
Setelah sehari kemaren tidak dibolehkan sekolah oleh orangtuanya, tibalah hari ini yang menjadi hari paling tidak diharapkan Kayla dalam hidupnya.
Dengan tangan berkeringat karena terlalu gugup, Kayla duduk diatas kasur didalam kamarnya. Baju kebaya mewah itu sangat pas dan cocok dibadannya.
Terasa begitu cepat, ia masih tak menyangka harus menikah diusia muda hanya karena perjodohan. Jika saja bisa, Kayla berharap semalam menjadi malam yang panjang hingga tidak akan datang hari pernikahan ini.
Ceklek.
Muncul Elina dengan senyuman mengembang dari balik pintu kamar, "Kay, ayo turun, ijab qobul nya udah selesai."
Berbeda dengan Mamanya yang terlihat begitu bahagia, Kayla malah tertegun ditempat. Istri? Rumah tangga? Suami? Itulah yang melayang-layang dipikirannya sekarang.
"Jangan nangis dong sayang." Elina memeluk putrinya itu. Sebenarnya, ia tahu ini berat dan sangat memaksa, tetapi Ayahnya telah mewasiatkan itu kepadanya.
"Ma, batalin aja bisa gak sih?" Kayla benar-benar belum siap.
Elina mengusap air mata putrinya dengan lembut, "Masak dibatalin? Baru aja selesai ijab qobul. Kamu udah sah jadi istrinya Kevin."
"Ayo kita turun, semuanya udah nunggu kamu." Ucap Elina menuntun Kayla untuk turun kebawah.
Jantung Kayla berpacu dengan cepat. Para tamu yang tidak terlalu banyak itu memandanginya sekarang. Begitupun dengan kedua orangtua Kevin, senyuman teduh dan bahagia terpancar dari wajah keduanya.
Jika ditanya, apakah Sherin sebagai keluarga dari Kevin juga ikut hadir? Maka, jawabannya adalah tidak. Gadis itu tidak tahu tentang ini. Entah bagaimana caranya keluarga laki-laki itu menyembunyikannya dari Sherin. Namun, Laras berkata bahwa nanti Sherin juga akan tahu karena dia sendiri yang akan memberitahukan kepada putrinya itu.
"Duduk disamping Kevin Kay." Ucap Elina menyadarkan putrinya dari lamunan. Kayla dengan rasa gugup yang masih kentara menempatkan dirinya disamping laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya.
Raut muka yang tadinya sedih karena ingin menangis, kini berganti dengan kesal ketika melihat wajah menyebalkan Kevin. Cowok itu menatapnya tanpa berkedip.
Kevin menyodorkan tangannya untuk dicium oleh Kayla. Dengan ragu dan sedikit malu, Kayla menerima uluran tangan itu dan menyaliminya. Selanjutnya, giliran Kevin yang mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, satu kecupan singkat ia daratkan di kening Kayla. Jangan tanyakan bagaimana wajah gadis itu sekarang, jelas ia merasakan panas di pipinya. Rasanya ketika wajah Kevin mendekat, Kayla ingin mendorong nya untuk menjauh.
Suara tepukan tangan terdengar. Entah apa yang tamu undangan itu lakukan. Mungkin karena sebahagia itu mereka menyaksikan Kevin dan Kayla.
"Terimakasih sayang." Elina memeluk putrinya bahagia. Kayla mengangguk seadanya dan dia baru tahu, bahkan Mamanya sendiri sebahagia itu. Papanya juga ikut tersenyum.
Laras pun menghampiri menantunya itu dan mendekapnya erat, "Bunda punya anak cewek dua sekarang." Ujarnya mengusap kepala Kayla dengan penuh kasih sayang.
"Kita harap kalian bahagia dan terus bersama."
Kayla tersenyum tipis, tak tahu harus membalas apa. Kondisinya sekarang adalah hanya bisa mengangguk dan mengiyakan.
°°°
"Gimana, kamu suka Kay?" Tanya Laras.
Kayla mengangguk, "Suka kok Bun." Sambil tersenyum.
Mereka sekarang berada di sebuah rumah mewah yang menjadi kado pernikahan dari dua pasangan orangtua itu. Sebenarnya, ini terlalu berlebihan karena rumah yang begitu besar diberikan kepada dua orang.
"Kalian baik-baik disini, kalau perlu bantuan, bilang Bunda sama Mama ya." Ujar Elina yang juga menemani putrinya disana.
"Besok siang juga akan ada Bi Sari yang akan kesini, Bi Sari akan bantu kalian mengurus rumah."
Bi Sari adalah pekerja dirumah orangtua Kevin dan nantinya akan menjadi pengurus rumah dirumah barunya dan Kayla.
