
Kayla mendengus ketika Kevin memberhentikan mobilnya tepat diparkiran sekolah. Sudah dipastikan, sebentar lagi mereka akan menjadi bahan gosip satu sekolah.
"Waras gak sih lo?"
"Waras lah."
"Ck, kalau gue di bully fans lo gimana?" Kayla bukannya takut. Hanya saja gadis itu terlalu malas untuk ribut disekolah, apalagi ributnya dengan kumpulan siswi yang merupakan fans dari Kevin dkk.
"Udah sih, tenang aja." Santai cowok itu, kemudian berjalan meninggalkan Kayla yang masih menggerutu disana.
Tak mau berlama-lama berdiri tidak jelas, Kayla pun ikut melangkahkan kakinya untuk menuju ke kelas.
Benar saja, tatapan para siswi sekarang mengarah kepadanya. Tatapan tak suka itu jelas-jelas tertuju untuknya. Bahkan ada dari mereka yang secara terang-terangan mengatai dan menjelekkan Kayla.
"Derita orang cantik mah gini, jadi bahan gosip." Batinnya dan tak mempedulikan orang-orang yang sedang membicarakan dirinya.
"Hai syantiq." Sapa Aksa yang duduk didepan pintu kelas. Ingat, itu sudah menjadi kebiasaannya.
"Udah ada yang punya nih sekarang." Lanjutnya.
"Padahal tadi mau aku ajak pacaran, ternyata udah ada pawang nya. Gak jadi deh." Vano ikut menimpali.
Kayla yakin, pasti kedua cowok itu juga mengetahui gosip yang sedang berlangsung dan heboh pada pagi hari ini. Begitu cepatkah hal itu tersebar? Kayla merasa dirinya sudah seperti selebriti saja.
"Gue tau gue cantik, makasih." Balasnya, lalu masuk ke dalam kelas.
"Kay!" Panggil Clara yang tidak pelan.
"Apa?"
"Lo sama curut itu jadian? Sumpah demi apa?" Clara menunjuk Kevin yang sedang bermain game bersama Ranza dan Diyo.
"Pacaran sama dia? Ogah!" Sungutnya lantang.
"Beneran loh, Kay. Jangan bohongin gue."
Kayla menghela nafas panjang dan memilih duduk di kursinya, "Udahlah, itu gak penting, gak usah dibahas."
Clara memicingkan matanya. Ada yang aneh. Kayla berangkat bersama Kevin? Sungguh hal yang luar biasa. Pasti semua orang juga berpikiran yang sama dengannya, Clara yakin itu.
"Abang!" Suara seorang yang baru masuk kedalam kelas membuat ketiga cowok yang sedang asik main bareng itu menoleh.
Senyuman manis keluar dari bibir tipis Sherin. Terlihat gadis itu sangat bahagia.
"Kenapa lo?"
Sherin menggeleng masih sambil tersenyum.
"Wah kesambet ya, Sher?" Tanya Ranza yang merasa heran dengan sikap Sherin pagi ini.
"Gak dong." Jawab gadis itu kemudian pergi ke mejanya.
Kayla yang merasa ada seseorang disampingnya menoleh. Ketika mendapati Sherin yang tersenyum manis kearahnya, membuat Kayla was-was sendiri.
"Hai kakak ipar." Bisiknya pada Kayla. Bulu kuduk Kayla seketika berdiri, jantungnya berdetak cepat, dan mukanya memerah.
"Sher?"
"Udah tau dong aku. Dikasih tau Bunda." Jawab Sherin cepat.
"Jangan kasih tau siapa-siapa. Gue gak mau di depak dari sekolah."
Sherin mengangguk mantap, "Tenang aja, gak bakal kok." Gadis itu memberikan ancungan jempolnya.
__ADS_1
"Lo berdua bisik apaan? Gue kok gak diajak?" Clara yang sedari tadi memperhatikan mereka merasa kesal.
"Gak bisik apa-apa." Kayla menyahut cepat.
"Lo tau sendiri lah gimana sahabat polos kita ini, kadang kan dia gak jelas." Sambungnya. Clara pun hanya mengangguk.
°°°
"Gue malas banget main basket, beneran deh." Kayla memandang malas lapangan yang sekarang menampilkan para siswa dikelasnya yang sedang berolahraga dengan bermain basket. Setelah anak cowok selesai dengan permainan mereka, nantinya akan menjadi giliran para siswi untuk mengisi lapangan.
"Sok banget bilang malas, bilang aja lo gak bisa susah amat." Sahut Clara.
Kayla terkekeh seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya, "Tau aja lo."
"Mending kita main lompat tali yuk." Ajak Sherin antusias. Berbeda dengan Kayla dan Clara yang memutar bola mata malas. Permainan yang lebih cocok untuk anak kecil, pikir mereka.
"Ajak Aksa aja entar Sher, dia kan mau ngelakuin apa aja kalau lo yang minta."
Aksa bisa dikatakan bucin nya Sherin. Padahal, pacaran saja mereka tidak. Cowok itu sebenarnya sangat mengagumi adik dari Kevin, sahabatnya sendiri. Mengagumi sebagai adiknya juga, karena Aksa sangat ingin mempunyai adik perempuan, tapi nyatanya dia adalah anak bungsu di rumahnya.
"Gak ah, Aksa mah rusuh. Ajak Diyo aja kali ya?" Tanya Sherin.
"Yang ada dia cuma ngomong iya, hm doang." Sahut Kayla yang diangguki Clara.
"Yaudah, gak jadi main deh." Putus gadis polos itu pada akhirnya. Kedua orang disampingnya hanya mengangguk malas dan kembali fokus melihat para cowok yang semakin aktif bermain basket.
