
Baru beberapa hari wilgas menjalani hari nya. Dan dia baru tahu bahwa kakak cantik nya sangat membenci nya. Mungkin saat pertemuan pertama sikap Rere baik hanya karena wilgas baru bangun dari sakit nya. Tapi sekarang sikap nya semakin kentara menunjukan bahwa Rere tidak menyukai wilgas.
Wilgas tidak bisa bertanya kepada siapapun. Papa dan mama nya sedang dalam perjalanan bisnis. Dan sekarang dirinya hanya bisa berdiam diri di kamar luas dan elegan nya sendirian.
Melangkah pelan Keluar kamar. Wilgas ingin menghampiri Rere yang sedang berada di ruang tengah. Turun dari tangga, Rere sudah menatap wilgas malas dan galak
" Rere " Panggil wilgas
Tidak menjawab. Rere hanya berlalu dari hadapan wilgas, tidak Terima, wilgas langsung menahan Rere yang mau pergi begitu saja. Di genggam nya oleh wilgas pergelangan tangan Rere yang kecil, Rere melotot tak percaya pikir nya berani sekali wilgas menyentuh nya, ditepis lah tangan kekar wilgas
" Aww " Pekik wilgas saat Rere memukul tangan nya
" Apasih?! " Ketus nya
" Aku mau bertanya " Will to the point dengan tampang serius
Rere hanya menatap will tidak suka.
Ah sial kenapa menyakitkan mengetahui bahwa orang yang kau sukai ternyata membenci mu. Terlebih dia kakak mu sendiri
" Kenapa kau terlihat membenci ku? " Cicit wilgas pelan dengan tatapan yang lembut
" Huh! Bukan terlihat wilgas. Tapi aku memang membenci mu " Kata Rere sarkatis kepada adik nya
Will hanya kaget mendapati jawaban itu, hingga beberapa maid yang terlihat bersih bersih harus menghentikan pekerjaan nya dan menatap nanar kepada tuan muda yang baru saja di bentak oleh sang kakak keluarga ergayudhi.
***
Heboh. Sekolah di hebohkan oleh seorang wilgas yang berontak. Tak seperti dulu yang hanya bisa menunduk dan termenung, sekarang wilgas terlihat lebih berontak dan mengangkat wajah nya tinggi tinggi
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wilgas, dia seperti mereka anak seusia nya. Wilgas itu anak yang tampan dan memiliki visual yang sangat menawan, tapi sayang nya sikap pendiam wilgas yang membuat nya menjadi bahan rundungan mereka yang so so an memiliki kuasa.
Seperti sekarang saja, wilgas berjalan gagah di samping Abimanyu yang terlihat tengah bermain gadget nya, nah iya ngomong ngomong soal Abimanyu. Yng juga tak kalah menawan dari wilgas, Abimanyu kerap jadi sasaran para pembully itu karena dia yang penyendiri dan konglomerat. Yap abim itu adalah anak dari orang terpandang di kota nya, hanya saja tidk banyak yang tau, karena abim menyembunyikan itu semua. Termasuk wilgas dia tak tau. Abim bisa saja memiliki teman hanya dengan menjentikan jari tapi dia memilih menutup rapat rapat identitas nya di hadapan umum.
" Abim ada apa dengan orang orang hari ini, mereka terlihat terus menatap ke arah Kita " Tanya will kepada abim yang masih fokus bermain game
" Abaikan will, kita tampan. Itu alasan yang cukup kuat untuk mereka memperhatikan kita seperti itu " Jawab abim tanpa menoleh pada sang penanya
" Cihh " Will hanya berdecih kesal
Hari ini mata pelajaran sosiologi, sungguh wilgas mulai merasa bosan dengan belajar, please la yah ini pelajaran yang dia dalami sekitar 5 tahun lalu
" Wilgas. Tampak nya kau sudah yakin hapal semua materi yang saya berikan sehingga malah malas malasan seperti itu? " Tegur seorang guru laki laki berkacamata
Wilgas kaget dn duduk tegap
" Jelaskan apa yang baru saja saya jelaskan wilgas! " Titah guru itu
Wilgas buru buru menatap papan tulis yang disana tercetak dengan besar sub materi yang Sedang di bahas yakni stratifikasi sosial
" Ayo cepat jelaskan wilgas ergayudhi " Sesak pak santos yang sudah mulai memanggilnya murid nya dengan nama lengkap berarti ini gawattt
Will tak percaya harus melakukan ini lagi. Tapi percayalah sebagai niskala, otak nya jauh di atas rata rata dan kemampuan publik speaking ny tidak perlu di ragukan lagi. Maka dengan modal pengalaman dan pengetahuan will mulai membuka suara
" Stratifikasi sosial......