"Iya Bun." Balas Kevin.
"Baik, kalau begitu kita pulang ya. Kalian istirahat aja, apalagi Kayla pasti kecapean." Laras menatap gadis yang dari raut wajahnya terlihat lelah itu.
"Iya, hati-hati Ma, Bun." Kayla menyalami kedua orang itu, begitupun dengan Kevin yang juga melakukan hal yang sama.
Setelah berpelukan sebentar dengan kedua anaknya, Elina dan Laras pun pamit pulang dan mereka akan diantar oleh supir pribadi keluarga Stevanio.
Kayla menatap bundanya tidak rela, ia ingin ikut untuk pulang, tetapi itu tidak mungkin ia lakukan.
"Mau jadi patung lo depan pintu?" Ucap Kevin yang hendak menutup pintu rumah.
Kayla mencibikkan bibirnya kesal lalu pergi darisana membiarkan cowok itu untuk mengunci pintu.
"Tuh koper lo bawa naik ke kamar." Seru Kevin yang sedang menyeret satu koper milik dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lo yang bawa lah, masa gitu doang nyuruh gue?"
"Koper lo berat kayak dosa lo yang terlalu banyak." Cowok itu melewati Kayla dengan santainya, kemudian menaiki tangga dengan masih menyeret kopernya.
Kayla berdecak kesal, "Gunanya jadi suami apa sih?" Dengusnya. Akhirnya, mau tidak mau gadis itu membawa sendiri kopernya ke kamar.
"Kita sekamar?" Kayla menatap Kevin yang sedang rebahan di kasur.
"Terus lo pikir?"
"Gue gak mau sekamar sama lo, gue mau tidur sendiri."
Kevin memutar bola matanya malas, "Semua kamar dikunci dan kuncinya ada sama Bunda gue, kalau lo mau tidur sendiri dikamar lain, silahkan asal kalau lo mampu dobrak pintu buat masuk kekamar itu."
Apa lagi ini? Orangtua mereka benar-benar membuat Kayla pusing. Tidur dikasur yang sama dengan Kevin? Itu adalah mimpi buruk bagi Kayla.
Dengan langkah kesal, gadis itu masuk kekamar yang sudah ada Kevin disana. Ia menyimpan kopernya asal. Kesal dan ingin mengamuk, itulah yang ada di hati Kayla sekarang.
"Minggir, gue mau tidur." Usirnya mendorong tubuh kekar cowok itu.
"Mau tidur ya tidur, ribet amat hidup lo." Kevin tak beranjak sedikitpun dari posisinya.
"Kevin, minggir! Gue gak mau tidur seranjang sama lo!"
Satu guling mengenai wajah Kayla dan tentu pelakunya adalah Kevin. Gadis itu sudah bersiap untuk kembali mendorong Kevin, apapun akan ia lakukan untuk menyingkirkan tubuh cowok itu.
"Sana tidur disofa, gue dikasur." Tangannya mendorong kuat tubuh Kevin, namun sepertinya sia-sia. Bahkan laki-laki itu masih setia pada posisinya. Tidak, bukan Kayla yang lemah, hanya saja Kevin yang terlalu kuat.
"Lo ya! Bisa gak sih gak bikin gue kesal?"
"Gue gak ngapa-ngapain, lo aja yang ribet. Asal lo tau, gue gak nafsu buat macam-macam ke lo. Jadi, kalau mau tidur ya tidur aja." Kevin memejamkan matanya menikmati dinginnya AC kamar. Sedari tadi, dirinya memang sudah sangat mengantuk.
Kayla membuang mukanya kearah lain, ucapan Kevin barusan adalah hal yang dari tadi ia pikirkan. Kayla takut jika Kevin akan macam-macam, mengingat cowok itu yang sangat menyebalkan.
Karena lelah yang sangat terasa, akhirnya Kayla memutuskan untuk ikut berbaring disamping Kevin. Ditengahnya, ia letakkan guling sebagai pembatas, waspada agar Kevin tidak dekat-dekat dengannya.
"Diam gak tangan lo!" Sungut Kayla. Baru saja ia hendak memejamkan matanya, jemari seseorang yang menarik rambutnya membuat Kayla membuka mata kembali.
"Makan."
"Masakin."
"Gue capek Kevin." Helaan nafas terdengar jelas. Kayla benar-benar lelah.
"Tapi gue lapar, lo harusnya sadar dong apa tugas istri kalau suaminya lapar. Kecuali, kalau lo istri durhaka."
Dengan kasar, Kayla menyibakkan selimutnya. Telinganya panas jika terus mendengar ocehan cowok itu.
