Nora story

Nora story
05


__ADS_3

Nora dan Ravin kini tengah berjalan-jalan di taman. Mereka berdua sesekali beristirahat dan membeli beberapa makanan atau minuman.


"Kak, Nora boleh nanya sesuatu nggak?" ucap Nora.


"Tanya apa?"


Nora menundukkan kepalanya. "Um.... Tapi kakakĀ  janji nggak bakalan marah ya...?"


Ravin mengerenyit bingung. "Ya.... Emangnya ada apa?"


"Um.... K-kemarin pas Nora lagi makan es krim, Nora dengar suara aneh dari kamar kak Matteo.... Trus Nora jadi penasaran deh. Pas Nora nyoba buka pintu kamarnya kak Matteo, pintunya nggak kekunci jadi Nora ngintip. Dan....." Nora merengut sambil menunjukkan kepalanya.


"Dan apa?"


"Nora liat kak Matteo ngigit bibir cewek kak! Kenapa kak Matteo ngelakuin itu? Trus aku liat cewek itu kayak nggak marah pas bibirnya digigit sama kak Matteo. Emangnya kak Matteo laper ya kak?" tanya Nora dengan tatapan polos.


Ravin menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Um.... I-iya mungkin..."


"Terus... Cewek itu siapanya kak Matteo kak?"


"D-dia pacarnya kak Matteo"


"Huh..? Pacar?"


"Ya.... A-ayo balik, gue kepanasan"


Nora menatap Ravin dengan tatapan aneh. Ia kemudian mengangguk.


***


Saat di dalam rumah, Nora masih merenungkan apa yang Ravin katakan padanya siang tadi.


"Apa itu pacar?" tanya Nora dalam hati.


"Lo kenapa? Dari tadi kok diem aja?" tanya Damian saat melihat Nora yang tetap diam sambil membiarkan HPnya menyala dengan masih menampilkan permainan anak-anak.


"Eh! Kak Damian.... A-anu... Nora cuma lagi mikirin sesuatu kak"


"Heh, mikir? Emangnya lo bisa?" ucap Damian dengan nada suara mengejek.


"Maksud kak Damian apa?" Nora mengerucutkan bibirnya kesal.


Damian menggeleng. "Emangnya lo lagi mikirin apa?"


"Um.... Kak, pacar itu apa?" tanya Nora dengan wajah penuh tanya.


Damian terdiam untuk beberapa saat. Ia telah diberitau semuanya oleh Ravin mengenai keadaan Nora, sehingga kini ia tengah berfikir untuk menyusun kata-kata yang bisa dipahami oleh Nora.


"Pacar itu... Orang yang kita sayang" ucap Damian asal-asalan karena bingung dengan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya.

__ADS_1


"Um.... Disayang..?"


Damian mengangguk. Nora sendiri menundukkan kepalanya, dirinya bertanya-tanya apakah Damian memiliki pacar atau tidak. Entah kenapa ia merasa kesal jika berfikir kalau Damian memiliki pacar.


"Um... Kak Damian punya pacar nggak?" tanya Nora setelah cukup lama berfikir.


Damian mengangguk dengan wajah datarnya. "Gue punya banyak"


Nora pun menunduk dengan raut wajah kesal. Ia kemudian menatap Damian dan wajahnya tiba-tiba memerah. "Um... Kak Damian sayang Nora nggak?" tanya Nora dengan tatapan berharap.


Damian tak melirik Nora. Ia tersenyum simpul. "Nggak" ucapnya singkat.


Mata Nora tiba-tiba langsung berkaca-kaca. Ia menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Hiks.... K-kak Damian bener-bener nggak sayang Nora?.... K-kak Damian benci Nora ya...?"


Damian yang mendengar ucapan Nora pun menjadi gelagapan sendiri.


Ia kemudian memeluk Nora dan mengusap air mata Nora.


"E-eh.... Nggak gitu.... Gue sayang lo ok! Jadi jangan nangis... Gue nggak benci lo!" ucap Damian menenangkan Nora.


Nora menatap Damian dengan mata yang masih basah akan air matanya. "Beneran nih....? Kak Damian sayang Nora?" tanya Nora.


Damian mengangguk. "Ya... Gue sayang sama lo"


Nora pun berhenti menangis. Matanya segera berbinar dan bibirnya melengkung menjadi senyuman yang indah. "Jadi Nora pacarnya kak Damian dong..?" tanya Nora dengan gembira.


"Yey...!!! Nora jadi pacarnya kak Damian!! Kak Damian sayang sama Nora!!" ucap Nora sambil memeluk Damian.


***


Di hari minggu yang cerah, Damian, Matteo, Ravin dan Nora kini tengah berjalan-jalan di sebuah taman yang dekat dengan rumah mereka.


Saat mereka sampai di dekat pepohonan yang cukup rindang, mereka berhenti dan beristirahat.