...................... "
Jelas will panjang lebar dan membuat siswa disana mengangguk paham karena penjelasan will terbilang mudah di mengerti dan tepat sasaran.
__ADS_1
Semua terperangah menatap will tidak percaya,
" Ekhem. Baik terimakasih will silahkan duduk " Ucap sang guru kemudian seisi kelas bersorai bertepuk tangan. Will hanya tersenyum.
" Kenapa kau baru menunjukkan kepintaran mu sekarang will " Ujar abim di depan nya
Will hanya mengangkat bahu nya .
**
Istirahat adalah hal yang dinanti nanti oleh para murid sekolah, mereka bersorai ketika bel di bunyikan, banyak aktifitas yang di lakukn siswa, seperti pergi ke kantin, nongkrong, gibah, bersibuk dengan kegiatan eskul / organisasi, membully orang dan lain lain, seperti saat ini Rere sedang berada di kantin dengan teman teman nya, mengobrol dan berceloteh ria tentang make up. Tak sengaja netra nya menangkap sosok adik nya yang tengah berada di kasir membayar jajan nya, lalu mereka saling memandang satu sama lain membuat Rere tiba tiba tersedak dan terbatuk batuk.
Wilgas siap siaga menghampiri Rere lalu menyodorkan minuman yang di beli nya barusan, membuka kan segel nya seraya menuntun tangan Rere mengambil minumnya
" JANGAN SENTUH MILIK GUA!! " seseorang tampak marah dan menjerit murka saat ketika wilgas dekat dengan Rere . Berlari pria itu dengan cepat dan menerjang tubuh willgas dengan tengandan yang cukup keras membuat will jatuh tersungkur dengan bokong yang mencium lantai.
" Lu pikir lu siapa bisa deketin Regina huh?! " Dia tetap marah dan menarik kerah milik will dengan kencang
Will menatap datar dan melihat name tag orang itu bernama Haikal wiguna. Yap haikal adalah salah ssatu dari banyak nya brandal yang cukup di segani di sekolah ini.
Will terpojokan. Pukulan demi pukulan di layangkan ke arah will membuat dia babak belur. Belum sempat melawan karena fokus nya hanya satu, Regina resky. Kakaknya yang hanya menonton adiknya di pukuli. Tersenyum getir lalu bangkit dari kekangan tubuh besar haikal.
Se isi kantin tercekat melihat will bisa melawan. Seperti nya semakin sengit karena anak buah haikal mulai datang dan bersiap di belakang nya. Sial pertarungan ini begitu seru jika di lewatkan. Bayangkan saja bagaimana seseorang yang lemah bertarung dengan lelaki kuat bernama haikal. Heit tapi kalian lupa siapa wilgas sebnrnya. Dia niskala! Niskala sanjaya.
Rahang will mulai mengeras. Dan nafas nya mulai memburu.
Se isi kantin sepi memperhatikan apa yang akan di perbuatan nya.
Saat haikal kembali menyerang will. Tanpa ancang ancang will memukul rahang tegas haikal sampai dia jatuh tak berkutik. Benar benar jatuh. Haikal limbung dan menubruk beberapa meja di di belakang nya. Saat hendak bangkit kembali haikal tiba tiba oleng dan jatuh pingsan seketika setelah mendapat pukulan tadi yang wilgas layangkan.
Lagi lagi wilgas memberikan kejutan yang tak terduga. Disana kawanan haikal mulai maju dan terhenti lagi saat 3 orang mulai datang dan berdiri di belakang tubuh will.
Ialah Januar dan Abimanyu. Tapi yang tidak masuk akal adalah ketika jauzan ikut serta menjadi bagian dari kubu wilgas.
Karena saat ini pertarungan nya sangat sengit 4 orang tersebut dengen lihai menahan menangkis dan juga menyerang 14 orang pasukan haikal
Abim dan wilgas yang terlihat menikmati perkelahian ini. Semenantara Januar dan Jauzan hanya bermain main dengan lawan nya. Mereka berdua sangat kuat. Hingga takk terasa bahwa semua pasukan haikal telah tumbang. Menyisakan 4 orang lelaki yang penuh peluh dengan dada naik turun mengontrol emosi, sungguh ini pemandangan yang sangat langka dimana Jauzan tersenyum dan terlihat menikmati semua ini.
