NOIR

NOIR
3. Pangeran yang Berkhianat


__ADS_3

Raja Clodoveo yang sedari tadi hanya menunduk terdiam tiba-tiba menunjukkan raut wajah amarah yang luar biasa. Pupil matanya membesar mendengar perkataan Carlustinus tentang rencana pembunuhan putrinya.


     Raja Clodoveo pun bangkit dari kursinya dengan penuh amarah.


     "APA... APA LAGI YANG INGIN KAU LAKUKAN PADA KELUARGAKU! PENGKHIANAT!!!"


     Seisi ruangan pun senyap melihat amarah sang raja.


     "TIDAK PUAS KAH KALIAN MENAHAN KAMI DAN MENGGUNLINGKAN PEMERINTAHANKU??? SEKARANG MAU KALIAN APA KAN LURINA???"


     "MAU KALIAN APA KAN BEDEBAH!!! MAU KALIAN APA KAN!!!" bentak Raja Clodoveo sambil menghantamkan tangannya kemeja.


     Seseorang dari balik gorden muncul dan menjawab pertanyaan sang raja.


     "Lurina mungkin sudah menikmati mimpi indah yang panjang..." jawabnya.


     "... Kakak."


     Raja Clodoveo melihat kearah orang itu.


     "KAU....,"


     Orang itu mengenakan baju khas keluarga kerajaan dengan rapi. Sang raja terkejut bukan main, orang yang menjawab pertanyaannya adalah adiknya, Pangeran Roderick.


     "APA YANG KAU LAKUKAN DISINI ROD? CEPAT PERGI!" perintah sang raja.


     Namun, Raja Clodoveo melirik kearah tangan Pangeran Roderick. Ia tampak tak memakai borgol atau alat apapun yang menahannya. Raja Clodoveo pun menatapnya.


     "Rod?... Kenapa?... Kenapa kau bebas begitu saja? Apa yang sebenarya terjadi" tanya Raja Clodoveo.


     Nikolaus pun melangkah mendekati Pangeran Rod.


     "Satu kejutan lagi untuk anda Tuanku."


     Nikolaus membalikkan badannya dan menatap Raja Clod dengan senyuman.


     "Dia lah yang ikut membantu kami,"  kata Nikolaus dengan senyuman.


     Raja Clod dan pengikutnya menggelengkan kepalanya. Mereka tak menyangka ada keterlibatan salah satu keluarga kerajaan dalam kudeta itu.


     "Jangan bercanda Rod...," ucap Raja Clodoveo


     "Mustahil...," sambung Jenderal  Evrard.


     "TAPI KENAPA PANGERAN? APA MASALAHMU DENGAN YANG MULIA RAJA?" tanya Jenderal Dusten.


     Mereka berempat tak mendapat respon apapun dari Pangeran Roderick. Mereka hanya ditertawakan oleh para pengkhianat itu.


     Pangeran Roderick hanya menatap kosong mereka berempat. Auranya pun sangat dingin.


     Raja Clodoveo yakin adiknya itu tidak mungkin melakukan hal licik seperti ini. Tapi pendapatnya goyah, karena Pangeran Roderick menunjukkan dirinya secara langsung dihadapannya bahwa dirinya memang terlibat dalam kudeta ini.

__ADS_1


     Raja Clodoveo juga menyadari bahwa perlawanan pihak istana bisa dipatahkan dengan mudah, bahkan tak ada perlawanan berarti dari pihaknya, karena ada campur tangan dari adiknya.


     Tawa riang dari para pengkhianat itu tak henti-hentinya mengisi telinga Raja Clod dan pengikutnya.


     Namun, Raja Clodoveo dan pengikutnya hanya bisa terdiam mendengar tawa penghinaan itu.


...-----...


     Langkah kaki terdengar jelas. Raja Clodoveo dan pengikutnya dibawa oleh 4 prajurit bersenjata lengkap menuruni sebuah anak tangga yang minim penerangan. Hanya ada obor yang digantung di setiap tembok sebagai penerangan mereka menuju ke sebuah ruangan.


     Tangan mereka terhubung dengan rantai yang dikaitkan pada borgol yang berada ditangan mereka. Mereka pun diperintahkan mengenakan pakaian pekerja paksa oleh pengkhianat-pengkhianat itu.


     Mereka menerima kenyataan yang ada. Mereka akan dipenjarakan.


     Tak berapa lama, mereka pun akhirnya sampai di penjara bawah tanah. Samar-samar terlihat ada sebagian orang sudah berada di ruangan itu.


     "Yang Mulia!"


     Kalimat itu menyambut kedatangan sang raja dalam penjara itu.


     Raja Clodoveo mencoba melirik.


