
Hyejin tersenyum lebar meski kedua mata indah nya masih terpejam beserta kasa yang menutupinya. Saat ini ia sedang berada di rumah sakit, ia sangat bahagia karena setelah enam tahun lamanya ia bisa melihat dunia kembali.
Iya, ia kehilangan kemampuan melihat sejak usia sepuluh tahun, itu di karenakan kecelakaan yang menimpa keluarganya. Dan di umur sepuluh tahun pula ia menemukan seseorang yang ia anggap sebagai 'malaikat' nya.
Seorang anak lelaki tulus yang awalnya hanya ingin menjadi sahabat nya tapi akhirnya hati mereka berkata lain, kisah cinta terjalin antar keduanya sejak bangku SMP.
Tapi sayangnya jalan mereka penuh rintangan, terutama dari keluarga sang lelaki yang menantang hubungannya dengan Hyejin dengan alasan cacat dan piatu.
Ah iya, kejadian enam tahun lalu juga merenggut ibu Hyejin beserta adik kecilnya yang masih dalam kandungan. Dengan itu, bukankah ia berhak mendapatkan seorang malaikat seperti seseorang yang kini menjadi kekasih nya setelah kehilangan dua malaikatnya?
Hyejin tersenyum getir, mencoba mengenyahkan semua ingatan pahit dari masa lalunya. Ia tak ingin rasa sakit lamanya menghancurkan kebahagiaan hari ini.
"Hyejin, sudah siap?"
"Pastinya Dokter Xiao!"
Gadis manis dengan rambut gelombang sepunggung itu berujar dengan semangat menjawab pertanyaan dari sang dokter, melihat itu sang ayah terkekeh pelan bersama sang dokter.
Perlahan kedua mata Hyejin sudah terbebas dari para kasa dan teman-temannya. Meskipun begitu, gadis itu masih enggan membuka mata.
"Baba, boleh aku membuat permintaan?"
Ayahnya, yang bernama lengkap Qian Kun itu menampilkan wajah khawatir, ia sudah memastikan apa yang akan anak kesayangannya itu minta. Dan ia tidak bisa memenuhi permintaan sang anak, sungguh ia benar-benar tak ingin mengecewakan anaknya tapi takdir berkata lain.
"Baba?"
"Oh? Ah iya, memang kamu mau minta apa?"
"Bolehkah orang pertama yang aku lihat saat membuka mata adalah Xinlong? Aku benar-benar ingin melihat malaikat ku sebagai pemandangan pertama setelah bisa melihat lagi"
Dugaan Kun benar.
"Untuk itu, baba belum bisa memenuhinya"
"Kenapa? Bukankah Xinlong ada disini? Dia sudah berjanji padaku untuk menjadi orang pertama yang ku lihat"
"Baba akan menjelaskan nya, untuk sekarang buka dulu mata indah mu lalu lihatlah baba mu yang tampan ini"
__ADS_1
Sebisa mungkin Kun mencair kan suasana yang terasa tegang.
Kedua kelopak itu terbuka dengan beberapa kali kedipan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk, sedikit terasa pusing karena selama ini ia terbiasa dengan kegelapan.
Tangan nya terbuka lebar menyambut pelukan dari sang Ayah.
Sangat hangat rasanya, benar-benar nyaman. Pelukan ayahnya adalah yang terbaik, di urutan kedua adalah pelukan kekasihnya, He Xinlong.
"Baba, dimana Xinlong?kenapa ia tidak datang?"
Kedua mata nya yang baru saja bisa melihat dunia itu ia gunakan untuk memandangi sekitar mencari keberadaan sang kekasih hingga tatapannya berhenti di arah pintu, berharap pintu itu akan terbuka menampilkan sang kekasih.
"Baba akan mengatakan nya, tapi berjanjilah jangan bersedih"
Gadis itu mengangguk masih dengan tatapan mengarah pada pintu.
"Dia harus pergi un-"
"Apa itu dia? Woah dia sangat tinggi"
Sang ayah mengernyit mendengar ucapan anaknya. Bukan karena ucapan nya yang terpotong, tapi karena apa yang di katakan anaknya barusan. Setelahnya ia mencoba berbalik untuk melihat kearah pintu tapi yang ia temui kekosongan.
Sedangkan gadis dengan darah Korea-China itu masih setia memandang ke arah pintu dengan tatapan berbinar, mengabaikan raut bingung dari sang ayah.
