Nora story

Nora story
01


__ADS_3

Di pagi yang cerah. Mika sudah sibuk berkutat dengan peralatan dapurnya. Memasak untuk orang-orang yang disayanginya.


Pembantu? Mika tak mau jika pembantu yang menyiapkan makanan untuk keluarganya. Ia lebih suka memasak sendiri.


"Hua....!!! Mama dimana?!! Hua...!!" Terdengar tangisan Nora dari kamarnya.


Mika pun mau tak mau meninggalkan masakkannya dengan terburu-buru tanpa mematikan kompor.


"Nora.... kamu kenapa sayang...??"


Saat Mika sampai di ambang pintu. Ia melihat Nora yang memeluk bantal sambil menangis sesenggukan. "Hiks.... Nora takut... Nora takut sendiri.... tadi malem aja Nora susah buat tidur... biasanya mama bakalan nemenin Nora, tapi mama nggak ada di sini..... hiks..."


Mika tersenyum maklum, ia mendekati Nora dan mengusap lembut rambut Nora, mengecup singkat kening Nora dan tersenyum. "Lain kali... kalo ada apa-apa bilang ke tante ya?"


Nora mengangguk. "N-nora boleh panggil tante Mika mama nggak?"


Mika mengangguk. "Boleh sayang... kamu boleh panggil mama kok. Malahan aku ngerasa bahagia banget kalo kamu panggil mama"


"Hiks.... mama..." Nora menghambur ke pelukkan Mika.


Hendri yang tanpa sengaja melihat interaksi dari istrinya dan Nora hanya tersenyum lembut. Ia juga merasa bahagia akan kehadiran Nora dalam keluarganya. Ia berharap jika Nora bisa menhadi anaknya.


"Berisik banget!! Ada apaan sih?!!" Damian yang mendengar tangisan Nora pun terbangun dari mimpi indahnya secara terpaksa.


"Apa-apaan sih, brisik banget!! Hari minggu juga, ngapain bagunin gue pake alarm baru yang suaranya nggak jelas!!" Matteo berucap dengan kesal. Ia fikir jika mamanya mengganti nada alarm dengan suara gadis menangis. Ia pun keluar dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Damian dan Ravin.


Berbeda dengan kedua kakaknya, Ravin yang mendengar suara tangisan Nora juga terbangun, terapi setelah duduk di sisi ranjang untuk beberapa saat, Ravin mengambil dua bola kapas kecil dan menaruhnya di telinganya kemudian kembali tertidur.


Damian dan Matteo secara bersamaan pun menuju asal suara. "Ma.... paan sih, hari minggu kok ribut amat. Aku mau tidur ma.... aku capek, mo istirahat, besok aku ujian..." Damian berkata dengan nada suara malasnya.


Sedangkan Matteo? Dia menyandarkan kepalanya di punggung kakaknya dan kembali tertidur. "Auk ah ma.... buat apa coba, mama ganti nada alarm jadi suara cewek nangis? Kan nggak guna?" Matteo bergumam dengan mata yang masih terpejam.


"Ish... udah. Jangan ribut, mana Ravin, panggil dia gih. Kita sarapan bareng."


Damian mendorong Matteo, menyebabkan Matteo terjatuh dan terduduk di lantai.


"Awww.... sakit woi!! Eh?! Ma... ngomong-ngomong soal sarapan, aku kok kayaknya nyium sesuatu yang gosong ya...?"

__ADS_1


Mika membolakan matanya. Ia baru ingat jika ia belum mematikan kompor. Mika pun dengan tergesa-gesa berlari ke arah dapur dan langsung mematikan kompor. Beruntung tak terjadi kebakaran, namun.... masakan yang dibuat Mika menjadi hitam.


"Yah.... gosong deh..."


Mika membuang masakannya yang telah hangus tersebut ke tempat sampah. Ia kemudian mengambil roti dan 3 jenis selai, menaruhnya di atas meja dan ia juga membuat 6 jus jeruk.


"Loh ma, kenapa sarapannya cuma roti doang? Mama tadi bukannya udah masak?" Hendri bertannya dengan wajah bingung.


"Iya mah, biasanya mama kalo masak udah matang jam segini. Sekarang kok cuma jus jeruk ama roti aja...?" Tanya Damian yang datang bersama kedua adiknya.


"Um..... itu, maafin mama ya. Tadi saat mama masak, mama denger Nora nagis di kamar. Pas mama masuk ke kamarnya Nora, mama lupa buat matiin kompor, jadi masakan mama gosong deh..." ucap Mika.


