OBFUSCATE

OBFUSCATE
_Chap 6_


__ADS_3

"Ikuti saja rencana takdir, dia akan membuat mu bahagia termasuk membuat mu bertemu dengan pengganti ku"


"Tidak bisa! Tak akan bisa ada yang menggantikan mu long, tak akan ada orang sebaik dirimu. Orang yang mau menjadi mata untuk perempuan buta dan bodoh seperti ku"


Xinlong hanya tersenyum menanggapi perkataan Hyejin, lantas ia berdiri dari duduknya.


"Sudahlah, ayo ku antar pulang. Hujan nya sudah reda"


oOo


Pagi itu Hyejin duduk di meja makan bersama sang ayah untuk sarapan bersama. Sesekali mata nya melirik ke arah kanan dimana Xinlong duduk di kursi itu. Semalam setelah mengantar Hyejin pulang ia memutuskan untuk berdiam disana karena takut akan ada hantu lain yang berniat jahat seperti wanita semalam.


"Hyejin, apa Xinlong masih ada disini?"


Iya, Hyejin menceritakan tentang keberadaan Xinlong pada ayahnya.


"Masih ba"


"Apa yang membuatnya masih disini? Apa yang memberatkannya hingga ia tidak bisa pergi ke surga?"


Itu adalah pertanyaan yang sama yang selalu Hyejin pikiran.


"Entahlah ba, Xinlong bilang dia lupa tentang semua yang terjadi waktu kecelakaan"


Kun terdiam beberapa saat sebelum mengeluarkan handphone miliknya dan mengirimkan pesan kepada para anak buah nya.


"Kalau begitu, kamu bantu Xinlong cari tau. Dia selalu bantu kamu selama ini, sekarang waktunya kamu bantu dia"


Sebenarnya Hyejin sangat ingin Xinlong tenang di surga, tapi ia belum bisa merelakan lelaki itu sepenuhnya. Ia masih sangat sangat mencintai Xinlong, ia masih ingin bersama dengan Xinlong lebih lama.


"Jangan egois Hyejin, Xinlong juga harus bahagia"


Gadis itu mengangkat kepalanya mendengar penuturan sang ayah, netra coklatnya bertemu tepat pada milik sang ayah yang serupa miliknya.


"Baba tau apa yang kamu pikirkan, biarkan Xinlong pergi. Ikhlas kan dia, apa kamu tidak kasihan jika dia terus menjadi arwah di dunia ini?"


Hyejin menoleh ke arah Xinlong yang sedari tadi hanya diam menunduk, lelaki itu memilih diam karena percuma bersuara jika Kun tidak bisa mendengar nya.


"Iya ba, Hyejin bakal mulai belajar ikhlas in Xinlong"


Pasangan anak dan ayah itu lalu melanjutkan acara sarapan yang sempat tertunda karena perbincangan barusan.

__ADS_1


'ting'


Suara notifikasi pesan barusan membuat Kun memeriksa handphone miliknya yang terletak di atas meja.


Mata lelaki berusia 40 tahun itu dengan seksama memandang layar ponsel pintar dnegan logo Apel tergigit miliknya.


"Hyejin, kamu yakin Xinlong mengalami kecelakaan tunggal?"


Hyejin menatap ayahnya bingung


"Maksud baba?"


"Ah tidak, cepat habiskan sarapanmu. Baba pergi dahulu, ada rapat mendadak"


Selanjutnya Kun melangkah keluar meninggalkan tanda tanya pada Hyejin dan Xinlong sendiri.


Hyejin lantas teringat pada perkataan lelaki yang ia temui di bus kemarin sore.


"Hyejin"


Panggilan dari Xinlong barusan membuat Hyejin yang sedang melamun mengalihkan atensi pada hantu lelaki di sampingnya itu.


Gadis itu terdiam, ia benar-benar tidak tau harus bereaksi bagaimana. Pikirannya campur aduk, ia tidak ingin Xinlong pergi tapi ia harus membiarkan lelaki itu pergi.


"Ah maaf, habiskan dulu sarapan mu. Tidak usah terlalu pikiran kata-kata ku tadi"


Lagi-lagi Hyejin menahan air mata nya agar tidak jatuh untuk kesekian kalinya.


Mata bulat nya menatap pada netra Xinlong, rasanya sakit tapi inilah takdirnya.


"Setidaknya tepati dulu janjimu"


"Janji ku?"


Si manis mengangguk.


"Janji mu untuk mengajak ku jalan-jalan seharian penuh"


Xinlong tersenyum lembut tanpa melepaskan tatapan dari lawan bicaranya.


"Tentu saja, kalau begitu cepat habiskan sarapan mu. Setelah itu kita pergi"

__ADS_1


oOo


Kini sepasang kekasih itu sedangĀ  berada di dalam bus, untung saja bus dalam keadaan sepi karena ini masih jam sekolah dan kerja.


"Hyejin, lihat disana. Itu adalah junior high school ku"


Hyejin melihat ke luar jendela mengikuti arah jari Xinlong menunjuk, disana terdapat bangunan sekolah yang sangat besar.


"Biasanya di situ aku menunggumu, dan itu tempat aku membeli eskrim vanilla kesukaan mu"


Hyejin mengalihkan pandangannya ke arah Xinlong, sedang kan lelaki itu sendiri masih asyik memandang objek di luar jendela tanpa sadar bahwa ia adalah objek yang lebih berarti.


Gadis dengan rambut sepunggung itu tersenyum, matanya terfokus melihat wajah tampan sang kekasih yang terlihat semakin tampan dengan terpaan sinar matahari walau kulitnya terlihat memucat.


Kekasihnya itu benar-benar pahatan yang sempurna, terlihat sangat-sangat tampan layaknya seorang idol, proposi tubuh yang bagus, serta sikap peduli yang tinggi.


Ah, pantas saja banyak oarng yang mengatakan ia tidak pantas bersanding dengan Xinlong.


"Hey apa wajahku aneh? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Seperti nya Tuan He ini sudah sadar bahwa objek yang di perhatikan Hyejin adalah dirinya bukan bangunan sekolah dengan kenangan mereka.


"Tidak, hanya saja kau sangat tampan. Pantas saja dulu banyak yang bilang aku tidak pantas untukmu"


Xinlong merubah raut wajah menjadi tidak suka dengan pernyataan Hyejin barusan.


"Iya benar aku memang sangat tampan, dan kau sangat-sangat cantik. Cantik di wajahmu dan cantik di hatimu. Kau itu sempurna, dan kita akan selalu menjadi pantas untuk satu sama lain"


Sudut bibir gadis itu terangkat tanpa bisa ia tahan, pipi nya juga bersemu. Kekasihnya ini selalu tau bagaimana cara membuat nya tersenyum.


"Tapi di dunia ini tidak ada yang sempurna"


"Iya memang, karena kau tidak menjadi sempurna untuk dunia tapi kau menjadi sempurna untuk ku"


Oh astaga, wajah memerahnya kini menjalar hingga telinga. Dia merasa malu sekarang, rasanya ingin menghilang saja.


"Kau lucu"


Selamat tinggal dunia, Hyejin kehilangan kewarasan nya sekarang. Padahal Xinlong sudah sering mengatakan nya tapi yangs sekarang terasa sangat berbeda karena bukan hanya gelap yang ia temui melainkan wajah tampan sang kekasih yang terkekeh pelan.


_Tbc_

__ADS_1


__ADS_2