalam hati karena berhasil mengusir setan setengah orang yang ada di depan pintu.



Begitu burung hantu berbunyi, Ipul tersentak bangun dari tidurnya. Ia tadi tertidur sejenak sambil menangisi nasib. Sekarang, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Itu pertanda kalau satu jam lagi Ipul akan merayakan hari minggu. Melepaskan malam minggu yang menyakitkan hati. Saat itu, Ipul tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Mendadak, bulu kuduknya merinding. Ia juga mencium wangi melati yang kental dari balik pintunya. Ipul takut hantu, tapi ia lebih takut sama ibu kos-kosan. Oleh karena itu, ia memberanikan diri membuka pintu.



“Kriieeett!”



Derit pintu itu membuatnya membayangkan sesuatu. Begitu pintu terbuka lebar, ia melotot, mulutnya menganga lebar. Di depannya ada sesosok wanita dengan rambut acak-acakan, wajah sehitam arang, dan matanya merah layaknya iblis.



“Bang Ipul, tolong--”



“Brukk!”



“Bang Ipul! Bangun bang!”



Ipul pingsan seketika membuat sosok wanita itu panik. Ia mendekat dan mengguncangkan tubuh pemuda krempeng wajah pas-pasan itu.



“Bang Ipul, tolong maafin Ella! Ayo kita balikan! Si Bambang mobilnya meleduk terus muka akoh jadi begini deh. Bang~ Bang Ipul~”

__ADS_1



Semoga Bang Ipul tenang di sisinya.


__ADS_2