Negeri +62

Negeri +62
Bab 6: Keluarga Van Orange


__ADS_3

*******


 


*Harusnya aku yang di sana~


Dampingimu dan bukan dia*~


 


Klik!


“Hooaammm~ kayaknya mesti ganti alarm HP, nih.”


Aktivitas pagi memang membosankan. Namun mau bagaimana lagi, ia harus sekolah, minimal sampai strata satu.


Setelah mandi, keringkan bulu, dan pakai dasi abu-abu, ia turun ke ruang makan untuk sarapan. Di meja makan sudah penuh dengan papa, mama, dua adik, dan dua kakaknya.


“Pagi, Ma! Pa!”


“Pagi! Ayo duduk, Yen!”


“Hm.”


Ada yang salah dengan mamanya. Entahlah, mamanya pagi ini terlihat senyam-senyum bernyanyi ria seperti dapat diskonan Wishkas. Hal berbeda justru ia temui pada raut wajah sang papa. Muka ditekuk, bibir cemberut, jemari kaki dipandang sendu. Apa ini? Apa yang terjadi sebenarnya?


“Ma, Pa, Oyen mau tanya sesuatu, boleh?”


Sang ibu bermarga Anggora berbulu putih menjawab dalam senyuman. “Boleh. Oyen sayang mau tanya apa? Kalo soal menu sarapan pagi ini, mama gak nyolong kok di tukang sayur. Mama tadi dapet sisaan ikan asin dari tetangga kita.”

__ADS_1


“Hah~ tumben mama jujur. Biasanya kan boong terus, kecuali kalau lagi bun—— Eh! Jangan bilang mama sekarang ....”


“Yah ..., ketahuan, deh. Iya, Oyen. Mama bunting lagi. Itu tuh gara-gara papamu yang telat anterin mama KB. Selamat! Oyen jadi abang lagi!”


Sungguh, Oyen ingin menggigit ‘anu’ papanya yang terlalu mesum itu. Tak cukupkah lima orang anak?


“Pa, Ma, Oyen ini sudah kelas tiga SMA, lho! SMA! Masa punya adik lagi! Kasihan noh si Polkadot! Masih balita!” tunjuk Oyen ke kursi depannya. Balita berumur sebulan dengan bulu oren putih itu tak menggubris. Ia masih asyik menjilati bulu kakinya.


“Tau nih, Mama sama Papa kok malah nambah anggota keluarga lagi! Sumpek tau! Kita kan numpang di rumah Barbie. Kasian tuan rumahnya kalau begini!” sahut **, Abang tertua Oyen. Ia naik ke meja makan, berdiri tegak memperlihatkan kebarbarannya.


“Jangan gitu, dong, anak-anak. Mama sama Papa juga gak memprediksikan kondisinya. Sabar aja, ya.” Sang Anggora Putih tersenyum lembut menenangkan kedua putranya.


“Drama mulu! Hamil mulu! Argh! Jessie lama-lama pengen pergi dari rumah ini. Pengen kawin sama Si Persia.” Suara protesan kini terdengar dari mulut Kakak Oyen yang kedua. Jessie, wanita dewasa berbulu putih cantik kopian mamanya.


“No! Papa gak setuju kamu kawin sama Si Persia Gengster sebelah itu! Papa dendam sama bapaknya! Papa gak mau nanti mama kalian dijebol lubangnya sama keparat itu!” pekik sang papa. Pria berbulu oren khas outfit Persija dengan sikap tak bermoral menggebrak meja makan di hadapannya.


“Cangkemmu, Pa! Sissy gak mau sampe Polkadot otaknya tercemar sama kata-kata barbar itu!” Adik Oyen yang pertama langsung menutup kedua telinga Polkadot kecil dengan dua telapak kakinya. Sissy, gadis tomboy sekolah dasar kelas empat ini sangat sangat membenci ayahnya.


“Waalaikumsalam.”


Blam!


Pintu pink ia tutup keras tak mempedulikan teriakan kesal dari Barbie Rapunzel yang baru keluar dari kamarnya.


Oyen sudah tidak sanggup hidup bersama keluarganya yang menyebalkan itu. Ia ingin bebas, sebebas Si Garong Hitam, seliar buyutnya di Afrika sana.


Empat kaki melangkah menyusuri gang sempit menuju sekolahnya di RT 05/ RW 03 No. 10, yang tak lain rumahnya Atta Halilintar. Begitu di tengah-tengah gang, Oyen berhenti. Mata coklat beloknya memincing tajam pada sosok di depannya.


“Oyen, main, yuk!” sapa makhluk setinggi satu meter itu. Kulit setebal badak, wajah mirip buaya, tapi kelakuan seperti bocah lima tahun. Oyen merasa khilaf bisa berteman dengan Si Varanus Salvator ini.

__ADS_1


“Lu punya mata gak, sih, Wak! Gue mau sekolah! Lu mah enak sekolahnya siang. Udah, ah! Mainnya pas hari minggu aja! Sekalian kita malak di Senayan!” omel Oyen.


“Ugh~ tapi hari minggu aku diajak ke rumah Paman. Kau tahu ‘kan pamanku lagi dikarantina karena keselek palu. Bagaimana kalo hari sabtu?” tutur Si Awak.


“Ya, ya, sekarepmu lah, Wak! Bye!” Oyen lanjut pergi meninggalkan Awak yang jingkrak-jingkrak gembira.


Perjalanan Oyen kembali terhenti. Ia melotot horror melihat sepasang makhluk bertubuh lunak berbulu oren dan hitam putih sedang mesra-mesraan di kolong motor vespa. Ciri-ciri khas nyentrik itu sangat dikenali Oyen. Ia marah, mendatangi keduanya.


“Tidak kusangka papa menduakan mama.”


Pria berbulu oren menoleh patah-patah ke belakang. Ia tersenyum innocent pada putranya.


“Papa gak gitu, kok, Oyen. Papa masih punya dua lagi di komplek sebelah. Ada si Maya Anggora Hitam sama si Puput Belang-Belang,” jawab papanya enteng.


“Njirrr!” Oyen terbelalak, berulang kali mulutnya membatin ‘amit-amit’.


“Yang~ ayo kita kawin~”


“Nanti malem ya, Zaskia~”


Oyen sangat geram dengan kelakuan barbar ayahnya. Sudah cukup ia bersabar, ia sakit hati selama ini selalu dipanggil barbar sama para temannya dan netizen. Mulutnya terangkat menyuarakan sesuatu yang sakral.


“Pa, Oyen mau potong bulu aja! Pindah server ke Afrika!”


Seketika, ketiganya diam saling tatap. Sebelum akhirnya, ketiganya kompak mengeong karena buntutnya terlindas ban motor vespa.


“Cucian deh, lu pada! Azab dari gue pedih, ‘kan? Hahaha!” seru sang manusia empunya vespa. Tertawa laknat sambil mengendarai vespanya.


 

__ADS_1


 


*Tamat*


__ADS_2