
Malam yang dipenuhi bintang dan bulan sabit menghiasi langit biru, seperti lukisan, terlihat sangat indah.
Dalam pantulan sinar bulan ada seorang anak laki-laki dengan gaya seorang anak laki-laki dengan rambut kuning dengan mahkota di kepalanya sambil meletakan dagu di tangan kanannya. Ya, ini Anlyver.
Baju putih dengan lambang matahari di dada terus berkibar ditiup angin malam yang sangat dingin bagi banyak orang, namun Anlyver tidak merasa kedinginan di badannya karena memakai jas bulu putih milik almarhum ayahnya.
ini bukan pertama kalinya Anlyver mengenakan jubah tebal berbulu, karena ia pernah mengenakannya pada penobatan pertamanya sebagai raja. Meski jarang dipakai, mengenakan jubah ayahnya membuat Anlyver merasa sosok ayahnya yang bersamanya dengan kehangatan.
Anlyver lalu menghela nafas, "Apa yang harus aku lakukan, ayah?"
Anlyver mengubah posisinya menjadi berdiri tepat setelah suara berat dari seorang pria memanggil namanya, dengan suara lonceng berirama juga terdengar.
itu adalah Agnis.
Seketika Anyver mendengus kesal sambil bergumam, "Apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Kenapa kau melihatku seperti itu?," Agnis membungkuk dan bersandar pada pilar tinggi di samping Anlyver dan tersenyum, "Jubah yang bagus." Dia berkata.
Agnis kemudian melanjutkan setelah menerima respon tatapan dari gadis di sebelahnya, "Harta yang sangat berharga. Yah itu menyentuh, tapi benda berbulu itu lebih pantas denganmu daripada "Orang itu. "
"Pria itu selalu memakainya kemanapun dia pergi, tapi kamu hanya memakainya saat dia menginginkannya. Aku ingin tahu kenapa " dia " selalu memakainya." Seketika Agnis langsung menyeringkai, "Pasti orang itu memiliki suhu tubuh yang tidak stabil."
Seketika suara tajam bisa terdengar.
Sebuah pedang panjang dengan cahaya kuning di genggamannya sambil memberikan wajah yang mengancam saat dia mengarahkan pedang ke leher sosok gelap itu.
"Beraninya kamu." Itu adalah kata-kata yang keluar dari Anlyver, dan saat bilahnya semakin dekat ia melajutkan, "Pedang ini juga diberikan oleh " dia ", jadi aku pasti juga akan menebasmu dari pada menguncimu di tempat gelap selama 8 tahun. "
Dengan suara nyaring, Agnis langsung tertawa setelah mendengar perkataan Anlyver.
* BAZZZ *
Suara tebasan pedang terdengar lagi dan kali ini pedang emas mengenai sasarannya.
Tubuh Agnis sekarang berdarah.
Melihat dadanya terluka, Agnis buakannya kesakitan, dia malah tersenyum lebar. Karena luka yang panjang itu sembuh dengan cepat dan karena merasa marah membuat Anlyver kembali menyerang Angis.
Puluhan serangan diberikan ke seluruh tubuh Angis dan meski semuanya terkena, lukanya masih pulih dengan cepat.
Anlyver kembali marah. Dab setelah berhenti sejenak setelah melihat bahwa semua serangannya tidak berhasil, dia menyerang lagi setelah berkata, "Kamu."
Namun bukannya berhasil, langkahnya terhenti oleh kemunculan seorang pria kulit putih di depannya, hal ini membuat Anlyver kesal, "Minggir Oracle!" Kata Anlyver
Tidak ingin menyingkir, Anlyver tanpa berpikir panjang menyerang Oracle dengan amarah.
Pertarungan pun terjadi.
Tidak seperti Angis yang diam dan menerima serangan dari Anlyver, Oracle membalas serangan Anlyver.
Serangan benturan pedang menghasilkan pertarungan sihir menggunakan pedang. Tidak ada yang ingin kalah, mereka berdua setara dalam sihir dan fisik.
Ini membuat Anlyver ingin mengakhirinya, karena targetnya adalah Agnis, bukan Oracle. Tanpa pikir panjang, Anlyver yang masih melawan Oracle langsung menyerang Agnis dengan serangan panjang dengan sihir berbentuk pedang.
Cahaya kuning dari sihir bukannya mengenai sasaran, itu malah bertabrakan dengan sihir putih Oracle yang muncul dari samping dan membuat ledakan lebih besar dari serangan sebelumnya.
"Oracle!." Teriak Anlyver.
Teriakan itu malah dijawab dengan dingin oleh Oracle, "Tenang Anlyver."
Sebelum Anlyver sempat menjawab, Oracle dengan cepat membuat Anlyver pingsan dengan sentuhan dari belakang leher. Dia segera mengangkat Anlyver setelah berkata, "Pergi."
Mendengar hal tersebut, Agnis langsung pergi setelah tersenyum melihat wajah dingin Oracle.
Setelah Agnis menghilang bersama cahaya hitam dari tubuhnya, Oracle segera membawa gadis yang dibawanya ke dalam kantor gadis bernama Anlyver.
