Nikah SMA Kevin & Kayla

Nikah SMA Kevin & Kayla
Oppa


__ADS_3

Kelima pentolan sekolah itu sedang berdiri menghormat ke tiang bendera. Matahari yang sudah naik membuat peluh membanjiri pelipis mereka.


Setelah menjalani hukuman 7 kali putaran untuk Kevin, Ranza, dan Vano, serta 4 kali putaran untuk Diyo dan Aksa, kelimanya kembali diberikan hukuman untuk berdiri dilapangan sampai jam istirahat tiba karena setelah menyelesaikan hukuman lari tadi, kelimanya bukan masuk kedalam kelas, malah memilih nongkrong diwarung belakang sekolah.


"Abi, adek capek," adu Ranza yang mengusap pelipisnya. Cowok itu berujar kepada Vano. Ranza sengaja menyebut Vano abi karena tadi juga cowok itu menyebut dirinya sendiri seperti itu saat berbicara pada Diyo.


"Abi juga," sahut Vano yang mau meladeni. Maklumlah, sifat mereka seperti apa. Biarlah yang tidak waras itu melanjutkan drama mereka.


"Akh! Gue mau pingsan!" Aksa jatuh ke tanah dan tiduran disana dengan keadaan mata tertutup. Keempat orang lainnya sama sekali tidak ada niat untuk menolong apalagi merasa panik.


"Wah gue panik gue panik! Aksa pingsan! Tapi yaudahlah, gue malas nolong," Vano sengaja melompat-lompat heboh seolah-olah betul-betul panik, namun nyatanya ia sama sekali tidak merasa panik. Sudah tau bagaimana kelakuan Aksa.


5 menit mereka masih sibuk dengan ocehan masing-masing, tanpa mau mempedulikan Aksa yang masih setia berbaring ditanah. Hingga akhirnya cowok itu bangun dengan sendirinya, "Setan lo semua, khawatir kek sama gue."


"Ngapain khawatir? Orang kita udah pada tau kalau lo itu kan Tuti."


"Tukang tipu!" lanjut Kevin.


"Gak mau teman lah sama setan," Aksa pura-pura merajuk yang namun juga tak dipedulikan oleh para sahabatnya.


Keempatnya malah memilih pergi darisana saat mendengar suara bel yang berbunyi nyaring. Biarlah Aksa tinggal sendirian.


"Kan emang setan, tinggalin aja tinggalin!" Aksa berteriak kesal pada sahabatnya yang sudah jauh disana. Tak mau berlama-lama dilapangan yang terik, dirinya pun ikut menyusul.


°°°


Kayla, Clara dan Sherin berjalan cantik di koridor sekolah untuk menuju ke kantin. Bahkan ketiganya sedari tadi sudah bercanda ria dan menjadi tontonan bagi siswa-siswi yang lain.


"Kayla cantik check," ujarnya didepan kamera handphone kemudian berpose secantik mungkin dengan berbagai macam ekspresi.


Kayla juga mengarahkan kamera kearah Clara disampingnya, Clara yang mengerti pun ikut menampilkan wajah cantiknya, "Clara imut cantiknya kebangetan check."


"Jangan arahin kameranya kesini, aku gak mau ikutan kayak gitu. Centil tau gak," ucap Sherin saat Kayla ingin mengarahkan kamera handphonenya.


Kayla dan Clara yang secara tidak langsung dikatai centil oleh sahabatnya sendiri pun hanya bisa tersenyum.


"Untung sahabat, untung polos," kata Clara lembut.


Setelahnya mereka sampai di kantin yang sudah sangat ramai. Bahkan meja-meja pun sudah terisi semuanya kecuali satu meja dipojok sana yang masih kosong, itu adalah kekuasaannya Kevin, dkk.


"Ayo kesana," ajak Sherin.


"Gak ah, malas," tolak Clara.


Kayla mengangguk, dia sangat malas jika harus duduk dimeja yang sama dengan geng pembuat onar itu, "Mending habis beli makanan balik ke kelas."


"Setuju."


"Duduk disana aja, aku capek kalau balik ke kelas," rengek Sherin yang mengeluarkan jurus andalannya. Jika sudah begini, mana bisa Kayla dan Clara menolak. Ibaratkan tidak mengikuti keinginan anak kecil, ya pastinya anak kecil itu akan menangis.


