
Kayla menatap tajam Kevin yang baru saja masuk kedalam kamar tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Cowok itu masih dengan seragam sekolahnya.
"Pulang telat buat balapan. Pulang-pulang penampilan urak-urakan lagi, makin keliatan jelek lo."
Kevin melempar tasnya yang tepat mendarat diatas kasur. Tangannya ia gunakan untuk membuka kancing seragam dan menyisakan kaos hitam polos yang dipakainya.
"Iya tau gue tambah ganteng."
Kayla mendelik, "Hobby lo gak ada yang berguna apa?"
"Balapan berguna. Gue menang dapat hadiah taruhan." Kevin menjawab santai. Cowok itu setelahnya memilih untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Sementara Kayla mengambil malas tas cowok itu dan menyimpannya diatas meja belajar.
"Ambilin handuk buat gue!" Teriak Kevin tiba-tiba. Kayla melihat kepala cowok itu menyembul keluar dari pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
"Ogah."
"Buruan, atau gak gue langsung keluar nih." Ancamnya yang sudah bersiap keluar. Kayla yang panik pun langsung mengambil satu handuk untuk cowok menyebalkan itu.
"Nyusahin."
Kevin tak lagi menyahut. Cowok itu kembali menutup pintu kamar mandi. Sedangkan Kayla memilih melompat ke kasurnya dan rebahan disana sambil memainkan ponsel.
Sangking asiknya dengan benda pipih itu, Kayla tak menyadari bahwa Kevin sudah selesai dengan acara bersih-bersih nya. Cowok itu sudah berada disamping ranjang dengan handuk, dan bagian atas badannya terbuka polos.
Dengan jail, Kevin menjatuhkan sisa rintik air yang ada ditangannya ke wajah Kayla yang nampak serius itu.
"Setan!" Kaget Kayla segera bangun dari rebahannya. Setelah terduduk, pandangannya jatuh pada Kevin yang masih menatapnya. Kayla merasa pipinya panas saat menyadari bahwa cowok dihadapannya itu hanya memakai handuk.
"Apa?"
"Cariin baju gue." Pinta Kevin.
"Lo bisa sendiri, gak usah repotin gue."
"Cariin atau gak gue macem-macem nih sama lo."
Kayla melemparkan satu guling disebelahnya dan mengenai wajah tampan dihadapannya itu. Kenapa suaminya itu suka sekali mengancam?
"Nih." Kayla menyerahkan satu kaos dan celana selutut untuk Kevin yang langsung diambil oleh laki-laki itu.
"Ganti dikamar mandi, Kevin!" Lanjutnya berteriak karena dengan santainya Kevin hampir membuka handuknya.
Sebenarnya laki-laki itu sengaja. Ia hanya ingin menggoda Kayla. Setelahnya, Kevin pun pergi ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya.
Selang 10 menit, cowok itu keluar dan ikut duduk diatas kasur.
"Gue lapar, Kay."
"..."
"Gue lapar belum makan."
"Kayla! Gue lapar, dengar gak sih lo?!" Teriak Kevin tepat ditelinga gadis itu.
Pletak!
Satu pukulan diterima Kevin. Kayla memukulnya dengan kuat dilengan.
"Lapar ya makan."
"Ambilin, gue malas ke bawah."
"Gue capek."
"Gue lebih capek. Ikut balapan dan berusaha untuk menang supaya punya uang buat nafkahin lo." Ucap Kevin. Alasan yang membuat Kayla ingin menimpuk wajah cowok itu berkali-kali dengan bantal.
"Kay, ambilin dong."
Masih setia di posisinya, Kayla sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Kay..."
"Sayang, ambilin makan dong buat gue. Lapar nih."
Dengan kurang ajarnya Kevin berucap sambil membelai pipi mulus Kayla. Spontan gadis itu menepis kuat tangan yang lancang memegang pipinya.
"Sayan--"
"Iya gue ambilin!" Tanpa berlama-lama, Kayla turun dari kasur dan berlari keluar dari kamar.
Seperginya Kayla keluar kamar untuk mengambil makanan, Kevin bangkit dari kasur dan berdiri didepan cermin. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin besar itu. Menyingkap sedikit bajunya, terlihatlah memar kebiruan diarea bahunya. Untung saja tadi Kayla tak menyadari, jika gadis itu sadar, pasti akan menanyakan secara panjang lebar penyebabnya.