Wilgas kemudian menatap 3orang di hadapan nya. Januar abim dan Jauzan. Mengangguk penuh arti kepada mereka dan berlalu begitu saja ke arah Rere yang masih shock atas apa yang terjadi di hadapan nya. Bahkan tak bisa berkutik ketika sang adik meraih tangan nya lalu berlalu menyeret nya dari sana.
Rere menatap wilgas tak percaya, hidup berdampingan 18 tahun dengan wilgas. Dia tidak pernah berontak seperti itu, bahkan untuk membantah pun wilgas tak pernah. Di mata Rere wilgas adalah pengecut yang tak berguna, mungkin itulah alasan Rere membenci wilgas.
" Regina resky ergayudhi! " Panggil wilgas tandas kepada sang kakak yang sekarang tengah ia kukung di dinding Roftoof sekolah yang sepi
Jujur saja Rere sekarang tengah was was dengn wilgas. Ada degub kencang yang bahkan dia sendirii tidak tau apa artinya itu. Yang pasti tatapan tajam dari wilgas benar benar mbuat pahatan wajah tampan nya semakin sempurna.
" Aku muak dengan semua ini! " Ucap wilgas getir karena tiba tiba saat iris matanya bertabrakan dengan Rere. Wilgas seolah mendapat gambaran apa yang terjadi diantara kedua nya saat ini. Tentang Rere yang membenci nya. Rere yang tidak pernah peduli dengan wilgas. Semua itu membuat wilgas geram
" Kau membenci ku karena aku lemah begitu?! Kau menyalahkan ku atas segala ketidakberdayaan yang aku punya? Iya ! " Racau wilgas tepat sasaran sambil menatap tajam iris Rere yang mulai berkaca kaca, entah karena takut atau apa yang pasti perempuan itu benar benar tersudut kan
" Rere! Dosa ku apa hingga kau bertindak sejauh ini? Ikut membully ku? Menyuruh orang untuk mengeroyok ku? Membuat ku selalu dalam lingkup setan orang yg membully ku?! Kau pikir aku tak tau itu? Apa aku sebodoh itu di mata mu REGINA! " Will berkata tajam lagi . Kali ini sambil menangis, karena jujur wilgas yang didalam nya bersemayam niskala tengah merasakan sakit nya seorang wilgas yang di perlakukan seperti itu oleh sang kakak. Sial, Rere semakin ketakutan! Di balik kekecewaan nya tetap saja. Bagi wilgas maupun niskala, Rere adalah perempuan yang di sayangi nya. Jadi sekarang wilgas hanya berteriak frustasi di hadapan Rere sambil bersimpuh lutut di depan rere tak lupa dengan air mata yang membasahi kedua mata nya
Rere melihat apa yang di lakukan wilgas pun ikut menangis menyaksikan wilgas yang terlihat begitu menderita dan kesakitan. Rere paham betul, semua ini ulah nyaa
" Sekarang terserah kau saja re! Mau menganggap ku atau tidak. Aku tidak mau peduli lagi!! Silahkan benci aku!! Silahkan sakiti aku! Aku tidak akan melawan mu karena kau satu satu nya kakak berharga yang ku miliki! Yang ku cintai! Walau orang nya hanya bisa membuat ku terluka dan menyedihkan kan seperti ini! " Wilgas masih meraung raung menyuarakan isi hati nya
" CUKUP WILGAS! " Teriak seseorang dari kejauhan yang membuat kakak beradik itu langsung menoleh ke sumber suara, disana ada Januar yang menatap wilgas emosi juga di samping nya berdiri abim dan juga, Jauzan? Kenapa dia ada lagi??!
Januar mendekat dan menarik wilgas menjauh dari Rere, tapi wilgas belum mengutarakan semua apa yang ingin di katakan nyaaa. Wilgas berontak dalam rangkulan Januar hingga kena bogemn mentah dari wilgas yang tidak terkendali. Akhir nya jauzan dan abim pun turun tangan, dimana jauzan lah yang meringkus wilgas dengan susah payah,
__ADS_1
Anak ini sulit di jinakkan, begitu pikir jauzan yang sedang mengunci pergerakan wilgas dan berusaha membawa nya ke tempat lain
" RERE! AKU MEMBENCI MU! " teriak wilgas sebelum pintu Roftoof tertutup rapat di hantam keras oleh kaki jauzan.
