Nora story

Nora story
02


__ADS_3

Tengah malam, Hendri masih disibukkan oleh berkas-berkas yang menumpuk di meja ruang kerjanya.


Berkas di meja ruang kerjanya tersebut tak sebanding dengan berkas dan data-data yang harus ia tanda tangani  di kantornya yang mungkin jika dibuat gudukan gunung, bisa jadi 3 gunung.


Hendri memijit pelipisnya yang terasa sedikit sakit. Ia merasa lelah dan ingin beristirahat. Tak lama kemudian, sang istri datang membawa secangkir coklat panas.


"Pa... papa nggak istirahat dulu? Ini udah tengah malem loh, ntar kalo papa sakit gimana?"


Hendri hanya tersenyum, ia kemudian mengelus pipi istrinya dan mengecup singkat bibir manis sang istri. "Iya ma... ini udah hampir selesai kok. Mama tidur dulu gih, ntar papa nyusul."


Mika menggeleng, ia mengambil satu kursi dan meletakkannya di samping sang suami kemudian duduk sambil tersenyum pada sang suami.


"Nggak ah! Mama di sini aja, nemenin papa sampe ini semuanya selesai."


Hendri tersenyum. Ia pun kembali mengerjakan pekerjaannya dengan ditemani oleh istri tercinta.


'Papa... o papa... ada telefon...' Suara anak kecil terdengar dari ponsel milik Hendri.


Suara tersebut adalah suara Damian yang sedang bernyanyi saat umurnya baru berumur 4 tahun. Ia menggunakannya sebagai nada dering karena merasa lucu saja saat mengingat anak kecilnya itu.


Hendri pun mengangkat telfon yang tercantum nama "Bagas" yang tak lain adalah teman bisnisnya.


"Hallo..." ucap hendri.


"......."


"Iya...."


"........"


"Oke, baik. Saya akan ke sana." Hendri pun menutup telfon terlebih dahulu.


Mika menatap suaminya dengan tatapan heran. "Kenapa pa?"


Hendri terdiam untuk beberapa saat. "Um.... ma. Kita diundang ke pernikahan anak temen aku. Tapi....?"


Mika mengangkat satu alisnya. "Loh?? Bagus dong pa? Kenapa papa bingung?"


Hendri menghela nafas. "Iya... papa tau. Cuma, gimana nasib Nora kalo kita pergi ke sana? Rumah temen papa tuh ada di Paris lo ma!"


Mika terdiam, ia memegang dagunya, membuat pose berfikir. "Um... kayaknya nggak papa deh, kalo kita tinggalin Nora. Kan ada Damian, Matteo dan Ravin di rumah."


"Iya juga ya ma? Ok deh, kita beritau semuanya besok ya ma?!"


Mika mengangguk setuju. Setelah selesai dengan berkas-berkasnya, mereka pun pergi ke kamar untuk tidur.


Esok harinya............


"Hua...!! Hiks mama dimana....?" Nora menangis sambil memeluk bantal. Ia masih belum terbiasa, biasanya jika ia terbangun, maka wajah mamanya lah yang pertama kali ia lihat.


"Sttt.... Nora sayang.... mama disini ok!!" Mika berlari menuju kamar Nora dan memeluk erat Nora.


"Hiks.... ma.... Nora takut..."


"Sttt... cup-cup, udah jangan nangis. Nora sarapan bareng ya...? Mama tadi udah masak makanan enak buat Nora"


Nora mengangguk, setelah itu mereka pun pergi bersama ke ruang makan.


"Ma....?" Nora berucap manja saat semuanya sedang makan.


"Iya Nora... ada apa?"


"Suapin....." Mika pun tersenyum dan langsung menyuapi Nora yang saat itu duduk di samping kanan nya.


"Ma...?" Kali ini terdengar suara manja dari samping kirinya. Saat Mika menoleh, ia melihat Hendri yang tersenyum penuh niat aneh.


"Ada apa?" Tanya Mika yang masih asik menyuapi Nora.


"Ish.... mama kayak nggak tau aja. Papa juga mau disuapin ma...." Hendri berucap dengan nada suara manja, bahkan ia memayunkan bibirnya seolah-olah ia adalah seorang anak yang merajuk pada orang tuanya.


