OBFUSCATE

OBFUSCATE
_Chap 2_


__ADS_3

Hari itu Hyejin Kecil terduduk sendiri di taman, membiarkan gerimis perlahan membasahi dirinya.


Dua jam lalu tiga orang temannya mengajak ia pergi ke taman, tapi saat tiba disana mereka bertiga meninggalkan nya. Sedangkan Hyejin tidak berani berjalan lebih jauh, ia takut tersesat.


Seharusnya Hyejin tau bahwa tiga orang yang tidak pernah akrab dengannya itu hanya mengerjainya, tapi saat itu Hyejin masih sangat polos dan tidak berpikir sebegitu jauh.


Ia benci keadaan nya, ini sudah perpindahan sekolah yang ke tiga. Ayahnya selalu memindahkan nya dengan alasan perundungan, dan mungkin ia akan pindah lagi untuk ke empat kalinya jika ia menceritakan tentang kejadian ini.


Perlahan ia menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya dia antara kakinya, setelahnya isakan-isakan terdengar dari bibir kecilnya.


Dunia sangat kejam padanya, ia hanya seorang anak perempuan biasa yang masih berusia sepuluh tahun tapi kenapa takdirnya begitu berat. Ibunya meninggal beberapa Minggu yang lalu dalam kecelakaan saat ia dan ibunya berencana menjemput sang ayah di bandara.


Hari itu, mereka berdua menaiki taksi menuju bandara. Semuanya berjalan sangat baik awalnya hingga saat berhenti di lampu merah, ada sebuah truk yang hilang kendali dan menyebabkan kecelakaan beruntun yang salah satunya adalah taksi yang ia dan ibunya naiki.


Anak perempuan dengan seragam sekolah dasar itu menangis semakin kencang saat mengingat detail kejadian beberapa Minggu lalu itu, sekarang ia tidak bisa bertemu lagi dengan ibunya. Jangankan untuk bertemu, untuk melihat fotonya saja ia tidak mampu. Sekarang hanya kegelapan lah yang ia dapati tiap harinya.


Dirinya juga menjadi kurang terurus, ayahnya memilih menyibukkan diri pada pekerjaan untuk mengalihkan rasa sakit atas meninggalnya sang ibu. Dirinya juga harus menguatkan mental karena kata-kata kasar yang di ucapkan orang saat melihat keadaannya.


"Kenapa kau disini? Apa tidak takut sakit?"


Telinga Hyejin menangkap suara dari seseorang di sekitarnya,


Apa lelaki itu berbicara padanya?


Ah mungkin tidak, mungkin ia berbicara di telepon. Hyejin mengangkat kepalanya berniat meminta tolong pada orang itu untuk menelpon ayahnya agar ia bisa kembali kerumah.


Hyejin menolehkan kepalanya ke kanan kiri berusaha menebak dimana orang itu berada, pada akhirnya ia memilih sisi kiri.


"Kau, em bolehkah aku minta tolong?"


Sedangkan orang itu menampilkan ekspresi bingung nya menatap Hyejin yang memandang sisi kiri nya.


"Hei aku ada di depan mu, kenapa kau melihat kesana?"


Hyejin lantas mengarahkan pandangannya ke arah depan, setelah itu berdiri dan membungkuk 90 derajat.


_'duk'_


Di karenakan lelaki itu yang berdiri terlalu dekat dengan Hyejin, membuat kepala keduanya saling berbenturan.


"Astaga, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tau"


"Bagaimana kau bisa tidak tau? Aku bahkan berdiri tepat di depan mu, aku juga bukan hantu yang tembus pandang. Harusnya kau bisa melihat ku dengan jelas, di mana matamu hah?!"


Lelaki itu sedikit tersulit emosi, karena ia merasa di rugikan. Niat nya kan ingin menolong, tapi malah mendapat kesialan seperti ini.


"A-aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa melihat mu, a-aku buta hiks"


Ucapan Hyejin melemah di akhir, lagi-lagi kecacatan nya itu membawa kesialan.

__ADS_1


Sedangkan anak lelaki tadi terlihat terkejut dengan jawaban Hyejin.


"Tidak! Aku yang minta maaf karena sudah membentak mu. Hujan nya semakin deras, ayo kita cari tempat berteduh"


Selanjutnya yang terjadi adalah tangan Hyejin yang di genggam dengan sangat lembut dan di tarik pelan oleh seseorang yang baru dia temui beberapa menit lalu itu.


"Nah kita berteduh disini saja. Oh iya, perkenalan namaku He Xinlong. Kau bisa memanggilku Xinlong. Lalu nama mu?"


"Hyejin, namaku Qian Hyejin"


"Hyejin? Aku beberapa kali menemui orang disini dengan marga Qian tapi aku belum pernah bertemu dengan yang bernama Hyejin"


"Karena itu nama Korea"


"Benarkah?Jadi kau ini orang China atau Korea?"


"Ayahku adalah orang China, tapi Ibuku orang Korea"


"Ah jadi begitu. Oh iya kau tadi kenapa disana sendirian?"


Mendengar pertanyaan Xinlong membuat Hyejin terdiam, ia sedang berpikir akan jujur atau berbohong saja. Bukankah memalukan saat orang lain mengetahui kau adalah korban bullying yang sangat lemah dan tidak bisa melawan. Tapi Xinlong sudah menolongnya jadi pantaskah ia berbohong kepada orang baik sepertinya?


"Hei, kau mendengar ku tidak?"