***
Saat ini, will, abim, januar dan Jauzan tengah duduk di ruangan yg lumayan luas bernuansa putih, di sebrang mereka pun ikut terduduk haikal dan antek antek nyaa, termasuk tirta dan zio. Yang waktu itu membully wilgas saat hari pertama nya masuk sekolah
" Anak tidak tahu diri! Memukul anak orang senak nya saja kamu yah! " Marah seorang wanita yang di duga adalah ibu dari haikal yang tengah memarahi wilgas, wilgas hanya menatap nya bodoamat. Persetankan? Wilgas tidak perduli! Kemudian wilgas hanya menatap tajam kepada Rere yang sedang menatap nya. Menyesal?
" Cukup bu, mari selesaikan ini secara kekeluargaan " ucap sang kepala sekolah ber name tag Fauzan M. M. Ip
" Knock knock knock " Suara ketukan pintu menengahi aksi cek cok ini
" Masuk! " Instruksi pak fauzan
Dan masuk lah kedua orang tua will juga Rere. Mereka menatap seolah tak percaya bahwa putra putri nya terlibat masalah di sekolah. Apalagi will, yang mereka ketahui tidak pernah berbuat onar
" Will, re? You okay son? " Tanya mama mengusap dan membelai kedua pipi anak anak nya
Rere hanya mengangguk sementara will memalingkan wajah nya,
" Baik, ada yang bisa menjelaskan? " Tegur pak fauzan buka suara ketika semua sudah duduk pada Tempat nya
" Ijin berbicara pak " Ucap suara perempuan yang diketahui bernama reynita ke arah pak fauzan dan hadirin lalu mengangguk sopan
" Silahkan rey " Titah pak fauzan
" Kejadian ini bermula ketika jam istirahat, saya adalah salah satu saksi mata yang kebetulan berada di sekitar mereka yng terlibat perkelahian. Awal nya saya melihat wilgas berjalan ke arah Rere sambil membawakan minuman karena saat itu Rere seperti nya tersedak. Lalu tak lama datang haikal berteriak ke arah will sambil menendang dan memukuli will ... "
" Heyy!! Berani berani nyaa!! " Teriak papa will tak terima mendengar apa yang terjadi
" Tolong anda tenang pak. Cerita ini belum lah selsai " Tegur pak fauzan
Haikal merasa marah karena ia tau setalah ini ia akan di omel habis habisan. Sementara will hanya menunduk memainkan ujung sepatu nya dan sesekali berbisik dengan abim, lalu jauzan yang tidak bersuara karena tidak berani sama sekali mengingat seperti nya ayah nya akan meledak ledak memarahi jauzan yang berbuat ulah. Lagii.
" Rey lanjut kan nak " Fauzan bersuara lagi
" Kemudian will berontak dan bangkit setelah di pukuli oleh haikal. Haikal mencoba menyerang will lagi tapi ...
" Mana sempat keburu telatt, keburu di pukul " Kata Januar memotong cerita tiba tiba
Semua melotot ke arah Januar
" Maaf maaf "
Jauzan dan abim terkekeh geli :v
" Iyaa begitu lah. Belum sempat menyerang lagi, will lebih cepat meninju haikal sampai pingsan. Lalu teman teman haikal Yang tidak Terima mencoba mengeroyok will, sampai dimana jauzan, Abimanyu serta Januar datang membantu will. Lalu setelah nya mereka berkelahi dan membuat kacau seisi kantin. Ini tayangan vidio nya silahkan. Saya berbicara t tidak melebih lebih kan atau mengurangi. " Jelas Reynita panjang lebar seraya membawa flashdisk copy an CCTV yg ada di kantin. Yang di ucapkan Reynita itu benar dan pak fauzan pun mengambil tindakan nya
" Karena putra ibu bapak sekalian telah melakukan kekacauan. Maka sya menjatuhkan hukuman skors pada mereka. Terlebih untuk haikal , zio, dan tirta " Final sang kepala sekolah
***
" Pelan pelan mom " Rengek will kesakitan saat luka nya itu di obati oleh antiseptik
" Janu diam kamu! " Will melotot ke arah Januar yang sedari tadi menertawakan will yang kesakitan
"Rere kamu gak terluka kan? " Tanya sang papa lembut dan perhatian
__ADS_1
" Enggak pah " Rere menunduk, dia tidak menerima luka fisik. Tapi hati nya masih sakit gagara will, sang adik yang sekarang tidak lagi menatap nya, menganggap nya seolah tak ada.
**