NOIR

NOIR
Mengungkap Tujuan


__ADS_3

Raut wajah nenek dan cucunya itu sedikit berubah mendengar asal sang putri. Sang nenek rupanya sedikit menyesal menanyai asal sang putri.


Cucunya melirik kearah sang nenek, begitupun sebaliknya. Mereka seakan saling melempar kode, bahwa tamu mereka itu adalah orang yang tak terduga.


"Baiklah kalau begitu, beristirahatlah tuan putri, aku mau ke kamarku sebentar," ucap sang nenek.


Sambil beranjak pergi, nenek itu kembali melemparkan lirikan ke cucunya, memberikan kode untuk mengikutinya.


Tak berapa lama sang nenek pergi, barulah cucunya mengikuti.


...-----...


"NENEK! KAU DIMANA?"


"KEMARILAH!"


Gadis itu tiba di depan pintu kamar sang nenek. Ia melihat neneknya sudah menunggu disana.


"BAGAIMANA INI NEK?"


"Aku juga tidak tahu. Apa kau dan ayahmu tadi tidak melihat pakaiannya?"


"Dia mengenakan baju itu ketika kami menemukannya. Dia juga tidak membawa apa-apa... Hanya tangan kosong saja."


Sang nenek hanya menghela napas panjang. Ia benar-benar tak menduga asal Putri Lurina.


"Kau tahu, dia tidak akan bisa hidup di tempat ini. Rakyat desa tidak suka orang-orang yang berasal dari kerajaan itu. Kita bisa saja menerimanya, tapi... Yang jelas rakyat desa bisa murka kalau kita ketahuan menyembunyikannya di rumah kita."


"Lalu... Sekarang bagaimana?"


Ditengah pembicaran mereka berdua, tiba-tiba ayah tiba.


"Dia sudah sadar?" tanya sang ayah.


Nenek dan cucunya itupun menoleh kearah pintu. Raut wajah mereka tampak senang.


"AYAH!!!"


"Apa yang kalian bicarakan dari tadi? Rupanya sangat serius."


"Duduklah nak."


"Ada apa ibu?"


"Gadis yang kau tolong itu... Dia tidak bisa hidup di desa ini."


Pria itu kebingungan dengan perkataan ibunya. "Memangnya kenapa bu? Apa kalian menemukan informasi tentangnya?"


"Tadi nenek menanyai asalnya... Dan dia mengatakan berasal dari Urkhy," jawab gadis itu.

__ADS_1


Ayahnya tak menyangka bahwa orang yang ditolong berasal dari Urkhy. "URKHY?"


Ibunya pun memperjelas identitas sang putri. "Iya nak, dia juga seorang putri dari kerajaan itu."


Pria itu masih tampak kebingungan. Ia tak berkata sepatah katapun. Suasana diruangan itu pun menjadi sepi. Mereka terdiam memikirkan cara terbaik untuk sang putri.


Pria itu kemudian bangkit dan berdiri di pintu kamar, menatap ke kamar yang ditempati sang putri.


"Kita harus menyembunyikan identitasnya untuk sementara!"


Sontak, putri dan ibunya terkejut dengan jawaban pria itu.


"TAPI AYAH..."


     Pria itu menoleh kearah putrinya. Dengan raut wajah yang serius, ia yakin bahwa Putri Lurina memiliki masalah serius hingga harus menuju ke desa mereka.


     "Percayalah, kita bisa menyembunyikan identitasnya sementara waktu. Aku akan mencari tahu kebenarannya langsung."


Mereka bertiga hanya saling bertatapan.


Sang ayah kemudian beranjak ke kamar yang ditempati Putri Lurina untuk menemuinya.


Sesampainya di pintu kamar sang putri, ia melihat Putri Lurina sedang memandang kearah luar jendela. Ia melihat pemandangan desa yang begitu indah dari kamarnya.


"Nona?"


Putri Lurina menoleh kearah pintu.


"Bisa... Kita bicara sebentar?"


Putri Lurina pun mengangguk. Ia pun dipersilahkan untuk duduk.


"Syukurlah nona telah sadar. Sebelumnya perkenalkan, Aku Arturo, panggil saja Artur. Aku yang menemukanmu di jalan masuk ke desa ini. Gadis tadi bernama Chiara, dia putriku, dan nenek-nenek itu adalah ibuku, namanya Eliana."


Putri Lurina menyambut perkenalan itu dengan hangat, ia pun memperkenalkan dirinya juga.


"Aku Lurina. Terima kasih banyak, karena Pak Artur dan keluarga mau menolongku."


