Nora story

Nora story
04


__ADS_3

Nora duduk di ruang keluarga sambil asik sendiri dengan ponselnya.


Sedangkan Ravin sendiri lebih memilih sibuk dengan buku pelajarannya. Ia sesekali melirik Nora, melihat apa yang sedang Nora lakukan dan tersenyum saat menyadari bahwa Nora sedang memainkan game masak-masakan.


"Hahaha... dasar bocah" ucap Ravin dalam hati.


"Ish... kok nggak bisa sih!!" ucap Nora dengan nada kesal.


Ravin yang mendengar ucapan Nora pun penasaran dengan apa yang Nora lakukan. Saat ia menoleh untuk mengintip apa yang Nora lakukan ia mendapati Nora yang menatap layar ponselnya dengan tatapan berkaca-kaca disertai dengan bibir yang mengerucut dan alis yang mengerut.


"Lo kenapa?" tanya Ravin.


Nora menatap Ravin sejenak, setelahnya ia menggeleng dan membenamkan wajahnya ke boneka babi yang ada di pelukannya.


Tak lama setelahnya, Ravin mendengar suara isakkan. "Eh! Lo kenapa?" tanya Ravin lagi.


Nora dengan ragu-ragu pun memberikan ponselnya, nampak jelas dari keadaan ponsel tersebut telah mati karena kehabisan baterai.


"Lo nangis cuma karena ini??" tanya Ravin heran.


Nora mengangguk. "Nora belum selesai main, tapi kok udah mati aja hiks!" ucap Nora yang kemudian mulai menangis cukup keras.


Ravin menghela nafas, ia kemudian mengambil ponsel miliknya dan memberikannya ke Nora. "Nih pake ini aja gih" ucap Ravin.


Nora pun mengambil ponsel tersebut, namun ia hanya menatap ponsel itu dalam diam. Ia tak tau harus melakukan apa.


Sedangkan Ravin yang tak peduli apa yang akan Nora lakukan pun memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya.


Setelah beberapa saat, Ravin merasa agak heran karena tak mendengar suara Nora.


Saat ia menengok, ia terdiam. Nora dengan sangat lelap, tertidur dengan posisi duduk sambil memeluk boneka babinya.


Menghela nafas, Ravin pun menggendong Nora dan membaringkannya di kamar Nora.


***


Ravin duduk di ruang makan sambil memakan ayam bakar yang baru saja ia beli. Ia belajar terlalu giat hingga lupa akan perutnya yang protes karena lapar.


Dering ponselnya menghentikan kegiatan Ravin. Ravin mengangkat ponselnya dan ternyanta mamanyalah yang menelfon.


"Hallo sayang.... udah makan belum? Kalian semua baik-baik saja di sana kan?"


"Iya mah... semuanya di sini baik kok. Papa mana?"


"Papa kamu pergi ama temanya. Mama sama bu Niki, istri temen papa kamu lagi nyobain masak kue."

__ADS_1


"Oh...."


"Oh iya! Uangnya udah mama transfer ok? Mama tadi udah bilang ke Damian buat ambil"


"Ya...." Ravin berhenti sejenak untuk berfikir. "Ma... aku boleh nanya nggak?"


"Tanya apa?"


"Sebenernya aku penasaran, kenapa Nora tuh tingkahnya kayak bocah banget sih ma? Kan umurnya udah 17 tahun lebih?"


Mika tak langsung menjawab, dan itu membuat rasa penasaran Ravin semakin menjadi. "Hah... Nora itu, ia dulu pernah kecelakaan saat orangtuanya akan bercerai. Saat itu... Nora kehilangan banyak darah dan dokter berkata bahwa benturan di kepala Nora menyebabkan pola fikir Nora seperti anak usia 6 tahun"


Ravin terdiam. Ia terkejut dengan apa yang mamanya katakan.


"Jadi.... sikap Nora saat ini itu karena Nora pernah kecelakaan?"


"Iya... Nora bertingkah seperti anak kecil dan sangat manja karena kecelakaan tersebut. Orang tua Nora yang melihat keadaan Nora akhirnya memutuskan untuk tidak jadi bercerai dan memilih untuk fokus pada Nora. Anak mereka satu-satunya"


"Hn...."


