
Michelle bangun di pagi hari dengan wajah sangat lelah sambil menguap dan bukannya merasa kaget dengan orang di sebelahnya, Michelle malah bertanya, "Ada apa, Kak?"
Anlyver menggelengkan kepalanya, "Masih mengantuk? Kalau begitu kamu bisa tidur lagi Michelle."
Sekarang Michelle tidak berada di ruang kerja sang Kakak, tetapi di kamar tidur kakaknya.
Nuansanya yang penuh warna putih dengan corak geminiorum tradisional menambah kesan antik bagi yang melihatnya.
Michelle sangat tahu kesukaan kakaknya yaitu mengoleksi barang-barang kuno dengan warna favoritnya yaitu putih. Dan suatu ketika ketika Michelle menanyakan alasannya, sang kakak menjawab satu hal, yaitu ingin memiliki rambut putih.
Michelle tidak menganggapnya serius, karena banyak anak yang lahir di geminiorum dengan rambut atau mata putih memiliki nuansa kecantikan yang unik dan kami menyebutnya nuansa suci.
Sedangkan anak yang berambut kuning atau bermata kuning memiliki lambang kekayaan dan kemakmuran. dan jika Anda memiliki keduanya maka Anda akan menjadi orang suci dengan kemakmuran.
Jadi Anlyver sangat ingin memiliki rambut putih dengan mata kuning, sebagai simbol yang dibawanya sebagai seorang raja, tapi itu tidak mungkin karena tidak mungkin mendapatkan rambut putih dari pewarnaan rambut, karena dilarang di semua kerajaan termasuk geminiorum.
Kembali ke MIchelle yang sedang berbaring lagi setelah mendengar cerita lagi tentang bangsanya, dia kembali tidur setelah mendengar Anlyver menceritakan kisahnya.
Anlyver mencium kening Michelle, "Selamat malam, MIchelle."
Saat istirahat, MIchelle bertemu Fanecing lagi dan duduk bersamanya.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu tidur lagi?." Fanecing bertanya. Dan tidak menerima jawaban Fanecing bahkan menggoda, "Dasar pemalas."
Suara pukulan mendarat di kepala Fanecing dan Michelle mulai menjawab, "Aku tertidur karena cerita, jangan bilang aku orang yang malas. Orang Geminiorum semuanya aktif dan rajin."
"baik." Kata Fanecing sambil membelai kepalanya.
"Apa yang dikatakan Anlyver padamu?" Fanecing bertanya.
"tentang rambut bagsa kami." Michelle menjawab, "Rambut anak Geminiorum memiliki dua warna dan saya benar-benar ingin tahu mengapa demikian tetapi saya mengantuk jadi saya hanya tidur." Dia melanjutkan.
"Jadi kamu ingin bertanya tapi malah tertidur?" Fanecing bertanya.
Michelle mengangguk, "Ya."
"Dasar." Kata Fanecing pada dirinya sendiri.
"Dulu aku dengar dari ibu bahwa yang membawa dua warna itu adalah pemimpin geminiorum pertama bersama istrinya yang menghasilkan keturunan seperti ayah dan saudara laki-lakinya. Kemudian untuk mempertahankannya raja pertama memerintahkan untuk mencari jodoh yang bukan dari luar. geminiorum. Dan jadilah dua warna sampai sekarang. "Kata MIchelle.
"Kakekmu terlalu terikat, ya." Fanecing menjawab, "Tapi bukankah ayahmu berbeda? Ibumu bukan dari geminiorum, kan?" Fanecing bertanya.
"Betul, makanya ibuku hanya menjadi guru di sebuah sekolah. Dan karena semua saudaraku pergi setelah perang, kakakku yang menjadi raja meskipun dia seorang wanita." Michelle menjawab
"Begitu, jadi awalnya hanya keturunan asli yang bisa menjadi raja dan karena Anlyver adalah anak pertama dan satu-satunya yang lebih tua jadi dia menggantikan ayahmu." Kata Fanecing.
"Benar."
"Ayah dan Kakak persis sama, mereka sangat mirip dalam bidang seni apapun. Pedang juga disertakan. Bahkan wajah dan tampang mereka hampir mirip * menguap * nyatanya aku yang mirip ibu." Michelle melanjutkan.
