Nora story

Nora story
03


__ADS_3

Esok harinya, sama seperti semalam. Nora hanya terbaring di kamar. Suhu tubuhnya memang sudah menurun, tetapi wajahnya tetap pucat.


Dan hari ini adalah giliran Damian untuk menemani Nora di rumah. Damian duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia menganggkatnya dan mendengar suara mamanya.


"Hallo, Damian. Gimana di sana? Semuanya baik-baik aja kan? Nora mana?" Tanya Mika.


"Semuanya baik kok ma. Cuma..."


"Cuma apa?"


Damian tak langsung menjawab. Ia mendengar suara benda jatuh dari kamar Nora dan ia pun langsung pergi mengeceknya.


"Eh? Kak Damian...." ucap Nora kaget. Ia kini tengah berada di depan lemari.


"Lo sedang apa? Ngapain berdiri di depan lemari? Lo kan masih sakit." Damian mendekati Nora. Ia lupa mematikan sambungan telefon, sehingga Mika mendengar semuanya.


"Um..... itu kak, Nora bosen tiduran di kamar. J-jadi Nora mau ngambil novel Nora yang ada di atas lemari. T-tapi..."


Damian mengangkat salah satu alisnya. "Tapi apa?" Tanyanya.


"Nora... N-nora nggak nyampe kak. Pas Nora loncat-loncat buat ngambil novel, eh bukanya novel yang Nora dapet malah Nora njatuhin boneka Nora"


Nora menunduk dengan wajah memerah, malu. Sedangkan Damian menahan dirinya agar tidak tertawa. Damian pun mengambil novel milik Nora dan menyerahkannya pada Nora.


"Nih.... lain kali kalo butuh bantuan tuh bilang-bilang! Gue nggak bakalan ngigit kok"


Nora semakin memerah. Ia menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan novel. "I-iya kak...."


"Ekhem..!!! Damian... bisa jelasin apa yang terjadi ke mama nggak?" Ucapan Mika dari telefon menyadarkan Damian.


"Ah! Iya ma....??"


"Nora sakit? Sakit apa? Gimana bisa sakit coba??" Mika bertanya dengan tidak sabaran. Damian bingung akan menjawap apa.


Saat akan berbicara, tiba-tiba Nora memegang tangannya dan dengan gerakan mulut berkata 'biar aku yang jawap kak.' Damian pun memberikan ponselnya ke Nora.


"Hallo ma!!! Nora nggak papa kok. Nora cuma flu karena kebanyakkan minum es krim. Hehehe......"


Nora berkata sambil memainkan bajunya. Kebiasaannya bila berbohong.


Damian hanya memperhatikan. Ia rasa, ia harus diam dan menyerahkan semuanya ke Nora untuk saat ini.

__ADS_1


"Hn... Nora kan udah mama bilangin, kalo makan es krim tuh jangan banyak-banyak. Emangnya nggak ada yang ngelarang kamu di rumah??"


"Um... Nora udah di larang sama kak Damian , kak Randa, ama kak Teo kok. Cuma Nora nggak pernah degerin, Nora tetep makan es krim, hehehe...."


Sungguh akting yang bagus. Nora memang berkata bohong dengan sangat lancar, tetapi ia tak bisa menyembunyikan kebohongannya karena tangannya yang berhianat terus menerus memutar dan meremat kain bajunya.


Mungkin... jika ia berbohong di depan Mika secara langsung. Ia tak akan berhasil karena kebiasaannya itu.


"Yaudah deh..... mama cuma mau bilang. Mama sama papa bakal agak lama di Paris."


"Yah.... kenapa ma?" tersirat raut kecewa di wajah Nora.


"Temen kerja papa nyuruh kita buat nginap di sini untuk beberapa lama."


"Um.... yaudah deh, mama ama papa Hendri jaga diri di sana ya!"


"Iya sayangkkkk. Mama tutup dulu ya. Kamu jangan banyak-banyak minum es krim lagi! Jangan keluyuran tanpa seizin kakak kamu! Ok!"


Nora tersenyum. "Asiap mama!!" Ucapnya sambil terkikik senang.


Mika pun menutup sambungan telfon.