"Emm untuk itu, aku takut untuk bicara"


"Memangnya kenapa?"


"Itu tidak akan terjadi, aku berjanji"


Anak lelaki dengan lesung pipi itu mengangkat tangan kanan miliknya di hadapan sang lawan bicara dengan jari kelingking yang ia sodorkan,sesaat kemudian ia menepuk kepalanya pelan.


Selanjutnya tangan kanan yang ia angkat tadi menuju ke arah tangan kanan Hyejin, dan meraih jemari kelingking Hyejin untuk ia kaitkan dengan kelingking nya.


"Aku berjanji"


Hyejin sendiri sedikit terkejut dengan yang terjadi tapi setelah nya ia tersenyum dengan lebar. Ia percaya jika anak lelaki bernama Xinlong ini bisa di percaya.


"Tapi kau harus menjadi teman ku"


"Tentu saja, aku berjanji lagi! Aku akan selalu menjadi teman mu selamanya"


Hyejin tersenyum semakin lebar dan mengeratkan tautan jemari kelingking mereka berdua, tapi tiba-tiba ia merasakan kosong.


Ia merasa tidak ada kelingking yang tertaut dengan kelingking miliknya.


Wajahnya menjadi sangat panik, tangan nya bergerak kesana kemari mencari keberadaan Xinlong, tapi ia tidak menemukan apapun. Suara hujan pun berhenti begitu saja dan melihat cahaya putih yang sangat terang.


Saat itu ia merasa sangat bingung, setahunya ia masih buta lalu kenapa kini ia melihat cahaya yang terang?

__ADS_1


Mata nya menajam menelisik ke segala arah, ia sekarang berada di ruangan dengan warna putih yang tak terlihat ujungnya.


Tatapan nya terhenti pada seseorang yang berdiri beberapa meter darinya.


Orang itu adalah seorang lelaki yang berdiri membelakanginya.


Matanya lalu melihat ke arah dirinya  sendiri, rambut hitam nya yang pendek kini sudah sepunggung. Melihat ke arah kedua tangan nya, disana juga ia melihat sebuah cincin yang tidak asing tapi ia lupa pernah melihatnya dimana.


"Hiks"


Pandangan nya lantas terangkat melihat ke arah lelaki tadi, lelaki itu barusan terisak. Jadi dia sedang menangis? Tapi kenapa?


"Hei, kau menangis? Kenapa?"


Dengan berani, Hyejin melempar kan pertanyaan kepada orang itu. Sedangkan orang itu lalu berhenti menangis, perlahan ia berbalik dan Hyejin dapat melihat dengan jelas bahwa wajah lelaki itu penuh dengan darah segar yang terus mengalir.


Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Hyejin, sedangkan Hyejin berusaha untuk lari menjauh. Sungguh, ia merasa ketakutan tapi ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri.


Hingga lelaki itu semakin dekat, tangannya yang penuh aliran darah itu terulur ke arah Hyejin, Hyejin pikir ia akan menyentuhnya. Tapi gadis itu salah.


Tangan si lelaki hanya berhenti di depan wajahnya dan menunjukkan jari kelingkingnya.


"Aku sudah berjanji untuk menemanimu"


Hyejin terkejut mendengar nya, di tambah lagi aliran darah di tangan si lelaki yang menghilang begitu saja. Wajahnya terangkat guna melihat wajah lelaki tadi dan setelahnya ia benar-benar terkejut.


Wajah menyeramkan penuh darah itu kini menghilang, yang ia lihat sekarang adalah wajah tampan tanpa celah. Benar-benar sempurna.


_"Hyejin ayo bangun, hari ini kita akan mengunjungi Xinlong"_


oOo


Gadis itu menangis dalam diam di samping makan sang kekasih. Tangan nya senantiasa mengusap dengan lembut pada batu nissan dengan tulisan nama '贺鑫隆'


Harusnya kini ia sedang bersenang-senang bersama Xinlong yang berjanji akan menemani nya pergi ke taman hiburan di hari pertama Keluar dari rumah sakit dan bisa melihat kembali. Tapi apa yang terjadi sekarang benar-benar tidak pernah terbayangkan oleh keduanya.


"Hyejin, baba ada telepon. Kau tunggu disini sebentar"


Setelah mengatakan itu, sang ayah berjalan menjauh dari makam Xinlong. Meninggalkan Hyejin dengan rasa kecewa nya menangis di hadapan batu nisan.


Kun sengaja melakukannya, ia tau bahwa ada sesuatu yang perlu anaknya bicarakan dengan Xinlong tanpa adanya dirinya. Karena itu ia pergi menjauh.


Sedangkan di makam, Hyejin masih setia menangis tanpa henti.


"Kau tau long, semalam aku bermimpi bertemu dengan mu. Aku bermimpi tentang awal kita bertemu saat kau menolong ku, tapi kenangan indah itu berbeda dengan saat di mimpiku. Di kenyataan kau mengantar ku pulang,tapi di mimpi semalam kau menghilang. Lalu aku bertemu dengan mu lagi di tempat putih, kau penuh darah saat itu dan... hiks"


Hyejin tak kuat melanjutkan ucapannya, rasa sakitnya membuat dirinya tak bisa berhenti menangis. Bahkan ia mengabaikan banyaknya makhluk di sekitarnya yang berbentuk seperti manusia hingga berbentuk aneh.


Kini fikiran nya hanya di penuhi oleh Xinlong.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, dari kejauhan terlihat seseorang memandang nya dengan sendu.


_Tbc._


__ADS_2