"Sama-sama, itu semua karena rasa kemanusiaan yang ada di dalam diri kita masing-masing nona. Maaf sebelumnya, sebenarnya nona ini berasal dari desa atau kerajaan mana? Sekali lagi maaf, dari pakaian yang nona kenakan, sepertinya nona ini berasal dari keluarga yang berada."


     "Ah iya, aku lupa memberitahu asalku. Aku berasal dari Kerajaan Urkhy, dan... Yang Pak Artur katakan itu benar, aku putri Raja Clodoveo, raja di Kerajaanku."


Jadi memang benar, dia anggota kerajaan, gumam Artur.


"Maaf tuan putri, sebenarnya... Ada apa? Kenapa putri bisa pingsan di depan pintu desa ini?"


Putri Lurina pun menjelaskan semuanya dari awal hingga bagaimana ia tak sadarkan diri di pinggir jalan menuju desa itu.


"Sosok hitam?"

__ADS_1


"Iya, Sosok hitam. Menurut cerita yang kudengar, orang-orang menyebutnya Noir. Dia lah yang menunjukkanku desa ini."


Arturo sedikit terkejut mendengar Putri Lurina diarahkan oleh Noir ke desa ini.


Noir ikut terlibat dalam hal ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkin, kalau masalah gadis ini terjebak dalam rencana pembunuhan di hutannya itu memang bisa memancingnya keluar, tapi kenapa ia sampai terlibat sejauh ini? Apa ada sesuatu dari gadis ini? gumam Arturo yang masih kebingungan.


"Baiklah kalau begitu, putri bisa tinggal disini sementara waktu. Mungkin kehidupan disini sangat jauh berbeda dengan istana. Maaf kan aku jika anda merasa tidak nyaman di rumah kami."


"Eh, tidak... Aku merasa nyaman di rumah anda, meskipun ini di desa, namun tempat ini sangat indah dan nyaman. Jarang sekali bisa melihat pemandangan seindah ini. Malah, aku sangat berterima kasih kepada anda dan keluarga anda karena memgizinkanku untuk tinggal disini. Anda juga tidak perlu memanggilku putri, lagipula ini di luar istana bukan?"


Arturo pun tersenyum melihat kebaikan hati sang putri. "Baiklah Nona Lurina."


Arturo pun berdiri dan siap beranjak meninggalkan sang putri untuk berisitirahat. "Kalau begitu aku akan membiarkanmu istirahat, sapi-sapi ku rupanya sudah menunggu rumput yang aku bawa."


Putri Lurina tertawa kecil mendengar perkataan Arturo. "Baiklah Pak Artur."


Arturo beranjak pergi dan membiarkan Putri Lurina untuk beristirahat.


Baru saja ia keluar dari kamar Putri Lurina, tiba-tiba sang anak memanggilnya.


"Pssst... Ayah!!"


Gadis itu melambaikan tangannya, memanggil sang ayah.


"Disini!"


"Apa...!" jawab Arturo dengan nada berbisik juga.


"Nenek memanggilmu!"


Ia pun bergegas menghampiri sang ibu.


"Bagaimana nak?"


"Iya itu benar, dia berasal dari Urkhy. Dia mengatakan bahwa dirinya menjadi target pembunuhan sekelompok pengkhianat dari kerajaannya juga, ketika dirinya sedang berkunjung ke hutan tempat Noir berada. Ia juga diselamatkan oleh Noir dan menyarankannya untuk bersembunyi di desa ini."


Ibunya kaget mendengar Noir terlibat langsung untuk menyelamatkan Putri Lurina. "Noir? Maksudmu Sang Penjaga? Melindungi gadis itu, dan menyuruhnya untuk bersembunyi disini? Apa yang terjadi hingga membuatnya terlibat sejauh itu?"


"Aku tidak tahu ibu, aku juga terkejut mendengar Sang Penjaga mau menampakkan dirinya dengan jelas dihadapan orang lain, bahkan melindunginya mati-matian. Oleh sebab itu, besok atau mungkin beberapa hari lagi aku akan mencoba untuk menemuinya. Aku yakin, gadis itu sepertinya memiliki keistimewaan sehingga ia mau menampakkan dirinya, apalagi dengan keluarga kerajaan."


"Ayah akan pergi? Sendirian?"


"Mau bagaimana lagi? Ia sangat jarang menampakkan dirinya kecuali orang yang dianggapnya layak untuk melihatnya secara langsung."


"Baiklah kalau begitu. Tetaplah jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu lama meninggalkan desa."


"Iya ayah, jaga dirimu baik-baik. Besok aku akan membantumu menyiapkan perlengkapan yang akan kau bawa."


Arturo pun mengangguk dan mengiyakan pesan sang ibu dan anak gadisnya itu.

__ADS_1


......-----......


__ADS_2