
••••
**JAHE**
Di sebuah pasar tradisional, ada seorang tukang sayur yang menggelar dagangannya di emperan jalan. Sayur-mayur, bumbu dapur, dan lainnya ditata dengan apik.
“Hayo kita taruhan, guys! Siapa yang paling populer di mata para pembeli!” Cabe merah keriting memulai percakapan.
Bawang merah berdecih, “Cih! Tanpaku, kau dan semua sayur-mayur tidak akan sedap! Sudah pasti aku yang paling populer!”
“Hahaha! Jangan mimpi, ***! Kita yang paling populer dan bermerk! Ya, enggak, BroSa?” Sasa mengangguk setuju dengan Royco.
“Belagu banget, lu, Kumpulan Mecin!” umpat sayur-mayur serentak.
“Aku pasti--” Kencur dan Kunyit mencegah Jahe berkomentar. Jahe pasrah mendesah. Kaum bumbu-bumbuan seperti mereka sudah ketinggalan zaman. Tidak akan mungkin populer karena mereka dibutuhkan hanya pada saat idul fitri dan lebaran haji.
“Makin bertingkah, tuh, si Kumpulan Mecin! Belum tahu aja mereka kalau tahun ini punya saingan!” cibir Lengkuas.
“Siapa? Siapa?” sahut Asem, menyebarkan keaseman.
__ADS_1
“Diem aja, Sem! Bau lu nyengat, tahu!” omel Lengkuas berusaha tutup hidung.
“Kami memang bau! Terus masalah buat, lu, Lengkuas?” Jengkol dan Petai yang berada di jarak sepuluh meter langsung berteriak marah, memelototi Lengkuas.
“Selamat subuh, semuanya! Salam punya kabar gembira, nih!” Salam datang lewat bantuan tangan penjual sayur. Dia tersenyum begitu diletakkan di antara kumpulan bumbu dapur lain.
“Apaan? Si Manggis terkenal lagi, ya?” tanya Sereh.
“Salah! Pokoknya, di antara kita sebentar lagi populer di mata para pembeli! Sebenarnya ada lagi, sih, yang populer. Noh, si Kurma Arab, si Lemon, si Karbol, si Hand Wash, dan si Handsanitizer,” jelas Salam.
Mentimun yang baru diletakkan dekat keranjang bumbu dapur ikut nimbrung heboh. “Eh! Eh! Itu tukang masker di ujung jalan laku keras! Kok manusia beli banyak, ya? Emang buat apaan?”
“Biar muka mereka glowing, mungkin?” Bawang putih muncul tiba-tiba.
“Alot amat jadi Lengkuas! Aku di sana enggak dianggap, Bang. Kata mereka aku ini tidak berguna, hambar. Sedang mereka semua kaum ‘Good Tasting’,” ucap Bawang Putih tersakiti.
“Njirr, gue dikacangin,” gumam Mentimun.
Detik berikutnya, semuanya bersiap-siap begitu ada satu orang pembeli yang memilah-milah. Namun sayang, orang itu hanya membeli satu barang. Jahe.
__ADS_1
“Eh?! Aku! Kenapa dia enggak beli sayur-mayur dan lain-lain?” Jahe terheran. Tubuhnya kaku saat dimasukan ke kantung plastik putih transparan.
“Ini tidak adil! Woy, manusia! Beli aku juga, dong!” protes kumpulan Cabe.
“Hooman, belilah kita agar hidup kalian sehat!” teriak Sasa dan Royco.
Lengkuas terkekeh. “Jadi anak mecin mana sehat.”
“Berisik!”
“Lam! Lam! Jadi ini maksudmu kalau akan ada di antara kita yang populer. Wuooh! Hebat banget si Jahe!” Kencur terperangah kagum.
“Iya! Aku yakin, bentar lagi si Jahe bakal populer! Aku sangat berterima kasih pada Covid 19!” seru Salam memitihkan air mata.
“He! Jangan lupakan kami!” teriak Lengkuas, melambai pada Jahe yang ada dalam plastik transparan mengambang.
Jahe balas melambai dan tersenyum pada teman-teman seperbumbuannya. “Pasti, Leng! Kelak kalian pasti akan menyusulku untuk menjadi populer!”
“Ya, ya, gue cuma sebongkah tahu dan cukup tahu.” Tahu memilih tidur lagi dalam kolam kubangan di baskom.
__ADS_1
*End*
Terima kasih sudah menantikan cerita ini begitu lama ☺🙏🏻