
Kevin yang baru saja masuk kedalam kelas memandang malas pada Kayla. Mengingat rencana orangtua mereka semalam, membuatnya ingin menendang gadis itu agar jauh-jauh darinya dan perjodohan itu akan batal.
"Apa lo?" Sewot Kayla yang ditatap.
Kevin tak menyahut, buku tulis yang digulung ditangannya ia gunakan untuk menjitak pelan kepala gadis itu, kemudian segera ke mejanya.
"Kevin sialan!" Teriak Kayla melempar botol air mineral yang sudah kosong. Karena ketangkasan nya, Kevin dengan mudah menangkap botol tersebut.
"Pagi-pagi udah berantem, jodoh tau rasa lo berdua." Vano yang berada dipintu kelas berseru.
"Ogah!" Kevin bergidik membalas ucapan sahabatnya itu. Walaupun nyatanya, mereka memang telah dijodohkan.
"Banyak loh Vin, awalnya musuh terus malah saling cinta." Setuju Aksa yang diangguki Ranza.
Kevin menatap malas, "Emang gue pikirin? Bodo amat sih." Ujarnya.
Kayla yang mendengar pembicaraan mereka mendelik kesal. Tentang perjodohan itu, ia masih belum bisa menerima walaupun jawaban "Iya" telah mereka katakan kepada orangtuanya dan Kevin. Kayla tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya ketika sudah menjadi istri cowok tersebut. Sepertinya hanya akan ada adu mulut setiap harinya.
"Kay." Panggilan Clara disampingnya membuat gadis itu menoleh, "Apa?"
"Gue barusan dapat info kalau guru pada rapat, jadi kita bebas, gak belajar."
"BENERAN?" Bukan Kayla yang bertanya melainkan Aksa yang tak sengaja mendengar ucapan Clara.
"Setan! Gak usah teriak di kuping gue!" Bagaimana tidak, cowok itu berteriak tepat ditelinga Clara. Bahkan telinganya terasa sakit akibat suara nyaring itu.
Aksa menampilkan senyum tak bersalahnya, "Gak sengaja Ra, maaf deh."
"Gimana Kay? Ke kantin aja yok, gue bosan kalau dikelas." Tanya Clara kemudian. Kayla mengangguk antusias.
"Gue ikut!" Aksa mengacungkan tangannya.
"Terserah!" Ketus Kayla tak mau menanggapi.
"Ayo Sher." Gadis itu menarik tangan Sherin sedangkan yang ditarik malah melihat ke meja belakang menatap seseorang.
"Jam kosong Sher, gak usah minta izin sama Kevin, lagian dia aja sering tuh bolos, sok-sokan mau larang lo." Kayla tanpa menunggu langsung menyeret sahabatnya itu untuk keluar kelas. Sherin pun hanya bisa pasrah.
"Tunggu gue." Aksa berlari menyusul tiga gadis yang sudah berjalan duluan didepannya.
"Gak banget Aksa, mainnya sama ciwi." Ranza memasang ekspresi wajah jijik.
"Gue juga mau nyusul." Vano dengan cepat berlari keluar kelas untuk menyusul sahabat yang juga sebagai partner nya dalam membuat rusuh itu.
__ADS_1
°°°
"Lo duduk disana bisa gak sih?"
Bukannya pindah, Kevin malah semakin menarik kursinya untuk duduk lebih dekat dengan Kayla yang sedang menyantap batagornya.
"Latihan pendekatan sebelum jadi istri gue." Bisiknya. Kayla refleks memukul wajah Kevin yang terlalu dekat dengannya.
"Sana jauh-jauh!" Usir Kayla yang terlalu malas duduk disamping Kevin.
"Gue maunya disini gimana dong?" Kevin menyeringai, menggoda gadis yang kesal padanya itu.
"Gue mencium bau-bau mencurigakan dari kalian berdua." Vano menaruh garpunya lalu menatap penuh selidik kepada dua orang didepannya.
"Berisik!" Kayla begitu kesal. Saat ini ia dan dua sahabatnya duduk dimeja yang sama dengan Kevin dkk. Sebelumnya, dimeja itu hanya ada dirinya, Clara, Sherin, dan Aksa. Namun, tiba-tiba datang 4 orang yang tidak diundang dan bergabung disana.
"Abang, aku setuju kalau jadian sama Kayla." Celetuk Sherin tiba-tiba.
Kayla tersedak, ingin ia menyumpal mulut Sherin dengan batagornya. Sahabatnya itu setuju jika dirinya dan Kevin pacaran, lantas bagaimana kalau dia tahu bahwa Kayla dan Kevin akan mempunyai hubungan lebih dari dua orang dengan status pacar?
"Dapat restu tuh Vin, sikat terus sih kalau kata gue." Aksa menyeru senang.
"Terus lo restuin Sherin sama gue." Lanjutnya yang mendapat tatapan tajam dari Kevin.
