
Lembar ketiga
Wilgas telah siap dengan pakaian seragam nya yang sangat cocok di tubuh nya. Menatap dirinya di cermin dan tersenyum getir mengingat ini bukan niskala. Melainkan wilgas. Tapi dia harus ikhlas menerima hidup sebagai seorang wilgas.
" Den, ayo makn tuan dan nyonya sudah menunggu di bawah " Kata seorang yang membuyarkan lamunan wilgas
Wilgas mengangguk dan segera bergegas meraih tas punggung nyan
" Wahh anak papa tambah cakepp sekarang " Kata papa dengan pakaian formal nya, tak lupa di sisiNya ada mama yang sama dengan pakaian glamor nya. Lalu satu orang lagi yang membuat jantung nya berhenti berdetak. Regina resky! Sial wilgas. Ingat dia kakak mu
" Mau sampai kapan bengong terus, ayo makan prince " Lambaian tangan sang mama membuat mereka menikmati sarapan nya dengan hangat
***
Wilgas sampai di sekolah nya, sebuah bangunan elit dan kerenn banyak siswa siswi yang berlalu lalang di sekitar nya dengan seragam yang sama dengan yang di pakai
" Whoaa.. Aku harus sekolah lagii? " Katanya bertanya pada dirinya sendiri
Melangkah menuju kelas dengan tatapan bingung orang orang yang melihat nnya. Pasal nya wilgas sangat berbeda. Iyalah beda. Orang ini niskala bukan wilgas. Tapi sungguh hari ini dia begitu menawan. Dengan wajah ramah yang di suguhkan nya membuat dirinya tampil beda dari sebelumnya yg biasa datang dengan wajah muram dan sedih suram.
Sampai di ruang kelas 11 IPA 5 wilgas mulai mencari tempat duduk nya , tidak bingung karena hanya satu bangku kosong di pojok jajaran ke 2 .
Duduk dengan tenang dan harus meringis kaget saat tiba tiba meja nya di gebrak dengan kencang oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab
Wilgas menatap datar
" Hey. Apa apaan tatapan itu? Cari mati? Menunduk lh seperti biasanya " Ancam remaja bername tag Tirta dwi
Tatapan wilgas semakin dingin lalu mengamati sekitar nya. What the hell. Tidak ada yang membantu nya sama sekali??? Mereka malah asyik menonton dan sebagian lagi tidak peduli
" Jawab aku dasar kau bisu! " Marah tirta sambil mau melayang kan tinjunya ke arah wilgas.
Wilgas hanya tersenyum remeh saat semua atensi teralih pada mereka berdua
" Wilgas kenapa? Kenapa dia berani melawan tirta? " Desas desus mulai menggema di kelas itu
" Apa? Mau memukul ku? " Tantang wilgas acuh
Tirta tersulut emosi dan melayang kan tinju nya ke pada wilgas yang langsung dengan tanggal di balikan oleh wilgas dengan kuncian di tangan nya membuat pekikan keras dari tirta kesakitan
" Sial! Lepaskan aku brengsek! " Racau ttirta
Namun yang ada wilgas malah memperkuat kuncian nya sehingga terdengar suara " krekk" Dari tangan tirta
"Aaaa iyaaaa ampunn wilgasss lepaskan aku. Kumohon " Raung tirta memohon kesakitan
Di lepaskan dan di hempaskan. Itu yang baru saja wilgas lakukan sambil menatap remeh tirta serta antek antek nya. Sadar menjadi pusat perhatian wilgas berdehem dan duduk kembali setelah kepergian tirta ke bangku paling depan.
Pembelajaran berlalu dengan membosankan mengingat wilgas sudah lebih dulu menjalani apa yang di ajarkan di depan oleh gurunya, maka dari itu wilgas memilih untuk ijin ke kamar mandi untuk school tour sekolah ini
Kosong. Ya iya lah kosong , karena orang lain tengah sibuk belajar sementara wilgas malah jalan jalan santuy sambil mengagumi sekolah ini, karena jujur sekolah nya dulu tidak sebagus ini. Makanya dia terpesona melihat bangunan ini, langkah menyeretnya menuju kamar mandi pria yang kebetulan ada suara ribut ribut di dalam.
