
Kayla Silvani, gadis berambut pirang itu duduk disalah satu kursi dimeja makan dengan mata yang masih mengantuk.
"Semangat dong anak Mama." Seru Elina, sang Mama.
"Ngantuk Ma, gak usah sekolah ya hari ini." Pinta gadis itu yang benar-benar mengantuk karena semalaman begadang hanya untuk menonton drama kesukaannya.
"Kayak anak kecil, lagian kamu ngapain begadang? Kan jadi ngantuk pas paginya."
Kayla mengucek matanya untuk sekedar menghilangkan rasa kantuk yang masih sangat terasa kemudian duduk tegak bersiap untuk sarapan ketika melihat Papanya sudah datang bergabung di meja makan.
"Makan yang banyak Kay." Ujar Arya, Papanya.
"Enggak Pa, nanti gendut." Tolak gadis itu.
Elina menggelengkan kepalanya kemudian ikut duduk disamping Arya dan mengambil sarapan untuk suaminya itu.
"Oh iya Kay, nanti malam jangan kemana-mana ya. Ada teman Papa sama Mama yang mau bertamu." Ucap Arya kepada putri semata wayangnya itu.
Kayla menatap Papanya, "Kan temannya Papa sama Mama, kenapa harus ada aku Pa?"
"Pokoknya kamu di rumah aja, nanti malam juga akan tau."
Mau tidak mau, Kayla mengangguk kecil untuk mengiyakan ucapan Papanya.
°°°
Kayla berjalan melewati koridor untuk menuju kelasnya dengan langkah malas. Ia benar-benar tidak niat ke sekolah hari ini.
"Awas!" Tangannya mendorong cowok yang sedang berdiri di pintu dan itu menghalangi jalannya.
"Galak banget lo." Ucap Aksa yang kini memberikan jalan pada Kayla yang akan masuk ke kelas.
"Gak ada dalam sejarah yang namanya Kayla itu kalem!" Teriak seorang cowok lagi dari kursinya.
Kayla mendelik, menatap Vano dengan malas kemudian segera berjalan ke mejanya.
"Gue enek liat muka lo yang begini Kay."
Kayla menoleh dan menatap salah satu sahabatnya itu, "Gak usah diliat."
Clara terbahak ditempat, niatnya hanya untuk mengejek Kayla yang mood nya terlihat buruk pagi ini, "Sensian lo ih."
"Bodo amat gue ngantuk." Gadis itu memposisikan kepalanya didalam lipatan tangan diatas meja. Baru saja hendak memejamkan matanya, Kayla kembali terusik ketika mendengar suara berisik didepan sana.
"Pagi Sherin cantik." Sapa cowok tukang kerdus, siapa lagi kalau bukan Aksa.
"Pagi juga Aksa." Gadis polos dan terlalu baik itu membalas sapaan Aksa yang disambut dengan senyuman merekahnya.
"Mau gue anterin ke kursi lo? Takutnya lo kenapa-kenapa." Tawar Aksa yang mendapat gelengan kepala dari Sherin, "Gak usah, kan meja aku dekat tuh disana." Sambil menunjuk ke arah meja yang tepat berada didepan Kayla.
Aksa mengangguk lalu mempersilahkan Sherin yang akan menuju ke mejanya.
Pletak.
Aksa meringis ketika mendapat satu jitakan dari orang yang kini berdiri didepannya, "Ngapain lo jitak gue?"
"Jangan kerdusin adek gue." Ujar cowok yang baru datang itu, Kevin Abian Stevanio namanya.
"Yah kasian gak direstuin." Ejek seorang cowok lainnya yang sedari tadi juga berdiri dipintu kelas.
"Berisik lo Ran." Cibir Aksa pada sahabatnya yang bernama Ranza itu.
Kevin yang baru datang bukannya langsung menyimpan tas dikursi malah ikut bergabung dengan para sahabatnya yaitu berdiri didepan pintu kelas. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka.
