Nora story

Nora story
awal


__ADS_3

Di hari yang cerah, suara burung berkicauan terdengar sangat indah.


Seorang gadis manis masih bergelung nyaman di kamarnya dengan bantal dan guling yang berserakkan.


Cahaya yang menyilaukan dari celah tirai mengenai wajah gadis  tersebut. Ia mulai menggeliat tak nyaman, menguap sesekali dan ia pun terbangun.


"Mama.....!!! Huaaaaaaaaaa mama dimana?!!" Gadis tersebut menangis dengan kaki yang dihentak-hentakkan di atas kasur.


Terdengar suara orang berlari dari luar ruangan, tak lama kemudian seorang wanita paruh baya muncul dan langsung memeluk gadis tersebut.


"Sttttt..... mama di sini sayang.... jangan nangis lagi ok. Nanti cantiknya hilang loh..." wanita itu mengelus surai panjang si gadis


"Ha-habisnya, mama nggak a-ada di samping Nora pas Nora bangun sih..... mama mau ninggalin Nora kayak dulu kan...? Hiks.... Nora takut sendirian ma...."


Gadis bernama lengkap Sesilia Nora Wijaya itu mengeratkan pelukkannya pada sang mama dan ia terus menangis.


Yah.... Nora adalah gadis berumur 17 tahun, ia adalah gadis yang sangat ceria dan enerjik. Namun..... 2 tahun yang lalu orang tua Nora terlibat perselisihan yang teramat besar hingga mereka hampir bercerai.


Dan di malam perceraian kedua orangtuanya, Nora mengalami kecelakaan. Ia tertabrak mobil dan menyebabkannya kehilangan banyak darah dan terbaring koma selama 2 minggu di rumah sakit.


Orang tua Nora tak jadi bercerai saat itu, mereka tersadar bahwa Nora masih membutuhkan bimbingan dari kedua orang tuanya. Mereka memutuskan untuk menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik dan memfokuskan diri untuk merawat Nora.


Dokter menyatakan bahwa, saat kecelakaan Nora kehilangan terlalu banyak darah dan benturan di kepalanya juga cukup keras hingga mengubah pola fikir Nora. Nora memang berumur 17 tahun, tetapi setelah kecelakaan pola fikirnya berubah seperti anak di bawah 6 tahun.


Seperti saat ini, Nora masih menangis dengan memeluk erat mamanya dan sekali-kali menghentak-hentakkan kakinya.


Mamanya Nora yang bernama Maya Wijaya mengelus surai putri kesayangannya dan sesekali mencium dahi putrinya. "St..... udah, jangan nangis lagi ok. Mama nggak kemana-mana kok, mama lagi buat ice kream kesukaan kamu sayang. Kamu mau kan?"


Seperti disihir oleh kata-kata mamanya, Nora langsung mengangguk semangat dan tersenyum lebar. "Mau!! Nora mau ice kream!! Yang rasa vanila ya ma!! Nora mau ice kream rasa vanila!!" Nora berucap sambil melompat-lompat.


Maya tertawa melihat tingkah anak semata wayangnya yang nampak lucu. Ia kemudian menarik pelan tangan Nora menuju ruang makan.


Di sana ayah Nora yang tak lain bernama Farel Wijaya sudah duduk dengan koran yang ada di tangannya dan ponsel yang ada di meja, serta secangkir kopi dan beberapa cemilan.


"Pagi yah....!!" Ucap Nora yang langsung mencium pipi kanan ayahnya.


"Hm.... pagi sayang" ayah Nora balas mencium kening Nora.


Nora duduk manis di kursi sebelah kanan ayahnya. Ia sesekali mengganggu ayahnya yang membaca koran sambil memakan ice kream yang baru mamanya berikan.


"Besok kamu sekolah sayang??" Tanya Farel.


"Nggak yah, rasanya kepala Nora pusing..... banget pas ngeliat soal-soal yang ada di buku. Nora nggak kuat" ucap Nora dengan bibir yang dimajukan.


Farel mencubit gemas pipi Nora, sedangkan Nora meringis kesakitan. "Ayah!! Pipi Nora sakit tau.......!! H-hiks.... mama!! Ayah nyubitin pipi Nora ma!! Sakit...!!" Adu Nora dengan mata yang berkaca-kaca.


Maya mendekati Nora dan mengelus pipi Nora. "Stt.... cup cup cup..... udah... sayang jangan nangis ya...."