"Byurrrr....." Damian dan Matteo menyemburkan minumannya saat mendengar papanya.


Sedangkan Ravin hanya melotot horor melihat tingkah papanya. "Papa waras??" Tanya Matteo.


Hendri tak menggubris anaknya. Ia lebih memilih menikmati suapan dari istri tercintanya.


Selesai makan.... tiba-tiba suasana menjadi hening. Hanya suara detingan sendok yang dibuat oleh Nora yang terdengar di sana.


"Kenapa semuanya pada diem....?" Tanya Nora dengan polosnya.


Hendri menghela nafas. "Anak-anak.... papa mau bicara hal yang penting."


"Apa pa?" Tanya Matteo.


"Besok papa sama mama mau ke Paris, kalian nggak papa kan jika ditinggal?"


Nora tetap asik dengan sendoknya, ia sama sekali tak mendengar perkataan dari Hendri.

__ADS_1


"Pergi ya pergi aja pa. Yang penting jangan lupa bawa oleh-oleh buat kita. Sama uang jajan juga jangan lupa dikasih, kita nggak papa kok pa" Damian berucap sambil memakan makanannya.


"Ok, tapi kalian jangan nakal lo ya!! Untuk besok, salah satu dari kalian nggak sekolah dulu buat jagain Nora, trus gantian buat hari selanjutnya, ok?!"


Damian mengangguk berbarengan dengan Matteo. "Emangnya Nora nggak sekolah?" Tanya Matteo dengan heran.


"Nggak, Nora nggak sekolah. Nora  nggak bisa." Jawap Nora sambil menggelengkan kepalanya.


Matteo memutuskan untuk tidak bertanya dan melanjutkan sarapannya. Setelah sarapan, mereka pun berangkat ke sekolah.


Esok harinya.... Mika dan suaminya pun telah siap untuk berangkat.  Nora bingung karena ia tak tau jika Hendri dan Mika akan pergi ke Paris. Dan saat Hendri dan Mika sudah berangkat, ia baru diberitau Damian.


Nora ingin menangis, namun saat matanya akan mengeluarkan air mata, Matteo mengancam akan membuatnya tidur di luar rumah bila ia tetap menangis. Nora pun langsung mengucek matanya secara kasar dan berusaha agar tak menangis.


Kini, Nora ada di ruang keluarga dengan Matteo yang asik dengan ponselnya. Merasa bosan, Nora terus-menerus mengganti chanel TV.


Sampai akhirnya... Nora tersenyum saat melihat tayangan yang membuatnya kembali bersemangat.


"Oi!! Ambilin gue minum dong" ucap Matteo.


Nora tak membalas, ia terlalu fokus pada tayangan TV.


"Woi!! Ambilin gue minum bud*k!!" Matteo berteriak tepat di samping Nora.


Nora yang kaget pun langsung berdiri. "A-ada a-pa kak ?" Tanya Nora sambil menahan tangis.


"Ambilin gue minum!! Denger nggak?! Ambilin cemilan juga gih!!"


Nora pun langsung berlari ke dapur. Membuka kulkas dan mengambil beberapa camilan dan segelas jus mangga.


"I-ini kak.." Nora menaruh semua bawaannya di meja samping kursi yang ditempati Matteo.


Tanpa sengaja, Nora menyenggol tangan Matteo, dan membuat Matteo menjatuhkan ponselnya.


"Eh!! Lo gimana sih!! Kalo hp gue rusak gimana?!! Lo jadi cewek kok bego amat ya!! Otak lu tuh lo taro dimana sih?!!" Matteo berucap sambil menunjuk-nunjuk Nora.


Nora yang tak tahan pun akhirnya menangis. Matteo agak kasihan sebenarnya, ia tak sadar jika telah berkata kasar pada Nora karena Nora telah menjatuhkan ponselnya.


Memang jika menyangkut ponselnya, Matteo akan begitu marah jika ada yang mengganggunya.


Nora berlari ke kamarnya, mengunci pintu kamar dan duduk memeluk lututnya sambil menangis sesenggukkan.


"Ma.... pa.... Nora takut.... Nora kangen sama mama, kangen papa. Kalian kapan pulang..... hiks...."


