Novel Pindah Akun

Novel Pindah Akun
Chapter 15 - Buku Beku Siap Dimakan (Revisi)


__ADS_3

Di ruang perpustakaan yang beku, kini kembali normal. Hawa dingin yang mencambuk sekarang berubah menjadi hangat dengan cahaya yang memancar dari tanaman bintang yang dibawa Anlyver.


Tanaman bintang berbentuk bola yang tidak hanya bercahaya dan hangat tetapi juga menenangkan hati. Membuat semua orang yang tadinya riuh, kini menjadi lebih tenang dan memilih diam dan menonton.


Dengan cepat es yang telah menyebar ke hampir semua ruangan kembali ke keadaan semula.


Para murid langsung bersorak kegirangan sembari memuji Anlyver.


"Hebat, Raja Anlyver luar biasa!"


"Panjang umur raja!"


Para guru juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Anylver, namun Anlyver hanya mengangguk sedikit setelah matanya tertuju pada gadis yang telah menyebabkan masalah dalam satu hari.


Tapi alih-alih memilih untuk mencari Michelle, Anlyver menghela napas setelah bergumam, "Anak itu."


Michelle, yang mengira dia akan dimarahi dan sambil bersembunyi dia memohon dalam hatinya, "Aku mohon, kakak, jangan menyebut namaku."


Namun meski keinginan itu terpenuhi, Michelle masih mendapat kata yang menusuk hatinya. Dan Anlyver mengatakan dengan sangat keras.


"Anak yang hari ini membuat kekacauan dengan tanaman bintang yang seharusnya tidak dibuat, adalah anak yang ceroboh." Kata Anlyver.


Kata ceroboh itu menusuk hati Michelle.


"Kakak, bagaimana bisa kamu ..." teriak Michelle dalam hatinya.


Anlyver segera pergi dengan tanaman bintang Michelle. Dengan sayap yang besar Anlyver segera bergegas pergi sebelum tangannya juga membeku.


Setelah Anlyver pergi, para guru menyuruh semua anak untuk bubar dan kembali ke kelas. Tapi tepat setelah semua anak bubar, terdengar bisikan dari kedua anak yang berada di sebelah Michelle.


"Hei, bukankah anak yang dimaksud, saudara perempuannya sendiri."


"Oh, Anak yang membekukan tangan anak perempuan kemarin? Pasti sampai rumahnya akan dicabuk, atau lebih buruk lagi."


Michelle, yang mendengarnya, mulai terdiam dan menunduk.


"Michelle."


Sosok yang tidak asing menyentuh bahunya dari belakang dan Michelle dengan sedih berkata, "Aku siap untuk hukumanku, ibu."


Madam Light yang melihat wajah sedih putrinya mulai memeluk Michelle dan menjawab, "Itu keputusan kakakmu Michelle, bukan ibu."


Michelle mulai mengingat satu hal tentang kakaknya.


Anlyver bukan hanya seorang raja tetapi juga kepala sekolah Canis Minor, sekolah tempat Michelle berada saat ini.


Dalam sejarah kepemimpinan Anlyver Light, ia berhasil membawa nama sekolah Canis Minor di kompetisi musim gugur dan berkat kemenangannya, Anlyver menjadi kepala sekolah di sekolah Canis Minor.


Tentu hal ini juga didukung oleh semua orang di Geminiorum, tentu masyarakat yang tidak hanya anak-anak tapi juga orang dewasa.


Hal lain terkait juga dengan uang yaitu biaya yang menyangkut fasilitas sekolah dan keamanan. Namun, tampaknya Anlyver tidak mempermasalahkan jika dia mengeluarkan banyak uang hanya untuk sekolah, karena yang penting dia tetap menciptakan ksatria terdidik untuk komunitas Geminiorum.


Selama pelajaran Michelle hanya diam sambil melihat ke bawah, bahkan dalam latihan fisik yaitu berlari dia melakukannya sambil menurunkan wajahnya.


Ini karena banyak anak yang membicarakan Michelle. Mulai dari hukuman yang akan diberikan kakaknya hingga penghinaan yang mencemarkan nama baik dan membandingkannya dengan Anlyver.

__ADS_1


Bahkan dalam pertarungan satu lawan satu Michelle kalah hingga dia terjatuh ke tanah. Meski tidak cedera, Michelle memilih untuk tidak bangkit dan kalah dalam pertarungan.


