NOIR

NOIR
1. Kunjungan Berujung Petaka


__ADS_3

Di pagi yang cerah, Putri Lurina, putri tunggal sang raja akan berkunjung ke sebuah mata air yang diyakini oleh semua orang sebagai salah satu dari 4 mata air pembersihan.


     Mata air yang dikunjungi sang putri adalah mata air sebelah timur yang berada tepat di tengah hutan yang merupakan pusat misteri Roh dari Timur.


     Permintaan sang putri ini sempat menggemparkan seluruh isi kerajaan, karena baru kali ini anggota kerajaan meminta untuk berkunjung ke hutan itu, hutan yang dimana terdapat mitos-mitos yang masih dipercayai rakyat kerajaan. Ditambah lagi dengan adanya Roh dari Timur, misteri yang mendiami wilayah itu.


     Putri Lurina beralasan, ia ingin berkunjung ketempat itu untuk membuktikan bahwa hutan timur itu tidaklah menyeramkan seperti apa yang diceritakan oleh orang-orang dan mata air nya pasti sangat indah dan tak kalah segar dari 3 mata air lainnya.


     Was-was akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada putri semata wayangnya itu, sebelum berangkat sang raja membentuk sebuah pasukan elit jauh-jauh hari. Pasukan ini terdiri dari prajurit-prajurit kerajaan yang sudah kenyang akan pertempuran.


     Sang raja mengumpulkan prajurit elitnya hanya untuk mengawal sang putri selama kunjungannya ke hutan paling timur itu.


     Setelah dibentuk pasukan khusus untuk pengawalannya, Putri Lurina pun segera berangkat. Meskipun telah membentuk pasukan khusus, namun sang raja tetap mengkhawatirkan putri tercintanya.


     Bukan karena hal lain yang menjadi kekhawatiran sang raja, tetapi tempat tujuannya lah yang menjadi kekhawatiran terbesar sang raja terhadap Putri Lurina.


...-----...


     Rombongan Putri Lurina pun tiba di mata air itu beberapa saat setelah matahari sedikit bergeser dari atas kepala.


     Sebelum melakukan pembersihan di mata air itu, para prajurit dibawah perintah komandan pengawal memasang tembok lipat yang terbuat dari bambu untuk menutupi seluruh area mata air itu agar tak ada satupun orang yang mencoba untuk mengintip ataupun mengganggu sang putri beserta dayang nya ketika melakukan pembersihan. Jika ada satupun yang berani mengganggu keluarga kerajaan maka kepalalah yang menjadi bayarannya.


     Setelah memasang tembok lipat tersebut, para prajurit tadi pun pergi berjaga disekitad mata air itu agar keamanan sang putri terjamin.


     Awalnya, keadaan disekitar masih aman, belum ada satupun tanda-tanda gangguan yang muncul. Hanya kelinci, kancil, dan hewan-hewan hutan lainnya yang masih terlihat berlalu lalang di jalur menuju mata air tersebut.


     Namun, beberapa menit kemudian keadaan mulai berubah. Satu per satu pemanah elite pengawal sang putri tumbang dari atas pohon. Pimpinan pengawal pun mulai memastikan, serangan musuh sudah jelas. Tanda bahaya pun segera dibunyikan.


     Dengan segera, Komandan Baxter, pemimpin pegawalan sang putri, memerintahkan pasukannya untuk bersiap menyerang.


     Mereka menduga ini merupakan

__ADS_1


amarah dari Sang Noir yang tak suka mata air nya di nodai oleh siapapun, termasuk sang putri. Terlihat 5 kelebatan bayangan muncul tepat di atas mereka.


     Sebenarnya ada berapa sosok Noir yang mendiami tempat ini? gumam Komandan Baxter.


     Tak lama kemudian muncul pemanah-pemanah berjubah biru gelap dari dalam semak. Mereka pun tampak maju perlahan sambil mengarahkan panah mereka kearah sang putri dan pasukannya.


     "SIALAN!!! SIAPA KALIAN!!!" bentak Komandan Baxter sambil mengacungkan pedangnya yang mengkilap.


     "Maaf komandan, tapi sepertinya kau dan pasukanmu harus berakhir disini," ucap seorang pengawal sang putri yang berada dibagian belakang.


     Setengah pasukan yang mengawal sang putri tertawa mendengar ucapan prajurit yang lancang tadi.