"Mau makan apa?"
Kevin sok-sokan berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya, "Nasi goreng aja deh."
Tanpa menunggu lebih lama, Kayla turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
°°°
"Gue mintanya nasi goreng, awas aja kalau yang lo kasih ke gue nasi gosong." Kevin menghampiri Kayla yang sedang mengaduk nasi goreng buatannya.
"Berisik." Ketus gadis itu.
"Harus enak Kay, kalau gak lo---"
"Bisa diam gak sih?!" Sentak Kayla menatap kesal suaminya itu. Tidak bisakah laki-laki itu tidak banyak bicara?
"Galak banget."
Kayla tak mau mempedulikan ucapan Kevin. Ia capek jika harus adu mulut setiap saat.
Setelah nasi goreng ia pindahkan ke 2 piring dan diletakkan diatas meja makan, Kayla menyuruh Kevin untuk segera memakannya, "Makan! Kalau lapar mulut lo kayak petasan, bunyi terus."
__ADS_1
Kevin tanpa membantah menarik satu kursi dan duduk disana. Tangannya mengambil satu sendok untuk memakan nasi goreng buatan istrinya itu.
"Terjamin enak gak nih? Takut harus gue muntahin entar."
Kayla mendengus. Kevin benar-benar menguji kesabarannya. Jika saja tidak ditahan, sendok ditangan Kayla sudah meluncur ke wajah cowok itu saat ini juga.
"Kalem Kay, lo emosian mulu sama gue."
"Sekali lagi lo ngoceh, beneran gue lempar pake ini ya." Ujarnya mengingatkan sambil memperlihatkan sendok yang ada ditangannya.
"Iya-iya, ini gue mau makan."
Entah karena memang sudah sangat lapar atau bagaimana, Kevin benar-benar tidak lagi mengoceh yang tidak bermanfaat dan fokus pada nasi goreng didepannya.
Sebenarnya ia mau berkomentar, namun mengingat ancaman Kayla tadi membuat Kevin mengurungkan niatnya itu.
"Udah? Sini piringnya biar gue cuci."
Kevin menggeleng, "Biar gue aja, lo sana gih kekamar istirahat, katanya capek kan?"
Tumben. Itulah yang tersirat dalam hati Kayla. Tetapi, karena memang dirinya sangat lelah, piring didepannya pun ia dorong kearah Kevin untuk dicuci oleh cowok itu.
"Makasih."
Kevin mengangguk kecil. Kayla pun bangkit menuju kekamar kembali.
"Sabun cuci piring kok licin banget gini sih?" Ujarnya ketika sudah mulai meneteskan cairan untuk cuci piring itu.
Namun, karena tidak mau lama-lama, Kevin pun mulai mencuci piring tersebut walaupun sedikit kesusahan, karena sebelumnya, ia tak pernah melakukan ini.
30 menit hanya untuk dua piring, gelas dan sendok. Terlalu lama, tetapi maklum kan saja, ini adalah Kevin.
"Lo cuci piring atau tidur didapur?" Tanya Kayla yang ternyata masih membuka matanya.
Kevin berjalan ke kasur dan memposisikan badannya disamping gadis itu, "Cuci piring lah."
"Setengah jam?"
"Baru belajar, udah mending itu piring gak ada yang pecah."
Kayla terpaksa mengangguk. Mencuci piring saja harus belajar? Ingin rasanya tertawa, tetapi ia memaklumi, anak seperti Kevin mana mungkin pernah melakukan aktivitas seperti itu sebelumnya.
"Gak tidur lo? Merem gih."
Kayla menoleh, "Gak jadi ngantuk gue."
"Vin." Lanjutnya memanggil.
"Apa?"
"Sherin masih belum tau?" Tanya Kayla. Kevin menggeleng, "Kayaknya gak, kata Bunda, nanti pasti dikasih tau kok."
"Tapi dia bakal marah gak sih?" Inilah yang Kayla takutkan. Ia tak ingin persahabatannya rusak.
"Dia bukan orang yang kayak gitu, lo tenang aja. Gue pastiin Sherin bakal nerima bahwa gue sama lo udah nikah." Ujar Kevin yakin, ia tau betul bagaimana adiknya itu.
"Seyakin itu?" Kevin mengangguk mantap.
"Yaudah, tidur buruan. Besok lo bangun pagi buat bikinin sarapan."
"Iya-iya." Kayla menarik selimut hingga ke lehernya dan mulai memejamkan mata. Tak lama, deru nafas yang teratur pun terdengar. Gadis itu sudah tidur dan masuk ke alam mimpinya.
.
.
.
Semoga suka...
__ADS_1
Tinggalkan jejak ya guys..