Dan sampai kelas fisik selesai, semua anak di sekolah terus menjadi semakin buruk.


"Mereka tidak berhenti bergosip." Kata Michelle dalam hatinya.


Sementara itu, di kelas Madam Light, Michelle hanya bisa merenung sambil memetik daun biasa yang ada di hadapannya.


"Michelle."


Suara ibunya membuat MIchelle menoleh ke samping. Namun alih-alih menjawab, Michelle justru sibuk memetik semua daun di atas meja lagi.


"Berhenti melakukan itu, apakah kamu tidak merasa kasihan pada tanaman?"


Kata-kata ibunya yang tidak mendapat respon membuat Madam Light menghela nafas, "Michelle, tahukah kamu mengapa kita harus menggabungkan tumbuhan biasa dengan tumbuhan bintang?"


"Sinar penyembuh dan bahan obat."


Tanggapan anak itu kemudian dibalas dengan senyuman, "Tepat."


"Kau tahu, kakakmu dulu pernah mengalami hal yang sama denganmu. Saat dia berumur tujuh tahun, dia menyatukan tanaman bintangnya dan hasilnya dia hampir membakar seluruh perpustakaan. Itu membuat ayahmu marah dan menghukum Anlyver." Madam Light melanjutkan.


"Menghukum Kakak?." Tanya Michelle.


"Benar, Anlyver di hukum oleh ayah untuk berdiri di belakang dinding ruang kerja ayahmu selama dua puluh empat jam. Mengerikan bukan?"


"Aku pikir Kakak tidak akan melakukan kesalahan apa pun." Michelle berkata pada dirinya sendiri.


"Tapi saat itulah ayahmu ada. Ketika dia berumur delapan tahun dia menjadi dewasa lebih cepat dan ketika dia berumur sepuluh tahun ketika dia kehilangan ayahnya, dia menjadi lebih bertanggung jawab dan sikap dewasanya tidak hilang."


"Mengapa kamu mengatakan ini padaku?." tanya Michelle.


Ini membuat Michelle ingat. "Kalau dipikir-pikir, wajah Ayah dan Kakak hampir sama." Dia berkata setelah teringat lukisan besar di ruang kerja Anlyver.


"Ibu juga memikirkan hal yang sama." Kata Madam Light sambil tersenyum.


Michelle segera memeluk ibunya dan berkata, "Terima kasih, Ibu."


Sementara itu dalam perjalanan pulang, Michelle melihat kakaknya sedang menunggu di depan istana.


Michelle kemudian turun dan menyapa Anlyver, "Kakak."


"Kita perlu bicara Michelle." Kata Anlyver.


Michelle kemudian mengikuti Kakaknya ke sebuah ruangan dengan pintu putih yang diukir dengan matahari di tengahnya.


Saat pintu dibuka, terlihat jelas ada banyak tanaman bintang pada rak tersebut. Beragam warna, bentuk dan ukuran dari yang besar sampai yang kecil.


Michelle bertanya, "Kakak apakah ini milikmu sepenuhnya?."


"Benar. Semua ini milikku. Kamu ingin tahu kenapa aku mengumpulkan begitu banyak tanaman bintang?" Kata Anlyver.


"Karena izin dari kepala perpustakaan." Michelle menjawab sambil tersenyum, "Itu hampir benar. Aku membawa pulang tanaman bintangku untuk penelitian. Kamu tidak heran mengapa beberapa tanaman dibungkus dalam tabung kaca?"


Michelle segera melihat sekeliling ruangan lagi dan dia benar. Ada beberapa tanaman yang telah dibungkus dengan tabung kaca dan yang menarik bagi Michelle adalah warnanya yang tidak biasa.

__ADS_1


Dan Michelle langsung melihat tanaman bintangnya terbungkus dalam tabung kaca.


"Tanamanku." Kata Michelle dengan heran.


"Baiklah, Aku meletakkan tabung kaca pada tanaman yang aku buat sendiri dengan daun sesama bintang dan untuk mencegah kerusakan aku membungkusnya dengan tabung kaca." Anlyver menjelaskan, mengambil salah satu tanaman yang dibungkus dalam tabung kaca dan meletakkannya di samping tanaman MIchelle. "Lihat Michelle."