"Ngapain?"
Buru-buru Kevin membenarkan kembali kaosnya. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, cowok itu menghampiri Kayla, "Sebagai orang ganteng, gue harus sering bercermin. Karena setelahnya gue akan semakin percaya dan sadar bahwa ketampanan ini semakin hari semakin meningkat."
Kayla memicingkan matanya. Ia tak akan percaya dengan omongan ngawur itu. Jelas-jelas tadi dirinya melihat Kevin yang sedang menekan-nekan area bahunya dengan sedikit ringisan kecil.
Menaruh nampan berisikan satu piring dengan nasi dan lauk yang sudah lengkap serta segelas air putih diatas nakas, itulah yang gadis itu lakukan. Kemudian dirinya melangkah kearah Kevin yang hanya berjarak 2 langkah darinya. Dengan cepat, gadis itu menyingkap kembali leher kaos cowok itu. Kevin yang diperlakukan seperti itu tiba-tiba tak dapat mengelak.
"Ini kenapa? Lo ribut?"
"Biasa anak muda, ribut itu keren."
"Sekalian sama muka lo babak belur semua! Baru keren!" Kesal Kayla. Entah mengapa ia tidak suka melihat tubuh cowok itu terdapat luka. Walaupun dari dulu Kayla sudah mengetahui bahwa hobi suaminya itu adalah berantem, tawuran, bikin rusuh sana-sini, biar onar disekolah.
"Akh sakit!" Teriak Kevin saat Kayla sengaja menekan luka memar itu.
"Itu lo tau!" Ketus gadis yang sekarang sudah menarik Kevin untuk duduk diatas kasur.
"Mau ngapain sih, Kay?"
Tanpa menjawab, Kayla mengeluarkan kota P3K dan meletakkannya diatas kasur juga. Dengan hati-hati, gadis itu mulai mengobati luka Kevin. Tak butuh waktu lama, Kayla pun selesai dengan aktivitasnya.
"Udah, sekarang lo makan." Suruh nya kemudian seraya memberikan sepiring nasi serta lauk kepada Kevin yang langsung diterima oleh cowok itu.
"Lo jangan perhatian sama gue Kay, nanti kalau gue jatuh cinta gimana?"
"Itu gunanya mulut."
"Makan Kevin! Gak usah banyak omong."
"Iya-iya makan nih."
Akhirnya Kevin menyantap makan malamnya dengan lahap dan Kayla hanya menjadi penontonnya.
°°°
"Sherin."
"Iya?"
"Kamu tau gak seberapa cantik menara Eiffel?" Tanya Vano.
Gadis manis nan polos itu menggeleng, "Gak tau. Aku belum pernah kesana, tapi kata Bunda liburan nanti kita bakal kesana."
"Secantik kamu." Lanjut Vano setelahnya.
Sherin menundukkan wajahnya malu. Ia juga perempuan yang bisa salah tingkah apalagi digombalin oleh seorang cowok tampan seperti Vano.
"Makasih, Vano."
"Sama-sama, Sherin." Senyum cowok itu dengan sangat manis.
Kevin yang sedari tadi memperhatikan kelakuan satu sahabatnya itu berujar, "Masih gue pantau, belum gue santet."
Vano yang masih bisa mendengar ucapan Kevin pun hanya menyengir lebar, "Santai bos, gue cuma serius."
"Cuma becanda pinter!" Sahut Ranza sambil melempar buku ditangannya.
"Selow bos ku, emosian lo kayak cewek lagi dapat!" Balas Vano tak kalah sewot.
__ADS_1
"Berisik! Diam!"
Krik.
Hening. Tak ada lagi suara dari dua orang itu. Hanya suasana hening yang terjadi. Memang jika Diyo yang bersuara, makan suara lainnya akan hilang seketika.
"Btw, Aksa mana nih? Tumben itu anak belum nongol. Jangan-jangan dia tau kita jamkos makanya gak masuk." Tanya Vano karena partner rusuhnya belum datang. Memang sekarang sedang jam kosong, guru sedang mengadakan rapat. Namun seluruh siswa tidak diperkenankan berkeliaran diluar sekolah.
"Cabut, dia digerbang belakang. Gerbangnya ke kunci." Kevin bangkit dari kursinya. Ia baru saja mendapatkan pesan dari Aksa bahwa cowok itu terlambat.