"Kamu persis seperti ibumu, tetapi hanya penampilan dan wajah yang berbeda hanya kepribadian. Ibumu baik dan penyayang tetapi, penuh disiplin, sedangkan kamu ceria, cerewet dan ingin tahu." Kata Fanecing.
Michelle, yang mendengar, mulai memukul kepala Fanecing lagi, "Kamu meledekku! Semua anak Geminiorum penuh dengan keingintahuan, tidak peduli dia mengomel atau semacamnya."
"Tapi kamu juga ceroboh." Kata-kata yang berhasil membuat Michelle berteriak, "APA MAKSYDMU! SAYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN KESALAHAN!" Kata Michelle.
"Perpustakaan sekolah?" Fanecing bertanya dengan santai.
Michelle mulai terdiam.
"Kamu diam, jadi itu buktinya." Kata Fanecing.
Sementara itu di kamar Anlyver yang membelai kening Michelle, ia sangat menyayangi adiknya sehingga senyuman di wajah Anlyver berubah tidak menyenangkan setelah kedatangan sosok dari belakang Anlyver.
"Knok, knok, Hei gante?." Kata sosok itu.
Anlyver menjawab dengan nada tegas, "Maldita Gato, vete de quri!."
"Wow, apa kamu mengerti bahasa kuno? Sungguh menakjubkan." Sebuah kata yang sangat dikenali Anlyver, Agnis.
"Aku sudah menyuruhmu keluar dari sini! Apa yang ingin kamu lakukan lagi? Kucing hitam." Kata-kata Anlyver bergeser ke wajahnya yang dipegang oleh Agnis, "Jangan sentuh aku!" Kata Anlyver menepis tangan Agnis.
"Anda pernah mendengar, jangan sentuh dia."
Suara yang keluar bersamaan dengan asap berkilauan. Sosok yang familiar muncul dengan pakaian putih khas orang dewasa dengan rambut putih panjang, Oracle melirik Agnis dengan sinis.
"Saudaraku, bagaimana kabarmu?" Kata Agnis menyambut.
Sang Oracle menjawab dengan mata tajam, "Aku bukan saudaramu."
"Oh, ayolah, jangan seperti itu, kita kan dulu adalah De-" kata Agnis memotong dengan tebasan cakar dari tangan Oracle. "Kamu dan aku berbeda." Kata Oracle.
Agnis yang melihat wajahnya terluka di pantulan cermin mulai menyekanya dan menjilatnya, "Kamu lupa bahwa aku abadi saudaraku."
Luka yang terlihat dalam mulai sembuh dengan cepat.
Oracle tetap diam saat dia menutup matanya setelah melihat lukanya sembuh dengan cepat. Sebenarnya, dia tahu kalau menyerang dengan apapun akan sia-sia, tapi Oracle diprovokasi oleh amarah pada kata-kata kucing hitam di depannya.
"Agnis, lebih baik kamu pergi dari sini, jangan temui aku lagi. Kamu bukan Godlariom-ku dan tidak akan pernah menjadi atau menggantikan Oracle." Kata Anlyver.
Agnis hanya tersenyum.
"Agnis, kamu bukan Godlariom. Kamu berbeda. Aku merasa bersalah menemukanmu di gua itu, dan ..." Kata-kata Anlyver digantikan oleh jari telunjuk di bibirnya.
"Itu bukan salahmu, ini salahku." Kata Agnis. "Dulu aku memanfaatkan kepolosanmu hanya untuk keluar dari gua yang gelap itu, jadi janga salahkan dirimu sendiri. Anlyver aku tidak akan pernah jauh darimu karena ... * berbisik * Kita sudah membuat kontrak." Agnis melanjutkan.
Mata Anlyver membulat.
Anlyver mendorong Agnis dengan keras hingga jatuh ke lantai.
"Kontrak? Kita tidak pernah melakukan kontrak apa pun, aku masih kecil saat itu tetapi ingatanku tidak buruk!" Teriak Anlyver.
"tidak sekarang .. * menghilang perlahan * Tapi nanti, suatu hari nanti."
