NOIR

NOIR
Pemutus Penderitaan


__ADS_3

Hari menjelang fajar, tampak seekor kuda tengah menanti seseorang di di depan rumah.


"Baiklah... Aku berangkat."


Arturo keluar dari dapur rumahnya, bersama putri dan ibunya, begitu juga Putri Lurina yang menyusul dibelakang.


"Hati-hati di jalan Nak. Segeralah pulang jika urusanmu telah selesai."


Chiara mengangguk memberi kode dirinya mengiyakan kata sang nenek.


"Hm Hm... Benar kata nenek. Cepatlah pulang, ayah."


"Tentu saja, aku akan segera pulang sebelum matahari terbenam."


Arturo pun melihat kearah Putri Lurina.


"Ah... Maafkan aku nona, harus meninggalkan tamu seperti anda di pagi buta seperti ini. Aku... Jadi tidak enak."


Putri Lurina tersenyum mendengarnya.


"Tidak apa-apa, Pak Artur. Semoga urusanmu berjalan lancar."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


Arturo pun menaiki kudanya dan siap untuk memulai perjalanannya menuju Hutan Timur.


Putri Lurina tak menaruh curiga bahwa Arturo akan pergi menemui Noir.


Ia juga bukan tipe orang yang ingin tahu segala urusan orang lain, jadi ia hanya mengantarkan Arturo bersama keluarganya tanpa tahu apa dan ke mana ia akan pergi.


Yang jelas, Arturo akan pergi menyelesaikan urusan, itu saja.


-----


Matahari telah menyinari bumi. Udara sejuk khas pedesaan mengiringi terbitnya sang fajar.


Dari jendela kamarnya, Putri Lurina bisa melihat pemandangan desa yang berada di bawah, begitupun keramaian yang mulai terlihat di tengah-tengahnya.


"Nona?"


Lurina menoleh kearah pintu.


"Chiara? Ada apa?"


"Maaf mengganggumu, aku ingin pergi kebawah untuk membeli beberapa keperluan, kau mau ikut?"


Mendengar ajakan gadis kecil itu, tentunya Lurina tak bisa menolak. Apalagi ia sangat ingin mengenal desa itu lebih dekat.


"Hm... Aku mau!"


"Baiklah, kalau begitu ini, ganti pakaianmu. Aku sedikit lelah melihatmu menggunakan pakaian itu," kata Chiara yang tak ingin Putri Lurina terganggu dengan pakaiannya jika beraktivitas di lingkungan seperti itu. "Ini pakaianku, jadi pakailah untuk sementara waktu."


Putri Lurina pun mengangguk dan bergegas untuk mengganti pakaiannya.


Setelah mengganti pakaiannya, ia telah ditunggu oleh Chiara dengan kereta sapi ayahnya.


"Nona!!!" panggil Chiara sambil melambaikan tangan kearah Putri Lurina yang baru saja keluar dari kamarnya.


Ia bergegas mendekati Chiara yang sudah menunggunya.


"Kau bisa membawa ini?" tanya Putri Lurina yang tak yakin Chiara bisa membawa kereta itu.


"Heeeh... Jangan ragukan aku. Terkadang kalau bawaan kami cukup banyak dari pasar malah ayahku lah yang menjaga bawaan kami dibelakang."


Putri Lurina pun tertawa mendengar hal itu. "Baiklah baiklah, aku naik."

__ADS_1


"Oh iya, tunggu sebentar nona."


"Hm? Ada apa?"


Tiba-tiba saja...


"NENEK!!! KAMI PERGI DULU!!!"


Sontak, Putri Lurina terkejut mendengar teriakan Chiara. Suaranya yang begitu keras benar-benar membuatnya terkejut.


"HATI-HATI!" sahut sang nenek dari dalam.


"Baiklah, ayo kita ber-"


Chiara kebingungan melihat Putri Lurina yang mengelus dadanya.


"Eh? Ada apa?


Dengan raut wajah yang masih syok, dia menggelengkan kepalanya diiringi dengan senyuman kecil. "Tidak... Tidak apa-apa."


"Kau yakin?"


"Ma-maafkan aku... Tapi... Suaramu besar sekali."


Chiara tertawa mendengar Putri Lurina terkejut dengan suaranya yang begitu besar.


"Ohh... Hahaha... Jadi kau terkejut hanya karena suaraku?"


"I-iya, aku tak menyangka seorang gadis memiliki suara seperti seorang laki-laki."


"Aku tidak bisa berbicara lemah lembut seperti dirimu, rasanya risih. Bagaimana mau terdengar kalau mau berbicara jarak jauh, mungkin seekor semut pun tak akan mendengarnya."


Putri Lurina tersipu malu dengan perkataan Chiara yang menyinggung suaranya yang lemah lembut. "Ini juga karena didikan di istana."


"Haaaah... Istana itu tempat yang aneh ya. Hal-hal tak penting seperti itu diperhatikan."


Chiara mengambil tali kemudi keretanya.


