NOIR

NOIR
Perpisahan


__ADS_3

Cahaya matahari terlihat jelas di ujung sana. Sang Noir dan Putri Lurina akhirnya sampai diujung hutan itu.


"Pergilah ke tempat itu," kata Sang Noir sambil menunjuk kearah sebuah desa yang dikelilingi hijaunya padang rumput.


Putri Lurina keheranan melihat keindahan desa itu dari jarak jauh. Ia pun baru mengetahui bahwa ada sebuah desa kecil di belakang hutan paling timur kerajaannya itu.


Ia menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa itu memang sebuah desa yang masih ditinggali.


"Aku baru tahu ada sebuah desa dibelakang hutan ini. Apa desa itu masih hidup?"


"Tidak mungkin aku menyarankanmu tinggal di sebuah desa mati," jawab Sang Noir dengab nada datar.


Putri Lurina menoleh kearah Sang Noir. Iya tersenyum mengetahui pertanyaannya yang terdengar konyol itu.


"Lalu, sampai kapan aku akan tinggal disana?"


"Aku tidak bisa menjamin kau akan kembali secepatnya ke istana."


Putri Lurina sedikit kecewa mendengar jawaban Sang Noir. Iya semakin yakin bahwa sesuatu sedang terjadi di istananya.


"Kau tidak perlu bersedih, sewaktu-waktu aku akan mengajakmu melihat kondisi keluargamu di istana," hibur Sang Noir.


"Sampai Jumpa."


Baru saja Sang Noir akan beranjak pergi, Putri Lurina kembali melontarkan pertanyaan. "Siapa kau sebenarnya?"


"Siapa aku bukanlah hal penting yang harus kau ketahui. Yang terpenting saat ini adalah kau harus berkembang. Aku yakin kau tahu keluargamu sedang dalam bahaya, bukan dirimu saja."


Sang Noir pun menoleh kearah Putri Lurina. "Oleh sebab itu, kau harus berkembang untuk menjadi kuat. Itu sebabnya aku menyarankanmu pergi ke desa itu. Disanalah kau bisa tumbuh sebagai gadis yang kuat."


Sang putri terdiam sekaligus kagum mendengar perkataan Sang Noir. Ia tak menyangka bahwa sosok yang selama ini seluruh orang takuti memiliki hati yang mulia dan bijaksana. Ketakutan dan keraguannya seakan sirna begitu saja mendengar perkataannya.


"Apa suatu saat kita bisa bertemu lagi?" Putri Lurina tertunduk malu dengan pertanyaannya sendiri.


Sang Noir menyerahkan sebuah belati hitam kepada Putri Lurina. "Ambilah."


Putri Lurina tertegun melihat hitamnya belati itu.


"Jika kau kembali ke hutan ini, cukup bawa belati ini. Aku pasti akan menemuimu."


Meski belum mengetahui identitas asli Sang Noir, Putri Lurina merasa Sang Noir adalah tempatnya untuk menaruh kepercayaan saat ini, selama dirinya jauh dari keluarganya.


"Terima kasih sudah melindungi--"


Belum selesai Putri Lurina mengucapkan rasa terima kasihnya, Sang Noir telah menghilang dari hadapannya.


Putri Lurina menoleh ke segala arah, namun tak ada sedikitpun bayangan Sang Noir. Sang putri akhirnya membawa belati itu dalam perjalanannya ke desa yang ditunjukkan oleh Sang Noir.

__ADS_1


...-----...


"Apa ada berita dari Komandan Hans?"


"Maaf perdana menteri, sampai saat ini Komandan Hans dan pasukannya belum ada kabar sama sekali."


Perdana Menteri Nikolaus dan komplotannya masih belum mendapatkan kabar dari Komandan Hans dan pasukannya. Seharusnya mereka lebih mudah menghabisi sang putri daripada menggulingkan pemerintahan istana.


Namun, hanya pasukan Komandan Hans yang sampai siang ini belum membawa berita kepada Nikolaus dan Pangeran Roderick sebagai pimpinan kudeta.


"Kita kembali saja ke ruang rapat menunggu kabar dari Hans."


Tak berapa lama, seorang kapten prajurit lari menghampiri Nikolaus dan Roderick.


"Perdana Menteri!!! Pangeran!!!"


Mereka pun menoleh kebelakang.


"Maaf Perdana Menteri, Pangeran, Komandan Hans dan pasukannya ditemukan tewas di hutan timur. Pasukan pengintai sudah memastikan mereka tewas terbunuh."


Nikolaus terkejut mendengar berita itu. "Bagaimana mungkin dia tewas? Apa mereka kalah dari Baxter dan pasukannya?".