__ADS_1
" Whoa ada pecundang tambahan " Itulah kira kira sambutan saat wilgas sudah berada di ambang pintu, melihat bagaimana orang orang itu membully 2 orang, dan yang satu will rasa dia ingat. Itu teman sekelas nya tadi yang di seret paksa pasca kejadian dirinya ribut dengan tirta
" Apa masalah mu? " Ujar wilgas dingin
" Wihh sudah berani menjawab! " Ejek nya
" Lepaskan mereka! Dia teman ku! " Ucap wilgas seraya menunjuk seorang laki laki bername tag Abimanyu haraksa .
" Cihh anjing! Bacot lu " Kata salah seorang pembuli mau menyerang wilgas namun kalah cepat. Karena nyata nya saat ini dia sudah di tendang oleh seseorang berperawakan tinggi dan berwajah angkuh
" Cecunguk mati saja " Kata orang itu datar
" Ampun kak Jauzan, saya tidak ada urusan dengan Anda " Kata mereka ketakutan seraya berlari begitu saja
Apa apaan aura mencekam ini? Siapa dia? Kenapa pengaruh nya begitu besar untuk sekitarnya?
" Minggir " Kata jauzan ke arah wilgas yang hanya bisa di angguki patuh oleh nya sembari menarik tangan Abimanyu Keluar dari toilet sempit itu
" Thank will " Gumam Abimanyu kecil
" Hmm " Wilgas hanya berdehem hingga mereka kembali ke kelas
**
" Abimanyu, ada apa dengan sekolah ini? Kenapa isinya pembulian semua? " Tanya wilgas tiba tiba muncul di samping Abimanyu
" Ahh- itu.. Entahlah will kurasa mereka kurang kerjaan saja. Dan biasalah itu semua perbuatan semena mena mereka " Jawab Abimanyu seadanya
" Will, ada apa dengan kepala mu. Dia itu Jauzan, anak pemilik yayasan ini. Sikap nya memang ugalan tapi dia benar benar kuat. Nakal dan brandal. Itulah dia will. Jangan cari gara gara dengan dia " Ungkap Abimanyu terbilang santai..
" Hei. Ada apa dengan logat bicara mu, itu terbilang santai tau " Wilgas merasa aneh. Karena Abimanyu terlihat tidak ada takut takut nya sekalipun yang di bahas adalah apalah itu brandal anak pemilik yayasan. Blablabla wilgas tidak perduli.
" Abimanyu " Panggil wilgas
" Apa? " Abimanyu hanya nyaut seadanya
" Abim. Jadilah teman ku! " Ajak wilgas dengan senyum ramah mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
Abimanyu mengerutkn kenging nya. Ragu! Namun pada akhir nya, menyambut uluran tangan itu juga
***
Istirahat ke 2. Waktunya makan siang, begitulah abim yang dari tadi berceloteh ria tentang makan siang, bukn tanpa alasan, tapi wilgas lah yang meminta nya. Abim si nurut nurut saja. Karena baru kali ini abim memiliki teman seperti wilgas.
Sewaktu mengambil makanan mereka berpapasan dengan seseorang yang wilgas tau betul dia siapa. Yaps Rere atau kakak kandung dari wilgas. Dengan cantik nya berceloteh dengan lucu bersama teman teman nya. Rere paling mencolok diantara yang lain nya. Tpi begitu mereka berpapasan. Will kira dirinya akan bertegur sapaa, tapi yang terjadi adalah Rere yang mendelik seraya memandang nya tak suka penuh ancaman.
Abim menepuk pundak will. " Hey "
" Kenapa kau menatap kak Regina? Bukan kah dia membenci mu will? " Tanya abim
Deg! Membenci?
__ADS_1
Tapi kenapa??
" Tolong simpan ini untuk ku abim " Tiba tiba dengan tanpa persiapan apapun will menyerahkan nampan makanan nya. Sehingga abim memegang 2 nampan penuh dengan ketidak seimbangan
" Butuh di bantu kak? "
Abim masih sibuk menyeimbangkan nampan itu tanpa peduli siapa yang mengajak nya bicara. Yap. Abim mana peduli? Persetan dengan wanita wanita di sekolah ini. Apa peduli nya memang?
