
"kalau boleh tau, lo kenapa mau ke halte itu? Mau ke rumah sakit?"
Hyejin terdiam mendengar pertanyaan Zeyu, dia bingung mau menjawab apa karena alasan dia pergi ke halte adalah karena Xinlong.
"Ah tidak, aku mau menemui seseorang. Kau sendiri?"
Hyejin membalik pertanyaan tadi untuk menghindari Zeyu bertanya lebih jauh.
"Gue mau nyelidiki sesuatu disitu"
"Boleh aku tau?"
"Tentu, kemarin lusa ada kecelakaan disana. Semua orang bilang itu kecelakaan tunggal, tapi gue yakin kalau itu pembunuhan. Gue percaya kalo korbannya di tabrak secara berencana"
Hyejin terkejut, dua hari lalu? Berarti hari ia melakukan operasi mata sekaligus hari dimana Xinlong meninggal. Apa korban yang di maksud Zeyu adalah Xinlong?
"Kenapa kau percaya kalau itu bukan kecelakaan tunggal?"
"Itu..
_Jshhh_
__ADS_1
"Yah kek nya gue gabisa jelasin sekarang, gue juga gajadi nyelidikin. Liat tuh, anak setan udah nungguin gue "
Belum sempat Zeyu menjelaskan alasannya, lebih dulu bus berhenti di depan halte tempat tujuan mereka.
Zeyu melepaskan rangkulannya pada bahu Hyejin. Setelahnya lelaki itu berbalik, tapi belum sempat ia melangkah tangan nya sudah di raih oleh Hyejin.
"Jelasin dulu"
Sungguh Hyejin sangat ingin seseorang di depannya ini menjelaskan alasan atas tujuannya tadi, menurut gadis itu penjelasan Zeyu mungkin bisa memberikan informasi lain tentang kecelakaan Xinlong yang tidak ia dapatkan dari ibunda Xinlong.
"Gini aja, gue janji bakal jelasin kalo kita ketemu lagi. Jadi inget baik-baik muka gue, Zeyu, enam belas tahun, lahir di Tianjin, seratus tujuh puluh tiga centimeter"
Tanpa mendengarkan balasan dari Hyejin, lelaki dengan rambut coklat ke merahan itu lebih memilih melangkah menerobos orang-orang yang berdesakan berusaha menaiki bus.
Hyejin memandang ke arah kaca jendela, disana terdapat Zeyu yang berbincang bersama dua orang lelaki lain. Dan tak lama mereka memasuki mobil hitam yang berada di dekat mereka.
Hyejin yakin, tadi ia melihat Zeyu tersenyum sekilas ke arahnya saat akan memasuki mobil itu.
Gadis itu berdecak, bagaimana dia bisa menemukan seseorang di China untuk kedua kalinya hanya karena informasi seperti tadi. Bukankah lebih baik jika ia memberitahu Sekolah atau alamat rumahnya, tapi ia malah di beritahu tentang tinggi badan.
Oh ayolah, apa ia harus mengukur tinggi tiap lelaki berusia 15 tahun?lalu bagaimana ia akan bertanya kepada orang tentang lelaki yang lahir di Tianjin sedangkan kini mereka berada di Beijing.
__ADS_1
Dan lelaki itu bahkan tak menyebutkan Marga nya. Astaga, ini China! Dimana banyak orang memiliki banyak nama yang sama, jadi marga itu sangatlah penting.
Hyejin menghela nafas pelan untuk meredakan rasa kesalnya pada lelaki yang barusan ia temui, lalu kakinya melangkah ke arah pintu bus.
Perlahan sepasang kakinya yang beralaskan flatshoes itu mendarat di atas aspal. Tatapan nya mengarah pada halte itu, disana sudah tidak terdapat siapapun karena semua orang sudah pergi menaiki bus yang tadi ia naiki.
Tatapan nya menjadi sendu, andai Xinlong masih ada pasti kini mereka sedang tertawa bersama di bangku halte itu karena Xinlong pernah berjanji akan mengajak Hyejin berjalan-jalan menaiki bus di hari pertama Hyejin keluar dari Rumah Sakit.
Sebisa mungkin ia menahan air matanya, rasanya sangat sakit setiap mengingat Xinlong. Setiap kenangan bersama Xinlong menyimpan luka yang manis.
Terasa manis saat mengingat bagaimana sikap Xinlong yang sabar dan selalu berusaha membuat nya tertawa lalu terasa sakit saat mengingat ia tak akan bisa mengulang ataupun membuat kenangan itu lagi.
Ah ia gagal menahan air matanya, kini air mata itu mengalir tanpa bisa ia kendalikan. Tangan nya menggenggam erat ujung rok yang ia pakai lalu berjalan dan duduk di bangku halte yang sedari tadi dia pandangi.
Kedua tangannya terangkat menutup wajahnya lalu gadis itu menangis dalam diam. Suasana senja serta alunan musik ballad dari cafe dekat halte itu seolah mendukung dirinya larut dalam kesedihan.
"Xinlong,kenapa kau pergi hiks?"
"Aku tidak pergi, aku sudah berjanji untuk menemanimu"
_Tbc_
__ADS_1