Nora membuka tas yang dibawanya. Menggambil botol minuman dengan gambar karakter kartun Hello kitty dan menyerahkannya ke Damian.


"Apaan tuh?" tanya Damian sambil menatap heran botol yang disodorkan Nora padanya.


"Air mineral" ucap Nora dengan tatapan polosnya.


Sudut mata Damian dan Matteo berkedut. Mereka menatap Nora dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Ravin juga sedikit terkejut. Ia bahkan memandang Nora tanpa berkedip sama sekali.


"Uhuk! Uhuk!!" Damian terbatuk.


Nora yang melihatnya pun langsung mendekati Damian dan menepuk-nepuk punggung Damian. "Tuh kan... Kak Damian batuk... Nih mending minum minuman Nora ya kak?"

__ADS_1


Damian menggeleng. "Nggak... G-gue nggak haus kok" ucapnya.


Nora mengerucutkan bibirnya. "Kak Damian kan batuk-batuk. Mending kakak minum deh. Nanti makin parah lo.... Trus kalo udah parah kakak bakalan dibawa ke rumah sakit, trus kalo udah di rumah sakit kakak bakalan ketemu dokter jahat, trus kakak bakalan disuntik pake jarum kan cakitttt....." ucapnya sambil memeluk lengan Damian.


"Pfttttt... Hahahaha!!! Gue nggak bisa bayangin!! Lo tuh beneran polos ato bego sih?!" tanya Matteo sambil menatap Nora lekat-lekat.


"Damian sayang!!" suara seorang gadis dari belakang Damian.


Damian sudah tau siapa itu tanpa menoleh ke belakang. Ia memutar matanya malas dan melepaskan pelukkan Nora di tangannya.


"Ish...!! Sayang! Dia siapa?!!" tanya gadis tersebut.


Nora menatap polos ke gadis tersebut. Ia melihatnya dari atas sampai bawah.


"Apa lo liat-liat!!" bentak gadis tersebut ke Nora. Nora pun kembali memeluk lengan Damian.


"Kak.... Takut.... Ada nenek sihir..." ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya.


Matteo dan Ravin ingin sekali tertawa. Namun mereka berdua menahannya. Bianca, gadis tercantik di kelas mereka dibilang nenek sihir?! Buahahaha.....!!! Mereka menatap Bianca dengan tatapan mengejek.


"Apa lu kata?? Nenek sihir? Lo tuh yang nenek sihir!! Dasar kodok alaska!!"


Nora mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian menatap Damian. "Kak, nenek sihir itu siapanya kakak??" tanya Nora.


Belum sempat Damian berbicara, Matteo sudah menyelanya. "Dia itu pacarnya Damian!! Ya dia pacarnya Damian!!" ucap Matteo sambil tersenyum ke Damian.


Damian mendecih pelan. Ia melirik Nora dengan ujung matanya dan ia bisa dengan jelas melihat kilasan kesal di mata Nora.


Nora kemudian melepaskan pelukkannya. Ia menatap kembali Bianca dari atas kebawah, kemudian mendengus.


"Huh, nenek sihir jelek!! Nggak pantes sama kak Damian yang tampan. Nora cantik, kayak putri ! Lebih pantes buat kak Damian!" ucapnya dengan lantang.


"Heh?? Lo apa-apaan sih? Setres ya lo?? Cantik-cantik gini lo kata gue jelek?! Gue nenek sihir?! Heh!! Yang ada lo tuh yang jelek!! Sangking jeleknya sampe-sampe Damian bakalan buang elo ke tong sampah!!"


Nora menatap Damian yang diam tanpa emosi. Ia kemudian menunduk dan matanya pun mulai berkaca-kaca.


Damian melihat Nora menunduk, sedikit heran, tetapi setelah beberapa saat ia menyadari bahwa Nora sedang menangis. Ia pun menutupi Nora dengan cara berdiri di depan Nora.


"Lo apa-apaan sih Bi?? Udah gue bilang kan? Gue tuh nggak suka sama lo!! Dan gue juga bukan pacar lo!! Lo jangan cari gara-gara dong" ucapnya.


Bianca tak menggubris ucapan Damian. Ia berjalan mendekati Damian dan akhirnya memeluk Damian.


Damian yang masih terkejut pun terdiam untuk beberapa saat. Setelah ia sadar, ia langsung mendorong tubuh Bianca hingga terjatuh.


Bianca mengerutkan bibirnya. "Kamu apa-apaan sih?!! Jelas-jelas aku tuh cantik! Kaya!! Terkenal!! Semua laki-laki mau jadi pacar aku! Tapi kamu kok nggak mau sih?!!" ucap Bianca frustasi.


Damian menatap Bianca dengan tatapan dingin. Ia kemudian berbalik dan menggendong Nora. "Dasar murahan" ucapnya saat berjalan pergi.


Matteo dan Ravin menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumannya sambil berjalan mengikuti Damian.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2