__ADS_1
Di ruang kerja, Oracle melihat semua tumpukan kertas terisi dan tersusun rapi di atas meja. Setelah menempatkan Anlyver di kursi panjang dengan bantal di bawah kepalanya, Oracle segera memanggil sosok di dekat rak buku.
Itu Agnis.
"Aku tahu kamu tidak akan pergi dengan mudah, kamu kucing hitam." Orcale berkata pada dirinya sendiri.
Diminta untuk pergi, Agnis muncul kembali dan tersenyum saat dia berjalan mendekati kursi panjang.
Alih-alih bisa memegang wajah Anlyver,
Sebaliknya, Agnis meraih tangan Oracle dan dengan tatapan tajam, Oracle berkata, "Jangan."
"Baiklah, aku tidak akan." Kata Agnis.
Agnis segera mengembalikan tangannya.
"Maaf, Yang Mulia." Agnis melanjutkan, sambil tersenyum pada Oracle.
Tapi, bukannya menjawab, Oracle berjalan mendekati pintu setelah mendengar ketukan. Dan ada suara seorang wanita di belakangnya memanggil dengan kata-kata, "Kakak."
Itu MIchelle.
"Kenapa dia di sini?." Kata Oracle pada dirinya sendiri. Pasalnya, ia ingat menyuruh Michelle tidur dan tidak pergi ke kamar Anlyver atau ruang kerja Anlyver dengan alasan sibuk bertugas.
Namun, setelah mendengar ketukan di pintu dengan suara yang menyuruhnya untuk membuka pintu, Oracle langsung membuka pintu setelah menghela nafas.
"Oracle?." Kata MIchelle, "Dimana kakak?" Dia melanjutkan.
"Dia .." Kata-kata yang terhenti setelah matanya melirik sosok bernama Agnis menghilang dan kecurigaan jatuh pada jendela yang terbuka.
"Oracle?," Panggil MIchelle.
"Istirahat." Kata Oracle, "Kembalilah besok."
Sebelum Michelle sempat mengucapkan sepatah kata pun, Oracle telah menutup pintu dan ini membuat Michelle bergumam kesal, "Sial, ini menyebalkan."
Di pagi hari Anlyver bangun karena mendengar suara ketukan di pintu. Sambil berjalan dengan kepala pusing, dia membuka pintu dan menemukan sosok yang familiar.
Michelle berdiri diam, tampak kesal mengingat kejadian tadi malam.
"Michelle ..?." Kata Anlyver. "Kenapa kamu datang sepagi ini? Kamu tidak pergi ke sekolah?" Dia melanjutkan.
Tidak mendapat jawaban, Anlyver membawa Michelle masuk.
"Di mana Oracle?" Kata Michelle Setelah duduk. Mendengar pertanyaan dari adiknya, Anlyver menjawab. "Aku tidak tahu."
"Aku tidak bertemu dia di WhiWord." Anlyver melanjutkan.
Mendengar ini membuat Michelle semakin kesal, mengingat apa yang Oracle lakukan padanya dan berkata, "Sosok yang aneh."
Anlyver yang mendengarnya mulai bertanya, "Ada apa?"
Dengan raut wajah yang masih kesal, Michelle menjawab, "Dia tidak memberiku izin untuk bertemu denganmu dan menyuruhku kembali besok karena kamu sedang istirahat."
"Itu benar ?." Guam Anlyver.
Melihat adiknya lalu terdiam, Anlyver langsung menghela nafas dan berkata. "Maaf Michelle, tapi apa yang dikatakan Oracle itu benar." Anlyver duduk di sebelah Michelle, "Aku sangat lelah, aku ingin istirahat."
Komentar yang sangat tepat, karena Anlyver sangat mengingat sikap Oracle. Tapi tiba-tiba ingatan Anlyver kembali ke malam terakhir saat dia melawan Oracle.
Seketika ingatan itu diganti dengan sebuah pertanyaan. "Apa yang membuatmu datang ke sini Michelle?"
Bukan mendapat respon dari Michelle. Anlyver memegangi dahinya karena merasa pusing dan ingatan ketika Anlyver pingsan berulang.
"Oracle." Guam Anlyver, "Dia membuatku pingsan." Lanjutnya
__ADS_1
"Kakak, apakah kamu sakit?" Tanya Michelle yang melihat kakaknya memegangi dahinya dengan wajah menghadap ke bawah.
"Tidak." Anlyver menjawab.
"Apa yang kamu lakukan sampai sakit kepala?" Michelle bertanya dan karena khawatir dia melanjutkan, "Kakak, istirahat saja, aku akan pergi ke sekolah. Aku datang ke sini karena ingin bertemu denganmu, tetapi aku akan kembali lagi nanti ketika aku pulang sekolah."
Mendengar hal itu membuat Anlyver tersenyum dan bertanya. "Apa hal penting yang ingin Anda katakan?." Alih-alih mendapat jawaban dari adiknya, Anlyver justru melihat wajah diam dengan mata memandang ke bawah. Hal ini membuat Anlyver menyebut nama Michelle.