     Rupanya mereka adalah orang-orang yang masih setia dengannya. Baik petinggi militer maupun pemerintahan ada dalam ruangan itu. Tak terkecuali keluarga Raja Clodoveo.


     Raja Clodoveo tak berekspresi. Ia hanya menatap mereka degan wajah lesu.


     "MASUK!" perintah prajurit yang membawa mereka menuju penjara itu.


...-----...


     Mayat bergelimpangan dimana-mana. Terlihat Sang Noir masih berdiri di tempat yang sama, dihadapan Putri Lurina.


     Putri Lurina menyaksikan sendiri bagaimana Sang Noir menghabisi seluruh pengkhianat itu tanpa susah payah, termasuk Komandan Hans.


     Putri Lurina hanya bisa terdiam melihat pembantaian itu.


     Belum lama mereka dihabisi oleh Sang Noir, tiba-tiba saja seseorang bangkit ditengah mayat-mayat itu. Ia berjalan tertatih-tatih kearah sang putri dengan beberapa anak panah yang masih menancap ditubuhnya.


     Sang Noir bergeser dari tempatnya berdiri, seakan ia ingin Putri Lurina melihat orang itu.


     Sang Putri kebingungan, bagaimana bisa orang itu masih bisa bangkit setelah ratusan anak panah menghujani tubuhnya.


     *Bruggggh


     Orang itu tak mampu lagi melangkahkan kakinya. Ia terjatuh sebelum mendekati sang putri. Samar-samar ia mengucapkan sesuatu.


     "Dekati dia!"


     Tiba-tiba saja Noir memerintahkan Putri Lurina untuk mendekati orang itu.


     Jelas sang putri terkejut mendengar perintah Sang Noir. Ia pun berdiri dan memberanikan diri untuk mendekati orang itu.

__ADS_1


     Perlahan ia melangkahkan kakinya untuk memastikan orang itu tak akan menyerangnya secara tiba-tiba. Sesekali ia menoleh kebelakang untuk memastikan Sang Noir tak akan meninggalkannya, meskipun ia masih ragu apakah sosok itu ada dipihaknya atau bukan.


     "Tu-tu-an... Pu-tri..."


     Putri Lurina terkejut mendengar orang itu masih mampu berbicara.


     "PAMAN HANS!"


     Tampaknya Komandan Hans masih bertahan dari serangan tadi. Ia menyuruh sang putri untuk mendekatinya dan memastikan bahwa kali ini ia benar-benar sudah tak berdaya.


    


     "Men-de-kat... lah... putri. Aku... tak akan me-lukaimu."


     Putri Lurina mendekatinya meskipun ia ragu.


     "Dengarkan aku.... Akan menyampai--kan... Hal... Penting."


     "...Jangan kembali... Ke... Istana... Pergilah... Sejauh... Mungkin...," kata Komandan Hans dengan sisa-sisa tenaganya.


     Putri Lurina kebingungan dengan ucapan Komandan Hans. Ia menanyainya, sebenarnya apa yang sedang terjadi di istana.


     Tetapi sayang, itu adalah kalimat terakhir dari Komandan Hans. Putri Lurina tak mendapatkan informasi lebih detail tentang keadaan di istana.


     "Beristirahatlah dengan tenang, Paman."


     Putri Lurina memberikan penghormatan terakhir kepada Komandan Hans sebelum ia beranjak mendekati Sang Noir.


     "Kau harus pergi," kata Sang Noir melihat Putri Lurina yang kebingungan.


     "Tidak. Aku akan kembali. Aku harus memastikan semuanya!" jawab Putri Lurina dengan penuh keyakinan.


     "Dengan rasa takut yang masih menyelimuti hati dan pikiranmu?"


     Putri Lurina hanya terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia juga tak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini.


     "Orang itu berkata jujur, sesuatu sedang terjadi di istanamu."


     "Lebih baik kau pergi ke tempat yang aman sebelum kembali lagi ke istanamu."


     Sang Noir beranjak pergi setelah meyakinkan Putri Lurina untuk tak kembali ke istana.


     "LALU KEMANA AKU HARUS PERGI?"


     Langkah kaki Sang Noir terhenti. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban.


     "Ikuti aku," jawab Sang Noir.


     Putri Lurina masih ragu dengan Sang Noir. Pasukan Komandan Hans terbantai begitu saja olehnya, cerita yang beredar, dan penampilannya yang menyeramkan benar-benar membuat Putri Lurina ketakutan setengah mati. Namun, ia tak punya pilihan lain selain ikut dengannya.


     Putri Lurina juga merasa apa yang dikatakan Komandan Hans memang benar, meskipun sebelumnya dia berniat untuk menghabisi dirinya.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2