
Hari ini adalah hari yang berbeda, karena jika biasanya wilgas akan berangkat sekolah dengan diantar oleh supir pribadi keluarga Ergayudhi. Maka mulai sekarang wilgas memilih berangkat sekolah sendiri dengan mengendarai motor berjenis klx keluaran terbaru yang biasa di pakai oleh sang papa jika berangkat ke daerah terjal.
Wilgas melirik arloji kulit nya, Jam menunjukkan pukul 6.45 , wilgas harus segera bergegas, ia pun berangkat ke sekolah dengan kecepatan sedang, saat sampai dan membuka helm nya. Semua mata seolah tersihir melihat wilgas. Entah lah tapi sekarang wilgas sudah berbeda. Tidak di bully lagi, dan dari segi penampilan pun wilgas makin tampan dengan kepercayaan dirinya yang mulai ia tampakkan
" Tumben pake motor " Janu yang sama sama baru datang menyapa will dengan motor cbr yang sempat will tinggal di bar beberapa waktu lalu
" Suka suka lah " Will mengangkat bahu nya acuh
" Dihh songong yee sekarang " Januar meninju kecil pundak will yang malah merangkul nya. Mereka berjalan bersama menuju kelas dengan beberapa percakapan ringan
" Duluan yaa. Mau sama abim " Pamit will ketika melihat Abimanyu terlihat tengah sarapan roti di kantin
" BIM! " sentak wilgas dari belakang mengagetkan abim
Abim hanya terkejut dan tidak merespon kejahilan wilgas. wilgas pun merasa ada yang janggal, ada apa dengan teman nya ini? Will pun ikut duduk bersama abim dan menatap nya intens
" Lho.. Kenapa bim? " Tanya will cepat
Abimanyu hanya melirik wilgas sekilas lalu menggeleng dengan senyum yang terlihat di paksakan, will mencoba mencerna situasi dilihat nya sekeliling dan mencoba menerka nerka
" Galau lu? Gegara cewe itu? " Tebak will sambil menunjuk satu satunya perempuan yang sedang duduk membelakangi mereka
Abim menatap will tidak percaya dan berhenti mengunyah.
" Will? Ngaku Sekarang, kamu dukun ya?! " Ujar Abimanyu. Karena yang will ucapkan itu tidak salah, abim sedang galau Gegara hati nya yang mulai tidk bisa di kontrol ketika melihat seseorang bernama jenifer arian. Atau yang sering abim sebut jeje
***
Seperti biasanya, wilgas lebih memilih untuk school tour daripada belajar atau mari kita sebut mengulang pelajaran yang sudah dia pelajari, disinilah dia sekarang jalan jalan di Koridor sekolah yang sepi, tanpa lalu lalang siswa, ia hanya sendirian tak tentu arah, will ingat saat terakhir kali dia berjalan jalan seperti ini , yang ia temukan adalah abim yang tengah di buly di toilet pria, dan mungkin apakah ia akan menemukan hal yang serupa? Karena sepertinya, samar samar wilgas mendengar percakapan yang sedikit sensitif
" Sudah lumayan lama kita berpacaran, kenapa kamu enggak pernah mau kalo aku kontak fisik lebih sayang? " Suara itu terdengar lembut tapi memaksa
" Aahh, itu aku sedikit tidak nyaman " Cicit suara yang lebih kecil hingga tak bisa will dengar dengan jelas
" Tidak masalah sayang, tapi mungkin selanjutnya kita akan sampai di tahap permainan ranjang? " Lagi lagi suara bariton itu terdengar.
Entah kenapa will sedikit kesal dengan apa yang dia dengar.dan karena di dorong oleh rasa penasaran nya, wil memutuskan untuk melihat lebih jelas aapa yang terjadi.
Dan betapa terkejut nya wilgas ketika melihat kakak nya lah yang sedang ada di Sana. Yap Rere yang baru saja menampar pipi haikal keras
Plak!
Begitu kira kira bunyi nyaa
__ADS_1
" Jalang sialan! "
Haikal lagi lagi kalah cepat. Karena saat dia akan menampar balik, tangan nya sudh di hadang dengn cengkraman yang keras dari wilgas, Rere terlihat menutup mata nya rapat rapat
" Cih! Kau lagi kau lagi! " Remeh haikal tidak jera sambil berusaha melepas cengkraman. Sementara Rere memilih bersembunyi dii balik punggung wilgas
" Mulai detik ini! Kau ku peringat kan... " Will berucap penuh penekanan dan semakin mengeratkan cengkraman di tangan haikal membuat haikal rasanya ingin berteriak saja.
" Shhhh. Emang kau ini siapanya?! Harus memperingatk- "
"JAUHI KAKAK KU. JIKA TIDAK KAU AKAN KU BUAT MENDERITA SELAMA NYA " wilgas benar benar serius saat ini. Bahkan dia membongkar kebenaran bahwa dia dan Rere adalah Saudara kandung. Seusai mengucapkan kata yang penuh dengan ancaman dengan nada rendah itu. Will segera menarik lengan Rere pergi dari tempat sialan itu, tujuan nya adalah kantin, dimana will memberikan sebotol minum untuk Rere yang nampak masih shock.
" Wilgas? " Panggil Rere dengan takut takut membuat Rere tampak lucu di mata wilgas
" Hm? " Will berpura pura acuh saat ini
" Maaf " Ungkap Rere. Hanya itu.
Wilgas menghentikan aktifitas nya dan menatap Rere dengan tatapan yang tidak bisa di artikan..