Damian duduk di sudut ranjang. Ia mengambil sebuah boneka babi yang berukuran kecil. "Dasar bocah, masih suka aja lo main sama boneka?"


"B-belum kak"


Damian memutar matanya malas. Ia kemudian pergi.


Setelah kepergian Damian, Nora langsung berbaring dan membaca novelnya.


"Nih, makan gih" ucap Damian yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Nora sambil membawa makanan.


Nora menaruh novelnya di atas nakas dan menerima makanan yang dibawa oleh Damian.


Ia makan dengan begitu berantakan. Damian sendiri menahan diri untuk tidak tertawa karena melihat tingkah Nora yang seperti anak kecil.


Damian membersihkan nasi yang ada di sudut bibir Nora menggunakan jempolnya, dan itu sukses membuat wajah Nora memanas. Entah kenapa Nora merasa jantungnya berdebar tidak normal saat ini.


***


Malam harinya. Seperti biasanya, mereka semua duduk di ruang keluarga.


Matteo dan Damian sibuk dengan game mereka, sedangkan Ravin sibuk dengan buku pelajarannya. Sedangkan Nora? Nora duduk menonton film kartun sambil nyemil roti bolu.

__ADS_1


Saat kue yang dimakannya habis, Nora mengerucutkan bibirnya. Pergi, Nora mengambil cemilan yang ada di dalam kulkas dan kembali duduk menonton film.


"Yaelah.... tu perut lo dibuat dari karet ya? Daritadi makan.... aja" Matteo merampas cemilan yang ada di tangan Nora.


"Ish kak... balikin.... itu punya Nora...." Nora merengek sambil berusaha merebut camilannya.


Namun usaha Nora sama sekali tak membuahkan hasil. Matteo terus saja menghindar.


"Ahahaha.... dasar lu Dora gendut kebanyakkan lemak!!"


Nora merengut kesal. Ia kemudian menyerah dan memutuskan untuk memainkan ponselnya.


"Hiks..... huhuhu.... hiks..." tiba-tiba saja Nora menangis.


Damian dan yang lainnya pun langsung mendekati Nora. "Lo kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Damian.


Nora menggeleng, ia dengan cepat memeluk Damian dan membenamkan wajahnya di dada Damian. "Kak Teo.... hiks... kak Teo ngambil camilan Nora.... hiks..."


Damian dan yang lainnya menatap Nora dengan tatapan kaget. Sedangkan Nora masih setia membenamkan wajahnya.


"Udah.... nggak usah nangis. Cuma camilan aja, di kulkas kan masih banyak." Damian berucap tenang. Awalnya ia terkejut, namun ia berusaha tetap tenang.


"Kak.... hiks... kepala Nora jadi pusing.. hiks..." Nora mengeratkan pelukkannya.


Ravin menatap Matteo dengan tatapan devilnya, sedangkan Matteo hanya nyengir tanpa dosa.


"Yaudah.... lo baringan aja di kamar gih" ucap Ravin.


Nora menggeleng. "Hiks.... N-nora nggak mau. N-nora mau kayak gini aja.... hiks... b-biasanya kalo Nora sakit, mama bakal peluk Nora... hiks..." ucap Nora dengan tangisan yang semakin menjadi.


Damian menghela nafas "yah.... apa boleh buat" . Ia mengelus kepala Nora. Dan tanpa aba-aba Damian mengangkat Nora, menaruh Nora dalam pangkuannya dan Nora langsung memeluk Damian sambil menyembunyikan wajahnya di dada Damian.


Jujur saja, sebenarnya Nora merasa jantungnya berdetak begitu cepat saat ini. Namun, saat ini, entah kenapa ia ingin memeluk Damian, ia ingin lebih dekat dengan Damian. Saat ia memeluknya Nora merasa nyaman dan enggan untuk melepaskan pelukkannya.


Tubuh Damian sangatlah hangat, Nora merasa bahwa, dirinya akan aman-aman saja bila terus berada di pelukan Damian. Ia tersenyum, Nora pun mengeratkan pelukannya.


"Hehehe...." tawa Nora.


Damian menaikkan salah satu alisnya. "Kenapa lo?" tanyanya.


Namun Nora malah kembali tertawa kecil. Ia kemudian menggeleng dan kemudian menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Damian.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2