"Diyo." Panggil Vano setelah mengambil satu kursi untuk diduduki nya.
"Apa?"
"Lo tahan banget diam kayak gitu, gak bosan apa?"
Sebenarnya, bukan hanya Vano, ketiga orang lainnya juga heran dengan sifat sahabat mereka itu. Diyo hanya akan berbicara disaat perlu saja, bahkan untuk diajak bercanda pun susah.
"Gak."
"Mama lo ngidam apa sih pas hamil lo?" Penasaran Kevin.
"Gak tau." Jujur Diyo yang disambut dengan helaan napas dari keempat cowok itu.
"Pak Husain! Masuk buruan!" Heboh Aksa yang memang berdiri paling dekat dengan pintu. Melihat guru galak yang satu itu, bukanlah hal yang baik jika mereka masih memilih diam disana.
Dengan gasrak gusruknya, kelima cowok itu buru-buru berlari ke arah meja masing-masing.
"Selamat pagi!" Sapa Pak Husain ketika sudah masuk kedalam kelas.
"Pagi Pak..."
__ADS_1
Pak Husain membuka bukunya, kemudian terlihat seperti membolak-balik halaman buku tersebut sebelum memberitahukan kepada seluruh siswa-siswi kelas 12 IPS 2 bahwa beliau tidak dapat mengajar hari ini karena ada urusan diluar.
"Pak, tapi ini belum bel masa udah harus kerjain tugas." Ujar Vano sambil mengangkat tangannya.
"Saya belum selesai ngomong!" Balas Pak Husain yang disela bicaranya oleh Vano.
"Rasain lo." Ledek Aksa yang duduk dimeja disampingnya.
"2 in." Lanjut Kevin.
"3 in." Sambung Ranza. Sedangkan Diyo terlalu malas untuk melakukan hal yang sama seperti mereka.
"Dikerjakan ketika bel masuk telah berbunyi. Dikumpulkan dimeja saya, ketua kelas tolong awasi teman-temannya." Ucap Pak Husain yang diangguki Aldo, ketua kelas 12 IPS 2.
Setelahnya, guru itupun keluar. Kondisi kelas yang semula tenang kembali rusuh.
"Rusuh banget lo semua! Tenang kek, pusing gue jadi ketua kelas!" Kesal Aldo ketika melihat teman-temannya sangat ribut.
"Aksa! Lo emang biang kerok nya ya!" Tegurnya pada Aksa yang sudah berlari-lari keliling kelas hanya untuk mengusili siswa-siswi dikelas itu.
"Gue terus! Gue terus!" Balas Aksa masih asik keliling.
"Ya emang lo!" Teriak Aldo.
"Bodo amat sih gue." Cowok itu kini berjalan kearah meja yang dimana disana tempat berkumpulnya 3 cewek yang paling disenangi oleh cowok IPS 2.
"Kay." Panggilnya.
"Hus pergi sana, gue lagi gak pengen adu mulut." Usir Kayla dengan tangannya.
Aksa menarik kursi kosong untuk bergabung dengan mereka, "Ra lo---."
"Apa?!" Sahut Clara memotong omongan Aksa.
"Kenapa sih pada galak semua?" Herannya.
Tanpa mempedulikan celotehan tak bermanfaat dari Aksa, ketiga gadis itu memilih untuk mulai mengerjakan tugas dari Pak Husain karena bel baru saja berbunyi, walaupun sebenarnya mereka mengerjakannya antara ikhlas tak ikhlas kecuali Sherin yang memang rajin dan patuh.
"Bosen banget, kantin kuy." Ajak Vano.
Kevin juga Ranza segera bangkit dari kursi mereka. Vano juga melakukan hal yang sama ketika tahu bahwa kedua cowok itu setuju akan ajakannya, tak lupa Vano menarik tangan Diyo yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Aww!" Ringis Kayla ketika ada yang menarik rambut panjangnya. Ketika menoleh, ternyata pelakunya adalah Kevin yang sekarang sudah ada didekat mejanya bersama dengan 3 cowok dibelakangnya.