" Tidak Terimaka- "
Demi ****** nyonya puff. Ingin rasanya dia menarik kata kata yang Barusn dia ucapkan. Karena faktanya sekarang dia di hadapkan dengan seseorang yang sudah lama menarik perhatian nya. Jeje, begitulah abim memanggilnya
***
" Janu! Aku butuh tau " Seperti biasa tanpa di duga will muncul tiba tiba di depan Januar yang Sedang asyik bercanda dengan teman teman nya
" Punya nyali juga kamu nyamperin Januar, gak ada yang nyegat? " Kata salah seorang teman Januar
Sialan. Kenapaa sih manusia bernam wilgas ini ?? Apa yang dia lakukn hingga di buly habis habisan?! Tidak bisa seperti ini? Sekarang niskala tengah hinggap di tubuh pemuda bernama wilgas . Niskala tidak suka jika seperti ini. Dia pikir, ada yang harus dia lakukan setelah ini.
" Saya tidak berbicara dngan Anda Dio Anugrah! Saya butuh bicara dengan sepupu saya Januar. Tolong minggir. Jika tidak saya pastikan anda tidak bisa menatap matahari lagi " Desis tajam seorang wilgas tidak seperti lakon biasanya membuat mereka yang ada di sana syok. Bukan karena apa tapi. Sungguh dia seolah berbeda, mencekam dan menakutkan. Mungkin inilah definisi dari marah nya orang pendiam benar benar menakutkan
2 lelaki tampan itu berjalan dengan rusuh ke arah gudang, tentu saja dengan tatapan aneh dari orang orang. Berani sekali wilgas menyeret seorang Januar. Garis bawahi JANUAR. orang yang di takuti di sekolah ini setelah Jauzan tentu nya. Apa wilgas tidak sayang nyawa? Begitu lah yang tersirat di benak mereka saat Januar dengan keras melepas cengkraman will
" Will. Lu kenapa si? " Januar melotot. Tapi will tak gentar saat ini dia memiliki sesuatu yang lebih ingin dia ketahui
" Janu. Sebenarnya apa yang terjadi antara aku dan Rere? Kenapa dia membenci ku janu?! " Cercah will dengan tatapan yang tidk bisa menutupi rasa penasaran nya
Janu membolakan matanya mendapati wilgas sang sepupu menanyakan hal ini kepada nya, sebenarnya janu tahu betul apa yang menjadi sebab si primadona sekolah cantik itu menolak kehadiran adik nya mentah mentah. Tapi apa mungkin janu bisa berbicara pada sang sepupu?
" Ah sebenarnya itu . . . . " Ucap janu menggantung
" Tolong jawab janu " Desakk will
" Will, aku yakin kau tidak mau mendengar alasan ini. Tapi saran ku, lebih baik kau luruskan langsung dengan saudara mu itu _ "
Will menghela nafas kasar
" Dan biar ku beri tahu. Jika ingin aman jangan ungkap identitas mu bahwa kau adik dari rere. Pokok nya jangan. Oh lihatt itu monic, permisi sebentar aku ada urusan " Elak Januar melepas kan diri dari will
**
" Jauzan! Sudah ayah bilang berhenti lah bermain main dan fokus lah pada masa depan mu! " Bentakk pria yang sudah tak lagi muda sambil duduk tumpang kaki di sofa menyambut kedatangan putra tunggal nya di sebuah mansion yang mewah
" Ayah, tolong jangan begini teruss, aku sudah berterus terang bahwa aku hanya ingin menjadi pengusaha " Mohon jauzan kepada sang ayah
" Ini semua sudah mutlak dan tidak bisa di bantah. Sekarang silahkan bereskan kekacauan yang terjadi di perbatasan utara wilayah kerja kita " Titah nya angkuh dan membuat jauzan hanya bisa menggeram namun tetap pasrah menurut saat di seret oleh para pria berbadan besarr memakai jas dan kacamata
Sungguh, saat ini jauzan hanya ingin tenang. Bukan berburu.
***
__ADS_1