
Selamat, Anda lulus di
Univeristas Samudra
Prodi Teknik Informatika
Aku menjerit sehisteris dengan apa yang kulihat, sebuah gambar yang berulang kali ku baca namun memiliki makna yang sama, yakni sebuah pengumuman yang menjelaskan bahwa aku berhasil lulus memasuki salah satu perguruan tinggi negeri di indonesia.
Kedua langkah kaki ini langsung membawaku berhamburan keluar menuju toko untuk menemui kedua orangtua. Sambil melompat dan berterikan kata lulus, aku berhasil membuat seisi rumah juga ikutan histeris, termasuk Ayah dan Mamanya.
“Yah, Ma, lihat ini. Kynaya lulus. Alhamdulillah” ucapan ini sekali lagi aku utarakan di hadapan kedua malaikat hidupku ini. Mereka saling memeluk dalam balutan rasa haru.
Terkadang dengan terkabulnya doa yang selama ini di pinta rasa syukur tiada habisnya. Allah begitu baik dengan mengabulkan keinginan hambahnya, meskipun aku hambah yang sudah seorang hambah kadang masih saja melalaikan tugasku untuk menyembahnya dan ketika terkabulnya salah satu keinginan ini membuatku merasa malu sendiri, selalu ada maaf untuk dosa yang sudah berlumur.
September tahun ini begitu indah dan sangat spesial karena aku dan teman seangkatanku pasti merasakan hal yang sama bahwa kuliah adalah keinginan yang begitu besar untuk dicapai, tapi aku tidak merendahkan teman-teman yang bernasib beda Allah itu menentukan yang hambahnya butuhkan bukan inginkan, jadi selalu ada syukur di balik rencananya.
Setelah acara upah-upah atas rasa syukur keberhasilanku, esoknya kami akan berangkat ke Aceh.
Sebelumnya aku tidak pernah berfikiran bahwa kota dengan julukan serambi mekah inilah yang menjadi kota ilmuku, malah yang aku idam-idamkan selalu adalah Medan. Aku suka Medan karena kota ini pernah membuatku jatuh cinta kepada salah satu warganya. Saat itu ketika usiaku masih belasan tahun kami berlibur sekeluarga, hotel menjadi rumah sementara kami, hingga ada kejadian yang membuatku trauma ketika bangun tidur tidak adanya orang disampingku.
Aku lupa hotel yang mana, kisahnya begini.
aku terlelap begitu pulas padahal matahari sudah sangat terik. Mama, Ayah, Adik-adikku dan Paman tidak berada disekelilingku rupanya mereka sudah berlarian keluar namun aku tertinggal di atas dengan keadaan pintu hotel yang terkunci dari luar.
Awalnya mereka bilang ingin membeli makanan, ku katakan saja aku tidak ikut kunci saja dari luar dan meneruskan mimpi indah ini di balutan dinginnya suasana Acc dan lembutnya selimut mahal ini.
Aku terbangun karena keadaan di sekelilingku bergoyang, sepertinya ada Gempa yang membuat orang-orang pada berlarian keluar ruangan. dengan panik aku terbangun dan berlari ke pembatas dinding ini, pintu coklat tua dengan rapatnya ia terkunci. Tangisku pecah meskipun ruangan ini kedap suara, tidak ada yang mendengar namun goyangan Gempa juga tidak ada habisnya.
Tidak ada kejadian yang begitu mengerikan ku alami selain saat itu juga, aku mondar-mandir sesekali ke jendela sesekali ke pintu sana.
Tidak ada jawaban, aku merasa orang yang paling bernasib buruk di dunia karena dalam situasi begini orangtuaku saja tidak memperdulikanku mereka meninggalkan aku sendiri padahal nyawaku bisa pergi saat itu juga.
Dering Telpon berbunyi ada panggilan Mama disana, sayup-sayup ku dengar tangisan Mama pecah seperti menerobos ruang hatiku, beliau begitu panik dengan keadaanku tetapi Ayah tidak memperbolehkan Mama menjemputku karena itu sangat bahaya.
"Doakan Ay Ma, doakan Ay" kalimat yang berulang-ulang ku katakan hingga telpon itu berakhir.
Ku seka air mata ini, aku tidak boleh lemah Allah bersama orang-orang yang mau berusaha.
__ADS_1
Tanganku memukul kuat pintu itu disertai tunjangan kaki yang berirama, berharap pintu ini lepas dengan sendirinya paling tidak ada orang yang mengetahui keberadaanku. Hampir 5 menitan aku melakukan ritual yang sangat menyakitkan ini, Ya Allah bantuin Aya.
Seperti gayung bersambut,
samar-samar ku dengar suara lelaki yang setiap hembusan suaranya ada kepanikan dan rasa peduli.
"Tenang, jangan di dobrak nanti kakimu sakit".
Ketika ia melontarkan kalimatnya aku sedikit lega.
" Tolong Aya bang, tolong". jeritku
Argumenku berulang kali tapi tidak mampu menembus telinganya karena ruangan kedap suara hanya orang yang berada di dalam mampu mendengar sedangkan ketika di luar tidak mengetahui perkataan di dalam sana.
"Baca doa, jangan di dobrak. aku disini temanin kamu".
" Jangan di pukulin pintunya "
ia seperti mengerti rasa cemasku meskipun setiap perkataannya jawabanku hanyalah dobrakan pintu ini.
Gempa tadi berhenti dan suaranya perlahan-lahan menghilang, dobrakan pintu ku pun tidak ia respon sepertinya manusia tadi telah pergi.