"Iya.... nanti ice krieam kamu ayah makan loh kalo kamu terus-terusan nangis...." ayah Nora ikut menenangkan Nora.


Nora tetap menangis, ia mengusap matanya dengan kasar. "Nora mau berhenti nangis kalo ayah mau beliin Nora boneka!" Ucap Nora dengan sesekali sesenggukan.


"Baik.... baik, ayah belikan deh"


"Beneran yah?!!"


Farel mengangguk. Seketika itu juga Nora tersenyum lebar. "Yeyyyyyyyy!! Makasih ayah!!"

__ADS_1


***


"Sayang.... besok kamu papa titipin ke rumah teman papa ya? Besok papa sama mama mau ke luar negeri ngurusin perusahaan papa."


Nora yang tadinya tersenyum cerah, seketika itu juga murung. Bibirnya mengerucut lucu. "Yah..... kenapa?? Nora nggak mau, Nora mau ikut...!"


"Sayang..... kamu mau ya, tinggal sama keluarga teman papa kamu. Cuma satu bulan aja kok... mama sama papa janji bakal pulang." Maya mengelus surai anaknya.


"Hiks....... tapi Nora mau ikut..... hiks... huhuhu...... hiks."


Nora mengucek matanya yang mengeluarkan air mata. Ia terus menghentakkan kakinya ke lantai dan terus berkata ingin ikut papa dan mamanya.


Maya memeluk Nora, begitu pun dengan Farel. "Stt.... sayang, papa janji deh, nanti kalo papa sama mama pulang, papa bakal beliin Nora boneka yang banyak."


Mendengar itu, Nora mulai berhenti menangis. Sambil beberapa kali sesenggukkan, Nora berkata. "Papa janji ya.... jangan lama-lama!! Mama juga!!"


Maya dan Farel tersenyum dan mengangguk. "Iya... papa sama mama janji kok."


***


Dalam perjalanan menuju rumah teman papanya. Nora terus menerus memeluk mamanya.


Ia masih tak rela untuk di tinggal. "Ma.... janji ya, nggak lama." ucap Nora entah untuk yang ke berapa kalinya.


Dan Nora hanya terus mendapat jawapan anggukkan dari mamanya.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka pun turun dari mobil dan melangkah ke depan pintu rumah yang besar itu.


Nora masih dengan diam menggenggam tangan namanya ia meremas remas baju bagian bawahnya Karena ia merasa takut untuk ditinggalkan orang tuanya.


Mereka pun mengetuk pintu Tak lama kemudian muncul seorang pembantu rumah tangga yang membukakan pintu. " Ada apa Tuan" tanya pembantu tersebut.


Pembantu tersebut mengangguk dan mempersilahkan Nora dan keluarganya untuk masuk.


Saat di dalam rumah nampak 5 orang yang tengah bersantai di ruangan tersebut. Tiga orang anak laki-laki remaja duduk di depan TV sambil memainkan ponselnya, sedangkan 2 orang lainnya yang tak lain adalah  Hendri dan Mika yang tak lain adalah pemilik rumah dan kedua orang tua dari tiga anak laki-laki tersebut.


"Farel? Cepet banget kamu dateng? Gimana kabar kamu?" Ucap Hendri saat melihat Farel.


"Ahaha... iya Ndri, aku udah mau berangkat soalnya. Oh iya, ini Nora, anak aku yang tadi sempet aku ceritain." Hendri mengajak Nora yang bersembunyi di belakang sang mama.


"Nak Nora jangan takut... tante sama om nggak bakal nyakitin Nora kok." Mika berucap lembut.


Maya mengusap lembut rambut Nora. Karena merasa penasaran... ketiga laki-laki yang tadinya sangat serius memainkan ponselnya kini telah berada di samping Mika dan mencoba untuk melihat wajah Nora yang terus menunduk.


"Dia siapa ma....?" Tanya salah satu dari mereka.


"Dia Nora, dan... Nora akan tinggal di sini selama papa dan mamanya masih di luar negeri." terang Mika.


Mereka semua pun mengangguk.


"Ma..... hiks.."


"Eh?! Nora kenapa? Sayang... mama sama papa nggak bakalan lama kok.... mama janji deh." Maya mengelus punggung Nora.


Ketiga laki-laki tersebut menatap Nora dengan tatapan terheran-heran.


"Nora takut..... serem...." Nora berucap sambil memegangi ujung baju mamanya.

__ADS_1


"Serem? Siapa sayang..... siapa yang buat kamu takut?" Mika bertanya dengan nada suara yang lembut. Mika dan Hendri memang sudah tau tentang kelainan yang dimiliki Nora.