Damian dan Matteo saling pandang untuk beberapa saat. Mereka merasa kesal pada Nora. Mereka berdua memang sudah tidak menyukai Nora saat pertama kali Nora datang. Cuma membuat mereka repot saja, fikir mereka.


Tak lama kemudian, Nora pun datang sambil memeluk boneka beruang putihnya.


Matteo dan Damian menatap jijik ke arah Nora. Sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepalanya, takut akan aura mengintiminasi dari Damian dan Matteo.


"N-nora kembali ke kamar aja ya?" Tanpa menunggu jawaban, Nora langsung meninggalkan ruang makan.


"Damian... Matteo.... kalian jangan gitu dong sama Nora..." Hendri ikut menasehati anaknya.


"Ish... kenapa sih pa?! Nora tuh kan udah dewasa! Kenapa mama sama papa nganggep dia kayak anak kecil sih?! Lagian kita juga nggak ngapa-ngapain dia kok"


Hendri hanya menghela nafas, mereka pun sarapan bersama dengan keheningan.


"Ravin, kamu anterin sarapan ke kamar Nora ya? Mama mau arisan sama temen-temen mama, papa mau ke kantor. Kasian Nora, dia belum sarapan." Mika berucap setelah semuanya selesai makan.


"Hn...." Ravin hanya mengangguk.


Setelah orang tuanya pergi ke kesibukan masing-masing, Ravin pun mengantarkan sarapan untuk Nora.


"Tok tok tok ...." Ravin mengetuk pelan pintu kamar Nora. Namun Nora sama sekali tak menjawab.


Saat Ravin membuka pintu, ternyata pintunya tak terkunci. Ravin pun masuk dan melihat Nora yang berbaring tengkurap di atas kasur sambil menggambar.


"Nggambar apa?" Tanya Ravin yang sukses membuat Nora terkejut.

__ADS_1


"Nggak tau..." jawab Nora.


Ravin menaikkan salah satu alisnya bingung. "Nggak tau..? Coba sini gue liat"


Nora memberikan hasil gambarannya ke Revin. Revin agak terkejut, bukan karena gambaran Nora jelek, melainkan gambar Nora itu jauh dari kata jelek.


Di gambar itu terdapat seorang gadis cilik yang membawa boneka beruang, sedang berjalan di jalan yang sepi dan di bawah guyuran hujan.


"Dia.... siapa?" Tanya Revin lagi.


Tiba-tiba saja, air mata turun membasahi pipi Nora. Ravin yang terkejut pun bingung harus bagaimana.


"Eh.... lo kenapa? Udah jangan nangis ah!! Gue bingung mesti gimana?! Oi.... cup cup cup... jangan nangis.... aduh, gue nggak bisa nenangin ni bocah lagi....!"


"Hiks.... ma... pa... jangan tinggalin Nora. Nora janji, Nora nggak bakal jadi anak yang nakal lagi.... tapi please.... jangan tinggalin Nora... hiks..." Nora memeluk lututnya. Badannya bergetar dan air matanya tak berhenti mengalir.


Ravin yang bingung harus bagaimana pun langsung memeluk Nora. Berfikir bahwa memeluknya akan membuat Nora merasa tenang.


"Stt.... Nora.... diem.... udah, jangan nangis... lo kenapa sih...?? Lo kangen sama ortu lo?"


Nora menggeleng. "Mama.... papa... pis-ah hiks... mo-mobil.. darah... Nora takut.... Nora takut.... hiks..."


Ravin makin tak mengerti. Namun ia memutuskan untuk berhenti bertanya. Ia menghapus air mata Nora dan mengelus pipi Nora agar Nora tenang.


Namun.... Nora tetap menangis. Ravin pun mengecup kening Nora beberapa kali dan mengelus rambutnya. Akhirnya... Nora pun tenang dan berhenti menangis.


"Hiks.... kak Randa kenapa baik sama Nora?"


Ravin mengangkat satu alisnya bingung. Setelah beberapa saat, ia baru sadar dan mulai tersenyum.


"Karena gue nggak suka bikin ribut. Gue nggak mau repot-repot musuhin lo cuma gara-gara gue nggak suka lo. Buang-buang tenaga aja tau nggak."


Nora menunduk sedih. Sebelum kembali menangis, Ravin langsung mengambil roti yang ia taruh di nakas. "Ini roti lo, lo belum sarapan kan? Cepet makan gih, ntar lo sakit"


Nora pun tak jadi menangis dan memutuskan untuk memakan rotinya.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2