"Siapa yang kau maksud, Hyejin? Disana tidak ada siapapun"
"Ada Xinlong disana, benarkan itu dia? Dia bilang padaku jika dia suka memakai kaos hitam, jeans hitam, dan kalung sebagai aksesoris"
Sekali lagi Kun menoleh ke arah pintu, dan sama seperti sebelumnya. Hanya ke kosongan seperti sebelumnya.
"He Xinlong! Apa kau tak ingin memelukku? Jahat sekali, cepat kemari"
Kini tatapan berbinar itu di sertai senyuman tulus, ia benar-benar merasa bahagia.
Tapi tak lama senyuman nya memudar, tatapan nya berubah heran saat ia melihat seorang wanita menunduk hingga rambut hitam panjangnya menutupi seluruh wajah wanita itu. Wanita itu berdiri di dekat pintu dengan pakaian rumah sakit biru muda seperti miliknya.
Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum mata nya kembali memandang seisi ruangan, tak lama kedua maniknya menampilkan sorot keterkejutan.
__ADS_1
"Baba, mama anak itu berkata yang sebenarnya. Pendonor mata ini adalah seseorang yang bisa melihat makhluk yang seharusnya tidak bisa dilihat!"
Meskipun lama tidak melihat dunia, Hyejin cukup bisa membedakan yang mana manusia dan yang mana hantu berkat film horror yang ia tonton sewaktu kecil.
Dan ia melihat beberapa makhluk itu di ruangan yang ia tempati sekarang. Sebenarnya ibu dari sang pendonor mata sudah memberi peringatan tapi mereka tidak mempercayai nya dan tetap melakukan operasi karena sulit mencari mata yang cocok untuk Hyejin sedangkan mata anak itu sangat cocok.
Beberapa saat Hyejin teringat pertanyaan sang ayah sebelumnya, berharap dugaan nya salah ia mengarahkan tatapan ke arah pintu kembali. Disana Xinlong masih berdiri dengan kepala menunduk seperti tadi.
Hyejin memandang Xinlong dengan lebih teliti dan ia melihat darah mengalir di tangan kanan Xinlong yang lalu menetes ke lantai.
Gadis itu menggelengkan kepalanya ribut, ia berharap dugaan nya tidak benar. Kedua maniknya berkaca-kaca, wajahnya menampilkan raut ketakutan.
"X-xinlong"
Panggilan barusan membuat Xinlong yang masih berdiri mematung kini menegakan kepalanya.
Disana Hyejin melihat dengan jelas wajah Xinlong di aliri darah yang berasal dari kepalanya, lelaki itu menatap Hyejin dengan tatapan menyesal nya.
Wajahnya juga di penuhi luka gores yang mengeluarkan sedikit darah. Xinlong benar-benar terlihat berantakan dengan surai hitam yang tak tertata.
Hyejin terpaku di tempatnya menyaksikan apa yang di tangkap indra penglihatannya saat ini, air mata yang sedari tadi ia tahan turun seketika tanpa bisa ia hentikan.
Detik itu juga ia merasa dunia nya hancur untuk yang kedua kali setelah kematian ibunya.
Tatapannya bertemu dengan manik indah milik Xinlong yang memerah karena darah, keduanya saling menyiratkan sorot kekecewaan. Kecewa pada keadaan dan takdir.
Semakin lama saling menatap maka semakin sakit juga luka yang mereka berdua rasakan. Kedua tangan Hyejin terangkat menutup permukaan wajahnya lalu ia menangis dengan lumayan nyaring. Ia merasa takdir mempermainkan nya, takdir selalu saja mengambil orang terkasih nya.
Sedangkan Xinlong disana hanya bisa menatap Hyejin dalam diam dengan air mata yang mengalir hingga kristal bening nya itu menyatu dengan aliran darah.
Kun dengan lembut memeluk sang anak berusaha sebisa mungkin membuat anaknya tenang, rasanya menyakitkan saat melihat putrinya nya terdapat di situasi seperti ini.
"Gak mungkin! Ini semua gak mungkin! Ini cuman mimpi! Gak mungkin Xinlong pergi, dia udah janji bakal selalu jagain Hyejin"
Mendengar tangis serta ucapan Hyejin yang terasa sangat pilu membuat Xinlong berbalik, ia tidak bisa untuk sekedar melihat dan mendengar seseorang yang selalu ia jaga dan perlakuan layaknya ratu kini menangis karena dirinya
"Maaf"
__ADS_1
Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir berdarah Xinlong saat ia menoleh ke arah Hyejin, setelahnya ia menghilang begitu saja.
_Tbc._