Aksa mengerucut, pura-pura merubah ekspresi wajah menjadi kecewa, "Gue tuh ganteng, kaya, keren, idaman, kurang apa sih Vin?"
"Kurang waras." Jawab Kevin santai membuat yang lain terbahak menertawakan Aksa.
"Sialan!" Umpat Aksa.
"Kalau gue setujunya Sherin sama Diyo. Sama-sama kalem gitu." Clara menatap sahabatnya dan Diyo secara bergantian.
"Gak cocok, nanti adek lo malah ketularan gak bisa ngomong Vin." Sanggah Vano yang tidak setuju. Ia hanya becanda sekaligus untuk menyadarkan Diyo agar tidak terlalu kaku dan bisa diajak untuk becanda.
Sherin yang jadi topik perbincangan pun menghela nafas jengah. Ia tak akan terlalu mempedulikan ucapan mereka karena tahu bahwa itu hanya becandaan semata.
°°°
"Pokoknya lusa dan ini gak bisa dibantah." Tegas Elina yang tidak mau repot-repot melihat wajah memelas dari putrinya.
"Ma, kenapa dadakan begini? Kan butuh persiapan." Kayla bisa frustasi menghadapi Mamanya. Ucapannya barusan hanya untuk merayu Elina agar membatalkan pernikahan yang akan dilaksanakan lusa, tidak bisakah diberi jarak waktu sebentar?
"Gak ada penolakan, Mama sama Tante Laras udah urus semuanya. Jadi, kamu gak usah khawatir, baju juga udah beres." Ujar Elina.
__ADS_1
Kayla menghentakkan kakinya kesal. Secepat inikah ia harus menyandang status sebagai seorang istri? Di umur yang masih belasan tahun? Rasanya seperti mimpi.
"Udah sana, kamu kekamar ganti baju, besok gak usah sekolah dan Mama yang akan izinin ke wali kelas kamu."
Tanpa banyak bicara, gadis itu menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Didalam hati, ia menggerutu kesal.
"Huft." Tubuh mungilnya ia rebahkan diatas kasur empuk miliknya.
"Gue salah apa sih sampai harus nikah sama Kevin?" Gumamnya pasrah. Jujur saja, Kayla semalam berniat untuk kabur dari rumah, ia akan pergi dan berharap Mama dan Papa akan mencarinya. Kemudian meminta maaf padanya karena telah memaksa Kayla menerima perjodohan ini dan perjodohannya akan batal. Itu harapannya. Namun, mengingat bagaimana sifat Mamanya, Kayla mengurungkan niatnya itu, pasti Elina tak akan mudah percaya bahkan jika ia kabur dari rumah sekalipun.
Ditempat lain, Kevin pun mengalami hal yang sama. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran dari orangtuanya.
"Bun, aku gak jadi nerima perjodohan ini, belum nikah aja udah pusing apalagi kalau nanti udah tinggal serumah?"
Laras memukul pelan mulut anak laki-lakinya itu, "Lebih cepat lebih baik."
"Bagi Ayah sama Bunda, lah buat aku? Ini tuh hal buruk Bun, masih SMA udah nikah." Jangan salahkan Kevin yang berbicara seenaknya. Cowok itu sudah terbiasa seperti ini, apalagi kali ini menyangkut hal yang sangat serius.
"Terus kalau kita dikeluarin dari sekolah gimana?" Lanjutnya bertanya.
"Tenang aja, itu udah diurus sama Ayah." Santai Laras.
"Besok kamu izin gak usah sekolah, persiapan buat nikah lusa."
Kevin menghela nafasnya. Mau menolak tak punya kuasa, hanya bisa menerima walaupun terpaksa. Jika disekolah ia senang menggoda Kayla, tetapi kalau sudah menyangkut pernikahan, rasanya Kevin belum siap, apalagi lusa? Itu terlalu cepat.
"Nikah itu enak loh Vin. Kamu ada yang masakin, ada teman kalau tidur, ada yang ngurusin." Ucap Laras memberitahu putranya. Namun, tak berpengaruh pada Kevin.
"Kayla itu calon yang cocok buat kamu, bunda yakin dia baik dan asal kamu tau, menantu idaman bunda ya kayak Kayla." Laras tersenyum mengingat gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.
"Bunda gak tau aja gimana galaknya dia."
"Itu lebih bagus, jadi kalau kamu macam-macam langsung dimarahin." Ingatkan Kevin, dia tak akan mendapatkan pembelaan sekarang.
"Terserah Bunda lah." Kevin tak tahu harus begimana lagi.
"Yaudah sana turun ke bawah, kita makan malam." Kevin mengangguk, ia mempersilakan Bundanya terlebih dahulu untuk berjalan didepan dan ia mengikuti dibelakang.
.
.
.
__ADS_1
Semoga suka..