
Pohon daun bintang memiliki energi sihir yang kuat. Dengan berlatih menggabungkan dua jenis daun, tidak hanya mungkin untuk menciptakan jenis tanaman, tetapi juga meningkatkan kekuatan sihir cahaya.
Untuk sihir cahaya, memiliki berbagai tingkatan. Mulai dari kelas satu hingga empat, untuk pemula dan menengah. Sedangkan tujuh dan delapan untuk level tinggi.
Kemudian tentang sihir yang digunakan untuk membuat jenis tanaman baru, mulai secara bertahap. Jadi, jika Anda melakukan sihir ringan dengan tingkat pertama dan berhasil, maka Anda dipersilakan untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.
Sedangkan untuk tanaman yang sudah berhasil dibuat. Akan diletakkan di rak dan diberi nama pemiliknya. Hal tersebut dilakukan, karena agar siswa tidak hanya dapat memajang karyanya, tetapi dapat menggunakannya kembali.
Untuk pemulihan. Itu kata yang tepat.
Sekarang, satu menit waktu telah berlalu, dan Michelle bangga pada dirinya sendiri. Pasalnya, telah berhasil menghasilkan tanaman dengan warna yang tidak biasa.
Ini seperti daun semanggi yang memiliki empat hati berwarna biru dan perak. Tapi, itu baru di luar. Sebab, jika diperhatikan dengan seksama. Ada daun kecil, bentuknya bulat.
Tanpa disadari, semua orang di ruangan itu tiba-tiba berkumpul di dekat Michelle dan menjadi semakin banyak dengan Madam Light sebagai tambahan.
Awalnya Michelle mengira alasan orang-orang tersebut berkumpul adalah karena bentuk tanaman yang dimiliki Michelle sangat unik. Tapi, bukannya mendengarnya di awal, dia mendengarnya di akhir.
Dan, kata-kata pertama yang didapat Michelle adalah dari ibunya, yang tentang bau yang keluar dari tanaman Michelle, yang menyerupai apel segar, seolah baru dipetik.
Namun, ketika salah satu anak ingin menyentuh daun tersebut. Secara tidak sengaja, setelah itu jari telunjuk anak terasa dingin. Setelah beberapa saat, tangannya tidak bisa digerakkan.
"Membeku!" Kata salah satu anak lain setelah terkejut.
Untungnya, sebelum itu menyebar lebih dalam. Madam Light segera mengambil tindakan dengan mengambil salah satu daun milik anak lain. Dalam cahaya yang keluar bersama embun dari es. Tak lama kemudian, tangan gadis itu pulih.
Kini, gadis yang awalnya takut telah kembali tenang.
Dan, untuk Michelle. Ia diberi kesempatan untuk menjelaskan tentang tanaman yang dibuatnya.
Pasalnya, belum pernah ada tumbuhan yang bisa membekukan tubuh saat disentuh. Sebab, fungsi tumbuhan itu adalah untuk dijadikan obat. Jadi, tidak heran jika Madam Light bertanya tentang tanaman Michelle.
Seketika, wajah Madam Light tampak menunjukkan sedikit kesal, setelah mendengar cerita Michelle.
Namun untungnya. Madam Light mampu menahannya dan setelah kembali untuk melihat tanaman perak biru. Madam Light menghela napas, "Kamu tidak boleh melakukannya, jangan lakukan lagi."
Rupanya, Michelle telah membuat kesalahan dengan menyatukan sesama daun bintang. Dan, daun bintang yang ia cipatan berasal dari dua tanaman yang sebelumnya dibuat Michelle.
Tidak sempat Michelle menanyakan alasannya, ibunya berkata untuk kembali berganti pakaian, karena bel pusat kota berbunyi dan kelas usai.
Ini membuat Michelle menghentikan ibunya. Sambil memegang baju ibunya. Tapi, bukannya mendapat jawaban. Michelle malah disuruh pulang. Sebab, ibunya mengatakan tidak ada alasannya.
Setelah melihat wajah serius ibunya, Michelle tidak punya pilihan lain untuk mematuhinya, dan meninggalkan ibunya sendirian.
Dalam langkah yang sekarang keluar dari perpustakaan, mulai berjalan ke lorong di samping taman.
Seketika, Michelle langsung berhenti dan melangkah ke taman setelah beberapa detik terdiam.
Di sebuah taman besar, terdapat bangku taman yang panjang. Tanpa pikir panjang, Michelle duduk dengan tangan disilangkan.
"Kenapa malah begini ?," kata Michelle sambil mendesah panjang.