Pintu terbuka dan tangisan Mamaku pecah, ia terus memelukmu yang saat itu aku tidak merasa khawatir lagi pada diri ini, fikiranku tertuju padanya yang belum sempat aku lihat.
Setelah diri Mama tenang, aku mengajak adikku untuk berkeliling hotel niatku ingin mencari siapa pemilik gerangan suara di balik pintu tadi, tetapi aku tetaplah remaja yang bisanya hanya mengamati.
Setiap aku bertemu sosok lelaki, aku hanya memandanginya tanpa bertanya apakah kamu makhluk penyelamatku?
Ucapan terimakasih itulah yang masih ku simpan dengan rapi untuk sosok yang pernah menjadi peri.
Malam ini aku terjaga dari mimpi indah, semuanya sudah tertidur mataku selalu menerawang ke arah pintu yang beberapa tahun belakangan menjadi kisah dramatis dalam hidupku, bedanya saat itu aku masih remaja, jika kejadiannya sekarang aku sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi istrinya karena penjagaannya yang dahulu membuatku tidak menemukan alasan untuk tidak jatuh cinta padanya.
Perjalanan Langsa begitu indah,
angin sesekali dengan manja menyentuh wajahku seperti kecupan mesra seorang pujangga yang sedang jatuh cinta.
Jeritan suara knalpot bagaikan nyanyian paling favorit dalam perjalanan semuanya hanyut dalam pandangan dan fikiran masing-masing, hanya Mama yang sekali-kali menatapku karena aku tau perpisahan di antara kami akan segera terjadi.
__ADS_1
"Sepertinya, si Kynaya ini mau dapat orang Aceh makanya dia kuliahnya jauh kali ke Aceh ini" seru Pamanku yang tiba-tiba memecahkan suasana hening tadi.
"Jangan, pokoknya jangan berteman sama orang Aceh ya Ay nanti kau ga pulang" tangkis Mama dengan argumennya yang membuatku tertawa.
"Pokoknya, selesaikan dahulu keingianan hidup. Orangtua, Cita-cita dan Cinta-cintaan" sambung Ayahku dengan logatnya yang begitu santai meskipun keadaan yang begitu runyam.
Aku cuma tertawa, tidak tahu ekspresi yang bagaimana aku persembahkan jika bahasannya tentang cinta. Karena, belum pernah ada nama laki-laki spesial yang aku sebut dihadapan mereka meskipun aku pernah merasakannya diam-diam.
Selamat Datang Dikota Langsa
Aku membacanya dengan suara lirih dan disambut tatapan yang sama oleh semua.
akhirnya sampai, perjalanan yang memakan waktu 12 jam terselesaikan. kami turun dengan sibuknya mengangkat barang-barangku yang lumayan banyak karena wajarlah Mama dan Ayah tidak ingin aku kekurangan apapun disini.
Kami sekamar bertiga, ada Asiah dan Nadia. setelah sepakat dan berbincang cukup lama akhirnya orangtua memutuskan untuk pulang malam ini karena Pamanku besok harus masuk kantor, dunia terasa menghujani mataku yang tidak dapat ku sembunyikan setiap kali harus meneteskan air mata.
"Baik-baik sekolahnya ya nak, ingat jauhnya perjalananmu kesini untuk mengejar cita-cita semoga Allah kabulkan" seru Ayah dengan kata-kata nasehatnya.
"Oh Tuhanku, boruku Ya Allah jauhnya lagi perjalananmu kesini nak, bagus-bagus kau yang sekolah itu. Lindungilah boruku Ya Allah" suara Mama bagaikan petir yang menyambar-nyambar disiang bolong begini.
Tangisan kami bersahut-sahutan hanya Ayahku yang masih bisa menahannya. Aku merasa duniaku seketika hancur tidak berdinding saat perpisahan pertama kaliku dengan Mama ini terjadi, suara kami berhadiakan tatapan orang-orang yang beralu-lalang mereka ikutan bersedih dengan drama ini.
Aku paling tidak bisa melihat Mama menangis karena selain meratap tangisan Mama itu membuatku begitu lemah. Aku tidak bisa menyembunyikan air mata lagi ku biarkan ia pecah sampai aku senggugukan jadinya.
Lambaian tangan dari kaca mobil Avanza ini yang menjadi saksinya untuk rona bahagia setelahnya.
Aku tahu, perpisahan tetap menyakitkan meskipun dengan cara baik-baik. Apa yang dirasakan Mama adalah bentuk sayangnya padaku, mungkin juga aku merasakan hal yang sama jika aku mempunyai anak nantinya.
Rintikan hujan di mata ini belum juga ingin ku akhiri, aku membiarkannya jatuh meskipun mobil tadi tidak ku lihat lagi. Dengan berpangku tangan di teras ruko ini aku terus menangis, tidak ku hiraukan lagi suara orang-orang yang bertepatan di sebrang sana mereka yang sedang berkumpul di cafe.
"huuuhh, Mama jangan tinggalin aku" ledek mereka
"Mama, aku mau pulang" sambung yang lain
Tatapanku pada mereka begitu tajam ku hafal wajah-wajah yang mengejekku ini, lihat saja nanti jika istrimu yang bernasib sama dengan Mamaku, akan ku doakan kau juga ikutan menangis tidak setegar Ayahku, aku benci mereka namun tidak ku beri perlawanan, ku tenangkan diri lalu senja seperti mengisyaratku untuk berhenti.
"Sudahlah Kynaya, sisakan air matamu untuk besok".
__ADS_1