NOIR

NOIR
2. Kudeta Para Petinggi


__ADS_3

Sosok yang mereka yakini sebagai Noir pun muncul. Komandan Hans dan pasukannya hanya menatap keheranan melihatnya, seakan-akan sosok itu merupakan malaikat pencabut nyawa.


     Penampilan dan misteri yang menyelimuti dirinya selama ini sangat pantas kalau dirinya juga disamakan dengan malaikat pencabut nyawa.


     Angin masih berhembus, namun tak sekencang sebelumnya. Sosok itu masih menatap tajam para pengkhianat itu.


     Ditengah ketakutannya, Komandan Hans masih sempat memikirkan rencana licik. Kali ini ia berniat untuk menyeret Noir itu kehadapan bos besarnya setelah ia berhasil menghabisi Putri Lurina.


    


     Ia pun bangkit dan menunjukkan gelagat untuk menantang sang penunggu hutan timur itu.


     Namun sosok itu tak meresponnya. Ia tahu, dirinya sedang ditantang. Tetapi ia lebih memilih untuk tetap bertahan didepan Putri Lurina.


     Putri Lurina sendiri semakin takut dengan apa yang ada dihadapannya. Belum selesai dengan pengkhianatan orang yang dikenalnya, kini muncul lagi sosok yang ditakuti banyak orang. Tubuhnya kaku, ia merasa seluruh tubuhnya seperti sebuah patung.


     Yang pasti hanya satu hal yang diinginkan Putri Lurina saat ini, pergi sejauh mungkin dari dua bahaya ini.


    Komandan Hans yang sedari tadi memberikan gelagat menantang sosok itu menjadi emosi, karena makhluk itu tak melakukan apapun. Ia pun merasa kesal. Ia mencoba memancing emosi sang Noir.


     "Kukira sosok yang ditakuti semua orang akan berani melawanku, ternyata hanya pecundang yang suka bermain menakut-nakuti," oloknya.


     Lagi-lagi sosok itu tak memberikan respon apapun. Komandan Hans pun murka. Ka menganggap sosok itu sedang mempermainkannya.


     "BRENGSEK!!! KALAU BEGITU MATI SAJA KAU DENGAN PEREMPUAN LEMAH ITU!!! PECUNDANG!!!"


     Ia pun dengan berani memerintahkan seluruh pasukannya untuk menghabisi Noir itu dan Putri Lurina.


     "LENYAPKAN MEREKA!!!"


     Pasukannya pun bangkit dan mulai menerjang kearah Burung Hantu dan Putri Lurina.


     Kali ini Sang Noir tak tinggal diam.


Jubahnya menembakan ratusan anak panah berwarna hitam kearah pasukan Komandan Hans. Satu per satu mereka tumbang sebelum mendekati Noir dan Putri Lurina.

__ADS_1


...-----...


     Di Kota Fyodor, ibukota kerajaan, tampak iring-iringan kereta kuda dan ratusan prajurit bersenjata lengkap berbaris menuju ke istana. Rakyat pun dibuat kebingungan, sebenarnya apa yang sedang terjadi. Biasanya, pihak istana akan memberikan pengumuman hingga kesudut kerajaan bila ada tamu undangan dari negara lain atau akan segera diadakan sebuah pesta.


     Namun, kali ini tak ada satupun pihak kerajaan yang memberikan informasi apapun tentang iring-iringan itu. Apalagi dengan adanya prajurit kerajaan bersenjata lengkap membuat rakyat semakin gelisah. Mereka takut jika ada serangan mendadak dari luar ataupun kerajaan akan segera berperang secara tiba-tiba.


     Tak lama kemudian, beberapa petinggi kerajaan terlihat dalam iring-iringan itu, baik petinggi militer maupun pemerintahan berada dalam satu iringan. Diantaranya komandan dari divisi infanteri ke-5, Komandan Dax, komandan artileri ke-2, Komandan Edric, dan salah satu jenderal veteran yang dimiliki Kerajaan Urkhy, Jenderal Otto August.


     Kemudian dari petinggi pemerintahan ada gubernur Wilayah Trezs yang terletak di selatan kerajaan, Gubernur Bolderic, mantan Deputi Aset dan Kekayaan Kerajaan, Carlustinus, dan pemimpin Kota Slov, kota terbesar selain ibukota kerajaan, Adipati Nomeruno.


     Mereka semua mengenakan pakaian dinas masing-masing. Terlihat Jenderal Otto yang paling berwibawa dengan berbagai pangkat yang menempel di jas militernya.


...-----...


     Setelah iring-iringan itu sudah berlalu cukup lama, tiba-tiba lonceng besar yang ada di alun-alun kota berbunyi. Rakyat pun segera berkumpul dan siap mendengarkan informasi yang akan disampaikan.