"Pruitttt." Suara peluit panjang dibunyikan, tanda permainan telah usai.
Para cowok yang tadinya berada di lapangan, kini mulai berjalan kepinggir lapangan. Baju olahraga mereka terlihat basah dengan keringat, namun hal itulah yang biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh para siswi. Karena kesan yang mereka tampilkan akan terlihat lebih sexy.
Kayla yang sedari tadi duduk disamping Sherin pun ikut memandangi mereka. Posisi Kayla yang duduk dipinggir, membuat tempat disebelahnya kosong.
Tiba-tiba Kevin mendaratkan bokongnya disana. Padahal cowok itu bisa duduk ditempat yang lain.
"Gak boleh goyah. Kevin gak ganteng, dia jelek." Batinnya menolak fakta yang sebenarnya harus ia akui.
"Ciee mukanya merah. Tau kok, gue ganteng." Ledek cowok itu yang menyadari sikap Kayla.
"Pede banget lo."
"Pede lah, karena gue emang ganteng."
"Gak, lo jelek."
"Masa?" Kevin mendekatkan wajahnya ke telinga gadis disampingnya itu.
"Jangan macam-macam ya lo." Sungut Kayla.
"Tenang. Kalau mau macam-macam mah nanti di rumah, gak disini." Jawab Kevin santai. Jari tangannya menyisir rambut hitam sedikit ikal itu dengan gaya songong.
"Terserah lo."
°°°
"Bye Sher." Kayla melambaikan tangannya kepada Sherin yang sudah akan masuk ke dalam mobil yang disupiri oleh supir pribadi milik keluarga Stevanio.
Setelah mobil itu hilang dari pandangan matanya, Kayla memilih untuk berjalan kaki ke pertigaan komplek untuk menunggu Kevin. Sudah cukup tadi pagi dia dan Kevin berangkat bersama ke sekolah, jangan sampai saat pulang pun mereka tercyduk bersama.
Ting.
"Gue gak bisa samperin lo. Lo pulang naik ojol aja, udah gue pesenin."
Kayla mendengus memandang ponselnya. Apa gunanya ada suami jika saat pulang malah disuruh naik ojol?
__ADS_1
"Gue pulang agak telat."
Pesan yang baru saja masuk itu, membuat Kayla memutar bola matanya malas.
"Mau telat kek, mau gak pulang juga sekalian. Bukan urusan gue." Cicitnya kemudian memasukkan ponsel bercase beruang itu kedalam tasnya.
Tiiittt.
Sepertinya itu adalah ojek online yang Kevin pesan. Kayla langsung saja menghampirinya, dan benar saja, ojol itu memang datang menjemputnya.
15 menit menempuh perjalanan, akhirnya ia sampai didepan rumah. Setelah mengembalikan helm milik ojol tersebut dan mengucapkan terima kasih, Kayla segera masuk kedalam rumah.
"Pulang bareng Aden, Non?" Tanya Bi Sari ketika dirinya sudah menutup pintu utama.
"Gak, Bi. Aku naik ojol."
"Loh Den Kevin kemana, Non?"
"Kelayapan kali, Bi." Jawab Kayla seadanya. Ia pun pamit pada Bi Sari untuk naik ke atas menuju kamarnya.
Baju seragam telah diganti, kini yang melekat di badannya adalah kaos hitam dan celana selutut. Kayla yang merasa lelah pun menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Pulang telat karena mau balapan? Bagus banget lo jadi suami, sampai gue dititipin ke ojol." Ujar Kayla ketika melihat status WhatsApp milik Aksa, yang menampilkan Kevin yang berdiri disamping motor ninja merah. Aksa menuliskan caption pada statusnya 'Bos besar mau maju ke medan tempur, mohon doanya kawan-kawan semua😍'.
"Lebay." Komentar gadis itu ketika membaca caption yang dituliskan Aksa.
°°°
"Mantap jiwa brader!" Sambut Vano semangat ketika Kevin menghampiri mereka dengan senyum puas karena berhasil memenangkan balapan malam ini.
"The best! Lo emang gak berbakat buat malu-maluin." Bangga Aksa sambil merangkul Kevin.
"Jelas dong, emang lo." Balas Kevin santai. Aksa pun melepaskan rangkulannya dan menjitak sahabatnya itu dengan botol air mineral yang sudah kosong.
"Makan gratis! Makan gratis!" Seru Ranza yang heboh sendiri. Cowok yang satu itu memang suka sama semua hal yang gratis.
"Tenang, kalau itu udah pasti."
"MANTAP." Sahut ketiga orang lainnya, kecuali Diyo yang hanya memperhatikan mereka.
"Lo gak senang kita makan gratis, Yo?" Tanya Ranza.
"Gue bukan lo yang doyan amat sama yang gratisan." Jawab Diyo.
Ranza ingin menimpuk mulut cowok itu, namun ia urungkan.
"Jadi, lo gak mau nih makan gratis sama kita-kita?" Tanyanya lagi.
Kalau Diyo tidak ikut, sudah dipastikan dirinya, Aksa dan juga Vano akan mendapatkan keuntungan. Jatah makan Diyo pasti akan menjadi jatah mereka.
"Mau." Jawab cowok itu singkat.
"Yeuu, rasanya pengen gue timpuk pake swallow." Kesal Aksa yang mendengar jawaban Diyo. Padahal yang harusnya kesal itu Ranza, kenapa malah Aksa? Terserah cowok itu saja. Biarkan, asalkan Aksa bahagia.
.
.
.
Hai lama bangett gak up😭
Selamat membaca semoga suka ya..
__ADS_1
Like, komen, kritik dan saran nya aku tunggu☺️☺️