OBFUSCATE

OBFUSCATE
_Chap 3_


__ADS_3

"Hyejin, maafkan baba. Baba harus pergi sekarang"


"Eh? Baba akan pergi kemana?"


"Baba harus pergi ke Wenzhou, Winwin shu shu mendapat sedikit masalah dengan perusahaan"


Hyejin hanya mengangguk menanggapi ucapan sang ayah, kaki nya melangkah memasuki rumah setelah memastikan mobil ayahnya keluar dari pagar.


Ia dan sang ayah baru saja pulang dari pemakaman, mengunjungi ibunya dan Xinlong. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas panjang, perlahan air matanya turun kembali.


Sangat melelahkan, ia sudah menangis dalam waktu lama tapi entah hingga kapan air matanya itu bisa berhenti mengalir. Di setiap langkahnya pasti selalu teringat pada Xinlong karena sebelumnya ia benar-benar bergantung pada Xinlong sebagai matanya.


Belum lagi makhluk-makhluk aneh yang di lihatnya, tak sedikit dari mereka mengganggu nya atau sekedar mengajak interaksi.


Dirinya mendudukkan diri di depan meja rias miliknya, matanya memandang pada kertas yang berserakan memenuhi meja itu. Dirinya memang suka menggambar walau gambar nya berupa coretan karena sebelumnya ia tidak dapat melihat apa yang terlukis pada kertas-kertas yang ia gambar.


Sering kali Xinlong menuntun tangan nya untuk membentuk gambar sederhana yang jelas, seperti bunga, matahari, dan binatang. Kini ia bisa melihat hasil karya tangan nya yang di bimbing oleh Xinlong.


Tersenyum tipis lalu matanya terfokus pada salah satu kertas, tangan nya terulur untuk mengambil dan membca tulisan kecil di kertas itu.


Lumayan terasa sulit, karena selama ini ia membaca dengan mengandalkan indra peraba nya. Tapi pada akhirnya ia berhasil mengerti arti tulisan itu.


Itu adalah alamat Xinlong, Hyejin yakin itu. Ia ingat saat Xinlong menuntun tangan nya untuk menulis rentetan angka dan huruf itu. Senyum nya melebar, ia memandang wajah manis nya melalui pantulan pada kaca meja riasnya.


Tapi segera ia alihkan pandangan ke arah lain, di pantulan kaca ia melihat hantu perempuan dengan wajah hancur berdiri di belakangnya. Itu adalah hantu yang berada di pemakaman tadi, ia tak menyangka akan di ikuti hingga disini.


Menggelengkan kepalanya pelan, Hyejin bangun sembari membawa kertas tadi lalu melangkah keluar. Saat ini bukan saatnya memikirkan hantu menyeramkan itu, tapi sekarang adalah kesempatan nya untuk mencari tau penyebab kematian Xinlong. Karena jika ayahnya di rumah pasti tidak akan memberi izin mengingat sikap keluarga Xinlong yang selalu kasar dan merendahkan Hyejin.


oOo


"Jadi apa tujuan mu kesini?"


Hyejin meremat ujung rok yang ia kenakan, kini ia sedang duduk berhadapan dengan ibunda dari Xinlong. Nyonya He, orang yang paling menentang hubungan nya dan Xinlong. Bahkan ia dapat melihat dengan jelas sorot kebencian yang di pancarkan wanita paruh baya itu.


"S-saya ingin bertanya mengenai Xinlong"


Keringat terus saja mengalir membasahi pelisisnya, bibirnya juga sedikit bergetar.


Nyonya He benar-benar menyeramkan, tatapan nya sangat tajam dan mengintimidasi raut wajahnya juga seolah ingin menunjukkan bahwa ia jauh lebih kuat daripada Hyejin.


Dan hal lain yang sangat membuat Hyejin takut adalah, sosok menyeramkan besar yang berdiri di belakang ibunda kekasihnya, sebisa mungkin Hyejin bersikap biasa saja agar makhluk itu tidak tau bahwa Hyejin bisa melihatnya.


Sungguh, sangat merepotkan saat makhluk itu tau kau bisa melihatnya. Mereka akan terus mengikuti mu untuk meminta tolong menyelesaikan masalah mereka di dunia agar mereka dapat pergi di akhirat.


Sebenarnya Hyejin ingin membantu, tapi mereka semua ada banyak dan seringkali dengan wujud yang sangat menyeramkan. Tak sering dari mereka juga ingin hidup kembali dan berusaha merebut tubuhnya, karena itu ia berusaha menyembunyikan kemampuannya.

__ADS_1


"Untuk apa? Apa kau belum puas? Setelah membuatnya membangkang padaku lalu membuatnya kehilangan nyawa, kau masih belum puas?!"


Tubuh Hyejin menegang mendengar ucapan tajam di sertai teriakan oleh lawan bicaranya ini.


"Kau adalah pembunuh. Dia mengalami kecelakaan tunggal di halte dekat rumah sakit. Jika kau tak meminta Xinlong untuk menemani mu di rumah sakit, maka anakku itu pasti masih ada disini! Masih bersamaku!"


Hyejin menunduk, perlahan air matanya jatuh kembali. Rasa takutnya kini bertambah dengan rasa bersalah. Ibunda Xinlong benar, harusnya ia tak egois dengan meminta Xinlong menemaninya.