Mata Michelle langsung bersinar saat dua tanaman yang diletakkan di atas meja mengeluarkan warna yang sama, yaitu putih salju. Tanaman yang berpadu dengan warna tanaman Michelle dan tanaman putih krem ​​ini menampilkan warna yang indah.


"Kakak, ini indah sekali." Kata Michelle.


Melihat adiknya sangat bahagia, Anlyver langsung ke pokok permasalahan. "Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku melakukan penelitian semacam ini. Dan jawabannya adalah Pohon Daun Surgawi."


"Pohon daun Surgawi?."


Anlyver mengambil sebuah buku yang ada di salah satu meja, "Pohon daun surgawi adalah pohon kehidupan kedua setelah pohon daun bintang. Konon pohon itu lebih kuat, dua kali lebih kuat dari pohon bintang."


Mendengar penjelasan sang kakak, Michelle bertanya, "Untuk apa pohon itu? Apakah pohon itu sama fungsinya dengan pohon bintang?"


"Tidak." Anlyver membuka halaman buku berikutnya yang berisi deskripsi sosok dengan rambut dan mata putih. "Sosok ini adalah Dewa Godlariom, dia akan muncul jika tanaman ini muncul, dan jika berhasil maka kamu akan membuat kontrak dengannya."


Michelle mengerutkan alisnya. "Apa yang terjadi jika kita membuat kontrak dengan Dewa Godlariom?"


Anlyver membalik halaman berikutnya, tetapi dia terkejut karena halaman berikutnya telah robek dan membuat Anlyver terkejut. "Apa? Bagaimana bisa robek?" Guam Anlyver.


"Kakak halaman berikutnya robek." Kata Michelle dengan bingung.


Melihat kakaknya dalam diam, menatap buku coklat, membuat Michelle bertanya, "Ada apa, Kakak?."


"Tidak." Anlyver menjawab.


Anlver segera menutup bukunya dan tidak lupa menyuruh Michelle kembali dan bersiap untuk makan siang. Dan tentu saja Anlyver keluar dari kamar setelah kembali meletakkan tanaman bintangnya secara terpisah dengan tanaman Michelle. Karena akan ada masalah jika tanaman dibiarkan berdekatan meski ada pembungkus kaca.


Michelle hanya mengiyakan dan bergegas ke ruang makan, tetapi ia tidak sendirian. Dia bersama kakaknya.


Tapi ada satu hal yang ingin ditanyakan Michelle sebelumnya dan dia mulai berani berkata, "Kakak, tidak akan menghukumku kan?."


Mendengar itu membuat Anlyver tersenyum, "Tidak, aku tidak akan menghukummu. Kamu selalu ceroboh."


"Hmph, itu tidak lucu." Jawab Michelle, membusungkan pipinya.


"Selama kamu tidak mengulanginya lagi, nanti kepala perpustakaan akan marah." Kata Anlyver.


"Kakak membuat begitu banyak tanaman bintang, kenapa aku tidak bisa?." Kata Michelle kesal, "Padahal aku juga ingin membuatnya." Michelle melanjutkan, memohon.


Melihat sang adik sangat menginginkannya, membuat Anlyver tidak bisa menolak dan dengan pasrah menjawab, "Oke, kamu bisa. Tapi ini rahasia kita berdua, jangan beri tahu ibu."


"Jadi, mengapa ibu tidak boleh tahu? Apakah itu mengerikan?." tanya Michelle dengan rasa ingin tahu.


Sambil menghela nafas, Anlyver menjawab, "Karena sangat berbahaya, bahkan bisa memicu kebakaran atau mungkin ledakan."


"Oh, seperti saat kamu berumur tujuh tahun?" Mendengar itu membuat Anlyver terkejut, "Bagaimana kamu bisa tahu?."


"Ibu memberitahuku." Michelle menjawab dengan santai.


Anlyver langsung menghela nafas lagi, "Baiklah, bocah penasaran yang tinggi. Kapan kita akan pergi ke ruang makan? Aku sudah lapar."

__ADS_1


Sambil tertawa Michelle langsung menjawab, "Oke, ayo makan dengan puas!" Michelle berteriak sambil meraih tangan Anlyver.


"Pelan-pelan Michelle."


__ADS_2