     Komandan Baxter terkejut, karena pasukannya sendiri telah disusupi pengkhianat.


     "BEDEBAH!!! KALIAN PENGKHIANAT RUPANYA!!!" geram Komandan Baxter.


     "HABISI MEREKA!!!" perintah seseorang dari dalam bayangan pepohonan.


...-----...


     Salah seorang dayang pun mulai peka dengan situasi yang ada, "Sepertinya ada serangan musuh!"


     "Ayo tuan putri, kita harus bergegas," kata seorang dayang yang mulai merasa khawatir. Mereka pun segera berpakaian dan bergegas meninggalkan tempat itu


     Ketika mereka akan meninggalkan mata air itu, para pengkhianat tadi menemukan keberadaan sang putri.


     "Itu mereka!!! Cepat selesaikan!!!" perintah seorang prajurit yang berkhianat tadi sambil menunjuk kearah mereka.


     Salah satu dayang dengan cepat menarik tangan sang putri untuk segera lari meninggalkan hutan itu. Sedangkan dayang lainnya mencoba untuk melawan sambil menahan para pengkhianat itu.


     Dengan sekuat tenaga, mereka pun berlari sejauh mungkin tanpa tahu arah tujuan. Yang jelas hanya satu, lari atau mati. Kali ini, pasukan pemanah berjubah yang mengejar mereka. Satu per satu dayang Putri Lurina yang masih tersisa mencoba untuk menahan mereka. Namun dayang-dayang itu dengan mudah diselesaikan oleh para pemanah itu.

__ADS_1


     Tersisa Putri Lurina seorang yang terus belari. Anak panah tak henti-hentinya menghujani setiap langkah kakinya. Tetapi sang putri harus terus berlari meskipun ia sudah merasa putus asa.


     Hingga pada akhirnya pelarian sang putri terhenti ketika berada tepat di pinggir jurang yang dibawahnya terdapat sungai dengan aliran yang cukup deras.


     Para pemanah itu pun berhenti tepat di depan sang putri.


     "Cantik, putih, dan anggun. Kau memang makhluk yang indah tuan putri," puji seseorang dari balik bayangan. Tampaknya ia adalah pemimpin para pengkhianat itu.


     "Tetapi sayang, bos besar memerintahkan kami untuk mengakhiri hidupmu dari dunia ini," lanjutnya.


     "Jangan, aku mohon!!!", ucap sang putri sambil bertekuk lutut dan memohon untuk dibebaskan.


     Orang itupun menampakan dirinya. Sontak, sang putri terkejut melihatnya. Rupanya, salah seorang petinggi kerajaan yang menjadi dalang penyerangan itu. Tak lain adalah Tesserarius Hans, pemimpin pengawal sang raja.


     "Paman Hans???" ucap sang putri yang tak menyangka semua ini.


     Komandan Hans pun hanya menatap tajam Putri Lurina. Ia tak mengatakan sepatah katapun setelah sang putri melihat dirinya dibalik penyerangan ini. Tak mau membiarkan rencananya gagal, Komandan Hans pun mengangkat tangan kanannya sebagai kode untuk para pemanahnya.


     "Selamat tinggal, Putri Lurina," ucap Komandan Hans kepada sang putri.


     Ia pun kemudian mengayunkan tangan kanannya, kode untuk para pemanah menghabisi Putri Lurin.


Para pemanah pun menembakkan anak panahnya kearah Putri Lurina yang terus memohon ampun kepada mereka. Puluhan anak panah pun melesat kearah sang putri.


     Angin kencang tiba-tiba menghempaskan puluhan anak panah itu.


     Beberapa pemanah Komandan Hans memegangi dada mereka. Rupanya anak panah yang mereka lesatkan tadi menembus dada mereka sendiri.


     Komandan Hans pun terkejut dengan kehadiran sesosok bayangan hitam yang berdiri tepat dihadapannya. Spontan, ia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur. "MUNDUR!!!"


     Perlahan, sosok itu menampakan wujud aslinya. Ia terlihat mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya ditutupi seperti topeng. Ia berdiri tegak dengan pandangan yang tertuju kearah Komandan Hans dan pasukannya.

__ADS_1


     "Kau...," kata Komandan Hans sambil menunjuk kearah sosok misterius itu.


...-----...


__ADS_2