🌻🌻🌻🌻


Tetapi.... yang membuatnya bingung adalah, kenapa ia bisa ada di ranjang? Seingatnya ia tidur di lantai tadi?


Nora menggeleng, ia memutuskan untuk melupakannya. Ia kemudian masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi, Nora pun keluar dari kamarnya. Ia masuk ke dalam dapur karena merasa lapar.


Saat sudah di dapur, Nora melihat Damian yang sedang berdiri di depan kulkas sambil meminum air.


"Kak Damian nggak sekolah...?" Tanya Nora.


Damian melirik sebentar, kemudian ia kembali minum. "Gue bolos" ucapnya setelah selesai minum.


"Oh...." Nora menunduk. Kali ini ia lebih sedikit bicara karena takut jika ia akan di bentak.


"Lo mau makan?" Tanya Damian.


Nora mengangguk. "Iya kak, Nora laper"


Damian mengangguk. Ia kemudian pergi menuju kamarnya. Setelah Damian pergi, Nora pun langsung membuka kulkas, ia mengambil sepotong kue dan segelas susu, kemudian ia makan sendiri.


Sebenarnya Nora takut jika harus makan sendiri. Biasanya mamanya atau papanya akan menyuapi dan menemaninya saat makan. Namun.... Nora tau jika ia tak akan bisa seperti itu lagi untuk sekarang.


Setelah selesai makan, Nora menaruh piringnya ke tempat cucian piring.


Saat akan kembali ke kamarnya. Tiba-tiba Nora dihentikan oleh suara Damian.


"Oi!! Cuci piring lo!! Enak aja lo, makan gratis, tidur gratis di sini!! He! Di sini tuh nggak ada yang gratis ok! Cuci nih semua piring kotor sampe bersih, terus lo sapu ni lantai sampe bersih juga" ucap Damian dengan nada suara kelewat dingin.


Nora langsung menganggukkan kepalanya. Ia ingin menangis namun ia tahan.


Seperginya Damian, Nora pun langsung melakukan apa yang disuruh oleh Damian.


Awalnya Nora tak bisa mencuci piring, ia dibiasakan dimanja oleh kedua orang tuanya. Namun, Nora tetap berusaha. Setelah selesai mencuci piring, Nora pun menyapu lantai ruang keluarga terlebih dahulu.


Setelah semua sudah beres, Nora masuk ke kamarnya.


"Tes... tes... tes..." setetes demi setetes cairan merah kental menetes dari lubang hidung Nora.


Nora mengambil tissu yang ada di meja rias dan menutupi hidungnya agar berhenti mengeluarkan darah.


"Pa.... ma... kalian kapan pulang...??" Ucap Nora dalam hati sambil menangis tanpa suara.

__ADS_1


Nora membuang tissu bekas darahnya ke tempat sampah. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing, dan ia memutuskan untuk tidur.


"Kak, Nora di mana?" Tanya Matteo pada kakaknya.


"Dikamar mungkin?"


"Eh kak, lo ngerasa aneh nggak sama tu bocah? Masa dia kan udah umur 17 tahun lebih nih, napa tingkahnya kayak bocah ya?"


Damian mengangkat satu alisnya. Memang benar apa yang Matteo bilang, ia juga merasa aneh saat mendengar jika Nora tidak sekolah.


"Aku pulang...." suara Ravin membuyarkan lamunan mereka.


Ravin yang baru sampai, langsung duduk di samping kakaknya.


"Kenapa pada diem?" Tanya Ravin heran. "Oi kak, lo kok tega amat sih, bolos nggak ajak-ajak"


"Ya sorry Vin, lo nya sih gue cariin nggak ada"


Ravin hanya menghela nafas. Ia kemudian menengok kekanan dan ke kiri. "Nora di mana?" Tanyanya.


"Dikamar keknya?" Jawap Matteo.


Ravin melepas sepatunya, ia kemudian mengambil jus yang ada di meja tanpa bertanya terlebih dahulu pada Matteo, pemilik jus tersebut.


"Gue ke kamar tu bocah dulu" ucap Revin.


"Hn...."


Ravin pun langsung pergi menuju kamarnya Nora.