"Baiklah kalau begitu, ayo berangkat! Ceritanya nanti saja diperjalanan"


Mereka pun berangkat menuju ke pusat desa.


-----


Kegelapan menyelimuti setiap ruangan yang ada di sebuah gua tersembunyi . Hanya ada beberapa obor menyinari sebuah lorong yang cukup lebar.


Diujung lorong yang gelap, terlihat seseorang tengah berlutut menghadap sebuah gerbang besar yang terbuka lebar. Tak hanya berlutut, ia juga berbicara dengan seseorang yang rupanya berada di sisi gelap gerbang itu.


"... tidak ada lagi kegagalan. Jangan kau lepaskan kelinci kecil itu lagi," ucap seseorang yang berada di dalam kegelapan itu.


"Kali ini aku yakin, tak butuh waktu lama, kelinci itu akan datang kembali ke kandangnya," jawab pria yang tengah berlutut.


"Tangkap dan bawa dia kesini secepatnya. Dan jangan lupakan pengawalnya, dia juga bagian terakhir untuk menyelesaikan rencana kita."


"Baiklah," pria itu lalu berdiri dan meninggalkan gerbang yang gelap itu.


Dengan jubah yang melambai di belakangnya, tampaknya dia bukan orang biasa.


-----


Suara langkah kaki kuda terhenti di tengah hutan.


Arturo turun dari kudanya. Ia melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan sekitar.


Ia menggiring kudanya lalu mengikatnya di salah satu pohon. Ia pun pergi meninggalkan kuda itu dan berjalan beberapa meter ke arah semak yang rimbun.

__ADS_1


Sambil berjalan, pria itu menenteng tasnya sambil mencari sesuatu di dalamnya.


Banyak semak-semak yang ia lalui, akhirnya pria itu sampai di depan sebuah mulut gua.


Ia pun mengeluarkan sebuah pisau melengkung yang disebut karambit. Karambit itu begitu hitam, bukan karena sesuatu tetapi warnanya memang seperti itu, sama seperti belati hitam yang diberikan Noir kepada Putri Lurina.


Arturo menggenggamnya dan meluruskan tangannya ke depan. "Aku menemuimu!"


Hembusan angin menghantam dirinya dari arah depan, namun badannya tak bergerak sedikitpun.


Partikel-partikel hitam mulai memadat, membentuk sebuah sosok. Sang Noir sudah berada di depannya, namun tak sepenuhnya tubuhnya berbentuk. Kakinya tak nampak, hanya sampai dibagian paha.


"Apa kabarmu? Arturo?" ucap sosok penunggu hutan itu.


"Baik... Tuan Noir."


Arturo menurunkan tangannya dan menaruh kembali karambit itu ke dalam tasnya.


"Apa... Sesuatu yang penting menarikmu datang kemari?"


Arturo mengangguk.


"Baiklah."


Noir membalikkan badannya dan pergi memasuki gua itu sekaligus memberi kode kepada Arturo untuk mengikutinya.


Sang Noir yang melayang seperti hantu tak membuat Arturo ketakutan, seperti ia sudah mengetahui, siapa sebenarnya sosok yang dihadapannya itu.


Sebuah cahaya telah menanti kedatangan mereka. Dari dekat, sebuah api unggun telah menyala di tengah gua itu.


"Duduklah," kata Sang Noir mempersilahkan tamunya itu.


Arturo pun duduk tanpa ragu, di sepotong batang kayu yang sudah disiapkan sebagai alas duduk.


"Ceritakanlah," kata Sang Noir.


"Mungkin... Tanpa perlu bercerita, kau sudah mengetahui apa tujuanku kesini bukan?"


Sang Noir hanya terdiam, menatap ke arah api unggun itu.


".... Gadis itu," lanjut Arturo.


Sang Noir mendekat kebelakang Arturo dan berdiri membelakanginya.


"Aku... Menitipkannya padamu," jawabnya.


Tiba-tiba Arturo bangkit dan membalikkan badannya, menghadap Sang Noir. Dengan nada emosi, Arturo bertanya kepada Noir.


"TAPI KENAPA?"


Lagi-lagi Noir tak memberikan jawaban, ia hanya menghadap kearah dinding gua.


"KENAPA... KENAPA KAU MENGIRIMKAN MASALAH KEPADAKU? KAU TAHU KAN GADIS ITU BERASAL DARIMANA?"


"Duduklah. Kendalikan emosimu, akan ku jawab semua pertanyaanmu itu," jawab Noir.


Arturo mendengarkan perkataannya. Ia menenangkan dirinya dan kembali duduk. Sang Noir pun berpindah posisi, kali ini ia berada di seberang Arturo.


"Gadis itu... Akan menjadi... Pemutus penderitaanmu dan seluruh warga desamu."


Arturo yang sedari tadi tak menatap dirinya, tiba-tiba ia menatap Sang Noir dengan wajah kebingungan.


"Apa maksudmu?" tanya nya.


-----

__ADS_1


__ADS_2