"Mau kemana kalian woy! Gak dibolehin keluar sama guru." Teriak Aldo ketika melihat Kevin, dkk secara berurutan keluar dari kelas.
"Banyak tanya lo, kayak Dora." Balas Vano sambil melambaikan tangannya kepada siswa-siswi dikelas kemudian langsung berlari menyusul ketiga sahabatnya yang lain.
"Gak ada yang waras." Celetuk Kayla melihat kelakuan geng pembuat onar itu, kecuali Diyo, mungkin.
Disisi lain, keempat cowok tampan yang banyak digilai oleh kaum hawa itu sudah berada tepat didepan gerbang belakang sekolah, dimana diluar sana terlihat Aksa yang sedang bersandar santai sambil meminum es teh manis didalam plastik.
"Kenapa gak manjat sih lo? Biasanya juga langsung manjat." Tanya Ranza. Sedangkan Kevin dan Vano sedang mencari kunci cadangan yang mereka buat sendiri ditukang kunci sebagai kunci milik mereka untuk bisa dengan bebas keluar masuk sekolah lewat gerbang belakang.
"Lagi malas aja." Santai Aksa masih dengan meminum es teh nya.
"Mana sih, Vin?"
"Kemaren disini, gue yakin." Kevin menunjuk sebuah pot bunga yang ada ditanah. Biasanya mereka akan menyimpan kunci itu dibawah pot tersebut.
"Masa hilang?"
"Kalian cari ini?"
Sebuah suara berseru. Sebenarnya tanpa melihat sosok yang bersuara itu, kelima cowok itu sudah mengetahui siapa orang tersebut.
Ditangan orang dengan kepala botak itu terlihat sebuah kunci yang sedari tadi Vano dan Kevin cari.
"Bapak, maling ya?!" Tuding Vano sambil menunjuk pak Emon.
Diyo yang diam saja sejak tadi menghela nafasnya jengah. Sudah dipastikan setelah ini, mereka akan mendapatkan hukuman. Terlebih dengan santainya, Vano malah mengatai pak Emon maling.
"Enak aja kamu!" Balas pak Emon tak terima.
"Mana ada maling yang mau ngaku." Giliran Kevin yang ikutan bersuara.
"Dasar murid tak berperikeguruan kalian. Seenaknya ngatain saya maling." Geram pak Emon sambil menatap tajam Kevin dan Vano.
"Bapak ngerasa?" Aksa yang ada diluar sana bertanya.
"Iyalah, itu mereka berdua ngatain saya maling."
"Berarti Bapak emang maling." Celetuk Diyo yang membuat semua orang yang mendengarnya membulatkan mata tak percaya.
"Wah-wah! Hebat, udah mulai ada perkembangan. Lanjutkan, nak. Papa bangga sama kamu." Ranza menepuk-nepuk pundak Diyo bangga, bahkan cowok itu terlihat sangat terharu.
"Om juga bangga, nak. Gak sia-sia kamu diajarin supaya jadi julid." Kevin berjalan kearah Diyo dan ikutan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Abi terharu, Diyo sekarang pintar. Nanti belajar julid lebih giat lagi ya." Ucap Vano sangat bangga layaknya ayah yang bangga pada anaknya.
Sedangkan pak Emon sudah menggoyangkan kumis tebalnya. Nafasnya ia tarik panjang dan mengangkat tongkat kayu ditangannya, "Bapak juga bangga sama kamu, Diyo. Sebagai apresiasi nya, kamu silahkan ke lapangan depan, lari 4 kali putaran."
"Dan buat kalian berempat, 7 kali putaran tanpa berhenti sedikit pun!" Tunjuk pak Emon pada Kevin, Vano, Ranza dan Aksa.
"Bapak jahat, gak berperikemuridan banget!" Teriak Vano kemudian pergi dari sana diikuti oleh Kevin dan Ranza. Sementara Diyo memilih untuk terlebih dahulu membuka gerbang saat pak Emon melemparkan kunci kearahnya agar Aksa bisa masuk dan ikut menjalani hukuman.
.
.
.
Haii jumpa lagi
Tinggalkan jejak dong guys heheh
__ADS_1
Supaya aku bisa semangat up tiap hari, gak lama banget begini🙂