"Mereka.... serem, Nora takut.."  Nora berucap sambil menunjuk ke tiga laki-laki tersebut. Mereka membuka mulutnya lebar-lebar sambil berkata. "Ha?!!" Secara bersamaan.


Nora semakin takut. Ia beralih ke papanya dan menggenggam tangan papanya. "Pa.... Nora ke rumah kakek aja ya...? Nora takut...."


"Nggak bisa sayang.... kakek juga sibuk, Nora di sini aja ya? Papa janji deh, nanti kalo papa pulang bakal papa bawain boneka yang banyak buat kamu..."  Farel terus membujuk Nora.


Setelah sekian lama dibujuk, akhirnya Nora pun mau untuk ditinggal. Farel dan Maya pun berangkat.


"Nora.... kamu jangan sedih terus dong.., Nora nggak sendiri kok, tante sama om kan ada. Dan.... tante juga punya 3 anak yang bisa ngelindungi Nora..." Mika membujuk Nora agar tak menundukkan wajahnya terus menerus.


Pasalnya, dari pertama masuk sampai sekarang, Nora masih menundukkan kepalanya.


Nora pun secara perlahan mendongkak. Bisa ia lihat Mika dan Hendri yang tersenyum tulus padanya. Tanpa aba-aba, Nora secara tiba-tiba memeluk Mika.


ketiga laki-kaki yang melihat wajah Nora nampak sedikit terkejut karena keimutan dan kecantikkan Nora. Namun itu semua tak bertahan lama.


"Hiks.... tante.... papa sama mama Nora bakal cepet pulang kan? Mereka nggak bakal ninggalin Nora kan....?!"


Mika tersenyum dan mengelus rambut Nora. "Iya.... mama sama papa Nora bakalan cepet pulang kok, Nora jangan sedih ya..."


Nora mengangguk dalam pelukkan Mika. Mika pun secara perlahan melepaskan pelukkan Nora.


"Nah... sekarang Nora kenalan sama anak-anak tante ya?"


Nora mengangguk sambil mengusap kasar air matanya. Ia berjalan mendekati 3 orang laki-laki yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan heran.


Nora mengulurkan tangannya. Ia menyalami ketiganya dengan cukup singkat. "Perkenalkan nama Nora, Sesilia Nora Wijaya. Nora nggak suka ama warna gelap, nggak suka gelap juga. Nora suka permen, apalagi yang rasanya vanilla, suka es krim, suka boneka, dan bla bla bla...."


Mereka bertiga menatap Nora dengan tatapan yang aneh. "Kenapa ni bocah...?" Fikir mereka bebarengan.


"Udah...?" Tanya salah satu dari mereka setelah Nora terdiam cukup lama.


Nora mengangguk lucu. "Kenalin, gue Damian Alvaro Faresta, gue anak pertama, panggil aja Damian."


"Gue Matteo Parviz Reinaldo, gue anak ke 2, panggil aja Matteo."


"Gue Zayan Shaquilie Ravindra. Anak terakhir, ato mungkin bakal jadi yang ketiga kalo ortu mau nambah. Panggil aja Ravin ato Indra."


Nora mengangguk, ia kemudian tersenyum. "Ok, kak Damian, kak Matteo, sama kak Randa!!"


Ravin mengangkat alisnya bingung. "Randa??"


Nora memiringkan kepalanya dengan wajah polosnya. "Iya... kak Randa, singkatan dari Ravin dan Indra."


"O....." Ravin hanya mangut-mangut.


Mika pun mengantar Nora ke kamar tamu yang memang sudah dibersihkan dan disiapkan untuk Nora menginap.


"Kenapa mama ngizinin bocah itu nginep disini sih ma??" Tanya Damian setelah Mika selesai mengantar Nora dengan nada suara agak kesal.


"Ya... kamu kan udah tau tadi, papa sama mamanya Nora kan ada urusan di luar negeri. Jadi Nora dititipin ke papa. Lagian, papa sama mama suka aja tuh kalo Nora tinggal di sini." Hendri berucap sambil tersenyum.


"Iya tuh, lagian mama juga kepingin punya anak perempuan. Karena mama cuma punya anak laki-laki, jadi mama seneng banget kalo Nora ada di sini."


"Ya ya ya...... terserah mama sama papa deh. Aku ngantuk, mau tidur..." Ravin berjalan menuju kamarnya. Diikuti dengan kedua kakaknya yang berjalan ke kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2