"M-maafkan saya nyonya, terima kasih untuk waktunya. Saya permisi"


Gadis itu tak sanggup lagi, lantas ia memilih pergi.


oOo


Anak tunggal dari keluarga Qian itu masih setia melamun memandang ke arah luar jendela bus. Terlalu nekat memang untuk orang yang baru saja bisa melihat dunia lalu bepergian menggunakan bus, tapi Hyejin sudah bertekad. Lagipula dulu Xinlong sering mengajak nya naik bus saat akan check up.


Pandangan nya teralihkan melihat seorang nenek yang baru saja memasuki bus, lalu ia melihat ke segala arah di dalam bus. Ternyata semua kursi sudah penuh, lantas ia berdiri mempersilahkan nenek itu untuk duduk sedangkan ia memilih berdiri berdesakan dengan beberapa orang yang baru saja pulang kerja karena hari mulai sore.


Pandangan nya kembali terlempar ke arah luar kaca, disana ia melihat sebuah toko es krim yang pernah ia datangi bersama Xinlong. Ia bisa tau karena di depan toko itu ada tempat duduk warna warni seperti yang di jelaskan oleh Xinlong saat itu.


_'deg'_


Tubuh Hyejin menegang karena tangan kurang ajar seorang pria yang berdiri di belakangnya. Ia menelan ludahnya susah payah, ia merasa takut sekarang.


Matanya melirik kebelakang, ke arah pria tua itu. Ia melihat jelas pria itu sedang tersenyum miring, dasar sialan.


Ia menutup matanya saat melihat tangan pria itu mulai bergerak.


"Oi pak tua. Sudah tua jangan kebanyakan tingkah"


Hyejin mulai membuka matanya mendengar teriakan lelaki di dekatnya


"Jangan pura-pura tuli kau pak tua kemeja hitam. Kau pikir aku tak tau tangan mu dengan kurang ajar menyentuh perempuan di depanmu"


"Apa maksudmu bocah? Tidak usah sok tau"


Atensi seluruh penumpang kini tertuju pada interaksi mereka.


"Aku punya bukti nya disini, mungkin aku akan menunjukkan nya di kepolisian sekalian kau juga akan ku bawa"


Lelaki yang terlihat seumuran Hyejin itu menunjukkan layar handphone nya yang mati, wajahnya sama sekali tak menunjukkan raut takut walau yang ia hadapi adalah seseorang yang memiliki bentang umur berbeda jauh.


"Memangnya siapa kau?! Gadis ini saja tidak masalah, kenapa kau yang marah?"


"Ck, dia diam karena dia takut bodoh. Dan kenapa aku marah? Karena aku ini pacarnya"

__ADS_1


Setelah berujar begitu ia menarik Hyejin dan merangkul nya. Membiarkan pria kurang ajar itu keluar dari bus dengan makian dari penumpang lain.


Setelahnya bus kembali melaju dengan tenang.


"T-terima kasih sudah menolong ku"


Hyejin merasa gugup sekarang, ia tak pernah sedekat ini pada lelaki lain selain keluarganya, Xinlong, dan Dokter Xiao.


Dan lelaki yang baru ia kenal bahkan tak tau namanya itu dengan santai merangkul pundak sempitnya, dan apa-apaan senyum manis itu?


"Santai aja lah, oh ya jangan kaku gitu. Kenalin gue Zeyu, lo sendiri?"


Hyejin akui, lelaki bernama Zeyu ini tampan. Sangat tampan malahan, hingga tanpa sadar pipi Hyejin memerah hanya karena di tatap dengan jarak dekat di tambah senyum manis seseorang yang merangkul nya ini.


"Hyejin, Qian Hyejin"


"Oh lo blasteran? setau gue sih Qian itu marga China tapi Hyejin itu nama Korea"


Hyejin mengangguk merespon ucapan Zeyu, tapi karena jarak yang terlalu dekat dan Zeyu yang lebih tinggi darinya membuat keningnya tidak sengaja bersentuhan dengan bibir milik Zeyu.


_Oh astaga!_


Hyejin mematung di tempatnya, entahlah ia tidak tau kenapa tapi jantung nya kini berdetak lebih kencang dari biasanya. Bahkan pipi gadis itu kini memerah.


Sedangkan lelaki dengan surai cokelat kemerahan itu sendiri masih sedikit terkejut dengan kejadian tadi tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan nya.


"Lo mau kemana?"


Berusaha mengalihkan pikiran dari hal tadi, Zeyu mencoba bertanya.


"Ke halte dekat Rumah Sakit di rute ini"


"Beneran? Ternyata tujuan kita sama. Bareng gue aja, biar gak di ganggu kayak tadi. Tadi kenapa lo diem aja?lain kali kalau ada yang kurang ajar tuh di lawan"


"Iya, tadi aku takut. Maaf"


Hyejin meruntuki bibirnya sendiri, kenapa ia menggunakan 'aku' ?. Sungguh ia kesulitan menggunakan bahasa 'lo-gue' karena selama ia berinteraksi dengan keluarganya dan Xinlong selalu menggunakan 'aku-kamu' atau 'aku-kau'


Kini bukan hanya pipinya yang memerah tapi seluruh wajahnya.


"Lo lucu"


Hyejin ingin menghilang saja rasanya, lelaki ini dengan mudah berkata begitu dengan tangan yang terangkat mengacak rambut hitamnya tanpa peduli jantung Hyejin yang sudah berdetak semakin cepat.


_Tbc._

__ADS_1


__ADS_2