Setelah Agnis menghilang, Oracle mendekati Anlyver dan meraih bahu Anlyver, "Buka bajumu."
* BUAHK *
Pukulan itu mengenai pipi Oracle.
"Sudah kubilang aku tidak punya kontrak!"
"Baik, tapi aku hanya ingin memastikan." Kata Oracle. "Jika kamu tidak mau, lupakan saja."
__ADS_1
Anlyver, "* menghela napas * Apakah salah bagiku untuk membebaskan sosok itu dari gua?"
Sebelum Oracle sempat menjawab, Michelle terbangun pada saat yang sama dengan kedatangan Fanecing.
Fanecing berkata, "Halo ... Tuan, maksud saya Oracle, apa kabar?"
"Kakak, ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu khawatir?" Tanya Michelle setelah menguap.
Anlyver tersenyum, "Tidak ada, lupakan saja. Sini aku tidurkan lagi."
"Baik." Kata Michelle.
Cahaya matahari memasuki sela-sela bangunan. Lorong demi lorong semua menjadi terang. Ruangan yang tadinya gelap tanpa lampu kini penuh dengan cahaya ketika tirai di buka.
Ruangan putih itu kembali cerah bagai kembalinya wrana sucinya. Dalam tempat tidur sosok berambut kuning panjang membuka mata emasnya, peralahan ia bangun dan menguap mengucapkan, "Selamat pagi Kakak."
"Selamat pagi MIchelle."
Sambutan selamat pagi dari kedua orang itu di sambut dengan kicauan burung dari luar jendela. Dari atas pohon sangat terlihat jelas dua burung kuning sedang berkicau dan bercanda ria di atas pohon.
MIchelle, "Burung YellBierd."
"Burung itu sering datang kemari pada pagi hari." Ucap Anlyver.
"Kakak memeliharanya?" Tanya Michelle.
Anlyver tertawa, "Tidak, burung itu datang sendiri. Kamu lupa kalau burung YellBierd suka benda berkilauan berwarna perak dan putih. Makanya mereka selalu datang kemari. Tapi aku tidak pernah membuka jendela ini karena takut akan ada barang yang di ambil nantinya."
"Jadi kakak hanya membuka korden saja setap harinya?." Tanya MIchelle.
"Ya."
"Pantas saja saluran udaranya kakak lapisi dengan kawat, tapi masih terlihat indah." Ucap MIchelle
"*Melihat ke atas* Itu karena Aku yang membuatnya sendiri. Kakak mengambil kawat yang biasanya di pakai pada tanaman, kau tahu yang pada bagian ranting agar mudah di bentuk." Jawab Anlyver.
"Oh, aku tahu. Itu biasanya di pakai pada tamanan daun bintang yang rantinya sudah panjang atau tidak ingin di potong agar terlihat lebih indah, benar kan?."
"Benar."
Obrolan yang panjang itu terus berlanjut sampai mereka berdua berada di ruang makan, dengan topik yang sama yaitu pohon daun bintang. Anlyver memberi tahu semua yang ia ketahui mengenai pohon daun bintang ke MIchelle. Dan tentu saja ini membuat rasa ingin tahu Michelle semakin meningkat.
"Lalu tanaman daun bintang apa yang paling langka saat ini selain yang ada di perpustakaaan sekolah?." Tanya MIchelle.
Anlyver, "*meneguk air* Tanaman daun bintang yang paling langka saat ini adalah yang ingin Kakak temukan, Pohon daun surgawi. Seperti yang kakak jelaskan sebelumnya, pohon itu jika berhasil muncul akan memperlihatkan sosok Dewa Godlariom."
MIchelle, "Lalu soal kontrak itu apa maksudnya?."
"Kontrak akan terjadi jika kita sudah benar benar memanggil Dewa Godlariom, dan kontrak yang kita ambil adalah seumur hidup dan.... *terdiam* Kakak hanya baca sampai sana sebelum bukunya robek." Jawab Anlyver.
Michelle merebahkan diri di kursi makan, "Ahh, tidak seru."
Anlyver, "*berdiri* Maaf Michelle hanya itu yang bisa aku sampaikan mengenai pohon daun bintang, selengkapnya kamu tanyakan pada ibu."