"Sebenarnya, saya sangat senang. Hasil yang sangat bagus, cepat selesai. Namun, itu berdampak merugikan." Lanjut MIchelle yang mengubah posisinya menjadi tidur.
Sambil menghela nafas lagi, Michelle teringat kejadian yang kini membuatnya, hanya ingin menyendiri.
Pada saat yang sama, terpikir olehnya bahwa apa yang dilakukannya tidak terlalu buruk. Akhirnya Michelle mengambil keputusan untuk menyimpannya sebagai pajangan, karena akan sangat sayang untuk membuangnya.
Alasan lainnya, karena tidak hanya memiliki warna dan bentuk yang unik. Tapi, karena mengeluarkan aroma kesukaan Michelle, yaitu apel.
"Baik!." Kata Michelle bersemangat setelah bangun dari tempatnya. Dan, tanpa menunggu lama. Michelle segera bergegas kembali ke perpustakaan.
Tapi, bukannya bisa masuk setelah sampai dengan cepat. Ternyata, perpustakaan tersebut telah ditutup dan dicuci dengan sihir tertentu dari ibunya.
Ini membuat Michelle kembali untuk mengingat hal-hal yang telah dia lupakan. Michelle baru ingat bahwa ibunya bukan hanya seorang guru, tapi juga kepala perpustakaan.
Merasa terlambat. Michelle mulai memikirkan hal-hal buruk yang terjadi pada tanamannya. Itu berubah dari dibuang menjadi dihancurkan, dan tentu saja, Michelle bahkan lebih ketakutan ketika gambar itu menunjukkan orang yang melakukannya adalah ibunya.
Michelle menangis. Tapi, kemudian muncul ide dari kepalanya yang memerintahkan untuk pergi ke ruang guru, sebelum malam tiba. Tanpa menunggu lama, Michelle langsung pergi.
__ADS_1
Tanpa pikir lama, Michelle langsung pergi sambil teriak, "Ibu ... !!."
Tangisan seperti anak berusia lima tahun kembali lagi.
Berada di lorong yang semula lurus, kini tinggal belok kanan. Michelle langsung mengetuk pintu, tapi malah tak mendapat jawaban. Sebaliknya, dia menyadari bahwa pintunya terkunci.
MIchelle menangis lagi. Dalam hatinya dia berkata, "Mengapa saya memiliki akhir yang buruk?."
Merasa sudah larut dan seluruh sekolah tampak kosong. MIchelle, sekarang berjalan, kembali ke jalan yang dia lalui. Dan, berhenti di tempat yang sama, yaitu samping taman.
Tapi, kini Michelle memutuskan untuk tidak masuk ke taman tersebut. Karena, alih-alih melakukannya, dia berhenti di lorong.
Sebab, tanpa disadari. Sosok hitam itu muncul lagi, dan sama seperti sebelumnya. Sosok itu benar-benar muncul di depan, dengan bentuk tubuh manusia. Namun, seluruh bodi atas hingga bawah berwarna hitam.
"Kamu, apa...," kata-kata Michelle langsung terputus, tapi bukan karena dia tidak bisa mengeluarkan suara, tapi tubuhnya dikelilingi oleh benda-benda yang melilit tubuhnya dari bawah.
Masih melihat sosok itu terdiam, kini Michelle mulai berani menantang. Tapi, alih-alih berhasil melakukannya, Michelle terdiam lagi dan ketika mencoba berteriak, dia benar-benar merasa bisu.
"Suaraku tidak bisa keluar!," Kata Michelle pada dirinya sendiri.
Michelle, yang awalnya mengira dia akan diserang. Malah merasa tubuhnya bisa digerakkan. Nyatanya, benda hitam yang membungkus tubuhnya sudah hilang. Namun, saat MIchelle melihat lurus lagi, sosok hitam itu telah menghilang.
"Kemana perginya?," kata Michelle.
Michelle segera memutuskan untuk pergi secepatnya, dan bertemu dengan kakaknya.
Tapi, alih-alih sudah memberikan beberapa langkah untuk melanjutkan. Seketika, keadaan lorong sekolah berubah. Seolah-olah MIchelle tidak lagi berada di area sekolah, tempat itu tampak seperti dunia lain.
Penuh dengan langit biru, merah, dan ungu. Michelle yang tidak tahu di mana dia berada, mulai melihat-lihat dengan berkeliling.
Michelle bahkan menemukan jalan setapak menuju tangga dengan bebatuan putih. Karena penasaran, Michelle segera naik ke atas dan dalam benaknya berharap menemukan sesuatu.