Terlihat seorang prajurit kerajaan bersiap untuk menyampaikan informasi.


     "BERITA PENTING! BERITA PENTING!... PEMERINTAHAN KERAJAAN URKHY TELAH BERGANTI!... DEMI MENJUNJUNG TINGGI KEDAMAIAN DAN MEMPERKUAT KERAJAAN, SERTA MENEGAKKAN KEADILAN DI SELURUH WILAYAH KERAJAAN... PERDANA MENTERI YANG AGUNG, TUAN NIKOLAUS TELAH MENGAMBIL ALIH PEMERINTAHAN RESMI... DAN... RAJA CLODOVEO TAK LAGI BERKUASA!"


     Rakyat kerajaan pun menyimpan ketakutan setelah mendengar pengumuman itu.


     Mereka tak menyangka keluarga kerajaan dan Raja Clodoveo telah digulingkan dalam suatu kudeta.


...-----...


     Didalam istana, di meja pertemuan, terlihat petinggi militer dan pemerintahan duduk melingkar, tak terkecuali Raja Clodoveo sebagai pemimpin kerajaan.


     Tetapi, Raja Clodoveo, Jenderal Dusten, Jenderal Evrard, dan Komandan Pengawal dan Penjaga Kerajaan, Komandan Friedrich mengenakan borgol ditangan mereka. Mereka sedikit tertunduk dengan raut wajah kesal.


     Mereka tak menyangka, teman, sahabat, dan saudara mereka sendiri melakukan kudeta terhadap istana.


     Perdana Menteri Nikolaus menatap mereka dengan senyum puas. Rencananya berjalan mulus.


     "Sebenarnya... Kami tak ingin melakukan ini, Tuanku Clodoveo..." ucap Nikolaus.

__ADS_1


     "...Tetapi..."


     Ia mendekati Raja Clodoveo.


     "Kau terlalu lemah untuk memimpin kerajaan ini!" sambungnya.


     Komandan Friedrich murka mendengar perkataan Nikolaus. Ia pun mencoba berdiri dan membela Raja Clod.


     "TUTUP MULUTMU BAJINGAN!!! KAU BAHKAN TAK CUKUP PANDAI UNTUK MENJADI SEORANG RAJA!!!"


     Sontak, prajurit yang berdiri dibelakang Komandan Friedrich menarik pundaknya dan memaksanya untuk duduk kembali.


     "DUDUK!!!" bentak seorang prajurit kepada Komandan Friedrich.


     Nikolaus yang sebelumnya hanya lewat dihadapannya tiba-tiba kembali kehadapannya. Ia menatap tajam komandan setia Raja Clodoveo itu.


     "Kau tahu?... Aku punya jaringan yang luas untuk mengatasi masalah yang ada. Mungkin seharusnya dia yang pantas menjadi seorang budak untukku" kata Nikolaus dengan sombongnya, sambil menunjuk kearah Raja Clodoveo.


     "Jaringanmu itu tidak lebih dari sekelompok bandit-bandit liar, Nikolaus. Mereka orang-orang ilegal yang tak bisa selamanya kau kendalikan. Suatu saat giliran mereka yang akan menghancurkan pemerintahanmu," balas Jenderal Dusten.


     "HAHAHAHAHA... TAU APA KAU TENTANG PRAJURIT BAYARANKU ITU? BOCAH! Dengarkan aku. Jika kau ingin menghiburku, aku akan menjadikanmu badut istana untuk menghiburku setiap hari. Ceritakanlah semua kepintaranmu itu setelah kau menjadi badut di istana ini," olok Nikolaus.


     Friedrich yang memiliki sifat pemarah, hanya bisa menatap kesal Nikolaus. Ia tahu, saat ini ia tak punya kuasa untuk membukam mulut besar Nikolaus.


     Begitu juga Jenderal Evrard, meskipun penyebar dan berbanding terbalik dengan sifat Friedrich, untuk kali ini ia merasa sangat kesal dengan seseorang. Tetapi ia juga sadar, saat ini situasi sedang tidak berpihak kepada mereka.


     "Hei... bocah dungu! Sampai kapan kau akan percaya dengan si lemah Clodoveo hah?" tanya Komandan Dax kepada Dusten.


     "Jangan berpikir kau memahami betul masalah yang ada karena pangkatmu lebih tinggi dari kami. Itu tidak berpengaruh pada pola pikirmu bodoh!" sambung Komandan Edric.


     "Hei... Hei Edric! Jangan begitu kepada jenderal kita. Kau bisa dipenggal olehnya nanti," olok Calrustinus.


     "Aku yakin, raja kita akan semakin terkejut mendengar kabar bahwa putri tercintanya sudah diselesaikan oleh Hans dan pasukannya." sambung Nikolaus.


...-----...

__ADS_1


__ADS_2