"Gak ada." Jawab Kevin santai.
"Malas ngomong sama orang gak waras." Kesal Kayla yang memang sering adu mulut dengan cowok itu.
"Ngomongin diri sendiri?" Tawa Kevin yang menggangu konsentrasi anak kelas yang sedang mengerjakan tugas.
"Abang, kalau ketawa yang sopan dikit bisa gak? Berisik banget ganggu orang aja." Celetuk Sherin yang juga menjadi salah satu orang yang kesal dengan tawa nyaring Kevin.
"Bocah diam aja."
"Lo yang diam atau pergi kek sana, ganggu banget." Sungut Clara mendorong badan Kevin juga yang lainnya untuk segera pergi dari hadapan mereka. Tak lupa juga gadis itu menendang sambil mendorong tubuh Aksa agar tidak lagi duduk dekat dengannya.
"Modus kan lo dorong-dorong gue?" Tanya Vano menatap Clara.
"Najis!" Balas gadis itu seraya memutar bola matanya malas.
°°°
Sejak pulang sekolah, Kayla menghabiskan waktunya dikamar dengan menonton drama yang semalam belum selesai ia tonton.
Ditengah asiknya ia rebahan dengan mata terus fokus pada drama, tiba-tiba Mamanya datang.
"Ya ampun ini anak ya, dari sore sampai sekarang udah jam tujuh malam, masih aja nonton." Elina menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak tunggalnya itu.
"Satu jam lagi kamu harus udah siap terus turun kebawah, di lemari udah ada dress yang Mama siapin ya." Lanjutnya mengingatkan Kayla, karena 1 jam lagi tamunya akan tiba.
"Iya Ma." Jawab gadis itu masih fokus dengan aktivitasnya.
Elina kemudian keluar dari kamar putrinya itu, meninggalkan Kayla yang masih setia dengan tontonannya.
Sangking asiknya, 1 jam pun berlalu. Drama kesukaannya itu pun selesai, Kayla merasa sangat puas. Terlalu lama didalam kamar juga membuat Kayla merasa tenggorokannya kering. Tanpa berlama-lama, kakinya melangkah keluar kamar untuk menuju kedapur.
Sambil berjalan, ia membuka ponselnya membaca pesan-pesan digrup WhatsApp yang beranggotakan dirinya, Sherin dan Clara.
Tanpa sadar akan sekitarnya, Kayla yang sudah sampai dianak tangga terakhir pun langsung berjalan menuju dapur.
Satu gelas ia ambil, lalu dituangkan air putih kedalamnya.
"Hah lega." Puasnya ketika tenggorakan yang tadi terasa kering kini kembali segar.
Setelahnya, gadis itu berbalik badan untuk kembali ke kamarnya. Ponsel yang tadinya digenggam sekarang ia simpan dikantong celana selutut nya.
__ADS_1
Ketika ingin menaiki tangga, matanya teralihkan menuju ruang tamu. Seketika, Kayla membulatkan matanya. Ia benar-benar lupa, tatapan sang Mama dari sana membuatnya menyengir lebar.
"Itu anak mu Na? Udah besar ya." Ujar seorang wanita yang menatapnya juga.
"Nah kebetulan, Kevin bawa Kayla kesini sekalian." Lanjut wanita itu yang membuat Kayla mengernyit bingung. Sebenarnya dengan siapa wanita itu berbicara?
Sentuhan seseorang dipundaknya dari belakang membuat Kayla menoleh cepat. Matanya membulat sempurna untuk kedua kalinya.
"Ngapain lo?" Tanyanya memicingkan mata.
"Gak ngapa-ngapain." Jawab Kevin kemudian mendorong tubuh gadis didepannya itu.
Kayla yang tiba-tiba didorong pun tak bisa melakukan perlawanan selain melangkah menuju ke ruang tamu dimana ada dua pasangan orang tua sedang berkumpul.