Bangunan mirip istana itu tidak memiliki banyak anak tangga, tapi entah mengapa Michelle merasa lelah. Sambil menghela napas berat, dia mencoba berhenti dan mengatur paru-parunya.
"Sangat aneh, dan saya yakin saya baru mulai." Kata-kata MIchelle terbukti setelah melihat ke belakang. Rupanya dia baru mulai dengan sepuluh langkah. Menyadari hal ini membuat Michelle menghela nafas.
"Dugaanku terbukti." Dia melanjutkan dan memutuskan untuk duduk sebentar.
"Oracle." Ucap Michelle setelah meyakinkan dirinya sendiri saat melihat wajah dingin pria di depannya. Namun, sebelum Michelle sempat bertanya, dia disuruh naik ke atas.
"Jangan naik tangga, gunakan sayapmu." Kata Oracle. Namun, sebelum Michelle melakukannya, dia mengajukan pertanyaan. Mengenai tempat macam apa ini ?, kenapa aku bisa disini ?, dan kenapa kamu juga ada di tempat ini?.
Namun setelah menunggu lama, Michelle disuruh diam dan tidak banyak bicara, ikuti saja. Dan, tentu saja masih dengan tatapan dinginnya. Oracle melanjutkan. "Sangat merepotkan."
Michelle dengan cepat terbang dan mengikuti Oracle dengan berada di sampingnya. Segera suasana menjadi hening. Awalnya Michelle sempat melihat Oracle, tetapi kemudian berubah setelah melihat mata tajam Oracle.
Michelle sekarang tegang, dengan pandangan lulus ke depan. Sebenarnya, dia awalnya ingin memanggil Oracle. Namun, Michelle memutuskan untuk menurut dan diam.
"Aku bertanya-tanya, kenapa kamu begitu nyaman dengannya, kakak?" Pikir MIchelle.
Tanpa disadari, Michelle berhasil mencapai puncak. Dan, lagi-lagi merasa aneh, karena kali ini dia tidak merasa lelah. Namun, tatapannya tiba-tiba berubah saat melihat Fanecing yang sedang terbaring di kursi panjang.
"Fanecing!." Kata Michelle saat dia berlari mendekati kursi.
"Apa yang terjadi?," Tanya Michelle. Dan setelah hening lama, Oracle mulai menjawab, "Tidur."
Michelle agak bingung. Semua orang membutuhkan itu, tapi dia tahu Godlariom tidak butuh tidur. karena Godlariom mendapatkan energi dari pemilik tubuh saat istirahat, baik saat bersantai maupun tidur.
Jadi, Godlariom bergantung pada pemilik tubuh mereka.
Ini membuat Michelle bertanya, "Apa maksudmu?"
"Sihir tidur, dia terkena itu." Melihat keheningan Michelle membuat Oracle melanjutkan, "Sangat merepotkan."
Oracle langsung menjelaskan tentang Fanecing.
Rupanya, setelah mimpi buruk MIchelle telah berakhir. Fanecing juga mengalami masalah, tetapi hampir sama dengan Michelle. Karena Fanecing ditemukan tertidur di dunia Whiword.
Tapi, sebelum itu terjadi. Oracle merasakan keanehan ketika Fanecing memutuskan untuk kembali ke Whiword. Lima menit kemudian dan malam itu Oracle, yang awalnya tenang, mulai berbuah.
__ADS_1
Dalam sosok pria jangkung, Oracle mulai meminta Anlyver untuk diam dan tidak ikut campur. Namun, sebelum Oracle pergi, dia menyuruh Anlyver untuk tidak keluar dari ruang kerja.
Oracle segera menemui Fanecing, dan seperti yang diharapkan ada yang salah dengan Fanecing. Pasalnya, tubuh Fanecing seakan tak bisa bergerak.
Di dalam, tubuh yang tampak kaku. Fanecing bahkan mencoba untuk berbicara, tetapi bukannya bisa melakukannya, dia malah berakhir dengan tubuh yang lemas.
Fanecing tidur.
Menyadari hal ini, Oracle, yang awalnya hanya menganggap enteng masalah itu, mulai membawa Fanecing pergi. Tapi, sebelumnya Oracle bisa mendengar mulut Fanecing berkata, "Ophiuchi."
Entah dari mana Fanecing mendengarnya, tapi itu membuat Oracle kesal. Namun, Oracle tidak ingin membuang-buang waktunya dalam keheningan, karena dia merasakan energi Fanecing semakin berkurang.
Dan, mereka dengan cepat sampai di tempat yang bernama Antales. Tempat Michelle berada sekarang.