" Re, mulai sekarang tidak ada lagi yang bisa melukaimu. Maaf kan aku yang telah menyayangi mu dengan segala ketidakberdayaan ku. Aku serius untuk melindungi mu dan takkan melepaskan orang yang mengusik mu " Will berucap lembut sambil menggenggam tangan Rere sang kakak. Menggandeng tangan nya sampai ke kelas. Tentu saja itu tak luput menjadi perhatian kakak kelas nya atau teman teman Rere. Mereka berpikir bisa bisa nya mereka seperti itu, lalu beberapa ada yaang terlihat menggoda dengan ikut mengakatan ciee ciee pada adik kakak itu. Will tampak bodo amat dan segera berlalu setelah mengantarkan Rere dengan selamat.
" Re, dari kapan sama wilgas? Haikal. Di kemanain " Goda teman teman Rere dan semua mulai berkumpul mengerubungi Rere
" Berisik elah dasar lambee turah! Denger nii. Rere sama wilgas itu sebenarnya adek kakak, ya gak re? " Itu adalah suara januar yang memotong sesi tanya tanya pada cabe di kelas rere
" Hoax ahh. Janu jangan sebar kbohongan dahh "
" Iyaa si mirip juga "
" Masa iyaa "
" Jan percaya "
Itulah kira kira komentar yang di tinggalkan netizen yang budiman dan baru terhenti ketika Rere memulai pengakuan nya
" Iya, will itu adalah adiku " Tegas Rere penuh keyakinan
***
" Will benaran Rere itu kakak kamu? " Tanya abim terlihat antusias dengan berita heboh siang tadi tentang pengakuan Rere yang sekarang sudah menjadi gosip dimana mana
" Kalo iya emang kenapa? " Tanya wilgas yang tampak sedang beres beres buku catatan nya . Padahal will hnya membawa satu buku ( buku campuran) satu pulpen dan satu penghapus. Dan yang lain nya tas wilgas hanya terlihat penuh oleh jaket yang dia kenakan sewaktu berangkat
__ADS_1
" Berarti itu berita bukan hoax dong? " Abim masih bertanya saat mereka jalan bersama menuju parkiran
" Iyaa ih anjirr bawel banget " Will mulai kesal kepada pertanyaan abim
" Awas lu kalo ngomong Rere Rere lagi. Gue gibeng lu " Kata will sambil memasang helm nya
" Will Rere.... " Abim rupanya tidak kapok yahh
" Ish! Abimanyu Haraksa!! " Murka will karena abim terus terusan membahas topik yang membuat will naik pitam. Tapi yang di lakukan abim saat ini adalah mengarahkan muka will menuju Rere yang benar benar abim maksud. Disana tampak nya haikal masih gigih mengejar Rere dan memaksa Rere sambil menarik narik tangan Rere
" Cih. Bajingan " Will mengumpat dan berlari kearah mereka
" Gak sayang nyawa?? " Tanya Will datang sambil menghempas tangan haikl yang berusaha menggapai tangan rere
" Lu apasi anjing?! Ganggu gua mulu, cuihh " Haikal meludah ke samping sepatu wilgas. Beruntung suasana terlihat sepi. Sebagian siswa sudah pulang dan yang wil lakukan sekarang adalah menarik kerah baju seragam haikal tanpa peduli terikan rere yang meminta nya berhenti.
Tanpa perasaan haikal di tarik paksa menuju bangunan belakang sekolah. Di tengah perjalanan wil bertemu dengan Januar dan meminta sepupu nya itu mengantarkan rere pulang ke rumah. Tapi saat sampai di sana terlihat seperti markas. Wilgas mana tau bukan? Bahwa sebenrnya wilgas salah memilih tempat. Fakta nya itu adalah base camp haikal. Tempat geng mereka berkumpul.
Tanpa di duga dari belakang wil sudah ada yang menarik lalu di pukul mentah mentah menyisakan sudut luka yang terpatri di wajah tampan will.
" Selamat datang di neraka wilgas " Sambut haikal dengan meriah sembari merentangkan tangan karena di belakang nya sudah berdiri beberapa antek antek haikal.
**
Wilgas pulang dengan muka lelah dan wajah yang sedikit memar di sekitar mata. Motor tak ia parkir kan ke garasi karena laki laki itu ingin segera mandi dan merebahkan dirinya di atas kasur. Pertarungan itu membuat wilgas lelah dan ingin me recharge tenaga nya
Mengabaikan sambutan rere dan orang tua nya yang sudah menunggu kepulangan remaja tampan itu
" Sejak kapan kamu hobby berkelahi wilgas? Kenapa tidak bilang? Papa bisa masukan kamu ke sanggar bela diri " Sindiran lembut sang kepala keluarga itu terlihat khawatir jika putra nya terluka seperti ini
" Will, apa yang terjadi? " Tanya sang mama
Wilgas mengehela nafas nya berat. Ada kelelahan yang tersimpan di sana
" Mama tanya saja pada putri sulung mama, barangkali dia bisa menjelaskan, will lelah. Ingin mandi dan tidur, will akan melewatkan makan malam Will, mood will sedang tidak baik, tolong kalian pahami hormon anak muda yang tidak bisa terkontrol ini " Will bertutur kata sopan sehingga menggagalkan emosi sang papa yang sudah bersiap meledak ledak itu tapi karena penjelasan will yang logis. Kali ini will bebas
" Iyaa ma pa, will itu sebenarnya.... Hanya melindungi rere "
***
Tanpa di sadari seseorang yang memakai pakaian serba hitam sudah berdiri mengintai kediaman will. Dengan lihai dia berhasil masuk dengan mudah melewati setiap pertahan rumah mewah itu. Dan sampai di jendela kamar si bungsu yang dalam sekali jentikan jari dia bisa menerobos begitu saja sambil bersidekap menunggu kedatangan sang pemilik kamar.
Ya. Wilgas sedang dalam bahaya.
__ADS_1