Mengingat pakaian yang dipakainya sekarang, Kayla merasa malu. Kaos gambar boneka dan celana pendek selutut, benar-benar membuatnya merutuki dirinya sendiri.
"Kenapa masih pakai baju begini?" Bisik Elina ketika putrinya sudah duduk disampingnya. Matanya menatap tajam Kayla.
Dengan cengiran andalannya, Kayla balik berbisik kepada sang Mama, "Lupa Ma, maaf hehe." Elina menghela nafasnya.
"Nama kamu siapa cantik?"
Kayla mengalihkan pandangannya untuk menatap wanita yang ia menebak bahwa itu orangtua dari Kevin, terlepas dari apa tujuan mereka yang Kayla sendiri tidak tahu, "Kayla Tante." Senyumnya diakhir kalimat.
"Oh iya, ini anak Tante namanya Kevin."
Kayla menatap malas cowok itu, "Udah kenal Tante, kita sekelas."
Mata orangtua Kevin membulat senang, begitupun dengan orangtuanya. Sebenarnya ada apa ini?
"Bagus kalau begitu." Ucap pria disamping wanita tadi. Kayla yang tidak mengerti hanya mengangguk.
"Arya, silahkan mulai aja."
Kini tatapannya beralih kepada Papanya sendiri yang sudah bersiap-siap untuk mengatakan sesuatu yang sepertinya penting.
"Kayla, Sebenarnya ini semua bukan kemauan Papa, Mama atau orangtuanya Kevin. Tapi karena wasiat dari Kakek kalian berdua yang dulunya juga sangat dekat. Papa gak mau basa basi terlalu lama, jadi, intinya kalian berdua telah dijodohkan dari dulu dan disaat usia 17 tahun harus dinikahkan. Begitu wasiat keduanya." Jelas Arya menatap putrinya juga sesekali menatap Kevin.
"..."
Suasana hening terjadi, tak berapa lama suara kaget Kayla terdengar.
"Oh nikah---NIKAH PA?"
Arya mengangguk, "Kamu mau kan Kay?"
"Pa, Kayla masih kecil, masih SMA masa udah harus nikah?" Protesnya setelah sadar akan ucapan Papanya.
"Iya Bun, Yah, aku masih SMA, belum bisa juga jadi kepala rumah tangga masa harus nikah?" Kevin ikut menyuarakan protesnya.
"Terus sama dia lagi." Tunjuk Kevin kearah Kayla membuat gadis itu menatap malas.
"Ini wasiat dari Kakek Kay. Kalau kamu gak mau turutin kamu bukan anak Mama lagi." Elina berujar dengan wajah yang dibuat sedih.
"Apa sih Ma? Kok gitu?"
"Ya makanya kamu harus mau." Ucap Elina.
"Kevin juga, kalau kamu gak mau nurut, Bunda sama Ayah gak mau anggap kamu lagi." Laras, Bundanya Kevin ikutan menakuti anaknya.
"Bunda gak usah lebay."
Laras menggeleng, "Ini serius Kevin."
"Gimana Kay? Kalau kamu nolak, sekarang juga kamu bisa masukin semua baju ke koper." Elina masih memasang wajah kecewanya yang Kayla tahu itu hanya pura-pura. Tetapi ia juga tidak bisa menganggapnya pura-pura sepenuhnya, bagaimana kalau Mamanya benar-benar akan mengusir dirinya?
"Maa.." Rengek gadis itu memohon.
"Kamu kasih jawaban sekarang." Pinta Elina.
Menghela napas panjang, Kayla pun memutuskan, "Terserah Kevin."
Kevin yang ditunjuk tiba-tiba merasa kesal, apa yang harus ia jawab?
"Kevin?" Panggil Laras dengan nada berharap.
"Iya Bun." Putusnya yang membuat dua pasangan orangtua itu tersenyum senang melupakan wajah anak-anak mereka yang sekarang malah menatap kesal.
.
.
.
Tinggalkan jejak ya guys
__ADS_1