"Kakak mau ke mana?" Tanya MIchelle.
"*Berhenti melangkah* Ada rapat mengenai kerajaan baru, maaf mendadak tapi ini sangat penting." Ucap Anlyver.
"Tapi kakak sudah janji ingin mengajaku ke ruangan itu lagi!." Teriak Michelle.
Setelah sang kakak pergi dari ruang makan MIchelle juga bangun dan meninggalkan ruangan. Dalam omelan yang panjang mengenai pohon daun bintang, MIchelle berpapasan dengan sang ibu.
"Selamat pagi ibu." Salam MIchelle.
Madam Light, "Selamat pagi, kamu sudah makan?."
"Sudah, ibu sendiri?."
"IBu baru ingin makan, tapi sepertinya kalian sudah duluan." Jawab Madam Light tersenyum.
MIchelle terkejut, "Ibu tahu kalau Aku dan Kakak makan bersama? Kapan?."
"Anlyver memberi tahu ibu kalau kamu kemarin malam berada di kamarnya jadi sudah pasti sarapan bareng." Jawab Madam Light.
"Oh."
"Baik, ibu ingin sarapan dulu. Hari ini kamu libur kan, lakukan apa yang kamu mau. ibu bebaskan." Ucap Madam Light berjalan ke ruang makan.
"Baik." *Dalam hati* "Bearti aku boleh ke ruangan itu, hehehe. pohon bintang aku datang."
MIchelle bergegas pergi.
Sementara itu dalam perjalanan menuju ruang rapat, Anlyver bertemu dengan Agnis lagi namun, kini Oracle juga ikut muncul dan berdiri di samping Anlyver dengan mata sinis.
"Jangan begitu, aku seperti pencuri yang masuk ke rumah kalian saja. Bisakah mata kalian di biasakan?." Ucap Agnis menyeringkai.
Oracle, "menyingkir dari sana."
Agnis, "hoho, Saudaraku kejam sekali. Aku di suruh pergi padahal tidak salah. huhuhu...."
"Agnis aku tidak ingin mencari masalah denganmu, jadi minggir aku sangat sibuk." Ucap Anlyver melewati Agnis.
"*Agnis berbisik* Rapat dengan peminpin Ophiuchi."
Mata Anlyver membulat. "Ku tahu dari mana?."
"Entahlah mungkin seekor burung kuning."
Oracle, "Itu tidak lucu."
Agnis, *Menunduk* Yang mulia Geminiorum izinkan saya ikut dan mengawal anda, mengantisipasi jika ada kejadian yang tidak di inginkan." Mendengar itu Anlyver hanya menepis dan menjawab, "Tidak, aku hanya buruh Oracle seorang bukan sosok pembawa kiamat sepertimu."
Agnis perlahan menghilang dengan bisikan, "Kamu akan lihat nanti, Gadisku."
"Lupakan dia." Kata Oracle, "Ada pekerjaan yang harus kita lakukan."
"Benar, rapat akan segera dimulai, kuharap mereka tidak menunggu lama."
Kembali ke Michelle, yang sekarang berada di depan pintu yang sama persis seperti kemarin, dia merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan ketika dia ingin membuka pintu putih itu. Suara yang akrab membuatnya terkejut.
"Michelle, kenapa kamu di sini?"
MIchelle menoleh, "Fanecing, kamu mengejutkanku."
__ADS_1
Fanecing mencegah, "Jangan gegabah lagi, lebih baik dengarkan perkataan kakakmu."
"Apa kau tahu apa yang aku dan kakakku bicarakan di ruang makan?"
"Tidak." Fanecing menjawab.
"Jika Kamu melakukan sesuatu yang sembrono lagi, Kamu akan menanggung akibatnya sendiri. Untunglah saat itu Kamu tidak dihukum." Fanecing berlanjut sebelum menghilang.
Michelle kemudian berhenti sejenak sambil memikirkan beberapa hal dalam benaknya secara berdampingan, "Jika Aku membuat kesalahan lagi, Aku pasti akan dicoret dari daftar keluarga oleh Kakak, maka Aku akan hidup di jalan, kelaparan dan mati."