"Udah dulu ya sayang... mama mau lanjut masak"


"Ok ma.." Ravin menutup sambungan telfon dan kembali melanjutkan acara makannya.


***


Saat sampai di depan kulkas, Nora bingung mau memilih es krim rasa apa. Biasanya ia akan memilih rasa vanilla, tetapi sekarang es krim tersebut telah habis.


"Jangan makan es krim terus, nggak baik buat kesehatan"


Nora yang terkejut sontak menoleh dan mendapati Ravin yang menyender di dinding sambil memakan es krim rasa vanilla


"Huh... kak Randa nasehatin Nora tapi kak Randa sendiri juga makan es krim tuh! Itu kan es krim punya Nora!!" Nora menggembungkan pipinya.


Ravin dengan wajah datarnya, berjalan mendekati Nora. Sedangkan Nora sendiri menunduk takut karena raut wajah Ravin.


"Hn.... dibilangin nggak sehat juga, mending-mending lo makan buah aja tuh. Baru bangun langsung nyari es krim.." Revin mengelus kepala Nora dan sedikit menunjukkan senyumnya.


Nora yang tadinya takut pun kini tersenyum dan mengangguk. "Ok, Nora bakal makan buah. Tapi nanti sore Nora boleh makan es krim ya kak?!"


Ravin mengangguk, sedangkan Nora sendiri mulai memakan buah apel yang ada di kulkas.


***


"Wah wah wah.... lo bawa siapa kak?" Ravin bertanya saat melihat Matteo pulang bersama seorang gadis.

__ADS_1


"Pacar baru gue, namanya Tania" ucap Matteo santai dan langsung masuk bersama pacarnya.


Ravin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kakaknha yang satu itu memang sangat suka mempermainkan fans girlnya.


Tak lama kemudian, Ravin melihat kakak pertamanya yang tak lain adalah Damian, datang.


Mereka semua duduk di ruang keluarga. Matteo dengan sangat tidak malu, mencium bahkan ******* bibir Tania di depan Ravin dan Damian.


Tania sendiri juga tak ambil pusing. Dirinya lebih memilih fokus pada ciummannya dan bermanja-manja dengan Matteo.


"Apalah dayaku yang seorang jomblo....." ucap Ravin sambil memainkan ponselnya.


"Pacar lo nggak lo bawa ke sini juga kak? Lo nggak pamer kayak Matteo tuh?" Ravin bertanya pada Damian yang sibuk sendiri dengan kamera milik ayahnya.


"Pacar yang mana?"


"Yaelah kak.... nggak usah sok nggak punya pacar deh lo!" Ravin menggeplak kepala Damian.


"Ya...... gue nggak minat buat bawa tu cewek ke sini" Damian berucap dengan nada suara bosan.


Ravin pun hanya mengangguk sambil berkata "O......"


***


Lebih dari 30 menit Matteo dan Tania melakukan aksi mesra mereka.


Damian yang sudah bosan pun pergi ke kamar Nora untuk melihat keadaan Nora.


Saat sudah sampai, Damian disuguhi pemandangan yang cukup aneh. Dimana Nora sedang terbaring terlentang di atas kasur dengan kedua kaki yang diangkat menempel ke tembok.


Wajah Nora tertutup oleh buku dongeng anak-anak, boneka-boneka milik Nora berserakan di lantai dengan lemari yang terbuka dan baju-baju yang berantakan.


"Ni kama lo apain? Kok bisa kayak gini sih!?!"


Nora terbangun karena terkejut. Ia tertawa kikuk saat melihat Damian yang berdiri di tengah pintu.


"A-anu kak..... N-nora bosen di kamar, j-adi Nora...."


Damian menaikkan salah satu alisnya. "Lo bosen? Jadi lo berantakkin kamar lo? Gitu?"


Nora mengangguk sambil menunduk . Ia takut jika Damian akan memarahinya.


"Hn.... kalo udah selesai cepet beresin. Gue nggak suka ngeliat sesuatu yang kayak gini" ucap Damian lalu berjalan pergi.


Nora menatap punggung Damian yang semakin menjauh. Setelah Damian sudah tak terlihat, Nora langsung merapikan kamarnya.

__ADS_1


TBC.,...


__ADS_2