"Antales? Jadi di sinilah pemimpin Godlariom berada?" Kata Michelle setelah mendengar beberapa cerita.
Oracle hanya menjawab, "Ya."
"Pantas saja aku cepat lelah," kata Michelle pada dirinya sendiri setelah teringat kejadian saat dia menaiki tangga.
Menurut apa yang diceritakan Fanecing ke Michelle. Antales adalah tempat yang penuh dengan energi besar, dan dibutuhkan jumlah energi yang sama untuk hidup di tempat ini.
Sebenarnya energi yang dimaksud berasal dari tubuh yang kuat, yang bisa berasal dari salah satu tubuh. Misalnya, Michelle, saat berada di sini, cepat lelah saat menaiki tangga tapi berbeda dengan menggunakan sayapnya. Karena energi yang lebih besar ada di sayap.
Namun, Michelle dengan cepat mengubah pandangannya ketika dia melihat bangunan putih yang hancur, dan retakan lebih banyak ada pada pilar.
Ternyata, hal lain yang membuktikan perkataan Fanecing adalah tentang keadaan tempat dimana Michelle berada sekarang.
Antalis terlihat seperti bangunan yang roboh, dan sebagian besar ditemukan pada pilar dengan retakan yang sangat dalam. Bahkan ada tumbuhan yang menyerupai akar berduri yang merambat melalui setiap bangunan dan sampai ada beberapa yang merambat sampai sudut.
"Sangat berantakan," Guam Michelle.
Michelle yang melihat Oracle yang terdiam mulai bertanya, "Apa yang kamu lihat?." Oracle yang mendengarnya mulai berbalik menghadap Michelle dan menjawab, "Tidak. Tidak ada."
Tidak lama kemudian, Fanecing bangun dari tidurnya dengan salah satu tangan memegang kepala .
"Kenapa aku ...?, Dimana aku?." Fanecing bertanya.
Seketika matanya yang awalnya rabun mulai membulat, "Langit merah, biru, ungu ... aku di Antalis ?!"
"Kamu sudah bangun, bagus." Michelle melanjutkan sambil tersenyum, "Bagaimana? Apakah kamu baik-baik saja?"
Alih-alih menjawab Michelle, Fanecing malah bertanya, "Michelle, kenapa kamu di sini?" Mendengar itu Michelle langsung menjawab, "Aku disuruh menjemputmu."
"Apa? Siapa yang memenyuruhmu ?," tanya Fanecing.
"Oracle," jawab Michelle.
Seketika Fanecing mulai terdiam, setelah melihat wajah Oracle yang menurutnya sangat menakutkan. Meskipun mata Fanecing memakai penutup, dia dengan jelas melihat mata tajam yang sepertinya ingin membunuh.
"Apakah saya melakukan sesuatu yang salah?" Pikir Fanecing.
"Fanecing," kata Oracle. Dan setelah mendengar namanya dipanggil, Fanecing mulai menjawab, "Ya?."
Melihat tatapan tajam Oracle membuat Fanecing tergagap, "... apakah ada ... masalah?"
"Tidak," Orcale melanjutkan katanya saat dia mendekati ujung tangga, "Cepat, waktunya pulang."
Setelah hening lama, Fanecing dan Michelle mulai mengikuti. Melihat Fanecing di sisinya, Michelle bertanya, "Apakah dia selalu seperti ini?"
Fanecing yang mendengar kata-kata Michelle tahu orang yang dibicarakan, dengan nada berbisik, Fanecing menjawab, "Ya. Tapi, lebih baik kamu tidak mengatakan hal buruk tentang Oracle."
"Kenapa tidak ?," Kata-kata itu berlanjut, "Dia harus memperbaiki sikapnya, aku bahkan bertanya-tanya kenapa kakakku sangat nyaman dengannya. Tapi, setidaknya dia bersyukur ada yang menerimanya."
Tanpa disadari, suara nyaring Michelle pun terdengar oleh Oracle.
"Michelle, kamu tidak bisa mengatakan itu," kata Fanecing. Tapi, bukannya marah, Oracle berkata dengan suara rendah, "Dia benar."
"Aku beruntung," lanjut Oracle, yang masih berjalan.
__ADS_1
Sementara Michelle mengira apa yang dia katakan itu benar, Fanecing berbeda.
Sebenarnya ada satu hal yang hanya diketahui oleh sesama Godlariom, untuk tidak disembunyikan. Lebih tepatnya tentang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan, salah satu cerita itu adalah tentang kehidupan masa lalu Godlariom, yang berhubungan dengan harimau putih di depan Oracle.