Kemudian Michelle teringat kata-kata saudara perempuannya, "Apakah lebih baik Aku bertemu ibu dan menanyakan semua yang ingin Aku ketahui?"
MIchelle lalu berjalan pergi dan bergegas menemui ibunya, "Kuharap ibu masih di ruang makan." Kata Michelle dalam hatinya.
"Pohon Surgawi?."
"Ya ibu, apa kamu tahu itu?"
Madam Light, "* meneguk air * bagaimana kau mengetahuinya? * Menatap* Pasti Anlyver."
Michelle menghampiri ibunya, "Ayo bu, tolong beritahu aku. Aku benar-benar ingin tahu aku tidak bisa menunggu kakak lagi."
Melihat putrinya dengan mata berbinar hanya bisa membuat Madam Light menghela nafas dengan berat hati dia setuju dan mulai bercerita.
"Pohon surgawi adalah pohon legendaris di zaman sebelum kakek dan ayahmu lahir. Konon pohon itu adalah penghubung antara dunia Godlariom dan semua penghuni Geminiorum."
"Hubungan?" Tanya Michelle.
"Bagi keluarga yang ingin segera memiliki anak akan datang dan memohon kepada Godlariom agar diberkati." Pada saat ini Michelle menyela, "Tapi kakak mengatakan bahwa pohon surgawi akan muncul bersamaan dengan kemunculan dewa saat dipanggil."
"Maksud kakakmu saat ini. Dulu, para ibu hanya perlu menyembah pohon perak dan keinginan mereka dikabulkan. Tapi sekarang pohon surgawi tidak tahu di mana keberadaannya dan ada rumor bahwa siapa pun yang menemukan pohon itu akan masuk ke dalam kontrak dengan dewa. " Madam Light melanjutkan.
"Tapi menurut apa yang ku tahu, pohon itu ada di sekitar Geminiorum dan terkubur jauh di dalam." Dia melanjutkan lagi.
Michelle mendengus, "Aku ingin tahu lebih banyak, Bu, katakan padaku pohon surgawi itu telah terbentuk."
Madam Light tersenyum, "yang kamu tahu adalah bahwa pohon itu terbentuk dari legenda."
Michelle terkejut, "Jadi pohon itu hanyalah mitos."
"Separuh. Sebelumnya kami tidak tinggal di awan tapi di bawah. * Berjalan ke jendela * Kamu tidak bisa melihat dari sisi ini, tapi di bawah ada sisa-sisa reruntuhan nenek moyang kita." Madam Light melanjutkan, "Nenek moyang kita menyembah pohon surgawi saat kita bergantung pada daun bintang, jika tragedi pengorbanan tidak terjadi maka kita tidak akan menemukan kehidupan baru."
"Ibu."
Michelle melihat ke luar jendela, matanya hanya bisa melihat gedung-gedung kota, merasa semakin penasaran dengan sejarah. Dalam hatinya ia bergumam ingin melihat reruntuhan yang diceritakan ibunya namun disisi lain ia merasa beruntung masih selamat dalam tragedi yang menimpa kerajaannya.
"ibu, aku ingin melihatnya. * memandangi ibunya * melihat ke bawah kerajaan." Kata Michelle dengan penuh semangat.
DBUGH.
"Och, kenapa kamu memukulku? Sakit." Teriak MIchelle.
"Karena kamu berbicara seolah-olah kamu akan baik-baik saja, masih belum aman di sana. Aku khawatir kamu akan mati sebelum menyentuh tanah." Kata Madam Light.
"Tapi paman dan bibi Neuer normal, mereka bahkan berhasil sampai di sini." Madam Light lalu menjawab sambil memegangi dahi anaknya dengan jari telunjuknya, "Karena mereka naik kendaraan disini bukan jalan kaki. Jika kakakmu tahu kamu mencoba turun maka kamu pasti akan dikurung di ruang hukuman."
Ruang hukuman adalah ruangan yang penuh dengan banyak rantai, mirip penjara tetapi lebih luas. Dan kamarnya tidak memiliki saluran udara, jadi sangat bisa dibayangkan jika anda tersiksa. Meski luas tapi akan terasa sangat panas di sana dengan banyak rantai berserakan di bawah lantai dan dinding.