Sementara Pangeran Roderick tidak bereaksi mendengar berita itu.


"Tidak tuan. Pasukan pengintai memastikan pasukan Komandan Baxter telah tewas. Jasad mereka ditemukan sangat jauh dari tempat Komandan Hans dan pasukannya terbunuh."


"Lalu dimana Putri Lurina?"


"Tidak kusangka si bodoh Hans tidak mampu untuk menghabisi seorang gadis," kata Nikolaus dengan sombongnya.


"Sepertinya dia ikut campur dalam rencana kita," ucap Pangeran Roderick.


Nikolaus pun menoleh kearah Pangeran Roderick mendengar ucapannya. "Siapa?"


"Kau tidak ingat? Lurina pergi ke hutan timur, tempat makhluk itu berada."


"Maksudmu Noir?" tanya Nikolaus.


"Tidak ada lagi selain dia," jawab Pangeran Roderick.


Pangeran Rod pun memerintahkan kapten itu untuk terus mencari keberadaan Putri Lurina di hutan itu.


"Perintahkan pasukan pengintai untuk terus mencari Putri Lurina. Bila perlu kirim pasukan bantuan untuk mempercepat pencarian."


Kapten itu sedikit ketakutan mendengar perintah itu, karena mereka harus terus berada di hutan itu sebelum menemukan Putri Lurina. "Tapi pangeran..."


Pangeran Roderick pun menegaskan perintahnya. "Menentang berarti mati!"

__ADS_1


Kapten itu pun mengiyakan perintah itu dengan setengah hati. "Baik pangeran!"


Nikolaus sedikit keheranan melihat Pangeran Roderick yang begitu serius mencari keberadaan Putri Lurina. "Kenapa kau begitu takut dengan gadis lemah itu."


"Aku tidak pernah takut dengan siapapun, apalagi dengan seorang gadis. Tapi, sewaktu-waktu dia bisa menjadi duri bagi kita."


Pangeran Roderick pun pergi meninggalkan Nikolaus yang masih heran dengan perintahnya. Ia menganggap perintah Pangeran Roderick terlalu berlebihan untuk sekedar mencari keberadaan Putri Lurina.


...-----...


"Apa kau yakin dia masih hidup?" tanya seorang wanita tua yang sedang memasukkan kayu bakar kedalam tungkunya.


"Aku sudah mengeceknya tadi. Denyut nadinya masih ada, dia hanya pingsan," jawab seorang gadis yang sedang mencuci piring disebelah wanita tua itu.


Wanita itu memberikan semangkuk sup dan segelas air kepada gadis itu. "Kalau begitu, bawakan sup dan air ini untuknya agar tenaganya bisa cepat pulih setelah sadar nanti."


"Baiklah nenek," gadis itupun membawa sup dan segelas air itu untuk seseorang yang berada di kamar sebelah dapur mereka.


Tak berapa lama, gadis itu berteriak memanggil sang nenek. "NENEK DIA SADAR!"


Sang nenek yang sudah tua terkejut mendengar teriakan cucunya itu. Ia pun beranjak dari depan tungkunya untuk mendatangi sang cucu.


"DASAR ANAK NAKAL! APA KAU TIDAK BISA UNTUK TIDAK BERTERIAK HAH?"


Sang nenek pun sampai di depan kamar dimana sang cucu memanggilnya.


"Lihat nek, dia sudah sadar!" kata gadis itu dengan senyum semringah.


Nenek itupun senang melihat gadis yang berbaring di tempat tidur itu telah sadar. Ia pun mendekatinya.


"Akhirnya kau sadar juga."


"Apa yang terjadi?" tanya Putri Lurina dengan wajah yang begitu lemah.


"Aku dan rombonganku menemukanmu tergeletak di pinggir jalan masuk menuju desa. Aku pikir kau sudah mati, ternyata kau hanya pingsan," jawab gadis itu.


"Aku... Berada di desa kalian?"


"Iya, kau sudah ada di desa kami sekarang."


"Ayo sandarkan dia, kita beri dia waktu untuk menghabisi supnya," kata sang nenek.


Putri Lurina pun disandarkan oleh gadis itu. Mereka menyambut hangat sang putri dirumah mereka. Putri Lurina merasa seperti berada di istana.


Setelah menghabiskan supnya, nenek itu menanyai Putri Lurina.


"Kau terlihat begitu lemas ketika datang kemari. Sebenarnya kau berasa dari mana anak muda?"

__ADS_1


"Aku berasal dari Kerajaan Urkhy. Aku Putri Lurina."


...------...


__ADS_2