"Huh yaudahlah."


Sherin terlihat senang dan menarik kedua sahabatnya untuk duduk dimeja pojok sana.


Namun ditengah jalan, Sherin tersungkur ke lantai dan mengaduh kesakitan karena kaki seseorang yang sengaja menghadang jalannya.


"Lo sengaja kan?" Kayla menatap sosok berbaju ketat itu dengan tatapan tak suka nya. Kakak kelas yang sok berkuasa disekolah, dan berlaku semena-mena, itulah Jeny dan dua antek nya.


"Gak usah nuduh lo, kaki gue emang dari tadi disini. Teman lo aja yang jalan gak pake mata," balas Jeny tak pelan.


Sebenarnya Jeny itu menyukai Kevin, namun Kevin tak menyukainya. Hingga gadis itu melakukan berbagai cara agar Kevin mau menyukainya, salah satunya dengan berusaha akrab dengan Sherin dan memaksa gadis itu untuk membujuk Kevin. Namun Sherin sendiri tak suka dengan sosok yang berpenampilan berlebihan itu, hingga membuat Jeny tak menyukai Sherin.


"Oh kaki lo dari tadi disini? Yaudah nih gue bantu pindahin," Clara menendang kaki jenjang itu dengan kasar hingga terkena kaki meja.


"Berani ya lo sama gue?!"


"Kenapa gak?" tantang Clara sambil berkacak pinggang.


Terlihat Jeny menggeram kesal disana. Sedangkan dua temannya masih setia mendampingi.


"Kakak kenapa sih suka banget cari masalah sama kita?" Sherin bertanya dengan lembut namun dibalas kasar oleh Jeny, "Lo diam deh! Gue itu muak banget liat lo tau gak?!" dorongan yang tak terprediksi itu membuat tubuh Sherin terhuyung ke belakang dan membuat gadis itu terhantuk dengan meja. Bahkan lengannya tergores dengan sudut meja tersebut.


"Sherin!"


Mendengar suara itu, Jeny serta dua temannya terlihat panik. Kelima orang cowok disana berjalan kasar kearah mereka.


Wajah Kevin terlihat merah padam menahan emosi. Melihat adiknya diperlakukan seperti itu membuatnya ingin menghajar Jeny sekarang juga jika tidak mengingat bahwa Jeny adalah seorang perempuan.

__ADS_1


Kevin menghampiri Sherin yang sedang menahan bulir bening di kelopak matanya agar tak keluar.


"Lo sebenarnya mau gue bikin masuk rumah sakit atau langsung masuk kubur?" tanyanya tajam pada Jeny.


"Abang, dia cewek, jangan kasar," cicit Sherin yang masih punya rasa simpati.


"Sekali lagi lo bikin masalah sama adek gue, habis lo! Gue gak peduli sekalipun lo itu cewek!"


Jeny tak menyahut, gadis itu bahkan sudah mengambil langkah untuk pergi darisana diikuti oleh kedua temannya belakang.


"Dasar tante-tante!" teriak Kayla.


"Gue tunggu lo bertiga didepak dari sekolah!" sambung Clara emosi.


"Kay, Ra, udah ih ngapain sih kalian?" Sherin menghentikan kedua sahabatnya itu yang dibalas decakan oleh Kevin.


"Lo itu gak usah terlalu baik bisa gak, sih?"


"Aku cuma bilang supaya Kay sama Clara berhenti, jangan tambah gede masalahnya."


"Udahlah. Sekarang lo ke UKS, obatin luka nya," ucapan Kevin terdengar sangat penuh penekanan yang membuat Sherin merasa dibentak.


"Biar sama kita," cegah Kayla saat Kevin ingin membawa Sherin.


"Aku sama Kay sama Clara aja," ucap gadis itu dengan suara yang kecil.


"Hmm."


°°°


"Ngapain nangis sih?"


Sherin menggeleng pelan, dirinya sudah berusaha untuk tidak menangis namun tak bisa. Bulir air mata itu keluar dengan sendirinya.