Michelle, yang mendengar namanya, mulai menjawab dengan gugup. "Nantikan saat aku pulang." Sebelum Anlyver sempat membalas perkataan kakaknya, Michelle langsung berjalan keluar kamar setelah berdiri sambil tersenyum.
Setelah Michelle meninggalkan ruangan, senyuman itu berubah menjadi wajah sedih. Melihat ke bawah MIchelle langsung berkata. "Ini belum waktunya."
Michelle segera pergi. Namun, langkahnya berhenti setelah dia melihat sosok berkerudung hitam yang sama persis dengan yang dia lihat dengan kakak perempuannya.
Michelle memutuskan untuk mengikuti sosok hitam itu. Sambil bersembunyi dia terus mengikuti sosok yang dengan cepat melewati setiap lorong.
Tepat di lorong yang sangat panjang. Michelle, yang berdiri di samping pilar tinggi, mulai berteriak sambil berteriak. "Berhenti."
Melihat sosok itu berhenti, Michelle langsung bertanya. "Kamu siapa? Dan tunjukkan wajahmu!"
Bukannya berbalik, sosok itu menghilang.
"Cahaya apa itu?" Kata Michelle setelah matanya melihat cahaya hitam yang sangat pekat yang muncul dari sosok hitam di depannya tadi.
"Kemana perginya ?." Dia melanjutkan setelah belokan lorong berikutnya.
Sementara Anlyver yang masih berada di ruang kerjanya masih duduk dengan tangan di atas kepala. Tak butuh waktu lama, ia langsung berdiri setelah melihat sosok anak kecil muncul di hadapannya.
"Oracle." Kata Anlyver.
Kata-kata itu tidak berlanjut karena, Anlyver melihat bahwa semua tubuh Oracle dari ujung kepala hingga ujung kaki terlihat sangat berantakan. Itu penuh dengan kotoran dan noda debu dan bahkan di kepala Oracle ada banyak daun hijau yang menempel padanya.
Melihat Anlyver terdiam membuat Oracle menghela nafas saat dia berkata. "Aku tahu, jangan bilang."
Kata "Apa yang terjadi." Berubah menjadi. "Katakan padaku." Dari mulut Anlyver.
"Ini menyangkut nyawamu." Kata-kata Oracle mengejutkan Anlyver. Mata bulat membuat pertanyaan. "Maksudmu apa?."
Sebelum Oracle sempat menjelaskan, suara ketukan di pintu terdengar lagi. Namun, kini bukan Michelle yang datang, melainkan ibu Anlyver, Madam Light.
"Ibu, masuk." Kata Anlyver sambil membuka pintu. Namun alih-alih masuk ke dalam, Madam Light tidak mau masuk dan hanya ingin segera memberi tahu masalahnya.
"Apa masalahnya, Bu?" Pertanyaan Anlyver pun terjawab dengan wajah serius. "Perpustakaan telah membeku."
Kata-kata yang membuat Anlyver bertanya dengan wajah kaget. "Apa? Kenapa?."
"Tanaman bintang. Tanaman bintang yang ibu taruh di ruang penyimpanan barang sita membeku dan merambat ke semua tanaman bintang lainnya. Hal ini menyebabkan 50% tanaman muird membeku."
Anlyver mengerutkan alisnya dan bertanya, "Tanaman siapa penyebabnya?"
"MIchelle." jawab Madam Light.
Melihat ibunya masih dengan wajah serius, berarti ibunya tidak berbohong.
"Kita pergi ke sekolah sekarang." Kata Anlyver.
Sementara itu Michelle yang akan berangkat sekolah mulai merasa tidak enak setelah sampai di gerbang sekolah.
Pikiran yang penuh dengan pertanyaan tentang sosok yang dia lihat sebelumnya. Sosok hitam dengan kerudung dengan warna yang sama. Berubah menjadi perasaan tidak nyaman dan saat dia tiba di depan perpustakaan, Michelle berkata dengan kaget. "Apa yang terjadi?."
Semua anak yang berada di depan perpustakaan diminta untuk mundur dan tidak diperbolehkan mendekati atau menyentuh pintu perpustakaan.
Para guru bertindak sebagai penghalang untuk memastikan semuanya aman.
Michelle yang melihat ini mulai fokus pada percakapan antara dua anak di sebelahnya. Mereka mengatakan, perpustakaan membeku karena ada tanaman yang disimpan di gudang untuk disita meyebar sehingga banyak tanaman yang membeku.
__ADS_1
Mendengar percakapan kedua anak itu membuat Anlyver teringat akan kejadian yang melibatkan tanamannya yang membekukan tangan seorang anak.
Ini membuat Michelle bergumam. "Aku akan dihukum." Dia berkata setelah mendengar bahwa raja akan datang dan memeriksa semuanya. Itu berarti Michelle akan menerima hukuman dari kakaknya, tepat saat dia pulang dari sekolah atau mungkin nanti saat kakaknya selesai dengan kecerobohan Michelle.