Michelle yang membayangkan memunculkan keringat dingin ketika hanya bisa membayangkan dirinya sedang tersiksa di ruang hukuman.
"Bagaimana?." Madam Light bertanya.
"A-aku akan menutup mulutku."
Madam Light menghela napas, "Kamu masih muda, tunggu beberapa tahun lagi sebelum kamu bisa pergi ke dunia luar."
"Seperti Kakak?." tanya Michelle dengan penuh semangat.
"* tertawa * Hampir."
"* membusungkan pipi * Ibu tidak lucu."
Sementara itu, ada teriakan di ruang pertemuan kerajaan. Pria dengan rambut runcing merah, tinggi 176 cm dengan mata kuning dan pupil hitam.
"Beri kami wilayahnya." Kata pria itu sambil berteriak.
"Tuan rendahkan suaramu, tetapi tidak ada gunanya meminta dengan baik karena saya sudah mengatakan kita tidak akan menyerahkan wilayah itu. Itu adalah tanah leluhur kita." Kata Anlyver dengan wajah tenang.
"Kamu sudah hidup di atas untuk apa perlu tanah wilayah itu? Kamu serakah." Anlyver yang mendengar kata serakah langsung berdiri dan berkata dengan marah, "bukan kami tapi kamu Tuan Rolando, kamu yang rakus dalam hal ini. Perhatikan kata-katamu dan ingatlah ini, aku tidak akan memberikan area itu * menendang meja * bahkan dengan setumpuk emas. yang dimiliki bangsa Anda. "
Rolando tertawa, "Kamu seorang wanita tapi layak menjadi raja? Tapi Nona Anlyver atau Yang Mulia Anlyver membuat keputusan yang salah * berbalik * kami akan kembali."
Oracle mencegah, "Tunggu Tuan Rolando. Bawa emas ini, kami tidak membutuhkannya."
Rolando tersenyum lebar, "Aku akan menerimanya ketika aku kembali mungkin untuk berkunjung."
Anlyver yang mendengar mulai mengepalkan tangannya, "Tuan Rolando."
Seketika sihir yang luar biasa muncul melemparkan setumpuk emas berserakan di Rolando, menyebabkan dia terjatuh.
"Ambil emas ini, kita tidak punya tempat untuk menyimpan barang seperti ini." Teriak Anlyver.
"Cih." Kata Ronlando setelah menginstruksikan anak buahnya untuk mengambil emas yang berserakan, "Ingat ini yang mulia, aku akan kembali, kamu akan melihat bahwa wilayah itu akan menjadi milik orang-orang Ophiuchi." Dia melanjutkan.
"Wah, wah, wah. Mengesankan."
"Agnis kamu lagi." Kata Anlyver, "Apa yang kamu inginkan?"
Agnis menghampiri Anlyver, "Hanya melihat, menunggu untuk menonton sesuatu yang luar biasa. Gadisku, kamu luar biasa."
"Menjauh." Tepis Anlyver.
"Wah, wow jangan marah dulu ya, aku hanya memastikan kamu aman. Bukan karena niat buruk ya, benar saudaraku." Kata Agnis sambil tersenyum.
"* Mata tajam * Aku bukan saudaramu, ingatlah itu." Kata si Oracle dengan nada mengancam.
Agnis membingkai, "Manis, hubungan antara raja dan mantan De-."
Mulut Agnis dicakar oleh Oracle untuk membuat Agnis terpental ke pilar, "Tutup mulutmu, kamu pantas mendapatkannya." Kata Oracle dengan sengit.
Anylver, "ya, Oracle, aku lelah, lebih baik kita pergi dari sini. Tinggalkan saja kucing hitam itu, aku tidak peduli padanya. Kepalaku sakit."
Oracle mengikuti perintah dan mengikuti Anlyver.
__ADS_1
Sementara itu, Agnis yang masih terdiam dibawah pilar mulai berdiri sambil menjilati lukanya, "Aku tunggu kedatanganmu, kamu akan datang kepadaku Anlyver."