"Dengar ya Sherin, sebenarnya yang Abang lo bilang itu benar. Lo jangan terlalu baik, apalagi sama cabe-cabean sekolah itu. Cuma tadi penyampaian Abang lo agak membentak dikit sih, tapi wajar juga karena dia lagi emosi," jelas Kayla.


Clara mengangguk setuju, "Betul! Orang macam si Jeny itu gak mempan kalau cuma dibilangin sama kata-kata yang lembut."


Sherin menghela nafasnya. Ia terlalu tidak tega untuk membalas orang dengan jahat pula. Hatinya cepat merasa iba terhadap orang lain.


"Tapi kan kasian kalau dimarahin apalagi dikasarin sama Bang Kevin tadi."


"Gak mau lah, ajarannya gak benar banget."


Kayla memutar wajah Sherin yang sedang menatap Clara, "Udah, sini tangan lo gue obatin."


°°°


"Kasian sayang nya gue hampir nangis tadi," Vano membuat raut wajahnya menjadi cemberut.


"Siapa? Jeny?" Aksa bertanya cepat.


"Parah, sukanya yang macam tante-tante," sahut Ranza sambil menggelengkan kepalanya.


"Cabe."


Keempat orang lainnya membolakan mata mereka tak percaya. Ucapan barusan keluar dari mulut seorang Diyo. Sungguh luar biasa.


Prok prok prok


"Banyak perkembangan," Aksa menepuk-nepuk pundak Diyo yang langsung ditepis oleh cowok itu.


"Yang lo maksud tadi si cabe itu atau adek gue?" tanya Kevin yang masih mau tahu siapa yang dimaksud oleh Vano.


"Adek lo lah, masa si Tante itu."


"Wah mantap! Berani-beraninya dia, gue suka yang begini nih langsung terang-terangan," Ranza berteriak heboh.


"Lo mau Sherin? Langkahin dulu mayatnya Kevin," ucap Aksa dengan telunjuknya menunjuk Kevin. Sedangkan Kevin sudah memelototi matanya.


"Becanda bos, maksud gue langkahin dulu mayatnya Diyo."


Kali ini tatapan yang diberikan lebih tajam, Diyo menatap Aksa seperti ingin memangsanya.


"Santai dong, Yo. Serius amat lo. Indonesia suka becanda bro," Aksa berujar tanpa dosa walaupun ia merasa ngeri dengan tatapan Diyo.


"Hmm."

__ADS_1


°°°


Kayla memandangi Sherin dengan gemas. Entah apa yang gadis itu takutkan dengan sosok Kevin. Namun disisi lain, Kayla juga merasa sedikit kasihan, Sherin memang sangat takut jika sudah dibentak oleh Kevin walaupun hanya sekali.


"Ayo pulang, Sher. Ngapain sih masih disini?"


Alasan Sherin masih setia duduk di kursinya adalah karena gadis itu tidak berani bertemu dengan Kevin. Walaupun saat dikelas tadi mereka tetap bertemu, namun keduanya tidak berbicara dengan langsung bertatap muka. Bahkan keduanya tidak saling berbicara karena meja Kevin berada dibelakang. Sedangkan jika sekarang ia bertemu dengan laki-laki itu? Jelas sudah Sherin harus langsung berhadapan. Apalagi ia baru mendapatkan pesan dari mamanya bahwa supir pribadi keluarga tidak bisa menjemputnya dan ia harus pulang bersama Kayla juga Kevin.


"Gak mau, nanti bang Kevin marah-marah."


Kayla menghela nafas jengah. Kondisi kelas sudah sepi, hanya tinggal mereka berdua. Clara juga beberapa menit yang lalu sudah pamit duluan, begitupun dengan Kevin, dkk yang sudah keluar dari kelas sedari tadi.


"Nanti gue yang bilangin dia deh."


"Kalau gak dibolehin pulang sama kalian gimana?" tanya Sherin.


"Gue paksa sampai dibolehin."


Sherin terlihat mengigit bibir bawahnya, ia menimang-nimang terlebih dahulu. Namun tangan Kayla tiba-tiba menarik tangannya untuk segera bangun.


"Cepetan elah, kelamaan mikir lo."


"Gak ah, aku naik angkot aja," ujar Sherin akhirnya.