Saat sampai di depan pintu. Revin mengetuk pintu kamar Nora. Namun ia tak mendapat balasan.


Ravin pun membuka pintu kamar Nora yang memang tak terkunci saat itu. Ia masuk dan mendapati Nora yang sudah tertidur dengan wajah pucat.


Tunggu dulu....?? Pucat?!! Ravin langsung mendekati Nora dan mengecek suhunya dan hasilnya tidak panas. Ravin agak heran saat melihat tissu yang berwarna merah di tempat sampah. Ia mengambilnya dan langsung terkejut saat menyadari bahwa itu adalah darah.


"Apa-apaan nih...." ucapnya kemudian pergi dari kamar Nora.


Malam harinya, saat mereka makan bersama, tak ada suara diantara mereka. Nora diam, wajahnya memang sudah tidak pucat sehingga Damian dan Matteo tak tau jika Nora sempat sakit.


"Ra, tadi gue nemuin tissu yang ada bekas darahnya di kamar lo. Lo kenapa? Wajahlo juga pucet banget pas gue liat tadi." Ravin bertanya pada Nora yang sedari tadi makan sambil menundukkan kepala.


"Pucet..?? Emangnya lo kenapa??" Tanya Matteo.


Nora merasa tidak nyaman, karena ketiganya menatap penuh tanya padanya. Nora pun memberanikan diri untuk mendongkak dan tertawa. Ia tak tau jika karena ia menangis terlalu lama, dan suaranya saat tertawa terdengar begitu buruk.


"Ahaha.... nggak papa kok kak. Nora nggak papa"


Setelah semuanya selesai makan, Nora langsung mengambil piring yang ada di meja dan membawanya ke tempat cucian piring dan mencuci piring tersebut satu-persatu.


Nora takut jika Damian berkata dingin padanya. Ia takut pada bentakan Matteo, jadi ia memutuskan untuk langsung melakukannya agar tak dimarahi kakak-beradik itu.


Saat akan menaruh piring bersih ke dalam rak, tba-tiba Nora merasa pusing. Matanya agak memburam dan sekali-kali tubuhnya hampir terjatuh karena tak bisa melihat jalan dengan benar.


"PRAKKKKK!!!" Suara piring pecah.


Damian dan yang lainnya pun terkejut dan langsung berlari menuju sumber suara.


Betapa kagetnya mereka saat melihat Nora yang duduk di lantai sambil memunguti pecahan-pecahan piring.


"Lo kok bego banget sih?!! Bawa piring aja nggak becus!!" Matteo berjongkok dan membantu Nora.


Yang lainnya pun sama, mereka membantu Nora membersihkan pecahan kaca.


"Hiks... ma-maaf, N-ora hiks... nggak sengaja..."


Setelah tak tersisa, Ravin membuang pecahan kaca itu ke tempat sampah.


"Berdiri....!" Ucap Damian tiba-tiba.


Nora pun berdiri. Darah segar mengalir dari lututnya yang sedikit tergores pecahan piring.


Nora tak bisa menahan tangisannya. Tadi saat ia tak tau jika dirinya terluka, Nora tak merasakan sakit. Namun sekarang ia tau, ia pun menangis sampai wajahnya sedikit memerah.


"Hiks.... mama... sakit...., lutut Nora sakit.... hua......!!"


"Sttt... diem!! Sini lo, ikut gue!" Damian menarik asal-asalan tangan Nora dan membawanya untuk duduk di sebuah kursi.


Setelah itu, ia pun mengambil kotak obat, membawanya di dekat Nora dan mulai membersihkan darah yang ada di lutut Nora menggunakan air bersih, setelah itu ia membalut luka Nora menggunakan perban.


"Udah... stop, jangan nangis lagi ok!!" Damian menghela nafas. "Luka kecil gini aja lo nangis kayak gitu. Dasar, kayak bocah aja" Lanjut Damian.


"Hiks.... a-abisnya N-ora takut darah.... hiks, Nora pernah liat d-arah yang b-banyak di t-tubuh Nora.... hiks... Nora takut..... hiks..."


Damian menatap Nora dengan tatapan heran, begitu pula dengan Matteo.


Sedangkan Ravin hanya terdiam. Ia menatap Nora dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2