"Terus kalau nanti lo kenapa-kenapa gimana? Gue yang jadi sasaran amukan Abang lo itu, secara gue tau lo gak ada yang jemput terus malah biarin lo naik angkot sendirian," Kayla menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan sahabatnya itu.


"Tapi takut dimarahin Kay," rengeknya terlihat benar-benar takut.


"Sher--"


"Lama amat sih lo, gue tinggalin tau rasa!" terdengar suara dengan nada kesal milik seseorang diluar sana. Kemudian terlihatlah sosok Kevin yang berdiri di pintu.


"Kay," cicit Sherin mendekatkan dirinya pada Kayla.


"Sherin pulang bareng kita. Kata Mama supirnya gak bisa jemput," jelas Kayla cepat.


Kevin berjalan mendekati kedua gadis itu. Sebenarnya ia tau kalau adiknya merasa takut padanya, padahal Kevin sendiri sama sekali tidak marah, hanya saja tadi ia terbawa emosi.


"Yaudah ayo," ajaknya.


"Buruan woi ayo!" teriaknya yang sudah berjalan duluan sementara dua gadis itu masih setia berdiri disana.


"Iya-iya."


°°°


"Kevin ganti baju dulu gak lo?!" teriak Kayla sambil berkacak pinggang. Ia merasa seperti sedang mengurus anak kecil, terlebih ditambah Sherin yang sedari tadi mengekorinya.


"Malas."


Dengan geram, gadis itu mengambil bantal sofa dan menimpuk suaminya itu berkali-kali, "Ganti gak? Tau gak sih lo gue itu capek nyuci!"


"Perasaan mesin yang nyuci bukan lo."


"Ya tapi kalau ada noda tetap gue bersihin dulu!"


Sherin yang sejak tadi menyaksikan kelakuan abang serta kakak iparnya itu meringis pelan. Beginikah kehidupan orang yang sudah berumah tangga?


"Ganti baju seragam lo, telinga lo masih berfungsi kan?"


"Gantiin dong," ucap Kevin menggoda. Ia memajukan badannya sedikit pada Kayla.


Kayla sendiri dibuag semakin geram. Daripada menunggu lama dan malah membuatnya capek karena harus berteriak terus menerus, akhirnya gadis itu memilih untuk membuka kancing seragam Kevin. Kayla mau melakukan itu juga karena tau biasanya suaminya itu memakai baju lain didalamnya.


Tangannya bergerak cepat membuka kancing seragam Kevin hingga hanya menyisakan kaos dalamnya.


Namun tiba-tiba Kevin melepas sendiri kaos nya dan badan yang berorot dan indah itu terpampang sempurna. Jangan lupakan perut sixpack milik laki-laki itu, ditambah keringat yang membuat kulitnya mengkilap. Kayla mau mengelakkan pandangannya namun terlalu susah untuk tidak menatap keindahan itu.


Begitu pun dengan Sherin yang membulatkan matanya. Baru pertama kali ia melihat kembarannya itu dalam keadaan seperti ini.


"Oppa," Kayla mengarahkan tangannya dan menyentuh kotak-kotak pada perut Kevin. Sepertinya gadis itu sudah hilang kesadaran untuk sesaat. Sherin melotot sempurna, tak menyangka sahabatnya berani menyentuh perut sixpack itu.


"Oppa, gue mau meninggal tolong. Pemandangannya indah banget Sher, astaghfirullah!" Kayla berteriak kegirangan. Benar-benar akal sehatnya telah hilang untuk sementara waktu. Sedangkan Sherin sudah menggelengkan kepalanya, apalagi saat mendapati wajah Kevin yang menatap geli kearah Kayla.


"Kay, ini bukan oppa tapi bang Kevin," bisik Sherin yang seketika membuat Kayla tercengang ditempat.


"Pesona gue emang gak terbantahkan," bangga Kevin dengan senyum jailnya.

__ADS_1


"Gue barusan khilaf," elak Kayla.


"Lo itu jelek, gak mempesona, gak gak gak," lanjutnya kemudian pergi dari sana dengan buru-buru, bisa semakin jatuh harga dirinya jika masih berlama-lama disana.


__ADS_2